Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
166


__ADS_3

Cheryl datang ke kelas Devano untuk mengajak lelaki itu jalan-jalan. Namun, Devano langsung menolak.


"Aku tidak bisa. Ada acara penting yang harus aku datangi," tukas Devano, lantas berdiri dan mencangklong tas yang tersimpan di bangku.


"Dev, mau ke mana?" tanya Cheryl, begitu melihat Devano membawa tas dan hendak pergi.


"Ada urusan," jawab Devano, singkat, lalu pergi.


"Tapi besok bisa, 'kan? Ayolah, Dev! Antar aku kali ini saja." Cheryl dengan cepat mengejar dan mencekal tangan Devano. Memaksa lelaki itu agar mau menemaninya.


"Tidak bisa, Cher. Aku ada urusan." Devano pun keukeuh menolak ajakan Keysa.


Tidak ingin terus terjebak oleh permintaan Cheryl, Devano langsung melepaskan genggaman tangan Cheryl dan dengan cepat meninggalkan gadis yang terus memaksanya.


Devano mempercepat langkahnya, menjauh dari gadis yang masih terdengar memanggilnya. Hingga akhirnya Devano sampai di parkiran dan segera masuk ke mobil. Devano sekilas menoleh ke belakang, memastikan kalau Cheryl tidak mengikutinya lagi. "Dasar gadis pemaksa," rutuk Devano, sambil menutup pintu mobil.


Setelah memakai sabun pengaman, Devano melajukan mobilnya dengan kepala yang terus memikirkan Keysa. Bagaimana reaksi gadis itu saat mengetahui kebenaran tentang suami game-nya itu.


Keesokan harinya ....


Keysa sudah selesai berdandan. Ia tidak lagi menutupi kecantikannya. Wajah cantik alami dengan polesan make up natural terpangpang di cermin. Hari sudah mulai sore, Keysa pun menunggu Ferro yang katanya akan menjemput Keysa ke asrama, hingga tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Keysa.


[Key, aku ada urusan sebentar. Sepertinya tidak bisa menjemput. Bagaimana jika kita bertemu langsung di tempat saja?]


Sebuah pesan masuk dari Ferro. Keysa yang sejak awal hanya meminta ditemani saat bertemu saja, tidak perlu menjemput, langsung mengiakan permintaan Ferro.


[Sampai bertemu di sana. Hati-hati di jalan] Ferro kembali mengirim pesan, setelah Keysa membalasnya.

__ADS_1


Keysa melirik jam tangan yang dikenakannya. Waktu yang dijanjikan tinggal lima belas menit lagi, Keysa pun langsung mengambil tas dan buru-buru keluar sambil memesan taksi online.


"Aku pergi dulu sebentar," ucap Keysa, pamit kepada Disti yang baru saja masuk kamar, dan dijawab anggukan Disti.


***


Di luar gerbang kampus, Keysa tampak berdiri di tepi jalan menunggu taksi online yang dipesannya datang.


Tidak perlu lama, orderan Keysa yang langsung diambil oleh driver pun membuahkan hasil. Seunit mobil hitam berhenti di depan Keysa. Ia pun segera naik dan si sopir langsung mengantarnya ke tempat sesuai orderan.


"Terima kasih." Setiba di sebuah cafe, Keysa turun setelah memberikan sejumlah uang.


Keysa sudah berdiri di depan cafe tempat yang disepakati untuk pertemuan pertamanya dengan si suami online.


"Huh!" Sambil menatap bangunan di depannya, Keysa membuang napas kasar. Entah kenapa perasaannya berubah tidak karuan. "Ayo, Key, kita temui dia. Setelah ini, tidak perlu lagi berhubungan dengan orang itu," gumamnya, kemudian memantapkan diri untuk masuk lebih dahulu tanpa menunggu Ferro karena orang yang hendak ditemuinya berkata sudah menunggunya sejak setengah jam terakhir.


Akhirnya, Keysa masuk ke cafe sendirian. Ia memindai cafe yang didatanginya, mencari sosok yang disebut sebagai suami online. Keysa berjalan mencari nomor meja yang telah di pesan Devano. "Meja nomor lima, hoodie merah dan topi hitam," gumam Keysa, seraya mencari orang dengan ciri-ciri yang diberikan Devano.


"Itu dia," gumamnya lagi, saat melihat orang dengan ciri yang sama sedang duduk membelakanginya. Hanya ada satu orang yang memakai hoodie dan topi hitam membuat Keysa yakin bahwa itulah orangnya.


Kaki Keysa pun langsung menyeret tubuhnya untuk menemui orang tersebut. Setiba di meja yang dimaksud, Keysa langsung basa-basi dengan menanyakan nama sesuai id game suami online-nya kepada orang yang sedang duduk sambil menunduk.


Mendengar suara Keysa, Devano yang sedang bermain ponsel langsung mendongak sambil meletakkan ponselnya. Devano tersenyum ke arah gadis yang terlihat syok saat melihat keberadaannya di sana. "Hai!" Devano menjawab sapaan Keysa.


Keysa mematung, menatap tidak percaya kepada lelaki di depan matanya. Sulit dipercaya. Isi kepalanya mulai berkecamuk dan mempertanyakan hubungan Devano dengan suami online-nya. Mungkinkah mereka orang yang sama.


"Duduklah, Key. Aku sudah menunggumu sejak setengah jam lalu."

__ADS_1


Ucapan Devano, membenarkan prasangka Keysa. Membuat Keysa rasanya ingin tertawa karena kesal bercampur malu. Ia mencurahkan hatinya kepada orangnya langsung. Bukannya senang karena itu artinya Devano sudah mengetahui semua yang hendak dijelaskannya, tetapi mengapa dadanya malah terasa memanas. Kenapa lelaki itu tidak mengakui bahwa dia adalah Devano saat sudah mengetahui semuanya.


"Jadi kamu top gamer itu?" Keysa menatap Devano.


"Duduklah dulu! Kita bicara sambil makan," ucap Devano.


Keysa tersenyum kecut. Bukannya duduk, ia malah berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Namun, dengan cepat Devano berdiri dan menarik tangan Keysa, menghentikan langkah gadis itu.


"Mau ke mana? Kamu sudah berjanji untuk bertemu dan makan bareng bersamaku," tandas Devano.


"Kita sudah bertemu, 'kan? Aku harus pergi masih ada urusan," ucap Keysa, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Devano, tetapi tidak berhasil.


"Aku minta maaf atas semua ucapan kotorku. Aku tahu tidak seharusnya aku bicara seperti itu. Aku menyesal karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu." Devano menggenggam tangan Keysa di depan dada dengan kedua tangannya. Kedua matanya menatap Keysa dengan begitu memelas.


Keysa terdiam, tidak mengiakan atau pun menolak. Kata-kata Devano sangat menyakitkan, tetapi tidak akan ada asap jika tidak ada api. Keysa sendiri juga yang telah menyalakan api itu.


"Duduk, yuk! Kita makan bersama. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama." Devano mencoba mengambil hati Keysa lagi, meskipun gadis itu masih diam.


Keysa tidak menjawab, tetapi lagi-lagi tidak menolak saat Devano mendudukkannya di kursi.


"Apa kamu tidak jijik makan bareng dengan gadis murahan sepertiku?" lontar Keysa. "Bukankah kamu sudah mengakhiri hubungan ini secara sepihak? Sepertinya pertemuan ini sudah tidak diperlukan lagi. Sejak awal kamu sudah tahu siapa aku. Atau kamu sedang berniat membalas semua perbuatanku?" cecar Keysa, mencoba melepaskan tangan yang tidak dibiarkan terlepas dari genggaman Devano.


"Bukan seperti itu, Key. Sungguh aku minta maaf karena telah mengatakan kata yang tidak pantas. Waktu itu aku emosi karena merasa dibohongi oleh kamu, aku minta maaf, aku tidak bisa mengontrol emosi. Aku menyesal." Devano mencium tangan Keysa sambil terus meminta maaf. "Aku mencintaimu. Karena itulah aku tidak suka kamu dekat dengan orang lain."


"Aku ke sini bersama Ferro," ucap Keysa kemudian. Ia sengaja mengatakan hal itu untuk melihat reaksi Devano.


Raut wajah Devano seketika berubah tidak suka, tetapi demi mendapatkan maaf dan demi membuktikan cintanya kepada Keysa, Devano tidak merasa keberatan. Ia akan membuktikan bahwa cuma dirinya yang pantas dan cocok untuk Keysa.

__ADS_1


__ADS_2