
Ezra menatap punggung Keysa yang berjalan jauh meninggalkannya. Ia sangat menyesal terlambat mengetahui fakta sebenarnya tentang Keysa. Ezra memang baik terhadap Keysa, tetapi andaikan Ezra tahu Keysa adalah Faya sejak awal tentu ceritanya akan lain lagi.
Sementara itu, di dalam kelas, setelah kepergian Keysa dan Ezra, Alea menghampiri Devano dan mencoba memanas-manasi lelaki itu. Ia mencoba mengadu domba Keysa, Devano dan Ezra.
"Dev, aku tidak menyangka kamu mau saja dikelabui oleh sahabat dan kekasihmu itu," ucap Alea, sambil duduk di samping bangku Devano.
Devano melirik sekilas kepada Alea, kemudian beralih lagi pada ponsel yang dipegangnya. Mengabaikan gadis yang sedang menjelek-jelekkan sahabat dan kekasihnya itu.
"Ayolah, Dev! jangan hanya karena cinta kamu berubah jadi orang bodoh. Apa kamu tidak curiga sama sekali dengan mereka berdua? Secara gitu … bagaimanapun mereka itu adalah lelaki sama perempuan, bicara berdua hanya empat mata, apa kamu tidak berpikir kalau mereka ada sesuatu?" Alea terus mengompori Devano yang tumben tidak cepat terbakar.
"Tidak," sarkas Devano, singkat.
Alea tersenyum miris dengan kepala yang menggeleng, sebesar itu kepercayaan Devano kepada Keysa. 'Rasanya pasti akan sangat sakit kalau tahu yang sebenarnya,' tandas Alea dalam hati.
"Semoga saja mereka berdua tidak mengkhianatimu. Karena dikhianati oleh orang-orang terdekat itu rasanya sakit sekali," sarkas Alea lagi.
Devano meletakkan ponselnya, lalu menoleh ke arah Alea dengan tatapan setajam silet. "Aku memercayai Keysa juga Ezra. Mereka tidak akan pernah mengkhianatiku, jadi jangan pernah mencoba mengomporiku lagi," sarkas Devano, lantas beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Alea yang tampak biasa-biasa saja.
'Kita lihat saja nanti. Apa yang akan kamu perbuat jika semuanya terbongkar. Ezra sudah mengetahui dan perlahan aku juga akan membuatmu mengetahui semuanya. Akhirnya ... kamu dan Keysa pun end,' gumam Alea sangat pelan. Seringai licik menghiasi wajah dengan tangan yang digerakkan di depan leher seperti menebas pohon.
***
Keysa kembali ke kelas sambil membawa sebotol minuman berukuran besar dengan wajah datar dan ekspresi yang sulit ditebak. Alea yang melihat kedatangan Keysa dengan minuman di tangan pun merasa bahwa minuman itu ditujukan untuknya. Mengingat sikap Keysa yang terkenal barbar kepada siapapun yang mengusik hidup gadis itu, membuat Alea berpikir kalau air itu hendak ditumpahkan kepadanya.
"Hhhh ...." Alea bergidik, membayangkan air di botol itu mengguyur tubuhnya. 'Itu tidak boleh terjadi,' gumamnya dalam hati.
Keysa terus berjalan semakin mendekati Alea. Matanya menatap tajam ke arah gadis yang sedang duduk di samping bangku Ezra. Dari kilatan mata, terpancar sangat jelas kalau Keysa siap membalas genderang perang yang sudah ditabuh Alea.
"Zian." Alea sengaja memanggil nama Zian agar Keysa mengurungkan niat untuk mengguyurnya.
Keysa yang sudah berhadapan dengan Alea pun, refleks menoleh, Keysa takut kalau lelaki itu sampai menyusulnya ke tempat kuliah. Akhirnya, bernapas lega saat tidak ada di sana, sekaligus geram karena Alea lagi-lagi mengerjainya.
"Tadi aku stalking akun Zian. Aku melihat story-nya dan kami saling berbalas pesan di kolom komentar," lanjut Alea. Sebuah ucapan yang merupakan ancaman bagi Keysa jika Keysa berani macam-macam maka Alea akan memberitahu keberadaan Keysa saat ini.
__ADS_1
Ezra dan Devano yang duduk berdampingan saling pandang, mereka merasa tidak asing dengan nama tersebut.
Keysa mengembuskan napas kasar. Lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa dengan sikap Alea, padahal tangan sudah gatal untuk memberinya pelajaran. Keysa lantas duduk di bangku Ezra yang masih kosong karena Ezra duduk di bangkunya, kemudian meminum air yang dibawa.
"Hari ini hawanya panas sekali sampai-sampai hausnya kebangetan," tandas Keysa, setelah meneguk air itu.
Alea bernapas lega sambil mengelus dada saat melihat Keysa tidak melakukan hal aneh kepadanya.
"Apa kamu berpikir aku akan melakukan hal buruk?" Keysa yang sempat melihat ekspresi lega Alea langsung memicingkan mata ke arah Alea. Akan tetapi, langsung disanggah oleh gadis itu. "Air ini memang untuk menyirammu jika kamu berani bicara macam-macam lagi. Bukan hanya kamu yang bisa mengancam, aku juga bisa. Ingat kartumu juga ada padaku, jika kita tidak mau sama-sama jatuh sebaiknya saling diam saja," lanjut Keysa, memperingati Alea dengan berbisik.
Keysa dan Alea saling memberikan tatapan tajam, hingga akhirnya dosen pun masuk untuk memberikan mata kuliah pertama.
Setelah jam mata kuliah usai, Keysa baru menyadari kalau Disti tidak ikut kelas. Ia mencoba menghubungi, tetapi kunjung tersambung.
"Dia ke mana? Kenapa tidak masuk? Apa dia sakit?" Keysa mulai merasa khawatir. Saat ia hendak berangkat kuliah, Disti terlihat tidur lagi.
"Apa terjadi sesuatu dengannya? Aku merasa tadi pagi Disti terlihat aneh, bahkan saat aku bangunkan untuk berangkat kuliah pun dia tidak menyahut," gumam Keysa lagi.
Sejak kembali asrama dari hotel tadi pagi, Keysa melihat ada gelagat aneh dengan Disti yang seperti menghindarinya. Namun, saat ditanya gadis itu selalu menjawab 'tidak ada apa-apa' dan menutupi perbuatannya dengan Exel. Akhirnya, Keysa memutuskan untuk pulang ke asrama dan melihat keadaan Disti terlebih dahulu. Tidak lupa ia mampir di kantin dan membawa makanan untuk Disti.
Setiba di asrama tampak Disti yang masih terbaring di tempat tidur dengan pakaian yang sudah berganti, tetapi matanya terlihat sembab pertanda ia habis menangis lama.
"Dis, kamu baik-baik saja?" tanya Keysa, menghampiri Disti yang sedang bangun begitu melihat Keysa masuk ke kamar.
Disti beringsut dan menyandarkan tubuh belakangnya di kepala ranjang. "Aku baik-baik saja," ucapnya, mencoba tersenyum.
"Aku bawa makanan untukmu. Takutnya kamu belum makan apapun dari pagi." Keysa menyodorkan kresek berisi makanan yang dibelinya.
Disti yang memang belum makan apa-apa langsung menerima makanan itu dan berterima kasih.
"Apa kamu yakin tidak apa-apa? Wajahmu pucat dan matamu juga sembab begitu," tanya Keysa lagi, memastikan.
Disti mengangguk pasti. "Aku tidak apa-apa, Key. Hanya sedikit pusing saja," jelasnya.
__ADS_1
"Kalau gitu kita ke klinik, ya." Keysa masih tidak yakin kalau Disti itu tidak kenapa-kenapa. Namun, Disti juga meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Apa ada masalah? Kalau butuh teman cerita, kamu bisa bercerita Sama aku," tandas Keysa lagi.
Melihat sikap Keysa yang begitu baik dan sangat mengkhawatirkannya membuat Disti sangat terharu. Namun, ia juga tidak bisa mengatakan semuanya. Ia memutuskan untuk memendam semuanya sendiri, karena jika Keysa tahu perlakuan Exel sudah pasti Keysa tidak akan berdiam diri, sedangkan dirinya sangat mencintai lelaki bejat itu. Keysa sendiri tidak bisa memaksa. Setelah mengantar makanan, Keysa pun memilih untuk kembali ke kampus.
***
Sepulang kuliah, Keysa yang baru keluar dari kelas berpapasan dengan Cheryl. Gadis itu menghadang langkah Keysa hingga Keysa terpaksa menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Keysa, begitu malas meladeni Cheryl.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau kakakku mencarimu. Dia sedang menunggu di parkiran," tandas Cheryl dengan seringai jahat menghiasi wajah.
"Ok," tandas Keysa, lalu meninggalkan Cheryl. Namun, langkahnya kembali terhenti saat Cheryl mencekal tangannya.
"Jangan terlalu geer dengan sikap kakakku karena dia hanya ingin bermain-main saja denganmu. Jangan pernah berharap lebih setelah kebersamaan kalian semalam," tandas Cheryl. Menatap tajam Keysa dengan senyum jahat yang terbit di bibir berwarna merah bata itu.
Keysa menatap balik Cheryl dengan pikiran yang mulai tertuju kepada kejadian semalam. Mungkinkah gadis di hadapannya dan Exel yang memberikan obat pada minumannya? Sedikit tidak percaya kalau gadis itu bisa berbuat selicik itu.
'Sepertinya aku harus lebih waspada lagi terhadap Cheryl,' gumamnya dalam hati.
"Aku akan mengingatnya," ucap Keysa, lalu pergi setelah melepaskan genggaman Cheryl.
Keysa dan Devano meninggalkan Cheryl dan langsung menemui Exel.
Senyum merekah di bibir Exel dengan wajah yang terlihat sangat mendamba ketika melihat Keysa menghampirinya.
"Hai, Key, apa kabarmu? Apa sudah membaik?" tanya Exel.
"Tidak perlu so perhatian dan berpura-pura baik padaku. Aku tidak menyangka kamu setega itu. Mulai hari ini aku putuskan kita tidak berteman lagi. Aku tidak sudi memiliki teman sepertimu," sarkas Keysa, meluapkan kekesalannya. "Mulai hari ini jangan pernah ganggu aku dan Disti lagi. Menjauhlah dari kami!" tegas Keysa, lalu pergi.
Exel yang menerima kemarahan Keysa tampak terkejut melihat reaksi gadis itu, sedangkan Devano tersenyum lebar melihat adegan tersebut.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas semuanya," ucap Devano, dengan senyum yang masih menghiasi wajah.
Melihat Devano yang tersenyum serta kemarahan dan kepergian Keysa membuat Exel memiliki firasat buruk.