
Keysa masih terlelap saat mendengar teriakan dari samping tubuhnya. Suara Devano yang baru saja mimpi buruk beserta nada dering ponsel Devano membangunkannya.
Keysa membuka mata dan dilihatnya Devano yang sudah bermandikan keringat.
"Ada apa?" tanya Keysa, melihat Devano seperti orang ketakutan.
Devano yang sedang memegang ponsel hanya menggeleng, kemudian menempelkan ponsel ke telinga. Keysa pun hanya menjadi pendengar setia seraya mengumpulkan kesadarannya dengan kepala yang terasa pusing karena bangun mendadak.
"Ada apa?" tanya Keysa, setelah Devano mengakhiri panggilannya dengan si penelpon.
Devano membuang napas kasar. Mimpi buruknya saja masih terbayang-bayang, sekarang ditambah dengan kabar buruk. "Cheryl mencoba bunuh diri."
"Lalu bagaimana keadaanya sekarang?" Keysa terdengar panik.
"Aku tidak tahu. Exel bilang sedang ditangani dokter."
Keysa hanya angguk-angguk, sebenarnya ia juga sudah mendengar pembicaraan antara Exel dan Devano. Ia lantas meraih tangan Devano yang masih memegang ponsel, mengusapnya lembut dengan mata yang menatap wajah yang tampak kusut itu.
"Sebaiknya kamu jenguk Cheryl dulu," ucap Keysa sungguh-sungguh.
Devano menatap Keysa dengan mata yang memicing. Tidak menyangka kekasihnya malah menyuruh dirinya untuk menjenguk Cheryl yang sudah jelas-jelas akan merusak hubungan mereka.
"Tidak usah. Aku yakin, ini hanya permainan mereka saja agar aku kembali ke rumah." Devano mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau berita dari Exel hanyalah taktik mereka agar Devano pulang.
"Suara Exel terdengar sangat khawatir. Memang ada yang suka bermain-main dengan nyawa? Temui mereka dulu, pastikan dulu kebenarannya. setelah itu kembali lagi," tutur Keysa.
"Tapi ...."
"Tidak ada tapi-tapi, lihat dulu kondisi Cheryl! Aku akan selalu menunggumu di sini." Keysa mengecup sekilas bibir Devano agar lelaki itu mau melihat keadaan Cheryl.
Devano tidak habis pikir dengan jalan pikiran Keysa, padahal gadisnya itu sudah sering disakiti, seharusnya Keysa senang mendengar rivalnya tidak baik-baik saja. Mungkin sebagian orang akan langsung berdoa agar orang itu mati sekalian, tetapi kekasihnya itu beda dari yang lain. Keysa tidak pernah benar-benar membenci seseorang, kemarahannya pun hanya sesaat. Mendengar kabar Cheryl bunuh diri, kekhawatiran tampak jelas di wajah gadis itu yang membuat Devano mengabulkan permintaannya.
"Baiklah aku akan melihatnya. Kamu tidur lagi, ya! Nanti aku balik."
Keysa mengangguk. Devano pun beranjak dari tempat tidur. Tidak lupa memberikan kecupan di kening sebelum pergi.
***
Malam telah berlalu dan berganti pagi, Keysa sudah bangun. Ia juga sudah membuat sarapan untuknya dan Devano, tetapi Devano tidak kunjung kembali bahkan tidak ada kabar sama sekali. Padahal lelaki itu sudah berjanji akan memberikan kabar tentang keadaan Cheryl.
__ADS_1
"Apa mungkin keadaan Cheryl kritis, sehingga Dev tidak bisa menghubungiku dan sibuk mengurus Cheryl?" Keysa menatap ponsel yang tidak ada notifikasi sama sekali, kemudian menatap makanan yang belum disentuhnya sama sekali karena menunggu si tuan rumah.
Sampai menjelang siang, masih tidak ada kabar dari Devano. Keysa pun memilih menghubungi anak buah kakeknya dan mencari tahu kabar tentang Cheryl.
"Siang Nona, kami baru saja mencari tahu kabar terbaru tentang Cheryl. Gadis itu sudah baik-baik saja," ucap anak buah sang kakek dari balik telepon setelah mendapat perintah dari Keysa lima belas menit yang lalu.
"Kalau sudah baik-baik saja, kenapa Dev tidak kunjung pulang?"
"Dari pantauan kami, Devano selalu ada di samping Cheryl di ruang rawat. Kalau boleh menebak sepertinya Devano sudah dikontrol oleh keluarganya," timpal orang itu lagi.
Keysa membuang napas kasar saat mendengar ucapan anak buah kakeknya, kemudian mengakhiri panggilan tersebut setelah mengucapkan terima kasih. Keysa tidak berpikir sejauh itu. Ia yang merasa khawatir dengan keadaan Cheryl menyuruh Devano pergi begitu saja. Ia lupa kalau kekasihnya dikelilingi orang-orang yang sangat membencinya. Kepulangan Devano pasti dijadikan kesempatan untuk mengekang lelaki itu untuk tetap tinggal dan menjauhkannya dari Keysa.
"Aku sudah berjanji untuk menunggumu pulang. Mungkin nanti malam atau besok kamu akan pulang dan mencariku. Sebaiknya aku tetap tinggal di sini sampai kamu pulang," gumam Keysa, berharap kekasihnya itu akan pulang.
***
Seminggu telah berlalu. Keysa masih tinggal di rumah Devano berharap lelaki itu akan pulang. Ia pun setiap hari berangkat kuliah dari rumah itu.
"Sudah seminggu kamu tinggal di rumah Dev, apa dia tidak pernah pulang?" tanya Disti, saat keduanya sedang berada di dalam kelas.
Keysa menggeleng. Disti pun hanya bisa menghela napas panjang, lantas menepuk-nepuk bahu Keysa, menguatkan. Ia sudah tahu yang sedang terjadi dengan sahabatnya.
"Kamu sudah sarapan belum? Kita cari makan dulu, yuk!" ucap Disti lagi, mengalihkan pembicaraan.
"Perutku udah jawab duluan," timpal Keysa sambil nyengir kuda. "Ayo, cari makan!" Memikirkan Devano yang tidak kunjung pulang pun butuh tenaga. Keysa pun menarik Disti untuk pergi ke kantin.
Saat di perjalanan hendak ke kantin, Keysa dibuat tercengang ketika melihat Devano dan Cheryl kembali ke kampus. Senyum merekah saat melihat Devano yang berada di samping Cheryl berjalan ke arahnya. Orang yang seminggu ini dirindukan Keysa sudah kembali.
Namun, seketika senyum Keysa hilang waktu tiba-tiba Cheryl menggandeng mesra Devano.
"Apa-apaan itu?" Keysa bergumam ketika melihat Cheryl yang begitu menempel pada Devano, parahnya Devano sama sekali tidak protes.
Keduanya melewati Keysa tanpa bicara sepatah kata pun. Tatapan Devano terlihat dingin kepada Keysa.
"Sepertinya yang dikatakan mereka benar adanya," gumam Keysa, mengingat ucapan anak buahnya. Tubuh Keysa seketika terasa lemas.
"Sabar, Key." Disti menenangkan Keysa. Bohong jika Keysa mengatakan dirinya baik-baik saja. Ingin sekali rasanya ia menangis melihat pengabaian dari Devano.
"Dev, aku ingin kamu tidak berdekatan lagi dengan Keysa. Kamu ingat janjimu padaku, 'kan?" Cheryl yang baru beberapa langkah meninggalkan Keysa, berbicara dengan sangat lantang hingga Keysa bisa mendengar.
__ADS_1
Devano tidak menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan iya, karena itu akan melukai Keysa dan dirinya pum tidak mau. Namun, Devano juga tidak mungkin tidak memenuhi permintaan Cheryl, ia sudah berjanji dan jika tidak ditepati semua akan kacau.
"Dev, kamu dengar yang aku ucapkan, kan? Mulai hari ini kamu jangan dekat-dekat dengan Keysa di mana pun, termasuk di kelas. Sebaiknya kamu juga pindah tempat duduk," perintah Cheryl.
Devano tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk mengiakan. Membuat senyum licik terbit di wajah yang menoleh sekilas ke arah Keysa.
"Aku tidak lapar, Dis. Aku sudah kenyang," tandas Keysa. Ia yang melihat kepala Devano yang mengangguk langsung terbakar emosi.
Keysa tidak jadi makan. Ia kembali ke kelas dengan segudang emosi yang memenuhi tubuh. Ia melewati begitu saja sejoli yang sedang berjalan sambil memamerkan kemesraan. Gadis memakai celana jeans overall itu langsung duduk di bangkunya.
'Kita lihat, apa kamu akan menuruti permintaannya?' gumam Keysa dalam hati.
Saat ini, sepertinya Keysa harus memiliki stok kesabaran yang banyak. Lelaki itu benar-benar memilih bangku lain saat melihat Keysa duduk di bangkunya. Devano tidak menyapa sekali, membuat Keysa melempar bolpoin asal ke depan, lantas meraih tas. Hati Keysa sedang kacau dan memilih untuk meninggalkan kelas.
***
Keysa tidak mengikuti kelas. Ia sedang berada di pusat perbelanjaan bersama Felix. Lelaki cantik sahabatnya itu mengajak Keysa pergi ke mall untuk mencari pakaian untuk Felix pemotretan, sekaligus menghibur dirinya.
Saat keduanya sedang berbelanja, ponsel Felix berdering dengan nama Zack tertera di sana.
"Angkat saja," ucap Keysa.
Felix mengangguk, kemudian mendial tombol hijau di layar yang terus berkedip.
"Ada apa?" tanya Keysa, setelah panggilan diakhiri.
"Zack mengajakku ke klub malam."
"Ya, sudah, temui saja."
"Eh, dikira aku bukan orang setia kawan, hah? Di saat temannya sedih malah hangout sendirian," sarkas Felix, tidak bisa meninggalkan Keysa seorang diri.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Pergilah!"
Felix tetap menolak. Ia tidak mau meninggalkan Keysa sendirian.Hingga akhirnya, tercetus sebuah ide untuk mengajak Keysa ikut. Tentunya dengan izin Zack pula.
Felix dan Keysa sudah jalan-jalan seharian tanpa lelah, langsung menuju tempat yang dijanjikan Zack.
***
__ADS_1
Keysa sedang menikmati alunan merdu suara Felix yang sedang berduet dengan Zack. Zack yang tahu masalah Keysa dari Felix, memilih menghibur Keysa bersama Felix dengan berkaraoke ria. Keduanya menghibur Keysa sambil bermesraan, yang membuat Keysa geli sendiri.
"Fel sini dulu deh!" Keysa meminta Felix untuk duduk dekat dirinya. Melihat terong dan terong bermesraan membuat Keysa yang diliputi amarah langsung bergidik.