
Malam berlalu terasa begitu lambat. Keysa yang dirundung kesal kepada Devano sejak hari mulai gelap tidak bisa tidur karena terus memikirkan ulah Devano dan ingin meminta penjelasan secara langsung dan memberikan pelajaran kepada lelaki itu.
"Ish ... kenapa jam jalannya lambat sekali!" rutuk Keysa setelah melihat jam di ponsel yang masih menunjukkan tengah malam, kemudian membolak-balik tubuhnya.
Pergi menemui Devano dan meminta penjelasan malam-malam pun tidak memungkinkan karena keadaan di luar sedang hujan badai. Keysa hanya bisa bersungut-sungut kepada guling seakan dirinya sedang merutuki Devano.
"Kamu kenapa, Key?" Disti yang sudah tidur dan mendengar Keysa yang marah-marah tidak jelas membuatnya terbangun.
"Gak bisa tidur lagi pengen makan orang," tandas Keysa sambil menyiksa guling.
"Ish, kamu ada-ada saja. Tidur gih udah malam, besok kuliah kesiangan lho." Disti menyuruh temannya untuk segera tidur dan melarang untuk berisik.
Keysa pun hanya manggut-manggut dan mencoba menutup mata, meskipun pikirannya masih tidak bisa diajak kompromi.
***
Mentari sudah menampakan diri dan memperlihat cahaya kekuningan menerpa dedaunan yang masih basah serta jalanan yang licin bekas hujan semalam. Langit pun tampak bersih sepertinya hari akan cerah pengganti badai semalam. Keysa sudah siap pergi ke kampus, padahal hari masih sangat pagi. Dengan mata panda karena tidak tidur semalaman, Keysa berangkat ke kampus untuk meminta penjelasan dari lelaki yang bernama Devano Gavin Mahardika itu.
Saat ini Keysa sudah duduk di kantin kampus sambil menikmati secangkir kopi untuk menjaga matanya agar tidur saat mata kuliah berlangsung. "Ini gara-gara Devano. Pagi-pagi gini aku sudah minum kopi gara-gara tidak tidur semalaman." Keysa meletakkan cangkir yang baru saja disesap isinya, hingga kedua indra penglihatannya tertuju pada orang yang berjalan ke arahnya dengan senyum yang mengembang.
"Pagi kesayangan," sapa Devano begitu sampai di tempat Keysa duduk, kemudian duduk di kursi kosong, tanpa curiga apapun.
Keysa yang melihat senyum bahagia Devano hanya mencebik, lalu kembali meraih gelas dan menyeruput kopi sampai habis.
__ADS_1
"Sepertinya cintaku sudah merasuki jiwa dan ragamu sampai-sampai pagi-pagi buat begini kamu sudah memintaku datang. Apa aku sengangenin itu?" ujar Devano lagi, setelah memesan minuman susu hangat dan roti bakar kepada pelayan kantin. Ia yang dihubungi Keysa pagi-pagi buat, belum sarapan karena Keysa mengatakan ingin bertemu dan ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Keysa masih menyesap kopi. Ekor matanya menatap tajam kepada lelaki yang tampak biasa-biasa saja dengan wajah tanpa dosa, bahkan sempat-sempatnya menggoda–membuat Keysa semakin muak. Gadis yang memakai sweater rajut peach itu langsung berdiri sambil menyimpan cangkir yang sudah kosong dengan sedikit tenaga, hingga membuat gesekan antara cangkir dan meja cukup keras.
"Key, hati-hati menyimpan gelasnya nanti pecah." Devano sampai terjengkat karena ulah Keysa, dan semakin dibuat terkejut saat melihat gadis di hadapannya sedang menatap tajam ke arahnya dengan wajah yang tidak bersahabat. "Ekspresi wajahmu kenapa menyeramkan begitu?" gumam Devano yang belum menyadari kalau Keysa mengetahui perbuatannya.
Keysa mencondongkan tubuhnya dengan tangan yang bertumpu pada pinggir meja hingga jarak mereka cukup dekat. Menatap tajam Devano. "Aku ingin taruhan kita batal," ucapnya, lalu duduk lagi.
"Eh, kok, batal? Katanya ingin mobil sport, tanggung tinggal sehari lagi." Devano tidak ingin taruhan itu batal. Ia harus mengikat Keysa, agar gadis itu tidak mau berpaling dengannya, apalagi setelah mendengar kalau Keysa tidak mau menikah dengannya.
Keysa masih menatap tajam Devano, kemudian menggebrak meja dan berhasil membuat Devano menelan ludah oleh ucapan Keysa. "Devano Gavin Mahardika, aku tahu rencanamu. Mau nunggu besok ataupun sekarang hasilnya sama saja. Aku yang kalah," tandas Keysa sambil membuang muka.
"Eh, eh, maksudnya gimana?" Devano masih pura-pura tidak mengerti, meskipun fillingnya mengatakan kalau Keysa sudah mengetahui semuanya.
Devano membuang napas kasar, perkiraan benar. "Jadi kamu sudah mengetahuinya?" tanya Devano dengan wajah lesu.
"Hmm ...." Keysa mengangguk.
"Tapi pertaruhan tetaplah pertaruhan. Kita sudah sepakat, jadi pertaruhan harus tetap lanjut." Biarpun Keysa sudah mengetahuinya, tetapi Devano tetap tidak mau pertaruhannya dibatalkan.
"Eh, kesepakatan dari mana? Tidak ada kesepakatan menyekap Alea," tutur Keysa, padahal ia juga berniat menyekap Alea, tetapi didahului Devano. "Pokoknya pertaruhan kita batal. Titik."
Devano tetap menolak dan ingin pertaruhan berlanjut. Akhirnya kesepakatan baru didapat, mereka membuat taruhan baru.
__ADS_1
"Ok, begini saja kita taruhan lain lagi saja. Kita bermain tenis. Jika kamu menang pertaruhan pertama batal, tapi jika aku yang menang pertaruhan pertama lanjut."
"Apa ada opsi lain?"
Devano menggeleng.
Berdebat dengan Devano memang akan susah untuk menang. Lelaki itu akan tetap mempertahankan keinginannya sampai menang. Keysa pun mau akhirnya terpaksa menyetujui ajakan Devano.
***
Setelah mengganti pakaian, Keysa dan Devano pergi ke lapangan bersama-sama. Sesampai di lapangan orang-orang terkejut dengan kecantikan Keysa. Keysa tampak cantik dengan seragam dan sepatu serba putih. Tidak lupa kacamata hitam yang bertengger untuk menutupi mata panda agar wajah cantik dan putih mulus itu tidak ternoda.
"Keysa cantik sekali. Pantas saja dia memenangkan ajang putri kampus. Cantiknya memang tidak ada duanya."
"Inilah yang disebut bidadari turun ke bumi."
"Andai dia jadi pacarku aku akan menyembunyikannya hingga tidak ada satupun lelaki yang berani merebutnya."
Para lelaki yang ada di lapangan tidak hentinya memuji kecantikan Keysa. Begitu pun dengan para wanita, mereka juga memuji kecantikan Keysa yang memang tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan mereka. Mereka yang dulu menghina Keysa habis-habisan pun menjadi malu sendiri dan seperti menjilat ludah sendiri.
Cheryl yang juga ada di sana dibuat iri dengan sikap orang-orang yang memuji dan mengagung-agungkan Keysa. Ia menatap tak suka kepada gadis yang berjalan mendekat ke arahnya. Mood-nya yang sedang bermain pun langsung hancur seketika.
Devano mengajak Keysa untuk menyapa teman-temannya yang sedang berlatih dan melewati Cheryl begitu saja. Ia memperkenalkan Keysa kepada mereka.
__ADS_1
Dari perkenalan serta percakapan dengan teman-teman Devano, Keysa baru mengetahui kalau Devano memiliki julukan 'Raja Bola Tenis'. Keysa benar-benar dipermainkan oleh lelaki yang berpredikat sebagai kekasihnya.