
Dua insan yang sedang dimabuk cinta itu pun saling mengungkap perasaan mereka dengan sentuhan-sentuhan dan penyatuan bibir mereka. Di keheningan malam, Devano menikmati daging tak bertulang milik Keysa yang sudah menjadi candu baginya itu. Menyapunya dengan begitu lembut.
Keysa membuka mata, menatap lelaki yang sedang menikmati bibirnya dengan mata terpejam, hingga sebuah ide konyol menghinggapi pikirannya.
"Aawww ...." Devano melepaskan pertautan bibir di antara mereka dengan mata yang langsung terbuka sempurna saat merasakan tendangan yang sangat kuat pada lutut. "Keysa!!!" teriak Devano, seraya memegang lututnya yang terasa sakit. "Apa yang kau lakukan, hah?" Ia tidak terima dengan perbuatan kekasihnya itu. Keromantisan mereka buyar karena kejahilan Keysa.
"Kau—" Devano bersiap memarahi Keysa, tetapi dengan cepat terkatup oleh telunjuk Keysa yang menempel di bibir.
"Apa kamu sudah ingin putus denganku?" tanya Keysa dengan bibir yang mengerucut. "Aku hanya tidak ingin kamu kebablasan yang berimbas pada hubungan kita. Ingat ucapan Kakek," tandas Keysa, mengingatkan.
"Eh, bukan begitu." Devano merasa bersalah telah mencium Keysa secara berlebihan. Ya, jika Keysa tidak menendangnya, bisa jadi kekhilafan mendatangi Devano. "Tadi aku hanya berniat menjahilimu saja. Terpancing atau tidak." Dengan senyum yang mengembang, Devano beralasan.
"Dan kau terpancing oleh permainanmu sendiri," tandas Keysa, lalu berjalan meninggalkan Devano.
"Ya, begitulah!" ujar Devano sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal, kemudian mengikuti langkah Keysa.
Keduanya pun kembali berjalan hingga sampai di puncak gunung. Pemandangan terlihat lebih indah dari sana. taburan bintang di langit serta taburan bintang di lembah yang tercipta dari lampu-lampu penduduk terlihat menyatu dengan malam.
Keysa dan Devano duduk saling membelakangi sambil menikmati kembali pemandangan malam dengan bintang yang terasa lebih dekat.
"Tempatnya indah sekali!" gumam Devano, mengagumi tempat yang sedang mereka pijak. Hingga keduanya pun berjanji akan tinggal di sana setelah mereka menikah dan akan menghabiskan masa tua mereka di puncak gunung tersebut.
"Besok aku harus pulang lagi," ucap Devano, saat mereka sudah duduk berdampingan dengan tangan Devano yang merangkul bahu Keysa.
Keysa menoleh dan mendongakan wajah kepada lelaki yang sedang menatap lurus pada hamparan bintang di depan mereka. "Besok, ya?" tandas Keysa, lalu ikut memandang bintang. Ia sebenarnya tidak rela jika harus berpisah secepat itu dengan Devano.
"Ya. Kenapa wajahnya berubah masam seperti itu?" tanya Devano yang melihat perubahan mimik wajah Keysa.
__ADS_1
"Berubah gimana? Enggak, kok. Biasa saja," elak Keysa.
"Kamu pasti tidak rela kalau aku pulang. Iya, kan?" Devano menggoda Keysa.
"Ish pede tingkat tinggi. Biasa saja," ucap Keysa, seraya melepaskan rangkulan Devano dan memilih untuk memeluk lututnya sendiri.
Jika harus jujur, Keysa tidak ingin berpisah dengan Devano. Namun, apalah daya, ia juga tidak bisa mencegah. Devano memiliki kesibukan, dan di sini pun lelaki itu terus dikerjai kakeknya.
"Aku akan sangat merindukanmu," bisik Devano, kembali merangkul dan membawa Keysa ke dalam dekapannya.
"Aku juga," jawab Keysa, sambil melingkarkan tangannya di pinggang Devano.
"Berarti beneran gak rela pisah nih, ya?" Devano kembali menggoda Keysa, setelah mendengar pengakuan gadis itu.
"Ih, rese ...." Keysa menghadiahi lelaki yang memeluknya itu sebuah cubitan di perut.
Setelah puas menikmati kebersamaan mereka di puncak, keduanya pulang ke rumah. Begitu sampai di rumah, Devano dan Keysa dikejutkan oleh sang kakek yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Eh, bukannya tadi Kakek sudah tidur?" gumam Devano, saat melihat Kakek Surya sudah berdiri sembari bersedekap dengan mata yang menatap tajam ke arah mereka.
"Kalian habis dari mana?" tanya Kakek Surya penuh interogasi.
"Jalan-jalan dekat rumah, Kek," jawab Keysa.
Setelah mendapat jawaban dari Keysa, seketika mata Kakek Surya beralih kepada Devano—menatap lelaki itu dengan tatapan membunuh. "Kau ingat janjimu tadi siang kan?" ucap Kakek Surya, penuh penekanan.
Devano mengangguk. "Tentu saja ingat, Kek. Meskipun aku berduaan dengan Keysa, aku bersumpah tidak menyentuhnya sama sekali," ujar Devano, berbohong.
__ADS_1
Kakek pun mengangguk, memercayai ucapan Devano, lantas menyuruh mereka masuk dan tidur. sebentar lagi rumah mereka akan gelap gulita, karena kakek tidak memiliki listrik, sedangkan lentera yang digunakan Kakek Surya sebagai penerangan sedikit lagi minyaknya habis.
Keesokan paginya ....
Devano memanggil tukang listrik untuk menyambungkan listrik ke rumah Kakek Surya serta membeli perabotan baru untuk rumah tersebut. Ia ingin Kakek Surya bisa tinggal dengan nyaman di rumah tersebut, meskipun jika nantinya sudah tidak bersama Keysa lagi. Devano melakukan semua itu dengan tulus. Ia sudah menganggap Kakek Surya seperti kakeknya sendiri.
Setelah selesai membenahi rumah Keysa, Devano pun pamit untuk kembali pulang dan Keysa mengantar Devano ke bandara.
"Jaga diri baik-baik. Aku pasti akan merindukanmu," ucap Devano, seraya mengusap pucuk kepala Keysa.
"Kamu juga."
Devano tidak menjawab. Ia lantas memeluk Keysa. Keduanya tidak rela untuk berpisah.
Keysa keluar dari Bandara setelah Devano masuk ke pesawat dan tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki sampai Keysa terjatuh.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap lelaki itu, sambil mengulurkan tangan.
Keysa mendongak ke arah suara yang terasa tidak asing di telinga, hingga ia dibuat terkejut saat melihat Zian ada di depan mata dengan tangan yang terulur —lelaki itu tidak mengenalinya.
"Tidak apa-apa," ucap Keysa, seraya berdiri tanpa menerima uluran tangan Zian. "Permisi." Keysa membungkuk, lalu pamit dengan buru-buru.
"Gadis aneh!" gumam Zian, dengan mata yang menatap kepergian Keysa.
"Dia ...." Ia dibuat terkesiap oleh ingatannya. Zian yang tidak mengenal Keysa karena dandanannya. Akan tetapi, dari segi gestur tubuh serta bayangan, Zian menangkap sosok Keysa yang dikenalnya..
__ADS_1