
49
Seketika kamar berubah menjadi hening. Keysa, Felix dan Disti melihat ke arah pintu yang telah berhasil didobrak oleh segerombolan orang tidak dikenal. Bahkan Disti yang sedang memotong apel, tanpa sadar menjatuhkan pisau dan buahnya karena ketakutan melihat kegarangan orang-orang itu. Kemudian, spontan berlari ke kamar mandi, bersembunyi di sana.
Dipimpin oleh seorang lelaki bertubuh tegap dengan baju serba hitam serta kaca mata hitam dan topi yang menutupi wajah, segerombolan itu pun masuk tanpa permisi. Keysa dan Felix hanya bisa saling pandang dengan tangan yang sudah saling menggenggam karena takut.
'Siapa mereka? Apa mungkin aku kena grebek? Tapi pakaian mereka tidak seperti pakaian pihak berwajib?' Di tengah ketakutannya, Keysa masih mencoba menerka-nerka siapa orang-orang itu.
Pemimpin dari mereka dengan langkah tegapnya berjalan semakin mendekati Felix dan Keysa. Dari balik kaca mata hitam yang dipakai, ia menatap intens dari ujung kaki sampai kepala dua orang yang sudah ketakutan atas sikapnya. Dengan seringai jahat yang tertampil, kemudian lelaki itu menanggalkan kaca mata hitam dan topinya.
"Kau?" Felix yang mengenali sosok yang sudah tidak berkacamata itu terlonjak kaget. Ia tidak percaya lelaki yang menyukainya bisa mengejarnya sampai ke sana.
"Dia siapa?" tanya Keysa pelan saat melihat Felix sepertinya mengenal mereka. "Apa mereka polisi?" tanyanya lagi, tetapi dijawab gelengan kepala oleh Felix.
Jika bukan polisi lalu siapa yang menggerebek mereka. Mungkinkah orang-orang itu adalah orang-orang jahat? Memikirkan itu, membuat Keysa semakin menggenggam erat tangan Felix. Lelaki yang berada di hadapan mereka itu benar-benar menakutkan.
Lelaki itu melihat kedekatan Felix dan Keysa dengan tidak suka, lalu matanya tertuju pada tangan mereka yang saling menggenggam membuat ia mengepal sempurna. "Aku akan memotong tangan kotormu itu!" Suara bariton lelaki itu mengancam Keysa. "Berani sekali tanganmu memegang lelaki yang kucintai. Lepaskan!"
Spontan, Keysa langsung melepaskan tangannya dan menatap Felix meminta penjelasan. Ia yang masih bingung karena tiba-tiba segerombolan berbaju hitam masuk kamar tanpa permisi dan sekarang dibuat terkesiap oleh pernyataan lelaki berjampang di hadapannya yang membuat benak Keysa dipenuhi sejuta kata tanya. 'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia pacarnya Felix? Dan dia tidak terima kalau aku jalan dengan kekasihnya sampai-sampai bawa pasukan ke sini ?' pikir Keysa.
"Dia orang yang mengejar-ngejarku," jawab Felix, pelan.
"Tangkap gadis itu!" Lelaki itu memerintah anak buahnya untuk menangkap Keysa.
"Apa? Kenapa ditangkap? Apa salahku? Kita bisa bicara baik-baik." Keysa yang masih mencoba mencerna ucapan Felix, langsung terkesiap sekaligus takut oleh ucapan lelaki garang itu.
"Karena kau telah menggoda kekasihku. Aku akan memberikan pelajaran untukmu," jawabnya.
Bawahan lelaki itu pun mendekati Keysa, lalu mencekal tangan Keysa dan menjauhkannya dari Felix. Hingga Keysa tersadar akan sesuatu. Ia mengenali emblem di pakaian gerombolan itu. Keysa pernah melihatnya saat ia berurusan dengan keluarga Devano ketika berpura-pura menjadi tunangan Devano. Tanda pengenal itu sama persis dengan tanda pengenal mereka yang ada di rumah itu. Itu artinya orang-orang yang berada di kamar hotel saat ini pin merupakan orang-orang yang berada di bawah naungan keluarga Abraham.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Keysa yang sudah sangat ketakutan dan mencoba melepaskan diri dari cekalan mereka. "Kalian jangan macam-macam! Aku kenal dengan tuan muda kalian."
Mendengar itu, mereka yang sedang menyeret Keysa pun seketika menghentikan langkahnya.
"Jangan bohong! Kau hanya mencari alasan untuk lepas dariku. Iya, kan?" sarkasnya kepada Keysa. "Bawa dia!" perintahnya lagi.
Anak buah lelaki itu pun kembali mencengkram pergelangan tangan Keysa dan menyeretnya.
"Aku tidak bohong. Aku mengenal tuan muda kalian. Kalian pasti akan menyesal telah melakukan ini padaku." Keysa mencoba meyakinkan orang-orang tersebut.
"Apa kau benar-benar mengenal tuan muda kami?" tanya lelaki itu lagi.
"Iya, aku mengenalnya bahkan kami sangat dekat. Antara aku dan Felix, anda itu hanya salah paham. Kami hanya berteman." Di tengah ketakutannya, ia mencoba tenang dan memberikan penjelasan sejelas mungkin. "Jika kau tidak percaya, aku bisa telepon Dev sekarang."
Orang itu tampak berpikir sejenak, memperhatikan Keysa mencari kebohongan dari wajah gadis itu. "Baiklah, jika tuan muda mau bicara dan kau bisa membuktikan kalau kau benar-benar mengenal tuan muda, aku akan melepaskanmu," tandasnya kemudian sambil menggerakkan tangan, memberikan kode kepada anak buahnya untuk melepaskan Keysa.
Anak buah lelaki bermuka garang itu pun melepaskan cengkraman di tangan Keysa. Tanpa menunggu lagi, Keysa langsung mengambil ponsel yang ada di atas ranjang, lalu menghubungi Devano.
"Kenapa kau bisa berhubungan dengan mereka?" tanya Devano dengan nada bingung.
Keysa pun tidak kalah bingungnya. Ia harus menjawab apa? Ia tidak mungkin menjelaskan kalau dirinya ditangkap saat kumpul kebo dengan Felix dan terciduk oleh kekasih Felix. "Masalahnya rumit. Tak bisakah kamu datang dan menolongku? Atau kalau tidak, kamu berbicara dengan mereka supaya mereka mau melepaskanku," ucap Keysa, kemudian.
"Berikan hp-nya saja kepada mereka," perintah Devano.
Sedikit senyum bisa tertampil di wajah Keysa karena Devano berkenan untuk membantu. Ia pun lantas memberikan ponselnya kepada bos gerombolan tersebut dan Devano berbicara sebentar dengan lelaki itu.
Setelah menutup telepon, lelaki itu pun meminta anak buahnya yang sedang mencekal Keysa lagi untuk melepaskannya. "Baiklah sesuai keinginan Tuan Muda, aku akan melepaskanmu. Tapi, jangan pernah sekali-kali kamu berharap menjadi kekasih Felix," ucapnya sambil memberikan ponsel Keysa. "Satu lagi, Tuan Muda menyuruhmu untuk datang ke klub," lanjutnya yang hanya dijawab anggukan oleh Keysa. "Aku juga tidak akan menyakiti Felix dan temanmu satu lagi," tandasnya lagi, saat Keysa menatap Felix yang juga dikelilingi lelaki berseragam hitam dan menatap pintu kamar mandi secara bergantian.
***
__ADS_1
Keysa yang sudah terbebas dari gerombolan itu pun, langsung membawa Disti yang ketakutan pulang ke asrama. Kemudian, pergi ke klub untuk berterima kasih kepada Devano.
"Aku sudah tidak bisa menahannya." Sesampai di klub, Keysa tidak langsung menemui menemui Devano. Ia yang tadi ketakutan setengah mati hampir saja pipis di celana. Namun, karena malu Keysa menahannya dan sekarang ia pergi ke toilet dahulu menuntaskan yang sejak tadi ditahannya.
Saat hendak keluar dari toilet. Keysa mendengar percakapan dari dalam toilet pria. Suara itu merupakan suara dua orang pemuda yang menyebut Keysa 'kakak ipar'.
"Sepertinya Devano memang sudah tergila-gila kepada seorang Keysa gadis berkacamata itu," ucap salah satu dari mereka yang diakhiri dengan tawa keduanya.
"Ya. Dunia memang aneh, ya, bisa-bisanya lelaki yang paling populer malah mengejar-ngejar gadis yang standarnya jauh dari gadis-gadis yang suka mengejarnya. Bahkan, ia rela melakukan segala cara untuk menggagalkan kencan Keysa dengan Felix." Pemuda satunya lagi, ikut menimpali.
"Bisa-bisanya ia menyuruh bos preman itu menyusul ke kamar hotel untuk buat rusuh di sana. Dan, sekarang ia sedang ongkang-ongkang kaki menunggu si Keysa berterima kasih kepadanya."
"Padahal ... itu semua idenya dia," ucap keduanya secara bersamaan dengan tawa yang kemudian menggema di ruangan kecil itu.
Keduanya terus bercakap-cakap membicarakan Devano dan segala rencana lelaki itu yang berhasil membuat Keysa datang ke klub untuk membalas kebaikan Devano, yang sebenarnya hanya akal bulus seorang Devano saja.
Percakapan mereka tidak luput dari pendengaran Keysa, membuat gadis itu kesal dan merasa dipermainkan. Dengan menahan amarah yang hampir meledak, Keysa keluar dari toilet sambil membanting pintu toilet dengan sangat keras.
Saat mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras, kedua pemuda itu langsung terdiam dan segera keluar toilet untuk melihat apa yang terjadi. Seketika keduanya membisu dengan mata yang saling tatap saat melihat seorang gadis baru saja keluar dari toilet. Mereka tahu betul siapa yang keluar dari sana dan kenapa orang itu membanting pintu toilet.
"Mati kita!" ucap keduanya bersamaan.
"Sepertinya akan ada perang besar yang akan bisa tonton." Salah satu pemuda itu menarik temannya untuk bergegas ke ruangan tempat Devano berada.
Namun, setiba di sana mereka berdua malah disuguhkan Keysa yang sedang berterima kasih karena Devano telah menolongnya.
"Mana perangnya? Mereka baik-baik saja," gumam lelaki yang ditarik paksa oleh temannya, padahal ia belum selesai melakukan ritualnya di kamar mandi.
"Sepertinya prediksiku salah." Temannya menimpali.
__ADS_1