Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
234


__ADS_3

Keysa pulang ke rumah milik Devano. Ia masih berharap kalau lelaki itu akan pulang. Dan, ia akan selalu menunggu kepulangan kekasihnya itu di rumah tersebut. Sesampai di rumah, Keysa langsung menuju kamar, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Dev, kamu di mana?" Keysa menatap ke arah langit-langit kamar dengan pikiran yang berkelana. "Padahal aku berharap besar kalau kamu akan datang di pesta itu." Wajahnya berubah sendu, mengingat rencananya tidak sesuai dengan yang diharapkan. "Aku merindukanmu," lanjutnya, yang terdengar begitu lirih.


Matanya mulai berkabut dan dipenuhi air mata yang siap jebol dan membanjiri wajah. Sejurus kemudian, Keysa mengerjap-ngerjap dan mengangkat kepala hingga matanya tidak melihat ke bawah. Ia tidak mau sampai ada air mata yang jatuh lagi.


"Cukup Key. Jangan menangis lagi!" Keysa memperingati dirinya sendiri.


Namun, hati dan air mata tidak bisa berkompromi. Rasa sakit karena ditinggalkan serta kerinduan yang mendalam, membuat air mata luruh begitu saja. "Ternyata kamu begitu lemah setelah mencintai lelaki itu, Key." Keysa memejam dengan air mata terus berjatuhan hingga melintasi ujung telinga, tanpa ada niat menghilangkan jejak basah itu. Keysa masih terpejam, meresapi sakit dan rindu yang bercampur di sanubari.


Pada akhirnya, Keysa pun terlelap begitu saja dengan tubuh terlentang di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai dan menyentuh lantai. Ia terlelap tanpa mengganti pakaian dan membersihkan diri. Jiwa dan tubuhnya terlalu lelah dengan semua yang terjadi. Ia masih menolak kematian Devano, tetapi lelaki itu tidak sekalipun menunjukkan diri di hadapannya.

__ADS_1


Di saat Keysa sudah tertidur, Devano yang sejak tadi sudah berada di kamar itu keluar dari persembunyian.


Sepulang dari pesta, Devano tidak langsung pulang dan memilih kembali ke rumah. Ia masih belum rela untuk pergi dan jauh lagi dari hadapan Keysa, hingga memutuskan untuk membawa beberapa barang milik Keysa agar bisa mengobatinya jika nanti rindu datang lagi menerpa.


Saat Devano masih terpekur di kamar miliknya dan mengingat kebersamaan yang telah dilewati bersama sang kekasih, tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang sedang dibuka dari luar.


"Pesta belum selesai, kenapa dia sudah pulang?" rutuk Devano, tahu siapa yang sedang ada di depan pintu kamar.


Devano dibuat panik hingga dirinya malah berputar-putar tidak jelas mencari tempat persembunyian. Ia tidak bisa bertemu dengan Keysa. Dengan wajah asli tidak mungkin, dengan wajah barunya pun lebih tidak mungkin, mengingat kemarahan Keysa setelah membuka topeng dan melihat wajahnya bukanlah wajah yang sebenarnya.


Saat ini, Devano berada di bawah ranjang. Bahkan, sejak tadi dirinya mendengarkan kata-kata kerinduan dari Keysa yang berhasil membuat dadanya terasa sangat sesak. Setelah mendengar kata menyayat hati yang terlontar dari mulut Keysa, sejurus kemudian suasana kamar sangat hening. Devano berpikir kalau Keysa sudah tidur hingga memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Perlahan Devano beringsut dari kolong ranjang sampai tubuhnya terbebas dari engapnya kolong ranjang yang sempit. Devano bangun dan memindai sekitar. Ia melihat Keysa yang sedang tidur dengan kaki yang menyentuh lantai, membuatnya menggeleng pelan. Devano beranjak dari lantai, kemudian mengambil essential oil dari nakas dan meneteskannya pada diffuser hingga menghasilkan aromaterapi yang begitu menenangkan.


Setelah itu, Devano menghampiri Keysa, lantas mengangkat kaki Keysa dan membenarkan posisi tidur gadis itu hingga melihat sisa-sisa jejak air mata di wajah sang kekasih membuatnya dadanya semakin sakit.


"Maafkan aku," ucapnya pelan, sambil mengusap sisa air mata itu. Dalam hati, Devano tidak hentinya merutuki diri sendiri yang tidak bisa berbuat banyak.


Lelaki itu ikut berbaring, kemudian memeluk tubuh sang kekasih. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang kekasih yang begitu dirindukannya. Cukup lama Devano memeluk Keysa. Aroma tubuh Keysa yang bercampur dengan aromaterapi yang dinyalakannya, membuat Devano terbuai dengan keadaan dan hampir saja ikut terlelap.


"Aku masih sangat merindukanmu, tapi aku tidak bisa tinggal untuk lebih lama lagi," gumam Devano. Meskipun berat, tetapi ia harus meninggalkan sang kekasih. "Tunggu aku sampai aku bisa menyelesaikan semuanya. Aku berjanji akan menyelesaikan semua ini dengan cepat dan nanti kita akan kembali bersama tanpa ada apapun yang bisa memisahkan," ucap Devano, kemudian mencium bibir Keysa sekilas. Setelah itu, meninggalkan Keysa sendiri dalam tidurnya yang begitu pulas.


Selepas kepergian Devano, Keysa membuka mata, kemudian bangun dan mengedarkan mata ke setiap penjuru kamar, mencari sesuatu seperti orang linglung, hingga akhirnya membuang napas kasar saat menyadari kalau semua itu hanya mimpi.

__ADS_1


"Ternyata hanya sebuah mimpi," ucap Keysa seraya mendesah pelan. "Mungkin karena aku terlalu merindukannya hingga berpikir kalau dia akan datang dan ujung-ujungnya malah kebawa mimpi." Keysa kembali menjatuhkan kepala ke bantal dan menelan kekecewaan.


Ya, Keysa mengira kedatangan Devano di kamar itu adalah sebuah mimpi. Keysa menarik selimut dan menutupi tubuh hingga kepala. "Setidaknya kamu sudah hadir dalam mimpiku, itu sudah cukup melepas rinduku. Aku akan selalu menunggumu," gumam Keysa dengan mata terpejam, dan akhirnya terlelap kembali. Berharap Devano akan kembali hadir, meskipun hanya dalam sebuah mimpi.


__ADS_2