
64
"Apa kamu ingat tempat pertama kali bertemu?" tanya Gabby kepada Arsen. Mata sendunya menoleh ke arah lelaki yang sudah berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Aku ingat dan akan selalu mengingat pertemuan pertama kita sampai kapan pun," ucap Arsen tidak kalah sendunya.
Keduanya pun kembali ke masa beberapa tahun silam saat pertemuan pertama mereka yang tanpa disengaja. Ketika itu, Gabby sedang duduk di halte menunggu bus lewat, kemudian segerombolan preman datang mengganggu dan membuatnya ketakutan. Bak seorang pahlawan, Arsen pun datang menolong dan menghajar para preman itu tanpa ampun.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Arsen saat para preman itu sudah lari ketakutan.
Gabby hanya menggeleng, lalu mengucapkan terima kasih.
"Arsen," tiba-tiba Arsen mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
Gabby yang notabene-nya gadis pemalu, hanya melihat tangan itu tanpa menjabatnya, lalu mendongak ke wajah si penolong itu dan menunduk kembali.
"Namamu siapa?" tanya Arsen lagi sambil menarik kembali tangannya yang tidak kunjung dijabat oleh Gabby.
"Ga- ga- gabby," jawab Gabby terbata-bata dengan kepala yang masih tertunduk.
"Lagi nunggu bus, ya?" tanya Arsen yang hanya dijawab anggukan Gabby. "Kalau begitu aku akan menemanimu, takutnya preman tadi kembali lagi," ucap Arsen dengan seutas senyum tipis yang mampu menggetarkan hati gadis pemalu itu.
Gabby tidak menjawab. Hanya diam sambil memainkan ujung-ujung kuku yang dibiarkan saling beradu. Meski tidak ada jawaban dari orang yang diajak bicara, Arsen tetap duduk di sana–menemani Gabby. Keduanya pun menunggu bus sambil mengobrol atau sebenarnya lebih cocok disebut sesi wawancara daripada mengobrol, karena Gabby hanya menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Arsen.
__ADS_1
Mereka mengobrol sampai bus yang ditunggu Gabby datang. Keduanya pun berpisah dan Arsen berjanji akan menemui Gabby lagi di tempat itu.
Halte bus adalah tempat pertama kali mereka bertemu. Tempat pertama yang telah mempertemukan Gabby dengan seorang guardian angel-nya. Tempat pertama yang membuat Gabby menyukai Arsen sejak awal jumpa, begitupun dengan Arsen. Arsen juga telah jatuh cinta pada gadis lugu yang ditolongnya di awal pertemuan mereka.
"Ar, apa kamu tahu? Sejak pertemuan kita yang pertama, aku tidak bisa melupakan wajahmu dari ingatanku. Aku begitu terpana dengan pesona seorang malaikat yang telah menolongku."
"Aku tahu. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Wajahmu selalu memenuhi isi kepalaku. Aku selalu ingin cepat bertemu denganmu lagi dan lagi, hingga aku menyadari kalau aku telah jatuh cinta kepada gadis yang suka memandangiku secara diam-diam." Arsen menimpali ucapan Gabby.
Di ujung atap gedung dengan diterpa angin malam yang berembus sangat kencang, setelah menyelami masa lalu, Arsen dan Gabby saling mengungkapkan perasaan mereka yang begitu dalam. Keduanya saling berhadapan dengan tangan yang saling menggenggam.
"Gab, aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.,"ucap Arsen dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Jangan menangis!" Gabby mengusap air mata yang meleleh di pipi lelaki yang sangat dicintainya. "Aku juga mencintaimu. Tapi, cinta kita hanya akan menjadi beban untukmu," lanjut Gabby, sambil menangkup wajah lelaki yang sangat dicintainya itu. "Lihatlah cinta kita hanya bisa membuat banyak masalah untukmu! Mungkin akan lebih baik jika aku pergi bersama cinta kita yang hanya membawa penderitaan untukmu. Semuanya akan membaik jika aku mati."
"Tidak, tidak Gab. Kamu jangan berpikir seperti itu. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
"Kalian bukan saudara kandung," ucap Keysa. "Hadiah yang ingin aku berikan kepada Kak Arsen juga adalah bukti kalau kalian bukan saudara kandung," lanjut Keysa.
Gabby menoleh ke arah Keysa yang berdiri dua meter dari pinggir rooftop. Ia tersenyum pahit ke arah Keysa, Gabby sama sekali tidak memercayai ucapan Keysa dan berpikir kalau temannya itu hanya membujuknya untuk menjauh dari rooftop.
"Kamu tidak perlu mengatakan kebohongan untuk membujukku, Key."
"Aku tidak berbohong. Aku berkata yang sebenarnya." Keysa mencoba meyakinkan. "Kak Arsen bukan saudara kandungmu. Tidak ada ikatan darah di antara kalian. Kalian bisa saling mencintai tanpa ada embel-embel apapun," lanjutnya.
__ADS_1
"Meskipun jika iya, aku bukan saudara Arsen. Semuanya sudah tidak berguna lagi sekarang, karena Arsen sudah bertunangan dengan Erika. Dan aku tidak sanggup untuk mengahadapinya." Gabby semakin sesegukan mengingat kenyataan kalau Arsen bertunangan dengan orang lain. Hatinya hancur berkeping-keping dan tidak bisa menerima semua itu.
"Pertunangannya belum terjadi, masih bisa digagalkan," tandas Keysa lagi.
"Tetap saja tidak bisa. Keluarga Arsen tidak akan menerimaku yang hanya gadis biasa, tanpa harta dan kekayaan yang melimpah seperti Erika."
"Untuk hal itu aku bisa membantumu. Aku akan membujuk kakekku untuk mengadopsimu dan mengatakan kalau dirimu adalah anak dari keluarga kaya. Semuanya bisa kita pikirkan nanti, tapi menjauhlah dulu dari sana," pinta Keysa.
Angin berembus semakin kencang menerpa rambut mereka hingga acak-acakan. Gabby menatap Keysa yang selalu membantu dan memperhatikannya. Ia tidak menyangka akan memiliki teman sebaik Keysa yang selalu melindunginya, meskipun mereka belum lama saling kenal.
"Terima kasih, Key, kamu selalu baik padaku. Terima kasih sudah peduli padaku," ucap Gabby dengan seutas senyum yang tertampil. "Tapi terlalu menyakitkan untukku hidup seperti itu," lanjutnya dengan kaki yang mulai melangkah mundur.
Kaki Gabby sudah berada di ujung atap, bahkan sebagian telapak kakinya sudah mengawang di udara dan ia pun memilih melompat dari tempat itu.
"Gab!" teriak Keysa sambil mengulurkan tangannya. Ia tidak menyangka Gabby akan senekad itu.
Di waktu bersamaan, Arsen yang ada di dekat Gabby dengan cepat meraih tangan Gabby dan menariknya.
"Lepaskan aku, Ar! Biarkan aku pergi!" pinta Gabby dengan tubuh sudah bergelayut di udara.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu! Kau tidak boleh melakukan hal ini." Arsen mencoba menarik tubuh itu, tetapi terlalu susah. Tangan Gabby terasa sangat licin, membuatnya tidak mampu mempertahankan tangan itu untuk tetap dalam genggamannya. Bahkan, dirinya pun hampir terbawa oleh tubuh Gabby yang tiba-tiba terasa sangat berat karena pingsan.
Untungnya, Devano dan Ezra datang di waktu yang tepat. Mereka menghentikan acara b*nuh diri tersebut. Dengan cepat, Devano meraih tangan yang hampir terlepas dari genggaman Arsen. Sementara itu, Keysa juga ikut berlari dan malah memeluk Devano agar lelaki itu tidak ikut terjatuh.
__ADS_1
"Kalian masih penuh dengan emosional. Sebaiknya kalian bicara di tempat yang lebih aman," tandas Ezra.
Arsen berkata akan mengingat kejadian saat ini, ketika Ezra, Devano dan Keysa menyelamatkan Gabby dan dirinya. "Terima kasih. Aku akan mengingat hari ini."