Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
106


__ADS_3

106


"Dev, bersabarlah kita pasti selamat dari sini! Aku akan mencari jalan keluar." Keysa memeluk erat Devano yang berada dalam pangkuannya. "Jangan tinggalkan aku! Kau sudah berjanji untuk selamat," ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.


Akhirnya, Keysa menyadari jika Devano benar-benar serius ingin menjalin hubungan dengannya. Lelaki itu rela mengorbankan hidupnya, hanya demi melindungi Keysa. "Maafkan aku yang telah meragukan perasaanmu! Maafkan aku yang telah membuatmu terluka seperti ini. Aku juga mencintaimu. Bangunlah, Dev! Bukankah kamu ingin kita jadian? Ayo, kita jadian," gumamnya dengan sangat lirih sambil terus memeluk Devano.


Bersamaa dengan itu anak buah Kakek Surya dan Ezra pun menemukan Keysa dan Devano.


"Key, ada apa?" tanya Ezra.


Keysa menoleh ke arah suara. Air mata pun jebol semakin tidak tertahankan saat melihat orang-orang menemukannya. "Dev, lihatlah! Mereka menemukan kita. Kau pasti selamat! Aku janji, aku akan menyelamatkanmu!" gumam Keysa kepada tubuh yang sudah memucat itu.


"Devano kenapa, Key?" tanya Ezra lagi.


"Dia pingsan, habis menghajar itu!" jawab Keysa sambil menunjuk harimau yang sudah mati.


Ezra terkejut saat melihat harimau tergeletak tidak bernyawa di dekat mereka. Sulit dipercaya kalau sahabatnya itu bisa menghabisi harimau sendirian. Ezra juga tidak percaya kalau Devano pingsan. Ia mengira kalau lelaki itu hanya pura-pura pingsan demi mendapatkan kata 'iya' dari Keysa. Bukankah Devano sudah sering berpura-pura ini dan itu demi mendapatkan gadis di hadapannya. "Ya, Tuhan. Dev, kau bisa-bisanya demi mendapatkan jawaban Keysa, kau pura-pura sekarat kayak gitu," ujar Ezra yang mengira saat ini pun Devano hanya pura-pura.


"Dia tidak pura-pura, Ez! Devano beneran pingsan," ucap Keysa penuh keseriusan.


"Beneran pingsan?" tanya Ezra memastikan, lalu memeriksa Devano. 'Ya Tuhan, kau benar-benar melakukan semua itu demi Keysa?' gumam Ezra dalam hati, yang sempat mendengar ucapan-ucapan Keysa untuk Devano.


Ezra kemudian menghubungi seseorang. "Bersabarlah! Helikopter akan segera mendarat," ucap Ezra kepada Keysa, mengatakan kalau helikopter sebentar lagi akan sampai dan membawa mereka keluar dari hutan.


Setelah helikopter datang, Devano segera dibawa dari sana menuju rumah sakit untuk mendapatkan tindakan.


"Nona, kami diperintahkan Tuan untuk membawa Nona pulang." Setelah mengantarkan Devano ke rumah sakit, anak buah Kakek Surya menghampiri Keysa dan membisikkan niat mereka datang menyusul Keysa.

__ADS_1


"Aku akan bicara dengan kakek," ucap Keysa, lalu pergi menjauh dari ruang UGD.


Di tempat lumayan sepi, Keysa yang diikuti bawahan sang kakek langsung menelpon Kakek Surya. Keysa menceritakan semua yang terjadi kepadanya.


"Devano telah menyelamatkanku, Kek, bahkan dia sampai terluka karena menolongku." Keysa juga menceritakan pengorbanan yang dilakukan Devano untuknya.


"Sebelum kamu menceritakannya, kakek sudah tahu," ucap Kakek Surya yang terdengar biasa saja.


"Tentu saja Kakek sudah tahu. Pasti anak buah Kakek sudah memberi tahu," tandas Keysa sambil melirik anak buah sang kakek yang sedang menunduk, membenarkan dugaan Keysa.


"Itulah tugas mereka," jawab Kakek dari seberang sana yang membuat Keysa mencebik ke arah anak buah sang kakek yang tidak berani menjauh dari dekarnya.


"Aku tidak bisa pulang dan meninggalkan Devano dalam keadaan tidak sadar seperti itu, Kek. Aku bahkan sudah berjanji untuk menjadi pacarnya."


Mendengar ucapan Keysa, Kakek merasa kalau Devano sengaja mengancam Keysa dengan nyawanya sendiri. "Dia pasti sengaja melakukan itu untuk menjeratmu tetap di sana. Pulang saja tidak perlu merasa berhutang budi kepadanya, Kakek akan membayar semua pengobatannya dan mengganti rugi semuanya," ucap Kakek Surya, meminta Keysa untuk tetap pulang.


"Tapi, aku juga mencintainya, Kek," tandas Keysa, yang berhasil membuat Kakek Surya terdiam.


"Kau dengar ucapan kakek, kan? Aku tidak akan pulang." Keysa menatap anak buah sang kakek yang dijawab anggukan mereka, kemudian kembali ke ruang UGD.


Di depan pintu UGD, tampak Ezra sedang berdiri dengan raut wajah yang kusut. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu. Keysa pun menghampiri Ezra.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Keysa.


"Masih ditangani dokter," jawab Ezra, lalu duduk di bangku depan UGD.


Keduanya menunggu dokter yang sedang memeriksa Devano dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


"Aku sudah jadian dengan Devano." Keysa jujur kepada Ezra tentang hubungannya dengan Devano saat ini.


Dengan seutas senyum, Ezra mengucapkan selamat dan ikut senang dengan hubungan baru Keysa dan Devano.


"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Keysa, kemudian.


"Katakanlah!"


"Jangan sebarkan kabar kalau aku sudah pulang dengan selamat," pinta Keysa yang dijawab anggukan Ezra.


Keduanya kemudian menunggu kabar Devano dengan saling diam.


"Bagaimana jika Dev telah mengkhianatimu?" Keysa memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang tanpa sepengetahuan mereka telah terjadi.


Ezra menoleh ke arah Keysa, lalu berdiri dan melihat ke dalam ruang UGD dari kaca. "Kami sudah bersahabat sejak kecil. Aku percaya, Dev, tidak akan pernah mengkhianatiku," ucap Ezra, yang sangat percaya pada persahabatan mereka.


"Kalau semua itu terjadi tanpa disengaja?"


"Jika hal itu terjadi dalam kondisi tidak menyadarinya dan Dev bisa membuktikan kalau dirinya tidak sengaja, aku tidak akan menyalahkannya," tandas Ezra lagi.


Ezra kembali menoleh ke arah Keysa. Ia merasa ada yang ganjal dari pertanyaam gadis yang baru saja menjadi pacar sahabatnya itu. Ezra hendak bertanya, tetapi urung diucapkan saat tiba-tiba pintu UGD terbuka.


Dokter akhirnya keluar dan mengatakan keadaan terkini dari Devano. "Jika Devano tidak demam lagi maka tidak akan ada bahaya yang ditakutkan. Namun, jika demamnya tidak kunjung turun, maka kita harus melakukan tindakan lanjutan," tutur Dokter kepada Ezra dan Keysa.


"Kau harus menyelamatkan putraku! Atau rumah sakit ini akan kuhancurkan jika sampai terjadi sesuatu pada Devano." Tiba-tiba suara bariton Damar menggelegar di depan UGD.


Lelaki yang baru sampai itu, langsung mengancam sang dokter begitu mendengar kondisi Devano. "Kau harus selamatkan putraku!" Damar menarik kerah jas putih milik si dokter dengan tatapan membunuh, membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.

__ADS_1


"Om, tenanglah! Devano pasti baik-baik saja." Ezra mencoba menenangkan Damar dan meminta lelaki itu untuk melepaskan cengkramannya dari kerah si dokter.


"Saya jamin Devano pasti selamat," ucap dokter itu dengan tubuh yang sedikit gemetar.


__ADS_2