Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
193


__ADS_3

Hari berikutnya ....


Keysa dan Devano masih berlibur di desa. Devano mengajak Keysa mengeksplor setiap keindahan alam yang ada di sana baik buatan ataupun alami. Banyak tempat yang mereka singgahi, dan wajah bahagia Keysa pun terus terpancar.


Dua sejoli itu berkeliling dengan menggunakan sepeda, berpindah dari satu tempat wisata satu ke wisata lain sambil mengayuh. Hingga akhirnya, Keysa menghentikan kayuhan sepedanya saat melihat sebuah banner yang membuat hatinya tertarik.


"Kita masuk sana, yuk!" ajak Keysa setelah membaca tempat apa yang di sana.


Keysa lantas memarkirkan sepeda dan turun.


"Yakin, mau masuk?"


"Tentu saja. Aku sudah lama tidak main panahan! Aku ingin menguji kemampuanku lagi dalam membidik," timpal Keysa dengan sangat antusias.


Devano mengangguk, kemudian ikut turun dari sepeda.


Mereka pun masuk ke tempat panahan. Banyak orang yang sedang belajar memanah, bahkan ada juga yang sedang melakukan tanding. Keysa dan Devano yang tidak membawa alat panah sendiri, lantas pergi ke tempat penyewaan busur dan panah.


"Dev, main panahan juga?" Tiba-tiba seseorang yang membawa peralatan panahan menyapa Devano dan Keysa.


Devano menoleh ke arah suara, dan dilihatnya Yosua sedang berjalan ke arah mereka. Lelaki pemilik tempat panahan itu menghampiri Devano dan Keysa.


"Kenapa tidak bilang dari semalam kalau kalian akan mampir ke sini. Jika tahu, aku bisa memberikan penyambutan kepada kalian," tandas Yosua, sambil menepuk bahu Devano.


"Kami bukan presiden atau raja, tidak perlu penyambutan," tandas Devano.


"Tapi sebagai pemilik tempat ini sudah seharusnya aku menyambut temanku dengan sangat baik," lanjut Yosua, yang berhasil membuat Keysa melongo.


"Tidak perlu berlebihan. Lagian aku dan Keysa tidak sengaja lewat sini, dan tiba-tiba Keysa ingin bermain," jelas Devano. Karena dari awal, memang tidak ada rencana untuk bermain panahan.


Sementara itu, Keysa yang baru saja menerima peralatan panahan dari petugas sewa dibuat tercengang oleh apa yang telah didengarnya. "Apa wahana panahan ini milikmu?" tanya Keysa, tidak percaya.


Yosua mengangguk, membuat Keysa spontan memuji Yosua. "Keren!" ucap Keysa sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Baiklah, karena kalian sudah ada di sini, aku akan melayani dan memberikan servis terbaik untuk kalian," ucap Yosua, dengan seulas senyum yang tertuju kepada Keysa.

__ADS_1


Yosua lantas mengantar Keysa dan Devano ke tempat orang-orang yang sedang berjajar dengan papan bidikkan di depan mereka. Keysa dengan antusias masuk ke tempat kosong. Ia tidak memedulikan dua orang teman yang sedang berbincang di belakangnya. Setiba di area panahan, Keysa fokus pada busur, anak panah serta sasaran yang akan dibidik.


Keysa berdiri dengan posisi lurus dengan target. Ia yang sudah terbiasa bermain panah tampak rileks saat mengangkat busur. Tali busur ditarik Keysa sampai mendekati hidung, lantas membidik titik di papan yang akan menjadi sasarannya ... anak panah pun melesat meninggalkan busur dan menancap tepat di titik utama.


"Berhasil!" gumam Keysa, sangat gembira.


Ketangkasan Keysa dalam bermain panah tidak luput dari pengawasan Yosua. Diam-diam, ia mengagumi pribadi Keysa yang multi talenta. Dari cara Keysa menggunakan busur dan membuat bidikkan, Yosua bisa menebak kalau kekasih Devano itu memang sudah ahli.


"Key, biar lebih seru dan penuh tantangan bagaimana kalau kita bertanding?" Tiba-tiba tercetus ide untuk mengajak Keysa bertanding.


Jika ada lawan memang akan lebih menantang untuk melihat sejauh mana kemampuan diri sendiri. Keysa pun langsung menyetujui.


Keysa dan Yosua bertanding, sedangkan Devano menjadi tim hore Keysa. Secara perlahan, pertandingan yang awalnya hanya ditonton oleh Devano, berhasil menarik perhatian banyak orang. Orang-orang berkerumun di belakang Yosua dan Keysa, melihat aksi keduanya yang terlihat sangat jago sambil meneriakkan jagoan mereka.


Kemampuan Keysa tidak kalah jauh dari pemilik klub panahan itu. Bahkan, nilai akhir, nilai tertinggi didapatkan oleh Keysa. Ia berhasil memenangkan pertandingan.


"Kau memang hebat!" ucap Yosua, sambil mengacungkan jempol.


"Terima kasih. Kamu juga hebat," timpal Keysa, kemudian pamit untuk pergi ke toilet.


Devano juga membenarkan ucapan Yosua, meskipun awalnya Devano cukup kaget–karena ini juga kali pertama Devano melihat aksi panahan kekasihnya. Pembicaraan keduanya pun tidak lepas dari Keysa. Yosua terus memuji-muji gadis yang masih di toilet itu, hingga membuat Devano merasa tidak nyaman. Devano bahkan dibuat marah ketika tiba-tiba dengan terang-terangan Yosua meminta Keysa darinya.


"Berikan Keysa kepadaku!"


"Aku tahu kau kagum dengan permainan Keysa, tapi bukan seenak jidatnya meminta Keysa. Kau pikir Keysa barang yang bisa digilir, hah?" Devano yang sudah kepanasan sejak Yosua tidak henti-henti memuji dengan tatapan mendamba terhadap sang kekasih, dibuat naik pitam saat Yosua berkata untuk memberikan Keysa kepada lelaki itu. "Keysa itu kekasihku, sampai kapan pun dia akan menjadi milikku. Jika kau berharap bisa mendapatkannya karena kalian memiliki kemampuan yang sama, jangan bermimpi!" sarkas Devano.


"Jangan egois Dev. Aku kenal dengan keluargamu. Aku tahu apa yang sedang terjadi dengan dirimu. Kau hanya akan memberikan harapan palsu. Berikan dia, aku janji akan menjaganya dengan baik."


Kedua tangan Devano mengepal sempurna mendengar ucapan Yosua. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan wajah yang sudah tidak bersahabat lagi, hingga sebuah bogem mentah mendarat di sisi wajah Yosua. "Aku tidak pernah memberikan harapan palsu. Aku tulus mencintainya. Jadi, jangan pernah berharap dan meminta dia dariku."


Melihat pertengkaran antara Devano dan Yosua membuat orang-orang berkerumun–menyaksikan kehebohan yang terjadi.


"Kita lihat saja sejauh mana kamu bisa mempertahankan kekasihmu dibawah tekanan keluargamu."


"Aku akan mempertahankannya sampai kapanpun," tandas Devano, dengan wajah penuh peperangan dan bersiap melayangkan bogem mentah yang kedua.

__ADS_1


Melihat kemarahan Devano yang membara, bukannya takut, Yosua malah tertawa. "Aku tahu kau mencintainya dan akan mempertahankannya. Slow, Dev! Slow! Aku tidak mau dapat bogem yang kedua," tandas Yosua. "Aku memang mengagumi Keysa. Mungkin bila nanti kau melepasnya, boleh jadi aku akan menjadi orang pertama yang mengambilnya. Tapi, maksud dari permintaan pertamaku itu, aku ingin meminta Keysa menjadi atlet panahan di klub-ku, bukan menjadi kekasihku. Aku masih waras dan masih ingin hidup tenang."


Sejak awal, Yosua memang jatuh cinta dengan permainan panah Keysa, hingga ia berniat meminta Keysa untuk bergabung di klubnya. Namun, cara penyampaian terhadap Devano sedikit salah, sehingga membuat Devano salah paham. Setelah melihat kesalahpahaman dari Devano, Yosua yang mengetahui permasalahan internal keluarga Devano lantas mengalihkan pembicaraan ke arah yang dimaksud lawan bicaranya itu.


"Kau mengerjaiku?" Devano menyipitkan matanya.


Yosua semakin terbahak dengan pertanyaan Devano, hingga Keysa kembali dan mempertanyakan yang sedang terjadi. "Sialan!" Devano memukul pelan bahu Yosua, sadar, kalau dirinya telah dikerjai.


"Wajahmu kenapa?" tanya Keysa lagi, melihat wajah Yosua yang merah bekas pukulan.


"Hanya sedikit salah paham," ucap Yosua dengan seulas senyum, sedangkan Devano hanya mendengkus sambil membuang muka.


Yosua pun mengutarakan maksudnya yang meminta Keysa untuk menjadi atlet di klub yang didirikannya. Yosua yakin bisa memanfaatkan potensi yang ada di diri Keysa jika gadis itu mau bergabung. Namun, sayangnya harapan itu langsung pupus saat Keysa tanpa ragu menolak ajakn Yosua.


"Aku bermain panah karena senggang dan hobi. Aku tidak ada niatan untuk fokus, apalagi menjadi atlet. Dan terpenting, aku tidak suka berada di bawah tekanan dalam menjalankan hobiku," ucap Keysa.


Mau tidak mau Yosua pun menerima keputusan Keysa, padahal ia berharap Keysa mau menerima tawarannya.


Setelah puas bermain panahan, Devano dan Keysa pulang ke villa. Sepanjang perjalan mengayuh sepeda, tampak orang-orang yang menyapa dengan sopan kepada Devano. Begitupun dengan Devano, ia membalas sapaan itu dengan ramah. Membuat Keysa melihat sosok lain di diri Devano.


"Jadi semua usaha yang ada di sini sebagian besar adalah milikmu?" tanya Keysa. setelah mendengar percakapan Devano dengan orang-orang yang ditemui mereka, Keysa baru mengetahui kalau sebagian besar usaha di desa itu dibangun oleh Devano untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di desa tersebut.


Devano mengangguk. "Aku juga memiliki beberapa properti di luar negeri," tandas Devano. Ingin membuat Keysa semakin kagum kepadanya.


***


Keysa dan Devano masih menikmati liburan di desa. Hari ini, Devano mengajak Keysa menunggang kuda. Keysa dan Devano pun memilih kudanya sendiri langsung dari kandang.


"Aku ingin kuda yang ini," ucap Keysa kepada si pemilik kuda.


"Eh, jangan itu kudaku." Tiba-tiba suara seorang lelaki mencegah Keysa untuk menunggangi kuda putih yang dipilihnya.


Keysa menoleh ke arah suara dan dilihatnya Yosua yang sudah siap dengan topi koboy. Lagi-lagi mereka bertemu dengan Yosua, kali ini Keysa dan Yosua menyukai kuda yang sama.


"Itu kudaku, kamu cari kuda yang lain saja," ucap Yosua sambil mendekat.

__ADS_1


"Tapi, aku yang lebih dulu datang," timpal Keysa. "Aku ingin kuda yang ini, ya, Pak." Keysa keukeuh pada keinginannya.


__ADS_2