Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
45


__ADS_3

45


Devano menatap layar ponsel sambil tertawa sinis begitu membaca pesan dari Faya yang menyebutkan kalau Keysa mungkin memiliki alasan khusus yang tidak bisa dikatakan kepadanya. 


"Meskipun memiliki alasan khusus, tetap saja Keysa itu seorang pembohong." Devano terus mengumpati Keysa yang telah berbohong kepada dirinya dan ucapan-ucapan Keysa pun kembali terngiang-ngiang di telinga. 


Namun, sejurus kemudian Devano berpikir kenapa dirinya terus memikirkan Keysa yang menyukai Ezra dan tidak menyukai dirinya. "Apa yang sebenarnya aku pikirkan?" tandasnya seraya menoyor kepalanya sendiri. 


"Ok, Dev. Kau itu hanya marah kepada gadis  jelek itu karena dia sudah berani membohongimu. Hanya itu tidak lebih." Devano menceramahi dirinya sendiri, hingga ia pun merasa tenang kembali. 


*** 


Keesokan harinya. 


Devano yang baru tiba di kelas disuguhkan oleh pemandangan yang membuatnya sakit mata sekaligus membuatnya gundah gulana. 


"Cih! Siapa lagi dia? Norak sekali," umpat Devano, pelan. Ia melihat Keysa sedang bersama seorang lelaki berpakaian mencolok serta warna rambut yang tidak kalah mencolok juga. 


"Aku membawakan  sarapan untukmu. Jangan lupa dimakan, ya!" ucap Felix dengan nada malu-malu sambil memberikan sebuah kotak makanan berisi sandwich. 


Ya, Keysa sedang bersama Felix. Lelaki itu sedang mengantarkan sarapan untuk Keysa. Keysa pun menerima sarapan itu dengan senang hati, bahkan senyum tertampil saat ia menerimanya. 


"Sungguh menjijikkan. Untuk apa ia tersenyum untuk lelaki norak itu?" umpat Devano lagi dalam hati, dengan pandangan yang tidak berhenti menatap dua sejoli yang tampak saling melempar senyum malu-malu dan mengobrol tanpa memedulikan kehadiran Devano.


Setelah Felix pergi, seorang gadis yang duduk di dekat Keysa dan sejak tadi juga memperhatikan keduanya pun menghampiri dan menggoda Keysa. "Cieh ... cieh yang dianterin sarapan," goda Disti.


"Apa sih," Keysa tersenyum malu, bahkan wajahnya sudah bersemu merah. 


"Apa Felix sedang mendekatimu?" lanjut gadis itu. 


"Felix itu orangnya sang lembut dan baik. Dia bahkan membantuku mengantarkan pesanan dan yang terpenting dia tidak mempermasalahkan keadaanku baik miskin ataupun tidak." 


Mendengar ucapan Keysa yang sengaja memuji-muji Felix, membuat seseorang di bangku sebelah merasakan gemuruh di dada. Ia pun beranjak dari tempat duduk dan mendorong kasar kursi ke belakang sampai terjungkal, lalu menghampiri Keysa dan melemparkan sejumlah uang ke papan meja kursi yang diduduki Keysa. 

__ADS_1


"Belikan aku sarapan sekalian untuk teman-teman sekelas juga!" Devano menyuruh Keysa membelikan sarapan untuk semua orang di kelas.


"Apa?! Sarapan untuk sekelas?" Keysa menatap Devano dan uang di meja secara bergantian. 


"Kau tidak budeg, kan? Perasaan aku sudah cukup jelas memberi instruksi." 


Keysa mendongak ke arah Devano dan berpikir, hari ini lelaki itu sudah mulai gila. 'Pagi-pagi gini dia udah kesambet setan mana lagi?' 


"Hari ini Felix sudah membawakan sarapan untukku, jadi untuk bagianku tidak perlu," ujar Keysa sambil membawa uang yang diberikan Devano. "Aku beli untuk kamu dan teman yang lain saja, ya!" usul Keysa, masih mencoba mengontrol diri untuk tidak terpancing emosi.


"Aku ingin kau membeli sarapan sesuai jumlah orang di kelas ini. Kau sudah punya sarapan atau belum itu bukan urusanku. Jika kau tidak mau, tinggal buang saja," tandas Devano, lalu kembali ke tempat duduknya. 


Keysa sangat kesal dengan ucapan Devano. Bisa-bisanya lelaki itu menyuruhnya membuang makanan yang dibeli dengan uang, di saat masih banyak orang yang membutuhkan. Lelaki itu malah menghambur-hambur uang tidak jelas. "Kau—" Keysa sudah bersiap melayangkan kata-kata pedas. Namun, Disti dengan cepat menariknya untuk membeli sarapan yang diperintahkan lelaki yang tidak kalah kesalnya dengan Keysa. 


"Kenapa kamu menarikku begitu saja? Aku belum selesai  bicara dengan lelaki itu," omel Keysa kepada Disti saat mereka sudah jauh dari kelas. "Mentang-mentang punya banyak uang, dengan seenaknya saja dia hambur-hambur uang. Kan jadi mubazir."


Disti menoleh ke arah sang sahabat yang masih mengomeli kelakuan Devano. "Apa kamu menyukai Dev?" tanya Disti, lalu pandangannya kembali lurus ke depan,  tanpa menjawab omelan Keysa. 


"Kenapa bertanya seperti itu?" Keysa pun menoleh ke arah gadis yang sedang berjalan di sampingnya. 


Keysa hanya tersenyum. Ia tahu niat Disti baik saat berkata seperti itu dan secara kebetulan keysa melihat Cheryl dan Felly lewat. 


"Aku tahu Felix orangnya baik. Oleh karena itu aku ingin mencoba menjalin hubungan dengannya," ucap Keysa yang menebak kalau Cheryl dan Felly lah yang menyuruh Felix. 


**


Siang harinya, Felix kembali membantu Keysa menjalankan bisnisnya. Setelah itu, keduanya pergi ke taman kecil  untuk melanjutkan rencana mereka. Sambil berjalan keduanya pun saling mengobrol seperti orang yang benar-benar sudah dekat. 


"Aku dengar gosip kalau kamu mencium Devano. Apa itu benar?" 


"Oh, itu. Aku menciumnya tanpa sengaja karena waktu itu aku sedang mabuk," jawab Keysa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum canggung yang tertampil.


"Kamu sangat berani. Hebat sekali!" Felix mengacungkan dua jempol di depan wajah Keysa. "Aku juga pernah berpikir untuk melakukannya, tapi cuna saat bermimpi," lanjut Felix yang membuat Keysa bingung dengan ucapan lelaki itu. 

__ADS_1


Setelah mereka duduk di bangku taman dan mengobrol lama, Keysa baru bisa mengerti maksud dari ucapan lelaki yang sedang menjadi pacar pura-puranya. 


"Aku adalah g*y," ucap Felix, jujur. 


Pada awalnya, Keysa sangat terkejut dengan pengakuan Felix, tetapi ia juga merasa lega. Ia tidak perlu takut, Felix akan berbuat macam-macam kepadanya. 


Felix sendiri merasa lega. Ia yang takut Keysa akan menghinanya, tetapi malah berkata kalau gadis itu tidak mempermasalahkannya dan juga tidak akan merendahkan Felix. 


Di sisi lain, Ezra baru saja kembali ke kelas dan mendapati Devano sedang tidur. "Dev, barusan aku melihat Keysa dan Felix berjalan ke arah taman kecil," ujar Ezra, membangunkan Devano. Taman kecil itu merupakn taman tempat para muda-mudi berkencan.


"Tidak ada hubungannya denganku," jawab Devano, tanpa membuka mata dan melanjutkan tidurnya lagi.


Mulut bisa berkata tidak ada hubungan. Namun, hati Devano tidak bisa dibohongi. Ia terasa kacau setelah mendengar itu. Ucapan Ezra terus terngiang-ngiang, membuatnya tidak bisa tidur dan terganggu. 'Lelaki itu pasti bukanlah orang baik. Dia pasti akan menipu gadis jelek itu!' Devano pun beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke luar. 


"Kau mau ke mana?" tanya Ezra. 


"Ke toilet," jawab Devano tanpa menoleh. 


***


Di taman. Keysa menyadari ada dua orang gadis yang sedang membuntuti mereka. 


"Fel, sepertinya ada orang yang sedang mengikuti kita." Keysa memberitahu Felix dengan suara setengah berbisik. "Bagaimana kalau kita melanjutkan akting kita?" lanjutnya. 


"Ok. Caranya?" 


Keysa berpikir sejenak, lalu ia menggenggam tangan Felix dan menyuruh lelaki itu untuk pura-pura menciumnya. Bukan tanpa alasan Keysa meminta Felix menciumnya. Ia tahu kalau seorang g*y sangat benci ciuman dengan seorang wanita, hingga membuat Keysa merasa lega dan yakin bahwa Felix tidak akan melakukan hal itu. 


Keysa pun menutup matanya dan menunggu agak lama, "Ayo, Fel! Cuma pura-pura doang! Jangan sampai nempel!" Keysa membuka sebelah matanya dan mendapati Felix masih diam, kebingungan.


Felix mengangguk ragu.


"Kamu pasti bisa," lanjut Keysa sambil tersenyum,  kemudian menutup mata kembal. Hingga tiba-tiba bibirnya benar-benar dicium. 

__ADS_1


'Felix!!! Aku bilang pura-pura!' pekik Keysa dalam hati. Keysa sangat kesal karena Felix benar-benar menciumnya. Ia langsung membuka mata hendak memberikan pelajaran kepada lelaki itu, tetapi Keysa langsung dibuat shock saat melihat orang yang tengah menikmati bibirnya tersebut. 


__ADS_2