
Dengan membawa beberapa jenis makanan kesukaan Keysa, Ezra datang ke Asrama bersama Disti.
"Masuk, Ez," ajak Disti begitu membuka pintu.
Ezra mengangguk, lalu mengikuti Disti dari belakang.
Di kamar, tampak Keysa yang sedang memainkan laptop untuk menghilangkan kejenuhan karena seharian hanya di kamar saja. Senyum pun tertampil saat melihat kedatangan Ezra dan Disti.
"Hai, Key, gimana kabarmu? Apa sudah membaik?" Ezra menyapa Keysa dengan seulas senyum yang juga tertampil untuk gadis tersebut.
"Seperti yang kamu lihat." Keysa menjawab seraya menyimpan laptop yang seharian menjadi temannya, sedangkan Alea entah pergi ke mana. Sakit, tetapi keluyuran.
Ezra mendekat ke arah Keysa dan memberikan makanan yang dibawanya.
"Makasih. Aku jadi merepotkanmu." Keysa merasa tidak enak dengan Ezra, apalagi dengan semua yang telah terjadi.
"Aku tidak merasa direpotkan, Jika ada sesuatu yang kamu inginkan, tinggal bilang saja," tandas Ezra, sungguh-sungguh.
Keysa hanya mengangguk. Sementara itu, setelah mengantar Ezra, Disti memilih kembali pergi karena tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka. Saat di jalan Ezra mengatakan padanya ingin berbicara penting dengan Keysa, sehingga membuat Disti terpaksa meninggalkan mereka.
"Makanannya enak." Keysa yang sedang makan, memuji ramen yang dibawa Ezra.
"Kamu suka?"
Keysa mengangguk dengan mulut yang dipenuhi makanan, membuat Ezra mengulum senyum. Keysa sangatlah cantik dan menggemaskan, bahkan saat makan pun gadis itu tetap terlihat cantik meskipun gaya makannya masih seperti gaya Keysa yang tidak ada jaim-jaimnya.
Mata Ezra tidak sedikit pun berpaling. Ia terus menatap Keysa yang sedang makan, tanpa teralihkan.
"Ada apa?" Keysa mendongak saat menyadari lelaki di hadapannya terus memandangnya.
"Tidak ada." Ezra menggeleng.
__ADS_1
Keysa kembali mengangguk dan melanjut makannya lagi.
"Key!" panggil Ezra. Sebenarnya dari tadi Ezra sangat ingin menanyakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Ya." Keysa kembali mendongak.
"Mmm ... apa tidak ada kemungkinan bagiku?" tanya Ezra.
Keysa menatap Ezra dengan kedua alis yang menyatu. Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti maksud ucapan Ezra.
"Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk menjadi kekasihmu?" tanya Ezra dengan lebih gamblang. Mengingat hubungan Keysa yang tidak baik-baik saja, Ezra masih berharap Keysa mau memberikan kesempatan baginya untuk memulai dari awal.
Keysa mengembuskan napas kasar. Ia yang masih memegang mangkuk beringsut hendak menyimpan mangkuk yang sudah tidak berisi makanan itu.
"Biar aku saja." Namun, dengan cepat Ezra mengambil wadah makanan tersebut dan menyimpannya di meja kecil dekat tempat tidur Keysa.
Ezra kembali menatap Keysa, berharap mendapatkan jawaban memuaskan dari gadis yang selama ini dicintainya meskipun hanya dalam versi cantik saja.
"Maaf, aku tidak bisa. Kamu sendiri sudah tahu untuk siapa hatiku saat ini. Aku berdoa semoga kamu bisa mendapatkan gadis lain yang jauh lebih baik dariku dan mencintaimu apa adanya."
Ucapan terakhir Keysa terasa menyentil hati kecil Ezra. Ia tidak menerima Keysa apa adanya. Jika mengingat hal itu, ingin rasanya Ezra mengulang waktu. Ia juga ingin seperti Devano yang mencintai Keysa tanpa memandang kecantikan dan kedudukan Keysa. Ezra sendiri sebenarnya mengerti mengapa gadis di hadapannya tetap mempertahankan Devano. Sudah jelas dari segi apapun dirinya kalah dari Devano.
"Aku menerimanya. Tapi, jika suatu saat kamu berubah pikiran, aku masih setia menunggu." Ezra tersenyum getir. Namun, ia juga harus menerima keputusan Keysa dengan lapang.
"Aku tidak akan berubah pikiran," tandas Keysa dengan pasti, semakin mematahkan harapan Ezra.
Ezra pun tidak bisa berkata lagi. Ia hanya mengangguk lesu, kemudian pamit pulang setelah Disti kembali ke kamar.
***
Setelah pulang dari asrama, Ezra tidak langsung pulang. Ia mencari udara segar dengan hanya berputar-putar di jalanan tanpa tentu arah. Ia butuh menjernihkan pikirannya dan mengusir rasa sakit yang telah berkali-kali ditolak oleh Keysa.
__ADS_1
"Ez, kau ini tidak punya kerjaan. Penyakit dibuat sendiri," sarkas Ezra sambil menepikan mobilnya. "Argh ....." Ezra memukul kemudi lalu membenturkan keningnya sendiri di atas setir berkali-kali, berharap otaknya kembali geser ke tempat semula. "Ingat Ez, dia itu pacar sahabatmu sendiri. Mereka saling mencintai. Sekarang mereka sedang ada dalam masalah, tapi belum tentu mereka akan berpisah. Apa yang telah kamu lakukan tadi?" Ezra merutuki dirinya sendiri.
Ezra kemudian mengendarai kembali mobilnya. Namun, bukannya pulang ke rumah, Ezra malah pergi ke bar. Mood-nya benar-benar tidak baik-baik saja. Ia butuh sedikit hiburan untuk membuat kepalanya waras kembali dan melupakan perasaannya untuk Keysa.
Ezra sampai di bar. Ia masuk ke tempat yang melayani minuman-minuman keras tersebut.
"Kau!" teriak seseorang dengan penuh amarah kepada Ezra.
Ezra menoleh ke arah suara dan mendapati seseorang yang dikenalnya sedang mabuk dengan tangan menunjuk ke arah Ezra.
"Kau kurang ajar! Dasar brengsek!" maki orang itu yang tidak lain adalah Devano. Sudah tiga hari, Devano datang ke tempat itu dan menghabiskan banyak bir.
Devano sudah sedikit mabuk, tetapi bukan berarti kepalanya tidak bekerja. Ia melihat Ezra masuk ke tempat itu. Devano terus memaki Ezra hingga keduanya menjadi tontonan.
"Dev, kau sedang mabuk! Kita pulang saja." Ezra yang hendak mencari ketenangan malah mendapat kerusuhan saat bertemu Devano.
Lelaki yang sedang tersulut api cemburu itu, langsung menepis tangan yang hendak membawanya pergi. Devano lantas memberikan bogem mentah kepada Ezra sebagai hadiah dari perselingkuhan Ezra dengan Keysa. Ia menyerang Ezra dengan membabi buta.
Ezra pun tidak mau kalah. Ia yang sedang patah hati, entah mengapa kekuatannya menjadi bertambah dua kali lipat. Ezra tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung memberikan begem sebagai balasan kepada Devano. Perkelahian di antara keduanya pun tidak terelakkan.
Mereka berkelahi dan menyerang sahabat sendiri, hingga akhirnya mereka jadi tontonan seisi bar. Hingga akhirnya, keduanya tergeletak di lantai dan sejurus kemudian mereka tertawa dengan sangat lepas karena ulah mereka yang seperti anak kecil sedang memperebutkan mainan. Antara sadar dan tidak sadar Devano dan Ezra pun memilih berdamai.
***
Hari sudah berganti, tetapi Keysa belum berangkat ke ke kampus. Ia yang berangkat kuliah dengan memakai kursi roda pun tampak sedang duduk di tanam, melihat orang-orang yang berlari ke sana kemari.
"Andai aku tidak sakit," gumamnya sangat lirih saat melihat kupu-kupu yang hinggap di bunga dekat dirinya berdiri. Sayang, dirinya belum bisa jalan sendiri, tetapi kupu-kupu itu sangat menggoda. Keysa pun mengejar kupu-kupu itu dengan menggerakkan kursi roda.
Sementara itu di ruang kelas. Alea baru saja sampai di sana dengan membawa berita terupdate. Apalagi, saat melihat Devano menenteng sesuatu membuat bibir Alea tersenyum jahat.
"Hai, guys! Tahu gak kalau Keysa hari ini sedang bersama Fero di taman. Fero juga bawa makanannya untuk Syifa. So sweet banget, kan?" tandas Alea dengan suara yang sengaja dikeraskan agar Andar termakan usianya.
__ADS_1
Devano tidak memedulikan ucapan Alea. Ia melangkah meninggalkan Alea yang menjadi biang gosip itu. Ia juga tidak peduli dengan apa yang dilakukan Fero. Saat ini, ia sudah merencanakan dengan matang-matang untuk menemui Keysa. Namun, kenyataannya keberadaan Fero itu sangat berpengaruh. Devano dibuat mematung saat menyaksikan Fero yang sedang mendorong kursi roda untuk duduk di tempat yang nyaman.