
[Maaf tidak membalas pesanmu sebelumnya dan terima kasih atas bantuannya saat di Klub saat itu. Untuk bertemu, aku juga ingin bertemu langsung sekaligus berterima kasih, tapi maaf sepertinya tidak bisa karena aku sudah tidak di kota B lagi.]
Sebuah balasan dari Keysa masuk ke akun Ezra dan membuat lelaki itu girang bukan main.
Devano yang sejak tadi masih berada di dekat Ezra pun dibuat penasaran oleh sikap Ezra yang tiba-tiba senyum-senyum tidak jelas saat mendapat notifikasi dan membaca pesan tersebut. Ia lantas beringsut dan membuat tubuhnya semakin menempel dengan sang sahabat. Matanya tertuju pada isi layar yang menyala, ingin membaca juga pesan yang didapat Ezra. Akan tetapi, ekor mata Ezra melihat gelagat Devano. Jempol Ezra pun dengan segera menekan tombol kembali untuk keluar dari aplikasi dan langsung menyimpan ponsel di samping tempat duduknya.
"Kau liat apa? Senyum-senyum sendiri?" tanya Devano penuh selidik.
"Tidak ada."
"Ah, pasti kau bohong. Pasti ada yang kau sembunyikan di ponselmu itu!"
"Tidak ada apa-apa," dalih Ezra, sambil memegang erat ponsel yang masih tergeletak. Ia tidak rela pesan dari Keysa dibaca oleh Devano.
Tingkah dan ucapan Ezra membuat Devano semakin yakin kalau sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu. "Aku tidak percaya!" Ia lantas merebut ponsel yang dipegang Ezra, dan Ezra sendiri mempertahankan ponsel itu tetap di tangannya.
"Tidak ada apa-apa,Dev!" Ezra berkilah.
Ia berdiri, menjauh dari sahabatnya yang terus berusaha mengambil ponselnya dan Devano yang kepenasarannya sudah sampai ubun-ubun pun mengejar Ezra kemana saja. Keduanya saling berebut ponsel seperti anak kecil yang sedang berebutan mobil-mobilan.
"Dapat!" Senyum Devano mengembang saat berhasil merebut ponsel dari tangan Ezra.
Namun, sejurus kemudian, wajah Devano merengut begitu melihat pesan yang menjadi alasan dua lelaki itu main kejar-kejaran memerebutkan ponsel di kamar sampai bantal dan guling berserakan di mana-mana. Pesan yang dikirim Keysa kepada Ezra sangat berbeda dengan yang dikirim kepadanya. Dengan Ezra, sikap Keysa terlihat ramah dan bersahabat, tetapi kepada Devano gadis itu terkesan cuek meskipun tidak sampai mengeluarkan kata makian.
"Faya sepertinya memang beda dengan gadis lain," ucap Ezra sambil merebahkan tubuh di kasur. Main rebut-rebutan dan kejar-kejaran dengan Devano membuatnya kelelahan, sedangkan ponselnya ia biarkan di tangan Devano tanpa ada niatan merebutnya kembali.
__ADS_1
"Apa karena aku mengirimkan dia sejumlah uang, sehingga dia merasa ilfill denganku?" tanya Devano.
"Bisa jadi." Ezra mengiakan pemikiran Devano.
Devano melirik pada lelaki yang sedang berbicara dengan mata terpejam serta kedua tangannya sendiri yang dipakai bantalan. "Senang sekali kau kalau aku merendahkan diri." Devano mencebik, lalu sudut bibir Devano terangkat menciptakan senyum licik. Sebuah ide terlintas di kepala. Ia pun mengirimkan hadiah yang sangat banyak pada Keysa melalui akun Ezra.
Di sisi lain, Keysa dibuat kaget oleh Ezra yang tiba-tiba mengirimkan banyak hadiah setelah menanyakan keberadaan Keysa saat ini. Namun, sejurus kemudian lelaki itu mengirimkan pesan permintaan maaf dan menjelaskan kalau yang semua dikirim itu ulah dari temannya.
'Pasti Dev yang mengirim semua hadiah itu,' pikir Keysa.
[Apakah temanmu itu The King Love?]
Keysa membalas pesan Ezra dan bertanya tentang Dev menggunakan nama profil lelaki itu di aplikasi. Ezra pun kembali membalas, mengiakan pertanyaan Keysa sambil meminta maaf lagi.
[Tega sekali temanmu itu, ngirim seabreg hadiah tapi tidak bermodal. Kalau gitu minta uang ganti rugi sama dia. Pasti kamu keluar banyak uang gara-gara ulahnya.]
[Kenapa sikapmu padaku dan pada Ezra beda sekali? Apa bedanya Ezra dan aku? Aku lebih ganteng, kaya, dan lebih segalanya dari sahabatku]
[Meskipun kau punya banyak uang dan ganteng, tapi sayang kau itu bodoh.]
Ezra yang melihat jawaban dari Keysa, langsung tersenyum, berbanding terbalik dengan Devano yang langsung melempar ponselnya. Ia semakin yakin kalau gadis yang disukainya benar-benar berbeda dari gadis lain pada umumnya.
***
Waktu terus bergulir, hari pun telah berganti. Seperti hari yang sudah-sudah, saat Keysa di kampus ia akan disibukkan oleh jasa pesan antar dari para mahasiswa di kampus. Namun hari ini, pekerjaan Keysa terasa sangat melelahkan. Setelah mengantarkan pesanan ke beberapa kelas, Ia pun kembali ke kelasnya dan berniat untuk istirahat sebelum mata kuliah dimulai.
__ADS_1
Keysa langsung duduk di bangku begitu sampai di kelas dengan kedua tangan yang digibas-gibaskan, sehingga menghasilkan semilir angin yang mengipasi area wajah dan lehernya yang terasa gerah.
"Belikan aku minuman!" Tiba-tiba Devano tanpa peduli Keysa yang tampak kelelahan malah meminta Keysa untuk membelikan minum sambil menyerahkan sejumlah uang.
Keysa mendongak ke arah lelaki yang berdiri di hadapan bangkunya dengan wajah yang sudah memberengut kesal. Ingin sekali ia menolak dan berteriak 'aku lelah dan ingin istirahat', tetapi tak ayal Keysa mengambil uang itu dan pergi sambil bersungut-sungut.
"Untung saja bayarannya gede," gumam Keysa.
Siang harinya, Keysa menerima pesan untuk menerima paket yang dikirim oleh kedua perusahaan yang melakukan kerjasama dengannya. Keysa yang masih ada di kelas pun langsung pergi untuk mengambil paket itu. Namun, saat sampai di gerbang sekolah ia melihat keramaian dan banyak mahasiswa perempuan yang sedang berteriak-teriak, mengelilingi seorang pria tampan.
Penasaran apa yang terjadi, Keysa sedikit mendekat sampai bisa melihat jelas sosok yang sedang dikelilingi para gadis itu. Ternyata lelaki itu adalah Exel. Seketika, Keysa teringat pada kejadian saat di tebing itu. Ia sama sekali tidak memiliki kesan baik sejak pertama bertemu lelaki itu, membuat Keysa perlahan mundur untuk menghindari Exel.
"Keysa!" Baru saja berniat untuk pergi dan menghindari Exel, tetapi lelaki yang satu itu sudah kadung melihat dan memanggilnya.
Keysa pun terpaksa menghentikan langkahnya. "Kau memanggilku? Ada apa?" tanya Keysa.
Exel keluar dari kerumunan para gadis dan menghampiri Keysa yang sedang berdiri dua meter di depannya. "Aku dengar kau terus menindas adikku. Apa itu benar?"
Keysa tampak kebingungan dengan pertanyaan Exel. Ia tidak tahu orang yang lelaki itu maksud dan seingat Keysa ia tidak pernah menindas orang dan malah sebaliknya, ia yang selalu ditindas. Karena kalau membalas itu lain hal lagi, itu sebuah pertahanan diri. Mana mungkin jika seseorang menindasnya, Keysa akan diam saja.
"Aku tidak pernah menindas siapa pun. Memangnya siapa adikmu?" tanya Keysa.
"Cheryl. Cheryl adalah adikku," jawab Exel dengam santai, tapi bisa membuat bulu halus Keysa meremang.
"Hah!" Spontan Keysa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu mendengar jawaban Exel. Jika ia tahu Cheryl adiknya Exel, ia akan berpikir dua kali untuk membalas perbuatan gadis itu. Bukan karena Keysa takut kepada Exel, hanya saja ia malas kembali berhadapan dengan lelaki seperti Exel lagi.
__ADS_1