
"Aku tidak akan pulang. Jika kau akan bertunangan dengannya, silakan!" Keysa tetap keukeuh pada pendiriannya, meskipun Devano terus membujuknya untuk pulang.
"Key, aku sangat mencintaimu. Kumohon jangan seperti ini. Pulanglah! Aku tidak mau kamu semakin terluka." Devano menggenggam tangan gadis yang masih bergeming di atas tempat tidur sambil duduk.
"Di sini atau tidak bukankah sama-sama membuatku terluka. Aku pergi ataupun tidak, kau tetap akan melaksanakan pertunangan itu." Keysa tetap dengan keras kepalanya, setelah sebelumnya memaksa Devano untuk menggagalkan pertunangan dan pergi bersama tetapi gagal.
"Key," ucap Devano, begitu lirih, kemudian membawa Keysa dalam dekapannya. Tubuh lelaki itu bergetar dengan air mata yang lolos begitu saja. Ini berat dan sangat berat, tetapi ia sudah mengambil keputusan.
Sementara itu, Keysa masih diam. Tidak membalas pelukan itu ataupun menolaknya. Bahkan, tidak ada setitik air mata pun yang keluar dari kedua matanya. Sangat lama Devano memeluk Keysa. Ia enggan untuk melepaskan seakan itu adalah pelukan terakhir darinya.
Devano mengusap air mata yang membasahi pipinya, lalu melepaskan pelukan. Ia menatap gadis masih saja diam dan tampak tenang. Matanya pun masih bening tanpa ada riak-riak air mata seperti mata Devano. "Key ...."
"Jika kau ingin mengatakan aku mencintaimu lagi, tidak perlu. Cinta itu tidak hanya butuh kata-kata, tapi butuh perjuangan." Keysa memotong ucapan Devano seolah tahu apa yang akan diucapkan lelaki itu. "Pergilah! Cheryl pasti sangat membutuhkanmu. Besok aku akan datang di hari pertunanganmu," lanjut Keysa, sambil membuang muka.
Mendengar Keysa akan datang di hari pertunangannya berhasil membuat Devano tersentak. Ia mencoba membujuk Keysa untuk tidak hadir di acara itu. Devano tidak ingin melihat kekacauan apalagi jika sampai Keysa terluka di acara nanti. Namun, Keysa sedang dalam mode sangat keras kepala. Tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Aku tidak akan membuat kekacauan. Aku hanya ingin melihat orang yang aku perjuangkan bahagia dengan pilihannya. Kemudian, mengucapkan selamat kepada kalian. Bukankah selain sepasang kekasih, kita juga teman sekelas. Anggap saja nanti yang datang adalah teman kuliah, bukan kekasihmu."
Devano tidak mungkin lagi mendebat Keysa. "Terserah kamu saja. Jika itu akan membuat lebih baik. Aku pulang." Devano beranjak dari tempat tidur. Sebelum pergi, ia mendekat kembali ke arah Keysa hendak mengecup pucuk kepala Keysa, tetapi dengan cepat Keysa beringsut membuat Devano mengurungkan niatnya. "Jaga dirimu baik-baik." Devano mengusap pucuk kepala Keysa, lalu pergi.
Di ambang pintu, Devano sempat menoleh dan melihat gadis yang masih dalam posisi yang sama. Tidak sedikit pun menoleh dan melihat kepergiannya. "Maafkan aku," gumamnya pelan. Ia tahu dalam diamnya Keysa, gadis itu menyimpan banyak kesedihan dan kekecewaan untuknya.
Devano mengembuskan napas kasar, kemudian melangkah lagi dan menutup pintu.
"Dia benar-benar meninggalkanku setelah banyak perjuangan yang dilalui." Keysa tersenyum miris, menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup rapat.
Keysa pun beranjak dari kamar yang sudah berantakan itu. Ia juga meninggalkan rumah tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu denganmu," ucap Keysa kepada seseorang dari balik telepon, mengajaknya bertemu.
Setelah mendapat persetujuan dari orang dihubungi, Keysa bergegas mencari taksi menuju sebuah rumah yang cukup jauh dari tempatnya berada.
Di depan sebuah rumah bergaya eropa sekarang Keysa berada. Seorang pria sudah menunggu di depan rumah, ketika Keysa sampai di sana. Lelaki itu memerhatikan Keysa yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang kusut. Dalam hati, lelaki itu mempertanyakan kedatangan Keysa yang tiba-tiba dengan wajah yang tidak enak dipandang. 'Apa ini karena kabar pertunangan Dev?' Namun, Ia pun tidak berani langsung bertanya. Ia lantas mengajak Keysa masuk dan membawanya ke taman belakang.
"Ada apa?" Lelaki itu memberikan segelas coklat hangat kepada Keysa. Meskipun bisa menebak apa yang terjadi, ia pura-pura tidak tahu.
Keysa mendongak ke arah lelaki yang mengajaknya bicara, kemudian menerima gelas itu, tanpa bicara sepatah katapun. Si lelaki kemudian duduk di samping Keysa yang sedang duduk di bangku taman.
"Boleh pinjam bahumu?" Setelah saling diam, Keysa mengeluarkan suaranya.
"Tentu saja," jawabnya, sambil menoleh ke arah Keysa dengan seulas senyum yang tertampil.
Mendapat persetujuan dari empu yang punya tubuh, Keysa langsung bersandar di bahu orang itu dengan tangan yang memegang dan memutar-mutar gelas yang terasa hangat dari coklat panas di dalamnya. Hingga tubuh Keysa bergetar dan seketika tangis Keysa pun pecah.
"Minum dulu, biar kamu tenang." Setelah tangis Keysa mereda, Ferro menyuruh Keysa untuk minum terlebih dulu.
Keysa pun hanya mengangguk, kemudian meneguk coklat yang sudah mulai dingin itu. Sejurus kemudian, Ferro memberikan sapu tangan untuk mengusap air mata yang telah membanjiri wajah Keysa. "Terima kasih," ucap Keysa, sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Terima kasih untuk apa?" Ferro menyipitkan mata, menatap gadis di sampingnya.
Keysa menoleh sambil mengangkat gelas yang berisi coklat tinggal setengah. "Terima kasih untuk ini. Terima kasih untuk ini juga," lanjutnya sambil menunjuk bahu Ferro yang basah.
"Itu bukan masalah besar. Aku bisa mengerti perasaanmu. Siapapun akan seperti itu jika orang yang dicintai tiba-tiba memilih untuk bertunangan dengan orang lain. Kamu yang sabar, ya!" Ferro menepuk-nepuk bahu Keysa.
"Fer!" Keysa memanggil Ferro dengan suara pelan.
__ADS_1
"Ya."
"Anter aku ke pesta pertunangan Dev nanti malam," ucap Keysa tiba-tiba, dan berhasil membuat Ferro tersedat oleh kopi yang sedang diserupunya.
"What? Apa kamu tidak salah bicara? Kamu beneran yakin mau datang ke acara itu?" tanya Ferro, yang dijawab gelengan dan anggukan Keysa.
"Datang ke sana sebagai pasanganku. Mau, kan?" pinta Keysa dengan wajah yang memelas.
Ferro menatap Keysa, tidak percaya dengan permintaan Keysa, tetapi tak ayal Fero mengangguk dan menyetujui permintaan Keysa.
**
Pesta pertunangan di gelar di kediaman utama Mahardika yang disulap menjadi tempat pertunangan yang megah. Pesta dimulai, tamu-tamu undangan mulai berdatangan ke kediaman Mahardika dengan menunjukkan surat undangan sebagai akses untuk bisa masuk ke pesta.
Keysa pun benar-benar melakukan yang dikatakannya kepada Devano. Ia datang ke acara pertunangan Devano bersama Ferro. Setelah menunjukkan surat undangan kepada penjaga, Keysa melingkarkan tangannya di lengan Ferro, kemudian keduanya melangkah masuk ke acara yang digelar dengan sangat mewah.
Semua orang tampak terkejut dengan kehadiran Keysa di sana. Mereka saling berbisik dan bergosip bahwa Keysa datang hanya untuk mengacaukan pertunangan Devano dan Cheryl.
"Gak usah didengerin." Ferro mengusap tangan yang masih melingkar di lengannya.
"Aku udah biasa. Udah kebal sama omongan pedas orang-orang," gumam Keysa. "Omongan mereka benar juga. Jika ada rekor muri sepertinya aku bakal dapat rekor muri sebagai tamu pembuat kacau pesta paling top," lanjut Keysa, dengan seulas senyum yang menghiasi wajah. Keysa terlihat ceria, tidak ada lagi air mata yang tadi membanjiri wajah.
"Jangan bilang hari ini juga bakal buat rekor baru," tandas Ferro. Melihat senyum sejuta arti dari Keysa membuat Ferro was-was.
"Liat saja nanti," jawab Keysa, enteng.
Ferro hanya bisa mengembuskan napas kasar. Dalam hati, berharap Keysa tidak akan berbuat aneh, bagaimanapun gadis itu datang bersamanya dan selama di pesta adalah tanggung jawabnya juga.
__ADS_1
Selain Keysa dan Ferro, Nindi dan Gabby juga datang di acara itu. Orang-orang yang melihat kehadiran Gabby pun banyak dari mereka yang menyindir Gabby.