Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
230


__ADS_3

Disti menangis tergugu saat Exel meminta maaf dan meminta dirinya untuk menggugurkan calon anak mereka. Kepalanya terus menggeleng ketika permintaan demi permintaan terlontar dari mulut Exel dengan suara sendu membuat hati Disti tersayat-sayat, apalagi saat lelaki itu memintanya untuk mencari lelaki lain.


Bodoh dan dibutakan cinta, mungkin itulah yang dirasakan Disti sekarang. Seberapa besar pun Exel menyakiti, bahkan melecehkannya, tetapi cinta Disti untuk Exel tidak berubah—apalagi setelah tahu di dalam perutnya sudah ada Exel junior. Disti tidak tahan juga merasakan sakit saat melihat keadaan Exel yang sudah tidak berdaya dan di ujung maut. Ia yang awalnya hanya ingin memberitahu perihal kehamilannya saja, tiba-tiba tidak rela jika harus kehilangan ayah dari calon bayinya.


Disti menoleh ke arah Keysa yang sedang berdiri di dekat Zack dan Ezra. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memohon pengampunan kepada sahabatnya itu. Dengan air mata yang setia mengalir, Disti berjalan ke arah Keysa, kemudian bersujud di kaki sang sahabat.


"Aku mohon lepaskan Exel demi anak didalam perutku, Key! Beri dia satu lagi kesempatan. Aku janji akan membuatnya tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan." Disti memeluk Keysa dengan suara yang terisak.


Keysa bergeming di tempat mendapat perlakuan tersebut dari sahabatnya sendiri. "Apa kau tahu arti dari ucapanmu sendiri, Dis?" tanya Keysa, dingin. Tak menyangka kalau Disti akan lebih memilih manusia bejat macam Exel daripada persahabatan mereka. Mungkin itulah yang disebut dengan cinta, sejurus kemudian Keysa tersenyum miris atas kata-kata yang keluar dari mulut Disti.


Disti diam dengan anggukan samar. Gadis itu tahu dan sadar bahwa dirinya telah menukar persahabatan mereka dengan nyawa Exel. Jujur, itu pun pilihan yang berat baginya. Ia tidak ingin memilih salah satu, tetapi ia juga tidak bisa mendapatkan keduanya mengingat kebencian Keysa yang begitu besar terhadap Exel.


"Maafkan aku, Key. Aku butuh ayah bagi anakku ini," ucap Disti, dengan suara lirih.


Keysa tidak menjawab perkataan Disti. Pandangannya tertuju pada lelaki yang tangannya diikat menggantung di tiang dengan keadaan sudah tidak berdaya. "Lepaskan dia!"sarkasnya, kepada Zack juga anak buah yang lain.


Zack mencoba protes, tetapi keputusan Keysa tidak bisa diganggu gugat.


Melihat Exel yang dibebaskan, seulas senyum bahagia terpancar di wajah sendu Disti. "Terima kasih, Key. Terima kasih, telah memberi kesempatan bagi Exel. Terima kasih, kamu selalu menjadi sahabatku yang mengerti aku." Disti kembali memeluk kaki Keysa.


Keysa diam membatu, meskipun Disti memeluk kakinya, bahkan jika Disti bersujud dan menci kakinya pun, Keysa akan tetap diam.

__ADS_1


"Bawa dia pergi dari hadapanku! Dan jangan pernah muncul di hadapanku, atau aku akan berubah pikiran," ucap Keysa, setelah ikatan Exel dilucuti semua. "Satu lagi lupakan kalau aku pernah menjadi sahabatmu! Mulai hari ini aku anggap kalau kita tidak saling kenal," lanjut Keysa, dengan wajah datar.


Disti tercengang mendengar ucapan Keysa. Ia tahu konsekuensi menyelamatkan Exel, tetapi hatinya juga tidak kalah sakit saat mendengar Keysa memutuskan persahabatan mereka. Namun, tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Pilihan sudah diambil Disti, membuatnya hanya mengangguk dengan air mata yang terus bercucuran.


"Maaf," ucap Disti, sebelum pergi.


Keysa tidak menyahut. Jangankan menjawab, memalingkan wajah ke hadapan sang sahabat pun Keysa tidak sudi. Ia kecewa dan marah atas pilihan yang diambil Disti membuat hatinya berpikir 'apa istimewanya Exel hingga Disti begitu memuja dan menghancurkan persahabatan mereka?'


Tidak ada jawaban. Disti pun langsung undur dan pergi sambil memapah Exel meninggalkan tempat yang hampir saja menjadi saksi kematian Exel.


Setelah kepergian Disti dan Exel, Keysa membuang napas kasar. Kemudian, berteriak sekuat tenaga hingga suaranya melengking di tengah kegelapan. Zack dan Ezra mencoba menenangkan Keysa. Dua lelaki itu tak lagi menanyakan perihal Exel yang dilepaskan, mereka tahu hal tersebut juga berat bagi Keysa.


"Terima kasih," ucap Keysa, kemudian meneguk air tersebut hingga hampir setengah.


Setelah cukup tenang. Keysa dan Zack membahas tentang penemuan kawat panjang di dasar jurang kemarin malam.


"Aku sangat yakin kalau Devano masih hidup," tutur Zack, yang juga diiakan oleh Keysa dan Ezra.


"Tapi, masalahnya bagaimana caranya agar bisa membuat dia keluar dan menampakkan diri kepada kita bahwa dia masih hidup," ucap Ezra. "Jujur ... aku sangat kecewa kepada anak itu, hal sebesar ini tidak dirundingkan dulu dengan kita. Ini menyangkut nyawa, hidup dan mati," gerutu Ezra, kemudian.


Keysa hanya diam dan mendengarkan Ezra dan Zack yang sedang mencari cara agar Devano bisa menampakkan diri. "Aku tahu caranya." Tiba-tiba seutas senyum terbit di wajah sejak tadi terlihat datar dan dingin. Keysa yakin cara itu akan membuat Devano muncul dan menemuinya.

__ADS_1


***


Demi memancing Devano untuk keluar, seminggu setelah pencarian Devano dan tidak membuahkan hasil, Keysa memutuskan untuk menjalankan rencananya yang tercetus malam itu. Keysa membuat acara pesta di sebuah klub malam. Kabar Devano yang telah meninggal pun menyebar luas membuat banyak lelaki yang datang ke acara tersebut karena status Keysa yang disinyalir sudah sendiri dan tidak akan ada lagi orang yang super protektif kepada gadis super cantik itu.


Para lelaki dari sangat muda, muda, mapan, bahkan matang banyak yang menghadiri p


Pesta topeng tersebut untuk mendapatkan hati Keysa. Banyak dari mereka yang sengaja dengan terang-terangan mendekati Keysa dan menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya. Ada juga yang awalnya berpura-pura bela sungkawa atas kematian Devano, tetapi ujung-ujungnya masih sama—menawarkan diri untuk menjadi pelipur lara hati Keysa yang ditinggal pergi Devano.


"Keysa itu sangat cantik. Dia itu cocoknya denganku yang sudah mapan."


"Mapan saja tidak cukup, butuh ketampanan yang tidak akan malu jika dibawa ke mana-mana."


"Memang tampan saja bisa buat kenyang. Tetap saja butuh duit untuk ini dan itu."


Tidak sedikit pula yang malah bertengkar memperebutkan pepesan kosong. Mereka merebutkan kepemilikan atas Keysa dan saling sindir atas kekurangan lawan.


Keysa hanya bisa mengembuskan napas kasar saat keributan kecil itu terdengar di telinga, kemudian memilih untuk acuh. Tampan dan mapan dengan segala kriteria perfect memang hanya dimiliki oleh satu orang, yakni Devano. Dan, Keysa memang tidak pernah ada niatan untuk mencari pengganti lelaki itu.


Keysa berjalan melewati orang-orang yang sedang memperebutkannya. Ia berjalan menuju lantai tempat beberapa tamu pesta sedang berjoget mengikuti irama musik.


"Aww ...." Hingga tiba-tiba Keysa bertabrakan dengan seorang lelaki bertopeng.

__ADS_1


__ADS_2