Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
39


__ADS_3

39


Keysa tampak senang bermain dengan teman-teman Devano. Dengan ditemani minuman dan makanan ringan, mereka bermain kartu juga berkaraoke bersama. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan Devano. Ia hanya duduk di sofa satu lagi dengan tangan yang terlipat di depan dada serta mata yang tidak pernah lepas menatap tajam Keysa dan teman-temannya. 


Devano  yang terus memperhatikan Keysa, sangat tidak senang saat gadis yang memakai celana jeans dan hoodie (seperti saat mereka pertama bertemu) itu tertawa lepas dan bersenang-senang dengan teman-temannya, ditambah lagi Keysa mulai mabuk dan menggoda sana-sini. 


'Cih! Apa yang sedang dia lakukan?' rutuk Devano saat melihat Keysa merangkul dan bersandar di lengan salah satu temannya. 


Kekesalan Devano semakin menggunung. Ia pun meraih gelas miliknya dan meneguk habis minuman di dalamnya, lantas beranjak dari tempat duduknya setelah meletak gelas tersebut dengan kasar. 


"Minggir!" Ia  langsung duduk di sebelah Keysa dan mengusir lelaki di samping gadis itu, setelah sebelumnya dirinyalah yang terusir saat teman-temannya berkerumun mendekati Keysa.


Keysa memutar kepalanya ke arah lelaki yang sedang kesal dan malah mengusir lelaki yang sedang dirangkul Keysa itu. Lalu, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. 


"Mau ke mana?" tanya Devano. 


Keysa tidak menjawab. Ia lantas menghadap Devano dan menaruh tangannya di sandaran sofa tempat Devano duduk. Kedua mata gadis itu menatap intens lelaki di hadapannya 


"Kamu mau apa?" tanya Devano lagi, saat wajah Keysa semakin mendekati wajahnya. 


Sementara itu, orang-orang di sana langsung terdiam melihat kelakuan Keysa yang mulai tidak bisa terkontrol. 


"Kenapa kamu mengusir temanku?" tanya Keysa dengan bibir yang mengerucut.


"Itu, karena—" 


"Diam!" Keysa menempelkan telunjuknya di bibir Devano, memotong ucapan lelaki itu. "Aku tahu. Kamu pasti cemburu 'kan sama dia, dia, dan dia?" lanjut Keysa sambil menunjuk teman-teman Devano yang bermain dengannya dengan mata yang sudah merem melek serta tawa yang menggelegar.


"Siapa yang cemburu? Ti—" 


"Sssttt ...." Keysa kembali memotong pembicaraan Devano yang hendak menyangkal ucapan-ucapannya. "Mulutmu itu nakal sekali. Tadi kau mengataiku, sekarang mulutmu itu mengusir mereka yang sedang bermain denganku," ucap Keysa sambil memberengut. "Sepertinya, aku harus menghukum mulut nakalmu ini!" Ia menunjuk kembali benda kenyal berwarna merah alami itu dan senyum kembali tertampil di wajah Keysa, membuat Devano sedikit merinding. 


'Apa yang akan dia lakukan?' Belum juga sempat berpikir, tiba-tiba sebuah benda kenyal menempel di benda kenyal milik Devano.  


"Key, apa yang kau lakukan?" hardik Devano begitu Keysa menjauhkan lagi bibirnya.


"Menghukummu. Apa sekarang aku sudah terlihat cantik?" Keysa menyibakkan rambutnya yang tergerai sembari mengedipkan sebelah mata, menggoda Devano. "Apa kamu ingin bermain yang lebih dari itu? Lihatlah, kamu tampan sekali. Mata ini, hidung ini dan ah ... bibir ini manis sekali! Aku mau lagi," racau Keysa.


Satu tangan Keysa menyentuh setiap organ yang disebutkannya dengan ucapannya yang semakin meracau tidak jelas dan sebuah ciuman kembali mendarat di bibir Devano. Kali ini, bukan hanya menempel, Keysa menikmati setiap lekuk bibir Devano.


Semua orang dibuat kaget dan hanya bisa melongo dengan keagresifan serta kekacauan yang dibuat Keysa. Dengan sangat berani Keysa mencium seorang Devano.


"Bubar!" teriak Devano begitu Keysa melepaskan pagutannya. Dengan wajah yang sudah memerah, ia menatap orang-orang sedang menatap ke arah mereka. 

__ADS_1


Sementara itu, si pembuat dosa dengan tanpa rasa berdosanya  malah mengelap bibirnya yang basah dengan telapak tangan.


"Kalian semua keluar dari ruangan ini! Bubar!" 


Dengan kesal Devano mengusir semua orang yang ada di ruangan itu yang masih mematung. 


"Bubar!" teriak Devano lagi dengan sangat keras, membuat semua orang langsung tunggang langgang meninggalkan ruangan tersebut. 


"Kenapa pada bubar? Hei, balik lagi! Kita maen lagi!" racau Keysa. 


"Ayo, pulang!" Devano lantas menggendong Keysa yang mabuk dan sudah meracau tidak jelas. 


"Kenapa pulang? Aku masih mau di sini," rengek Keysa.


Devano tidak memedulikan ucapan Keysa. Ia menggendong gadis itu keluar dari klub dan dengan penuh perjuangan Devano membawa Keysa ke dalam mobil. 


"Kau menyusahkan sekali. Kalau tidak terbiasa minum, kenapa harus minum sebanyak itu?" rutuk Devano sambil memijat tengkuk Keysa. 


Saat Devano berhasil mendudukkan Keysa di bangku mobil, tiba-tiba Keysa mendorongnya, lalu memuntahkan minuman yang beberapa waktu lalu masuk. 


Setelah Keysa berhenti muntah, Devano pun masuk ke balik kemudi dan menjalankan mobilnya meninggalkan klub.


Pada awalnya. lelaki yang sudah berada di balik kemudi itu hendak mengantarkan Keysa ke asrama, tetapi mengingat hari sudah larut dan pintu gerbang pasti sudah tutup. Akhirnya, ia membawa Keysa ke salah satu rumah Devano yang berada di dekat kampus. 


"Kau ini benar-benar menyusahkan." 


Keysa tidak menjawab. Ia masih anteng digendongan Devano. Namun, saat sampai di dalam rumah tiba-tiba gadis itu menggigit telinga Devano, membuat lelaki itu kaget dan hampir terjatuh. 


"Apa yang kau lakukan? Kenapa menggigitku?" Devano memarahi Keysa. 


Keysa masih tidak menjawab. Ia malah melingkarkan kedua tangannya di leher Devano dengan tubuh yang tidak bisa diam. 


"Diamlah!" bentak Devano lagi. 


Dengan nada manja dan mau menangis,  Keysa langsung merengek kalau Devano galak. 


"Memangnya kenapa kalau aku galak?" 


"Aku akan mengadukanmu pada Kak Aiden," jawab Keysa dengan manja menyebut nama seorang lelaki,  seolah-olah lelaki itu adalah orang yang berarti di hidup Keysa.


Mendengar panggilan mesra Keysa untuk seorang lelaki, entah mengapa membuat hati Devano tidak nyaman. 'Perasaan apa lagi ini?' 


"Memangnya siapa Kak Aiden?" tanya Devano.

__ADS_1


Keysa yang sadar tidak sadar malah diam, dan mulai melantur tidak jelas lagi. 


Tidak dapat jawaban yang diharapkan, Devano pun memilih bertanya yang lain untuk mengorek kehidupan seorang Keysa. Kata orang, 'orang yang sedang mabuk itu selalu berkata jujur' dan Devano ingin membuktikannya pada gadis yang sedang berada dalam gendongannya 


"Rumahmu di mana?" Devano memulai sesi tanya jawabnya.


"Di dalam gunung besar." 


'Pantas saja kelakuannya bar-bar ga ketulungan. Pasti karena terlalu lama tinggal di gunung,' pikir Devano. 


Padahal, gunung yang ditinggali dan dimaksud Keysa itu adalah seluruh gunung milik keluarganya. Keysa merupakan salah satu keluarga terkaya dan ia tinggal di puncak gunung tersebut.  


Devano menyunggingkan senyum. Tiba-tiba terbersit untuk mengerjai Keysa dan mulai bertanya yang macam-macam.


"Siapa orang yang sangat kamu cintai?" tanya Devano sambil mengangkat sedikit tubuh dibelakangnya yang mulai melorot. 


"Kakek." 


"Alasannya?" 


"Karena kakek yang membesarkanku." 


"Kenapa dibesarkan oleh kakek? Lalu orang tuamu di mana?" 


Keysa terdiam sejenak, lalu dengan suara yang terdengar lirih Keysa menjawab bahwa orang tuanya sudah meninggal. 


Devano melirik gadis yang sedang berada di punggungnya. Devano bisa melihat wajah Keysa dengan dagu yang bertumpu di bahunya itu terlihat begitu sendu. Tidak ingin gadis itu larut dalam kesedihan karena ucapannya, Devano pun mengalihkan pembicaraannya pada topik yang lebih ringan. 


"Apa ada orang yang sedang kamu sukai?" 


Keysa mengangguk pelan. "Ada," jawab Keysa.


"Siapa?" 


"Ezra." 


Dengan polosnya Keysa menjawab kalau sahabat Devano itu adalah orang yang disukainya. Dan, entah ada apalagi dengan tubuh Devano, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa terbakar di dalam tubuh Devano saat mendengar jawaban gadis itu. 


"Kenapa bisa menyukai Ezra?" tanya Devano lagi, sembari meredam gemuruh di dada. 


"Bagaimana tidak menyukainya? Setiap wanita pasti akan menyukainya karena Ezra itu selain tampan, ia orangnya sangat baik dan lembut. Dia itu seperti ksatria di dalam kehidupanku. Dia selalu ada dan menolongku setiap aku kesusahan," jawab Keysa panjang lebar. 


"Lalu bagaimana dengan Devano? Apa kau juga menyukai dia?"

__ADS_1


 


__ADS_2