
74
Keysa yang kecewa dengan sikap Disti pun, memilih berjalan meninggalkan parkiran lebih dulu. Hingga terbesit ingatan kepada gadis yang beberapa waktu lalu dibawa ke kediaman kakeknya, tiba-tiba saja Keysa merindukan Gabby. Tanpa memedulikan Disti yang sudah menyusul dan berjalan di sampingnya, Keysa pun lebih memilih menghubungi Gabby.
"Gabby aku sangat merindukanmu," ucap Keysa begitu panggilan tersambung dengan Gabby, membuat Disti yang mendengarnya langsung kesal.
Disti yang tidak suka dengan kedekatan Gabby, langsung mengentakan kakinya dengan keras lalu berjalan mendahului Keysa.
"Dia itu sedang PMS, apa kenapa, ya? Sensian amat," gumam Keysa, keheranan, melihat sikap Disti yang semenjak dirinya pulang berubah tidak karuan.
"Siapa yang sedang PMS, Key? Aku gak lagi PMS, enggak sensian juga, lho." Gabby di seberang sana menimpali ucapan Keysa. Ia mengira, ucapan Keysa tertuju padanya.
"Bukan kamu," ucap Keysa. "Tapi, kenapa kamu jarang menghubungiku? Apa kamu sudah lupa denganku mentang-mentang sudah menjadi cucu konglomerat?" Keysa mengeluh kepada Gabby yang jarang menghubunginya setelah tinggal bersama Kakek Surya.
"Eh, bukan begitu. Aku jarang menghubungimu karena sibuk mengurus pendaftaran kuliah di sini. Lagian yang cucu konglomerat itu kamu bukan aku." Dengan cepat, Gabby menyanggah ucapan temannya itu.
Keysa terdiam mendengar ucapan Gabby yang mengetahui tentang identitasnya, padahal ia sudah meminta sang kakek untuk tidak mengatakan apapun kepada Gabby. "Gab, tolong jangan bocorkan identitasku, ya! Cukup kamu saja yang tahu siapa aku," pinta Keysa.
Keysa takut Gabby akan membocorkan identitasnya kepada orang-orang yang dikenalnya di tempat Keysa saat ini. Gabby pun dengan segera menimpali ucapan Keysa dan berjanji tidak akan pernah memberitahu siapapun, bahkan Arsen sekalipun.
Ya, Gabby tahu identitas Keysa setelah dirinya dibawa ke rumah besar milik Kakek Surya. Keysa merupakan pewaris terbesar dari empat konglomerat di Negara X. Gadis itu kabur dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan Zian (anak sesama konglomerat), yang hanya dianggap teman oleh Keysa.
Gabby bercerita jika dirinya mengetahui banyak tentang Keysa dari teman sebangkunya yang terkenal biang gosip dan merupakan teman Keysa di sana, lalu mencari kebenarannya dari orang-orang yang berada di rumah.
Setelah puas berbagi cerita dengan Gabby. Panggilan dari keduanya pun berakhir. Keysa masuk ke kamar dan tampak Disti sedang duduk di tempat tidur menunggunya.
"Key, apa kamu kecewa padaku?" tanya Disti saat Keysa masuk kamar.
__ADS_1
Namun, Keysa lebih memilih mengabaikannya. Gadis yang terkadung kesal itu pun langsung menyimpan tas, lalu berjalan ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Disti.
"Key, aku bertanya padamu!" teriak Disti yang merasa diabaikan oleh Keysa.
Akan tetapi, Keysa masih tidak menjawab, membuat Disti menunggu gadis itu di depan pintu kamar mandi.
"Apa kamu menunggu di sini karena mo ke kamar mandi juga?" tanya Keysa begitu keluar dari kamar mandi dengan acuh saat melihat Disti sedang berdiri di depan pintu. "Kamar mandinya udah kosong. Maaf kalau terlalu lama," tandas Keysa.
"Aku sedang menunggumu keluar. Ada yang ingin aku bicarakan," tandas Disti.
"Bicaralah," ucap Keysa, tanpa menoleh ke arah Disti.
Disti pun berdebat dengan Keysa karena masalah Exel. Disti yang diam-diam menyukai Exel, tidak suka kepada sikap Keysa yang dekat dengan Exel dan menemui lelaki itu, seakan-akan memberi harapan pada Exel.
"Key, jangan pernah mempermainkan perasaan Exel! Kalau kau tidak suka, jangan terus meladeninya," sarkas Disti yang tidak mau Exel terluka.
"Ya, aku menyukainya. Dan aku tidak mau dia tersakiti, karena harapan palsu yang kamu berikan. Lagian, bukannya kamu sudah punya Dev? Kenapa harus dengan Exel pula?"
Mendengar ucapan Disti, tawa Keysa pun langsung pecah. "Oh, ya, ampun. Asal kamu tahu aku dan Exel tidak punya hubungan apa-apa. Aku juga tidak pernah memberikan harapan kepadanya. Aku tidak pernah menyukai Exel. Aku dan dia hanya berteman tidak ada yang lain. Itu pun tidak dekat." Keysa mencoba menjelaskan.
Keysa juga menjelaskan alasan Keysa yang tidak menyukai Exel. Lelaki itu orang tanpa perasaan yang siap melakukan apapun demi kepuasannya, termasuk melenyapkan orang. Bahkan dirinya hampir saja mati sia-sia oleh ulah lelaki itu, jadi Keysa tidak akan pernah mungkin menyukai lelaki seperti itu. Mendengar ucapan Keysa, wajah Disti berubah menjadi pucat. Dengan penuh sesal, Disti langsung meminta maaf atas sikap tidak baiknya kepada Keysa.
"Aku mengerti perasaanmu," ucap Keysa yang memilih memaafkan sikap Disti, lalu mengajak gadis itu ke acara ulang tahun Ezra dan dijawab anggukan Disti.
**
Libur akhir pekan telah tiba. Keysa tampak bersantai di kamarnya tanpa ada niatan untuk pergi ke mana-mana dan memilih memeluk kembali guling meskipun matahari di luar sana sudah mulai meninggi.
__ADS_1
"Oh, ya, ampun. Aku melupakan sesuatu." Keysa yang berniat menghubungi Ezra langsung bangun dan mengambil ponselnya, lalu menghubungi lelaki itu.
"Ada apa, Key?" tanya Ezra begitu hubungan tersambung.
"Apa aku boleh mengajak Disti di acara ulang tahun ibumu?" tanya Keysa langsung to the point dengan panggilan yang sengaja di loudspeaker agar gadis yang ada di ranjang sebelah mendengar.
"Tentu saja. Kamu boleh mengajak siapapun," tandas Ezra.
Setelah mendengar jawaban Ezra, Keysa pun mengakhiri panggilannya dengan seutas senyum yang tertampil. Ada niat lain untuk Disti di balik ajakan Keysa, sedangkan Disti sangat bahagia begitu mendengar Ezra mengizinkannya ikut ke acara ulang tahun itu.
**
Hari ulang tahun ibu Ezra pun tiba.
Sepulang kuliah Keysa dan Disti bergegas pergi ke salon. Mereka mempercantik diri dengan bantuan pekerja salon, meskipun bukan di salon super mahal seperti para gadis konglomerat. Setelah itu, keduanya berangkat menggunakan taxi.
Disti sangat takjub dengan acara yang digelar keluarga Ezra. Dari luar saja sudah bisa ditebak kalau acara itu sangatlah megah. Banyak orang-orang penting yang turun dari mobil mewah dan masuk ke kediaman Ezra yang disambut dengan red carpet.
Berbanding terbalik dengan Keysa dan Disti. Mereka datang ke sana hanya bermodalkan naik taksi. Bahkan, banyak orang yang mencibir Keysa dan Disti saat mereka turun dari taksi.
"Mereka tamu dari golongan mana? Kenapa datangnya pake taksi?"
"Benar-benar tidak tahu malu. Berani sekali orang biasa seperti mereka datang ke acara super mewah yang hanya dihadiri orang-orang terpandang saja."
"Sepertinya dua gadis itu sedang ingin mempermalukan diri mereka sendiri." Dan masih banyak cibiran lain dari para tamu yang bisa membuat sakit telinga.
"Sepertinya aku memang salah, ikut ke acara seperti ini. Ini bukan tempatku." Mendengar hal itu, Disti merasa malu. Namun, saat melihat Keysa, gadis yang berjalan di sampingnya itu tampak sangat tenang. Tidak terpengaruh oleh ucap-ucapan yang bisa membuat orang langsung down dalam sekejap. Keysa lebih memilih mengabaikan perkataan mereka dan tetap berjalan dengan penuh percaya diri. Disti pun memutuskan untuk lebih percaya diri.
__ADS_1