Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
223


__ADS_3

Exel dan anak buahnya datang ke rumah Devano. Exel yang ternyata orang di balik orang-orang yang mencegat Devano di jalan, menyusul Devano hingga ke rumah. Namun, sesampai di rumah Devano, mobil lelaki itu tidak jadi masuk ke kediaman Devano dan memilih kembali kembali setelah mendapat panggilan dari anak buahnya.


"Aku sudah menangkap anak buahnya, Bos." Orang di seberang sana memberikan kabar terbaru yang membuat Exel mengembangkan senyum.


"Baik. Aku ke sana sekarang."


Dengan seringai jahat yang menghiasi wajah, Exel pun memilih mendatangi anak buah Devano yang berhasil ditangkap anak buahnya, daripada menemui Devano di dalam rumah. Ia memutar balik mobil yang dikendarainya, kemudian meninggalkan kediaman Devano dengan kecepatan penuh.


Sementara itu, di dalam rumah. Dari balik gorden kamar atas, Keysa melihat mobil Exel yang hendak masuk gerbang berputar balik.


"Sial!" Bertepatan dengan itu, Devano mengumpat karena sebuah pesan yang baru saja dibacanya. Ia mencoba menghubungi nomor yang memberinya pesan, tetapi sudah tidak tersambung.


"Ada apa?" Keysa langsung menghampiri Devano yang beranjak dari tempat tidur. "Mau ke mana?" tanyanya lagi saat melihat Devano mengambil jaket dan hendak pergi.


"Albert diserang dan dibawa oleh orang yang tadi mengejar kami. Dia sempat memberi pesan, tetapi sekarang sudah tidak bisa dihubungi," jelas Devano, sambil mengenakan jaket.


"Terus kamu mau ke mana dengan keadaan tangan luka begitu?"


"Aku harus menyelamatkannya. Tunggu di rumah. Tutup dan kunci semua pintu dan jendela. Jangan biarkan ada orang masuk!" jelas Devano, kemudian pergi begitu saja setelah mendaratkan kecupan di kening Keysa.


"Tapi, Dev ...." Keysa hendak melarang, takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu. Namun, Devano secepat mata berkedip


Devano sudah tidak ada lagi di kamar. Lelaki itu sudah pergi bersamaan dengan suara mobil meninggalkan kediamannya.


Devano pergi ke tempat yang terlacak dari ponsel milik Albert untuk membebaskan Albert yang disekap oleh anak buah Exel. Devano dan Exel layaknya main kejar-kejaran. Di saat Devano mencoba membebaskan bawahannya, Exel sedang membeli banyak toko milik keluarga Devano. Bahkan, Exel juga merusak rumah Devano setelah mengetahui bahwa musuhnya itu meninggalkan rumah untuk menyelamatkan Albert.

__ADS_1


"Buat rumah ini seperti kapal pecah!" perintah Exel kepada anak buahnya.


Tanpa menunggu komando mereka merusak segala yang ada di rumah Devano.


"Apa kalian menemukan seorang gadis?" tanya Exel.


"Tidak, Bos." Salah seorang anak buahnya menjawab, kemudian diikuti oleh yang lainnya yang juga menjawab dengan jawaban sama.


Exel mengangguk. "Ruksak separah mungkin. Jangan sampai ada satu barang pun yang terlihat utuh!" timpalnya lagi, lantas naik ke lantai atas, menuju kamar Devano.


Di dalam kamar, Keysa yang mendengar derap kaki mendekat ke kamar langsung mencari tempat untuk bersembunyi. Ia tidak mungkin menghadapi sendirian kebrutalan orang-orang yang sedang merusak rumah kekasihnya itu.


"Aku sembunyi di mana?" Keysa mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang sekiranya aman untuk bersembunyi. "Di sana sepertinya aman." Keysa langsung berlari ke ke ruang ganti menuju sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu jati, lantas masuk dan bersembunyi di sana.


"Key, Keysa! Apa kau ada di dalam?" Exel memanggil-manggil nama Keysa, membuat Keysa menyadari bahwa orang yang tengah merusak rumah Devano adalah Exel beserta anak buahnya.


'Ternyata Exel tidak ada kapoknya.' Dari dalam lemari, Keysa mendumel dalam hati begitu mengetahui biang kerok atas semua yang terjadi. Sumpah serapah terlontar untuk lelaki yang sedang memanggil namanya itu, meskipun hanya dalam hati.


Exel masih hilir mudik mencari keberadaan Keysa yang diyakininya ada di di kamar itu. Kamar mandi, ruang ganti sudah dijajah, tetapi tidak ada Keysa di sana. Hingga matanya tertuju pada lemari di ruang ganti. Seringai lebar seketika menghiasi wajahnya, lantas dengan perlahan tapi pasti, Exel mendekat ke arah lemari di mana Keysa sedang bersembunyi.


"Feeling-ku dia ada di dalam," gumam Exel, seraya memegang gagang pintu lemari, hendak membukanya.


Namun, tiba-tiba gerakan tangan Exel terhenti saat mendengar ponselnya berdering, lantas mengambil ponsel dari dalam saku dan menerima panggilan yang masuk.


"Ada apa?" tanya Exel kepada orang dari seberang sana.

__ADS_1


"Ada kabar baik, Bro! Kita sudah berhasil mengakuisisi hampir semua toko yang dimiliki Devano dengan sangat mudah dan tanpa hambatan. Kamu juga harus tahu, semua bisa semudah ini karena ada andil lelaki bernama Zian itu. Dia mempermudah kita mendapatkan semuanya."


Mendengar kabar baik, Exel langsung semringah dan melupakan pintu lemari yang hendak dibuka. Ia meninggalkan kamar Devano dengan perasaan yang sangat-sangat puas atas kerja kerasnya.


"Hari ini kau akan benar-benar hancur, Dev!" gumam Exel, kemudian memilih meninggalkan rumah yang sudah berantakan tersebut.


Setelah kepergian Exel, Keysa keluar dari dalam lemari. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah sebelumnya kehilangan banyak oksigen saat di dalam.


"Jadi semua ini adalah kelakuan Zian?" Dada Keysa dibuat bergemuruh mengingat ucapan Exel yang berbicara dengan orang lewat telepon tadi. "Ini tidak bisa didiamkan."


Keysa langsung keluar dari ruang ganti, kemudian mengambil ponsel yang tersimpan di tas. Dengan menggunakan private number, Keysa menghubungi Zian untuk menghentikan aksi gila lelaki itu.


"Apa yang kau lakukan? Hentikan tindakan gilamu, Ian!" teriak Keysa, begitu panggilan tersambung.


Zian yang sangat kenal dengan suara Keysa langsung menolak mentah-mentah permintaan Keysa.


"Aku mohon hentikan! Dia tidak salah apa-apa, kenapa kamu tega sekali?"


"Tunggu ... sepertinya bisa diperhitungkan kembali. Asalkan kamu mau melanjutkan pertunangan kita, dengan senang hati aku akan menghentikannya, bahkan mengembalikan semua yang telah aku ambil."


Zian memberi penawaran yang membuat Keysa naik pitam. Keysa memaki perbuatan Zian yang menurutnya sudah sangat kelewatan.


"Jangan mimpi! Aku tidak akan mau bertunangan denganmu. Apalagi dengan semua yang telah kamu lakukan kepada Dev, semakin membuatku yakin bahwa kamu buka orang baik. Sampai mati pun aku tidak akan mau hidup dengan orang jahat sepertimu," cecar Keysa.


"Seumur hidup, aku hanya akan mencintai satu orang, yakni Devano," lanjut Keysa, kemudian mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2