
Acara demi acara di pesta pertunangan Keysa dan Zian telah terlewati dengan lancar dan baik, yang berhasil membuat Keysa panik. Bagaimana tidak? Ia mau datang ke pesta itu hanya untuk memancing Devano keluar, tetapi sampai acara inti akan digelar, Keysa belum melihat tanda-tanda kedatangan Devano.
Acara inti pun benar-benar akan digelar. Zian dan Keysa dipanggil oleh pembawa acara untuk melakukan sesi pertukaran cincin.
Dengan penuh percaya diri dan senyum yang menawan, Zian naik ke panggung. Sementara itu, Keysa yang tidak mau melakukan sesi tersebut masih duduk di kursi. Matanya melirik Kakek Surya dengan kepala menggeleng.
'Tidak, Kek. Aku tidak mau. Kalau sampai cincin dari Zian melingkar di jariku, itu artinya aku resmi menjadi tunangannya. Tidak. Aku tidak mau." Membayangkannya saja sudah membuat Keysa menggeleng cepat.
"Nona Keysa, dipersilakan untuk naik ke panggung!" Pembawa acara kembali memanggil namanya, membuat Keysa kembali menoleh kepada lelaki di sampingnya.
Kakek Surya tersenyum dengan sebuah anggukan yang meminta Keysa untuk segera naik ke panggung.
"Nona Keysa masih malu-malu. Sepertinya, Nona Keysa ingin dijemput langsung oleh calon tunangannya." Melihat Keysa yang tidak kunjung berdiri dan naik ke panggung, si pembawa acara malah menggoda dan meminta Zian untuk menjemputnya.
Zian pun dengan senang hati turun dari panggung dan berjalan ke arah Keysa.
'Apa-apaan ini? Kenapa jadi kayak gini?' Sementara Keysa malah semakin merutuki dirinya sendiri.
"Mari!" Sesampai di depan tempat duduk Kesya, Zian langsung mengulurkan tangan dan pembawa acara pun memanggil keduanya untuk naik bersamaan.
Keysa menghela napas kasar. Ia pun Mau tidak mau dirinya berdiri dan meraih uluran tangan Zian dan pembawa acara menyambut kedatangan mereka dengan meriah, serta riuh tepuk tangan para tamu juga mengiringi langkah pasangan yang akan resmi bertunangan itu. Kata pujian pun terdengar dari mereka yang mengatakan kalau Keysa dan Zian adalah pasangan yang serasi.
__ADS_1
'Dev, kamu di mana? Aku mohon datanglah!' Sementara itu, Keysa yang tidak suka dengan keadaannya saat ini hanya berdoa semoga Devano lekas datang. 'Please, jangan bikin aku kecewa! Datanglah dan selamatkan aku."
Senyum merekah di wajah Zian, begitu pula keluarganya. Sebentar lagi, Keysa akan menjadi anggota keluarga mereka dan sudah banyak rencana yang tersusun di kepala orang tua Zian. Meskipun begitu, untuk perasaan Zian, terlepas dari niat licik kedua orangtuanya Zian mencintai Keysa dengan tulus.
Mama Zian juga menghampiri Keysa dan Zian. Ia membawa sepasang cincin yang akan disematkan di jari Keysa dan Zian.
Di tempat duduknya, ayah Zian yang sedang duduk bersama kakek Zian tampak hendak beranjak menjauh saat sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
"Mau ke mana?" tanya Kakek Zian, menghentikan gerak sang menantu.
"Ada telepon penting, Pa." Ayah Zian mengangkat telepon yang sedang berdering, tanpa memperlihatkan siapa yang menelpon. Kakek Zian hanya mengangguk, membuat sang menantu langsung menjauh dari keramaian dan menerima panggilan yang masuk.
"Ada apa? Sudah kubilang untuk hari ini jangan ganggu aku!" Ayah Zian langsung memarahi si penelepon begitu panggilan tersambung. Ia yang sedang menggelar acara pertunangan putranya sudah mewanti-wanti agar tidak ada yang mengganggu.
"Ada apa?"
"Nyonya Helen tidak ada di rumah sakit. Dia ada yang membawa kabur."
"Apa? Bagaimana bisa?" Ayah Zian langsung murka begitu mendengar kabar tersebut. "Dasar tidak becus! Aku tidak pantau sehari saja, kalian bisa kecolongan seperti itu." Ayah Zian semakin murka ketika mendengar bahwa yang membawa Helen adalah Devano. Jika sampai keberadaan Helen diendus keluarga Atmaja, dan keluarga itu mengetahui dalang dari keadaan Helen adalah dirinya dan sang istri, sudah dipastikan mereka tidak akan baik-baik saja.
"Aku membayar kalian mahal-mahal untuk menjaga keamanan super ketat di ruangan adik iparku, bukan malah leha-leha dan kecolongan begini." Ayah Zian benar-benar murka dan memaki anak buahnya.
__ADS_1
Kata maaf dari seberang telepon pun tidak ingin lagi didengar oleh ayah Zian dan panggilan diputus begitu saja.
"Argghh ... Kenapa bisa jadi seperti ini? Kacau sudah." Ayah Zian menendang udara di hadapannya. "Rencanaku bisa kacau kalau begini jadinya." Ia terus merutuki kebodohan para anak buahnya, tetapi saat ini pun ia tidak bisa bergerak. Jika pergi, orang-orang pasti akan mempertanyakan kepergiannya yang tiba-tiba menghilang dari acara pesta pertunangan anaknya sendiri. Namun, jika tetap tinggal, ia tidak bisa memastikan kalau yang membawa Helen adalah benar-benar anak wanita itu, dan membuat pergerakan untuk merebutnya kembali sebelum sampai di tangan Damar.
Sementara itu, Kakek Surya di tempat duduknya juga tampak sedang fokus pada ponsel. Ia yang baru saja mengirim pesan kepada seseorang tampak mengulas senyum begitu mendapat balasan.
[Dia sudah sampai dan sedang menuju ke ballroom.]
Keysa sendiri tampak sangat gelisah, saat Zian dan pembawa acara meminta Keysa untuk mengulurkan tangan. Bukannya terulur, ia malah semakin mengepal dan menyembunyikan jemarinya. 'Bagaimana ini?' Keysa semakin dibuat bingung. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, tetapi tidak ada sedikit pun tanda-tanda kehadiran Devano.
"Keysa, tangannya Sayang." Ibu Zian menepuk bahu Keysa.
"Eh, iya." Keysa yang sedang tidak fokus dibuat terkesiap, hingga akhirnya menampilkan senyum kikuk.
"Tangannya, Sayang. Zian akan menyematkan cincin di jari kamu," ucap ibu Zian lagi dengan seulas senyum yang tertampil.
Keysa pun hanya bisa mengangguk. Ia menoleh sekilas ke arah pintu, masih berharap kalau Devano akan datang dan menyelamatkannya dari pertunangan bisnis itu. Namun, Lagi-lagi Keysa dibuat kecewa dan hanya bisa membuang napas kasar.
Dengan terpaksa, Keysa mengulurkan tangannya. Setelah itu, Zian mengambil tangan tersebut dengan satu tangan lagi memegang cincin yang siap disematkan di jari Keysa, dan perlahan tangan Zian semakin mendekat menuju jari manis Keysa.
Cincin sudah berada di ujung jari manis Keysa dan siap melingkar sempurna di jarinya tersebut. Tidak bisa melihat itu semuanya refleks Keysa menutup kedua matanya.
__ADS_1
"Hentikan!!!" Tiba-tiba suara menggema di ruangan itu, membuat semua orang menoleh ke arah suara.
Keysa yang juga kaget dengan suara tersebut pun refleks menarik tangannya hingga cincin yang belum tersemat dengan benar pun jatuh entah kemana.