
Sepulang kuliah, Keysa dan Disti berjalan bersama pulang ke asrama. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Bahkan sampai di asrama pun tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Hingga, sampai di depan pintu kamar, Disti baru mulai bicara dan meminta maaf atas kejadian tadi.
"Maaf," ucap Disti, menghentikan langkah Keysa yang hendak membuka pintu. "Maafkan aku, Key."
Keysa menoleh, dilihatnya Disti yang berdiri di sampingnya sedang menunduk sembari memainkan jemari yang diadu.
"Untuk apa meminta maaf kepadaku? Minta maaflah kepada dirimu sendiri," jawab Keysa sedikit ketus. Ia masih sedikit kesal kepada sahabatnya itu, yang mau saja berlutut dan meminta maaf, meskipun tidak melakukan kesalahan apapun.
"Kuliah di sini adalah impianku sejak kecil. Tapi, kamu tahu sendiri, Key, aku bukanlah orang kaya. Orang tuaku hanyalah petani di kampung, penghasilannya tidak akan cukup untuk membiayaiku di sini. Aku bisa masuk sini pun karena dapat beasiswa. Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana aku hidup di sini? Untuk kuliah di sini aku membutuhkan banyak uang untuk bertahan hidup. Aku tidak rela kalau mereka menghancurkan bisnis kita. Hanya dari sana aku bisa mendapatkan uang dengan cepat karena gaji dari kerja part time dibayar bulanan." Dengan wajah sendu, Disti mencoba menjelaskan alasannya sampai rela berlutut di hadapan Felly. Air mata pun tanpa bisa ditahan menetes begitu saja.
Sebenarnya Keysa juga mengerti dengan keadaan Disti, tetapi ia sedih melihat Disti yang rela berlutut hanya demi uang. Melihat wajah sendu yang tidak berani menatapnya itu, Keysa lantas memeluk Disti.
"Aku paham, Dis. Malah sangat-sangat paham. Maaf karena ulahku kamu juga terkena imbasnya," ucap Keysa. "Aku tahu kamu orang baik, tapi menurutku kamu tak seharusnya merendahkan diri di hadapan mereka. Jangan mentang-mentang kita orang tidak punya, kita mau saja dihina begitu saja oleh mereka. Rendah hati itu harus, tapi rendah diri jangan. Sekali saja mereka berhasil merendahkan kita, selamanya kita akan diinjak-injak. Sayangi diri kita, hargai diri kita, supaya orang-orang tidak menganggap remeh kita." Keysa berbicara panjang lebar yang hanya dijawab anggukan oleh sahabat yang masih dipeluknya.
"Aku dapat ilham dari mana, ya? Sepertinya otakku bergeser sedikit, tiba-tiba jadi bijak begini," kelakar Keysa sambil mengurai pelukan mereka, membuat keduanya tertawa.
Suasana antara keduanya kembali mencair seperti biasa lagi. Keysa dan Disti tertawa lepas mendengar kelakar Keysa.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang gadis keluar dari sana, membuat tawa mereka terhenti. Seingat Keysa, sebelumnya pintu kamar itu sudah dikunci.
Gadis itu tampak kaget saat melihat Keysa dan Disti, begitupun sebaliknya.
"Apakah kalian juga tinggal di asrama ini?" tanya Gadis itu.
Keysa dan Disti saling bertukar pandang.
__ADS_1
"Kenalkan namaku Gabby." Gadis itu mengulurkan tangan sembari memperkenalkan diri.
"Keysa."
"Disti."
Keysa dan Disti juga saling memperkenalkan diri. Gabby memiliki paras cantik, tetapi pemalu. Terbukti saat Keysa dan Disti memperhatikannya, Gabby langsung menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka pun masuk, lalu mengobrol sebentar.
"Kenapa tiba-tiba kembali tinggal di asrama?" tanya Disti, setelah tahu bahwa Gabby adalah penghuni kamar mereka jauh sebelum Keysa dan Disti menghuni kamar tersebut.
"Karena ada sedikit urusan pribadi," jawab Gabby, seakan-akan tidak mau memberitahu alasan detailnya.
Keysa dan Disti pun tidak berniat memperpanjang pertanyaan mereka. Hingga, tiba-tiba terdengar gebrakan keras di pintu yang mengejutkan ketiganya.
"Aku lihat dulu," jawab Disti, lalu beranjak hendak melihat siapa di depan pintu.
Namun, belum juga melangkah, Gabby sudah mencekal dan meminta Disti untuk tidak membuka pintu.
"Kenapa tidak boleh? Siapa tahu orang penting," jawab Disti dan Keysa bersamaan.
"Apakah boleh untuk tidak bertanya?!" Pertanyaan Disti dijawab oleh sebuah pertanyaan yang terkesan memerintah oleh Gabby.
Disti dan Keysa terdiam, begitu mendengar perkataan Gabby.
__ADS_1
"Eh, copot!" Disti yang masih berdiri langsung duduk karena kaget saat pintu kembali digebrak dengan sangat keras.
"Gab, Gabby keluar!" teriak orang di depan pintu memanggil Gabby. "Gabby keluar! Aku tahu kamu ada di dalam. Keluarlah! Ada yang ingin aku bicarakan," teriak orang itu lagi, sambil terus menggebrak pintu.
Disti menatap Keysa, seolah-olah bola mata gadis itu bertanya 'ada apa?'. Sementara itu yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya, sama-sama tidak tahu.
Gabby berjalan ke arah pintu, tetapi bukannya membuka pintu, ia malah menyuruh orang itu pergi.
"Pergilah! Aku tidak mau bertemu denganmu," ucap Gabby kepada orang yang terhalang pintu itu.
"Tidak. Kita harus bicara dulu. Keluarlah! Kita bicarakan semuanya baik-baik." Orang di luar terus meminta Gabby keluar.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita. Jadi, pergilah!" jawab Gabby, keukeuh pada pendiriannya.
Percakapan Gabby dan orang di luar membuat Keysa dan Disti semakin bingung.
Selang beberapa waktu, akhirnya suara gebrakan itu terhenti dan orang di depan pintu juga pergi. Gabby lantas berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring dengan wajah yang sedih. Ia tidak bicara lagi. Sementara itu, Disti juga pergi karena harus bekerja lagi.
Keysa yang tidak ada kerjaan pun memilih duduk santai di ranjang miliknya. Sekilas menoleh ke arah ranjang di sebelah, tetapi tidak pergerakan dari pemiliknya. Entah sudah tidur atau sedang menangis, Keysa tidak tahu karena Gabby membelakanginya.
Suasana di kamar pun terasa sangat sepi dan menjenuhkan. Akhirya, untuk mengobati kejenuhannya Keysa membuka kembali laptop dan membuka sosial medianya. Ada sebuah pesan masuk lagi. Setelah dilihat ternyata pesan itu dari Ezra.
[Faya, maafkan aku. Mungkin aku sudah tidak sopan mengajakmu bertemu. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Tapi, jika kamu tidak mau bertemu, bolehkan kita mulai dari berteman online dahulu?]
Membaca pesan dari Ezra, membuat Keysa menyadari satu hal. Setelah pagi tadi, ia tidak melihat Ezra lagi di kampus.
__ADS_1
"Dia langsung pergi ke mana?"