
Fero mendorong kursi roda, membawa Keysa ke taman. Sambil merangkul bahu Keysa, Fero membantu Keysa untuk berpindah tempat duduk ke kursi panjang yang berada di sana. Devano masih mematung di tempat yang sedikit jauh. Perasaannya campur aduk saat melihat ada lelaki lain begitu dekat dengan Keysa.
"Aww ...." Sementara itu di kursi, Keysa meringis pelan saat tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke matanya.
Fero terkejut mendengar Keysa meringis dan mengira dirinya melakukan kesalahan saat membantu Keysa duduk. Ia yang duduk di samping Keysa langsung menoleh. "Kenapa, Key? Apa aku membuatmu sakit?"
Keysa menggeleng sambil mengucek-ucek matanya yang terasa sangat perih.
"Matamu kelilipan?"
Keysa mengiakan sambil mengangguk.
"Jangan dikucek nanti infeksi. Sini aku tiup!" Fero refleks menarik Keysa untuk menghadap ke arahnya. Keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Fero lantas mendekatkan wajah ke wajah Keysa dengan bibir yang meniup mata kiri Keysa yang kelilipan. Jika dari belakang Keysa, adegan itu terlihat seperti orang yang sedang berciuman.
Dari tempatnya berdiri Devano masih memerhatikan kedekatan Keysa dan Fero tanpa bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Hingga, Devano yang berada di belakang Keysa dibuat terkejut saat Fero menarik Keysa dengan wajah yang semakin mendekat seperti sedang akan mencium gadis itu. Seketika dada Devano bergejolak, sekujur tubuh terasa panas saat melihat adegan tersebut di depan mata. Keysa yang terlihat diam saja dan pasrah dengan apa yang dilakukan Fero membuat Devano semakin meradang.
"Dasar murahan! Sekali murahan tetap saja murahan. Aku salah telah mengkhawatirkannya, dia sendiri malah asyik-asyikan bercumbu dengan orang lain. Percuma aku bawa bekal," teriak Devano, sambil melempar bekal yang dibawanya, lalu pergi membawa segudang kemarahan.
Devano berteriak cukup keras sehingga Keysa bisa mendengar ucapan lelaki itu. Keysa menoleh saat lelaki itu melempar makanan dan melenggang pergi, tetapi tak ada niatan untuk mencegahnya pergi.
"Key, dia salah paham. Pasti dia ngira kita sedang ciuman," tandas Fero, tidak enak hati melihat kemarahan Devano. Bahkan Fero bisa melihat lelaki yang pergi menjauh dari taman itu menendang apa saja yang dilewatinya.
__ADS_1
Keysa hanya tersenyum masam.
"Apa tidak dikejar. Jelasin yang sebenarnya terjadi."
Keysa menggeleng. "Bagaimana aku mengejarnya? Yang ada aku nyusruk duluan, belum lagi nyampe sana pasti kena hardik. Tahu sendiri kalau dia sedang marah," ucap Keysa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Selain karena matanya kelilipan, Keysa sakit hati dengan ucapan Devano yang menyebutnya murahan.
"Ya, sudah kalau gitu kita makan, yuk!" Fero membuka bekal yang dibawanya, lalu mengambil sandwich yang ada di dalam bekal kotak dan memberikannya kepada Keysa. "Makanlah!"
Keysa masih terdiam. Dia tidak mengambil sandwich yang disodorkan Fero. "Fer, boleh tolong ambilkan bekal yang dilempar Dev," tandas Keysa, kemudian.
Fero menyipitkan sebelah matanya menatap gadis yang terlihat murung setelah mendengar ucapan Devano. Namun, tak ayal Fero menuruti permintaan Keysa juga. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil bekal yang dilempar Devano.
"Ini." Fero memberikan kotak bekal berwarna biru kepada Keysa.
Fero hanya mengangguk mengiakan. Keduanya pun makan bersama. Fero memakan bekal yang dibawanya, sedangkan Keysa memakan bekal yang dibuang oleh Devano dengan hati yang tak menentu. Keysa sempat menghentikan kunyahannya, tetapi melanjutkan makan kembali meskipun rasa makanan sedikit aneh hingga ia bisa menghabiskan bekal yang dibawa Devano.
Setelah selesai makan, Keysa dan Fero masih berbincang di taman sembari menghidu udara segar di sana. Tiba-tiba ponsel Keysa berdering dan sebuah pesan masuk. Keysa dengan segera mengambil ponsel yang disimpan di tas dan melihat pesan tersebut. Senyum kecut pun terpancar di wajah yang masih terlihat sendu itu.
"Ada apa lagi?" tanya Fero, melihat ada gelagat tidak beres dari gadis di sampingnya.
Keysa menggeleng. "Tidak ada. Biasa pesan penipuan," tandas Keysa, lalu menyimpan lagi ponsel ke tas.
__ADS_1
Hatinya merasa sangat ngilu setelah membaca pesan yang sebenarnya terkirim dari Devano. Pesan yang berisi sebuah makian dan hinaan jauh lebih kasar dari yang didengarnya saat Devano melempar bekal.
"Perut udah kenyang, kepala juga udah segar, aku mau balik ke asrama aja, ya, Fer," tandas Keysa, kemudian, sedikit berbohong. Kepalanya bukan tambah segar malah tambah pusing.
Fero mengangguk mengiakan, lalu membantu Keysa untuk duduk lagi di kursi roda. "Aku antar lagi," ucap Fero, sambil memutar kursi roda yang ditumpangi Keysa.
"Terima kasih." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Keysa.
Tidak ada percakapan dari keduanya. Jikapun Fero mengajak bicara, Keysa hanya menjawab seperlunya. Sesampai di kamar pun hanya ucapan terima kasih yang terucap dari mulut Keysa.
"Key, kamu baik-baik saja?" selidik Fero.
Keysa mengangguk, kemudian pamit untuk masuk kamar dan menutup pintu. Fero hanya membuang napas kasar, lalu pergi. Tidak ada yang bisa diperbuatnya karena Keysa tidak mau diganggu.
Di kamar, Keysa kembali membuka ponsel dan membaca ulang pesan yang dikirim oleh Devano. "Key, bukankah kau sudah terbiasa dicaci maki, dihina dan diolok-olok. Ini juga bukan kali pertama dia merendahkanmu. Kamu sering direndahkan dan kau tak pernah selemah ini." Keysa memperingati dirinya sendiri. "Tapi, kenapa rasanya sakit sekali," lanjutnya, menatap sendu layar di tangan. Jika dulu makian-makian Devano itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan, tetapi kali ini makian itu menetap di relung hatinya hingga merasakan sakit tak berdarah.
Keysa menghela napas panjang, kemudian mengeluarkan secara perlahan dari mulut untuk menetralkan perasaannya. "Sebaiknya aku cari hiburan saja." Keysa menghapus pesan yang dikirim oleh Devano tanpa meladeninya, kemudian masuk ke aplikasi game. Bermain game mungkin bisa membuatnya melupakan masalahnya dengan Devano.
Di tempat lain, ternyata Devano pun sedang bermain game. Ia yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, melampiaskan amarahnya pada para lawan yang sedang main bersamanya. Bahkan, lelaki yang patah hati itu meng-player killer (PK) lawan. Ia membunuh karakter lawan dan membuat kerusakan sampai lawan berkali-kali mati dan turun level hingga ke level dasar.
Keysa yang login pun menyaksikan aksi yang sedang dilakukan Devano, hingga akhirnya keduanya pun berkelahi dan mereka sama-sama mati. Setelah mati, Devano memberikan Keysa atribut untuk bangkit sampai seratus buah, membuat Keysa kembali bisa bermain. Keysa dan Devano kembali saling serang, kemudian mati, hidup lagi, saling serang lagi. Entah sampai berapa kali keduanya hidup-mati terus begitu. Mereka berkelahi sampai merasa lelah.
__ADS_1
Akhirnya, dua sejoli yang belum mengetahui satu sama lain itu saling curhat tentang keadaan naas mereka yang sedang putus cinta.