Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
79


__ADS_3

79


Keysa memasuki kelas dan mendapati tempat duduknya di tempati oleh gadis yang semalam membuat onar dengannya. Ia pun langsung meminta Liza untuk berpindah tempat, tetapi ditolak mentah-mentah. 


"Aku yang lebih dulu datang, jadi aku berhak atas kursi ini," sarkas Liza. "Dan dari dulu, tempatku selalu berada di samping Dev. Jadi, silakan kau yang cari tempat yang lain," lanjutnya. 


"Halo ... Nona! Apa aku tidak salah dengar? Kau yang lebih dulu datang? Aku sudah duduk di situ sejak beberapa bulan ke belakang, sedangkan kau baru duduk di situ hari ini. Berarti aku yang lebih dulu datang di kampus ini. Jadi, kau yang minggir!" usir Keysa. 


Saat keduanya adu mulut dan tidak ada yang mau kalah,  Ezra yang baru datang langsung memberikan kursinya kepada Liza. 


"Kau bisa duduk di kursiku," ucap Ezra kepada Liza, membuat Liza tidak senang karena Ezra lebih memilih membantu Keysa. 


"Ez, kenapa kamu malah membantu gadis jelek ini? Aku ini temanmu, harusnya kamu membantuku," protes Liza. 


Suara ribut dari Keysa dan Liza membuat seseorang yang sedang tidur di kursinya langsung bangun. "Apa kalian tidak ada kerjaan selain ribut? Pagi-pagi sudah ribut gak jelas. Ganggu orang saja," rutuk Devano yang belum sadar kalau biang ribut saat ini adalah Keysa. 


"Dia yang mulai duluan," jawab Keysa. "Temanmu merebut tempat dudukku," lanjutnya. "Lagian siapa suruh ke kampus malah pindah tempat tidur saja," seloroh Keysa yang terlanjur mood-nya hancur.


Devano tersentak begitu mendengar suara Keysa. Ia yang hendak marah-marah kepada orang yang telah mengganggu tidurnya pun langsung diurungkan. 


"Ini memang tempat duduk Keysa, Liz. Sebaiknya kamu cari kursi lain," tandas Devano yang juga tidak ingin duduk jauh dari Keysa. 


Sementara itu, Ezra yang tidak enak hati dengan kejadian semalam, memilih pergi ke ruang tata usaha dan meminta kursi karena di dalam kelas sudah tidak ada kursi kosong lagi. Begitu pun dengan Liza, ia yang merasa diabaikan oleh Devano memilih menyusul Ezra. 

__ADS_1


"Devano sekarang berubah, dia lebih mementingkan Keysa dibandingkan temannya sendiri," keluh Liza, tetapi juga tidak direspon dengan baik oleh Ezra yang membuat gadis itu mengerucutkan bibir. 


Sekembalinya ke kelas, Liza bermaksud untuk pindah dan duduk di dekat Ezra yang membawa kursi barunya di samping Keysa. 


"Kenapa kamu mengikutiku? Bukankah aku sudah memberikan kursi lamaku padamu? Duduk di sana!" Ezra menolak Liza yang mengikutinya, hingga membuat jajaran kursi tidak beraturan. 


"Aku ingin duduk dekatmu saja." 


"Bukannya tadi bilang ingin duduk dekat Dev, itu kamu ada di depannya Dev," tukas Ezra lagi sambil menunjuk tempat yang kosong depan bangku Devano. 


"Tapi, aku maunya dekat kalian berdua. Bukankah dari dulu juga seperti itu? Jadi seharusnya dia yang pindah." Liza menunjuk Keysa yang sudah anteng di tempat duduknya. 


Perdebatan Ezra dan Liza pun langsung ditimpali juga oleh Devano. Lelaki itu tidak ingin jauh dari Keysa, hingga ia juga menyuruh Liza duduk di depannya saja. 


"Sudah! Sudah! Kalau kayak gini sampai gajah bisa terbang pun tidak akan selesai," tandas Keysa, menengahi mereka karena sebentar lagi dosen akan datang. Ia lantas beranjak dari kursi dan membawa kursi lipatnya itu pindah ke dekat pintu. Devano pun juga mengikutinya. 


Keysa mengantarkan makanan ke kelas lain. Ketika melewati sekelompok gadis, tiba-tiba ada yang berteriak karena Keysa telah mempermalukan Liza semalam. 


"Heh, gadis cupu, berani sekali kau mempermalukan Liza semalam. Memangnya kau pikir siapa? Cinderella?" seloroh salah satu gadis. 


"Iya, Cinderela. Cinderela kejebur got!" timpal yang lain dengan diikuti gelak tawa. 


Keysa tidak sedikit pun menyanggah ucapan mereka, tetapi tangannya langsung bergerak cepat. Ia yang terkadung kesal langsung menumpahkan minuman yang dibawanya kepada para gadis itu, lalu pergi begitu saja. Menyisakan teriakan histeris gadis-gadis itu. 

__ADS_1


Namun, sepertinya masalah baru sudah menanti Keysa lagi. Di luar kelas, gerombolan lain mengepung Keysa. Mereka mengitari Keysa, sehingga ia tidak bisa keluar dari kepungan orang-orang itu. Semuanya lagi-lagi memperolok Keysa karena masalah Liza. 


"Oh, ya, ampun! Artis dadakan itu benar-benar membuatku susah," gumam Keysa dengan begitu geram. "Awas saja, kau!" 


Keysa berusaha keluar dari kepungan para pecinta Liza itu, tetapi tidak berhasil. Bahkan, ia sampai didorong mereka sampai tersungkur. Sebagaimanapun beraninya Keysa, jika satu lawan banyak tetap saja Keysa kalah. Hingga akhirnya, datang Arsen dan gengnya menyelamatkanya. Arsen berhasil membuat semua orang itu pergi dari sana. 


Setelah semua pergi, lelaki yang berhutang budi kepada Keysa itu lantas menghampiri Keysa dan mengulurkan tangan membantu gadis itu berdiri. "Ayo!" ucapnya. 


Keysa mendongak melihat siapa yang menolongnya, kemudian meraih tangan itu dan Arsen menariknya untuk berdiri. "Terima kasih," ucap Keysa. 


"Tidak masalah." Kemudian, Arsen membawa Keysa duduk di bangku yang terdapat di sana. Ia juga menghibur Keysa, untuk tidak mengambil pusing perbuatan orang-orang tadi. 


"Aku sudah terbiasa dengan bulyan. Mungkin karena aku miskin dan penampilan pas-pasan jadi mereka bisa seenaknya menghina," ucap Keysa dengan seutas senyum masam. 


"Mereka tidak tahu saja, cantik hati itu lebih bermakna ketimbang cantik rupa. Mereka pasti menyesal telah membuat gadis sebaik kamu susah." 


"Wah, aku terbang disebut gadis baik," timpal Keysa yang diiringi tawa. "Tapi, ngomong-ngomong Kak Arsen tahu tempat bagus dengan pemandangan indah di kota ini tidak?" 


Keysa berniat untuk membuat video  untuk promosi iklan yang ditawarkan perusahaan kosmetik waktu itu. Arsen pun memberitahukan sebuah tempat yang terkenal dengan pemandangan indahnya. 


"Apa kamu mau ke sana?" tanya Arsen, begitu melihat Keysa yang sangat antusias ketika ia menceritakan tempat tersebut. 


"Mungkin kapan-kapan untuk refresh kepala biar gak mumet-mumet amat," jawab Keysa, lalu pamit kembali ke kelas.

__ADS_1


"Kalau butuh bantuan, kamu bisa hubungi aku," ucap Arsen sebelum Keysa menjauh dan dijawab acungan jempol si gadis berkepang. 


Setiba di kelas, Keysa melihat Liza yang sedang menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh provokasi serta kibaran bendera perang. Keysa yang tahu dalang di balik semua yang terjadi dengannya barusan pun langsung menghampiri Liza dan memperingati gadis itu untuk tidak macam-macam dengannya, atau ia akan melakukan hal kasar yang belum dibayangkan Liza sebelumnya. 


__ADS_2