
Dibantu oleh Devano, Keysa memabwa Kakek Surya ke kamar. Keduanya memapah Kakek Surya sampai ke dalam kamar.
"Bagaimana kalau Kakek ikut saja pindah ke kota," ucap Devano kepada Keysa.
Setelah melihat tempat sekitar dan tempat tinggal yang memeperhatinkan, Devano memutuskan untuk mengajak kakeknya Keysa itu untuk tinggal di kota.
Keysa menoleh ke arah lelaki yang berada di sebelah kanan sang kakek. Ia sangat terharu dengan kebaikan Devano dan merasa bersalah karena telah membohonginya.
"Aku tidak menyangka dia bisa berubah sebaik dan sweet ini. Apa aku salah telah membohonginya? Bagaimana jika nanti dia tahu yang sebenarnya." Batin Keysa terus berkecamuk, antara membeberkan kebenarannya dan terus melanjutkan penyamarannya. "Maafkan aku yang sudah menipumu," gumam Keysa, tanpa ada suara. Hanya sorot mata yang menyiratkan sebuah penyesalan.
Devano sendiri, masih terus berbicara menimpali kakek Surya yang sedang mengoceh karena ajakan Devano itu, tanpa mengindahkan Keysa sedang meliriknya dengan sendu.
"Aku tampan. Pesonaku juga luar biasa, tapi jalannya liat-liat, lurus ke depan! Kesandung satu orang yang jatuh bertiga," tukas Devano, menyadari Keysa sedang melihat ke arahnya.
"Apa sih." Keysa langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah yang sudah merona. Sementara itu, Devano hanya menyunggingkan senyum.
Setiba di kamar, Keysa dan Devano langsung memapah Kakek menuju ranjang, lalu membaringkan lelaki itu di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu dan kasur yang sudah tidak empuk lagi.
Melihat semua itu, Devano semakin merasa miris dengan kehidupan Kakek Surya. "Kasihan sekali kakek, di masa tua bukannya senang -senang, ini masih harus tetap berjuang. Bed-nya juga terasa sangat keras, pasti membuat tubuh sakit dan pegal," gumamnya dalam hati.
Selepas mengantar kakek, Keysa pergi ke dapur dan diikuti oelh Devano. Ia lantas mengambil barang-barang kotor yang hendak dibawanya ke tempat cuci.
"Kamu mau apa?" Dengan cepat Devano mengambil alih barang-barang kotor yang dipegang Keysa.
"Mau mencuci piring."
"Biar aku saja," tandas Devano, seraya membawa piring dan barang kotor lainnya ke tempat cuci yang berada di belakang dan terpisah dengan rumah.
"Memang bisa?" Keysa memicingkan sebelah mata sambil mengimbangi langkah lebar Devano.
__ADS_1
"Bisa," jawab Devano dengan pasti.
"Yakin?" tanya Keysa lagi.
Devano menoleh ke arah gadis yang juga sedang menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak percaya. "Kita buktikan saja," tandas Devano lagi, dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, meskipun itu kali pertama dirinya melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, Devano tidak mau terlihat remeh di hadapan Keysa. Ia akan membuktikan kalau dirinya jago dalam segala hal.
"Ok, ayo kita buktikan!" tantang Keysa dengan seringai lebar menghiasi wajah.
Devano benar-benar melakukannya. Ia mencuci semua perabotan bekas makan sampai bersih, meskipun setelah melalui beberapa drama terlebih dahulu. Lelaki itu, malah mencuci piring dengan menggunakan detergen pakaian, bukan menggunakan sabun pencuci piring. Hal tersebut, membuat dirinya ditertawakann oleh Keysa.
"Maklumlah ini kali pertama. Salahin sabun pencuci piringnya, kenapa gak ngomong harusnya pakai dia bukan detergen," sarkas Devano, yang tidak mau menerima kekalahan.
"Ya ... ya .. aku paham," Keysa berucap seraya mengulum senyum. "Makasih, sudah mau bantu," lanjut Keysa. Walau bagaimanapun tindakan Devano patut diacungi jempol. Ia sangat terharu dan kagum akan kepedulian lelaki itu.
Malam masih belum terlalu larut. Keysa membawa Devano jalan-jalan. Dengan bergandengan tangan, keduanya menyusuri jalanan agak kecil, menikmati suasana malam yang ditaburi bintang serta bulan yang menjadi pencahayaan alami di tempat itu.
Devano merangkul tubuh Keysa untuk semakin mendekat dengannya. Dan, seperti kebiasaan mereka, keduanya mulai berburu rasi bintang.
"Lihatlah bintangnya terang dan indah sekali!" seru Keysa seraya menunjuk ke atas, saat matanya menangkap sebuah bintang yang sangat terang yang di kelilingi bintang-bintang kecil di sekitarnya. Keysa terpana menatap langit yang sangat memukau.
"Itu kurang bersinar dan kurang indah," jawab Devano yang sejak tadi memerhatikan wajah Keysa yang terlihat sangat bahagia.
"Memang ada yang lebih terang?"
"Ada," jawab Devano, tanpa mengalihkan pandangannya dari Keysa.
"Mana? Aku tidak menemukannya," tanya Keysa , dengan mata yang mulai beredar ke sana kemari mencari bintang yang dimaksud Devano.
"Bintangnya bukan di langit, tapi di sini," jawab Devano sambil menarik tubuh Keysa agar menghadap ke arahnya. "Bintangnya adalah kamu," lanjut Devano dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Hah?" Keysa yang mendengar ucapan Devano dibuat melongo tidak percaya. Lelaki sekelas Devano lagi-lagi mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat Keysa terserang diabetes.
Belum lagi ucapan Devano yang didengarnya tadi sang saat bersama Kakek Surya semakin membuat Keysa terharu bercampur bahagia yang tak terhingga. Bahkan, drai percakapan mereka, Keysa mulai tahu bahwa dari 158 mantan pacar Devano, sebagian besar hanya mengaku-ngaku saja. Devano sendiri merasa tidak pernah memacari mereka.
Devano tak berucap lagi. Ia mendekatkan wajahnya kepada wajah yang masih tampak terkejut itu dan mendaratkan bibirnya di bibir Keysa, yang membuat Keysa semakin terperangah.
Di keheningan malam yang cukup dingin, di bawah sinar rembulan dan hamparan bintang yang berkelap-kelip, Devano memanfaatkan kesempatan indah itu untuk mencium Keysa—melupakan janjinya sendiri kepada Kakek Surya.
Keysa melepaskan diri saat Devano hendak memperdalam ciumannya. Ia pun dengan cepat berlari menjauh dari lelaki yang baru saja menyanjungnya sampai ke langit.
"Key, kau mau ke mana?" Devano tidak terima Keysa kabur begitu saja.
Keysa tidak menjawab. Ia hanya menoleh sambil memeletkan lidah.
Keduanya pun berlari dan saling berlari di dalam hutan.
"Aww ...." Melihat Devano yang terus mengejarnya, Keysa pun berpura-pura jatuh.
"Aktingmu kurang mumpuni," tandas Devano dengan tangan yang bersedekap sambil menatap gadis yang masih terduduk di tanah.
Devano tahu kalau Keysa hanya pura-pura. Keysa pun memohon ampun karena sudah mengerjainya.
"OK. Aku maafkan, asal cium aku," tandas Devano dengan tangan yang masih terlipat di dada.
"Ok. Cuma cium doang gampang," jawab Keysa.
Keysa berdiri sambil mmebersiihkan celananya yang sedikit kotor. Kemudian dengan gerakan cepat ia menempelkan bibirnya di bibir Devano.
Dengan cepat pula, Devano menahan bibir itu untuk tetap berada di sana. Ia menangkup pipi Keysa dan memperdalam ciumannya. Mereka pun menikmati ciuman tersebut dan tak rela untuk melepaskannya. Meskipun Keysa sangat sadar dengan apa yang dilakukannya.
__ADS_1