
"Hentikan!"
Devano berteriak sekencang mungkin begitu sampai di tempat pertunangan Keysa, membuat semua orang menoleh ke arahnya—termasuk Keysa dan Zian. Bahkan, suara mengagetkan dari Devano berhasil membuat cincin yang hampir tersemat di jari Keysa jatuh entah ke mana.
"Akhirnya kamu datang juga." Seulas senyum tertampil di wajah yang sejak naik ke panggung tampak tegang.
Lain halnya dengan Zian. Lelaki di samping Keysa langsung mengumpat melihat kedatangan tamu tak diundangnya. "Bagaimana bisa dia ada di sini? Bukankah dia sudah mati?" Zian begitu geram menyaksikan kehadiran Devano di acara pestanya.
"Hentikan pertunangan ini! Pertunangan itu diadakan karena sepasang kekasih yang saling mencintai, bukan karena sebuah kesepakatan bisnis. Yang akan menikah itu orang bukan perusahaan. Keysa tidak mencintai lelaki di sampingnya dan dia tidak akan bertunangan dengan lelaki itu." Devano berucap seraya berjalan menuju panggung dengan mata yang tidak teralihkan dari Zian.
"Jaga bicaramu, Dev! Aku dan Keysa sudah bersama sejak kecil. Kami dijodohkan sejak kecil dan sudah seharusnya kami bersama." Zian tidak terima dengan ucapan Devano.
"Dijodohkan bukan berarti saling mencintai, bukan? Keysa kekasihku dan kami saling mencintai. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku," lanjut Devano lagi dengan sorot mata yang dipenuhi amarah.
Sementara itu para tamu yang hadir hanya menonton kedatangan Devano dengan sejuta tanda tanya. Mereka tahu kalau Devano adalah cucu dari salah satu orang berpengaruh di negeri itu, tetapi kabar kematian Devano juga sudah menyebar. Tidak mungkin mereka sedang melihat hantu yang bangun karena kekasihnya akan bertunangan dengan orang lain. Namun, jika berpikir Devano masih hidup, itu juga mustahil.
"Apa kamu benar-benar Devano? Devano anaknya Damar Mahardika?" tanya salah satu tamu di sana.
"Ya. Aku adalah Devano Mahardika anaknya Damar Mahardika juga kekasihnya Keysa yang beberapa bulan lalu dianggap sudah meninggal untuk menuntaskan sebuah konspirasi yang sudah menghancurkan kehidupan keluargaku." Pandangan Devano tertuju kepada Zian dan ibunya, menatap keduanya penuh benci. "Lebih tepatnya lagi, aku adalah Devano putra dari Helena Anderson," lanjut Devano membuat semua orang terperangah.
Helena Anderson adalah bibi Zian. Namun, tidak ada yang tahu kalau Helena dan Damar selama ini menikah. Helena menikah secara diam-diam ketika lari dari orang tua Zian, kemudian mendapat perlindungan dari Damar, hingga akhirnya ditemukan kembali oleh orang tua Zian dan dicelakai tanpa sepengetahuan Damar.
"Apa maksudmu?" Kakek Anderson menghampiri Devano, meminta penjelasan lebih jauh. Ia tidak mengetahui apa-apa, selain anaknya kembali dalam keadaan koma setelah kabur karena tidak ingin dijodohkan.
Devano tersenyum kepada Kakek Anderson. Dari penelusurannya lelaki tua itu adalah kakeknya, dan tidak tahu apa-apa serta tidak ikut andil dalam keadaan sang ibu. Devano membungkuk memberi hormat. "Selamat malam, Kek. Ini adalah pertemuan pertama kita. Aku berharap tidak terkesan buruk bagimu," ucap Devano, meski tidak yakin juga tidak akan terkesan buruk karena dirinya akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang sudah memisahkannya dengan Helen.
Kakek Anderson bergeming dan menatap Devano dengan seksama. Lelaki di hadapannya tidak mirip dengan Helen, tetapi jika di seksama di beberapa bagian ada kemiripan dengan Helen. "Kau benar-benar cucuku?" Tiba-tiba hatinya menghangat mengingat dirinya memiliki anak dari Helen. Devano mengangguk pasti, membuat Kakek Anderson langsung memeluk cucu yang setelah dua puluh tahun lebih baru diketahuinya.
Keysa mengulas senyum dan bernapas lega melihat Devano bertemu dengan Kakek dari pihak ibu, dan menyaksikan dua lelaki beda generasi yang sedang berpelukan itu.
'Seharusnya aku umumkan pertunangan dengan Zian dari dulu,' gumam Keysa dalam hati. Meskipun ia menolak keras untuk bertunangan dengan Zian, tetapi setidaknya berkat acara ini, Devano kembali—bahkan Devano bisa bertemu dengan keluarga.
Kakek Anderson melepaskan pelukannya dari Devano, kemudian pandangannya tertuju kepada ayah Zian yang sedang terburu-buru masuk kembali ke ballroom dan tampak terkejut begitu melihat kedatangan Devano yang sedang dipeluk Kakek Anderson.
"Apa ada sesuatu yang kau lewatkan ketika menemukan Helen dalam kecelakaan beberapa tahun lalu?" Kakek Anderson menatap tajam ayah Zian, membuat orang yang ditatapnya langsung tidak punya nyali.
Ayah Zian membeku. Tidak tahu harus berkata apa. Helen menghilang dan sekarang anak Helen ada di hadapannya. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja begitu menerima kenyataan buruk yang dihadapi.
"Mungkin ini bisa menjawab pertanyaan Kakek." Devano menimpali ucapan sang kakek, kemudian menjentikkan jari hingga menghasilkan bunyi—memberikan kode kepada orang suruhannya.
__ADS_1
Detik itu juga, layar di panggung menampakkan semua kejahatan ayah dan ibu Zian untuk menguasai kekayaan keluarga Anderson. Devano membongkar semua perlakuan buruk saudara dan saudara ipar ibunya di depan umum, bahkan ditonton secara live di seluruh negara. Juga perlakuan Zian yang bekerja sama dengan Exel untuk membunuhnya.
"Hentikan itu tidak benar!" Ibu Zian langsung histeris begitu melihat kelakuannya dipertontonkan kepada khalayak umum.
Sementara itu, tamu yang hadir langsung mencaci satu keluarga tersebut yang menurut mereka tidak memiliki keprimanusiaan.
"Ayah ini tidak seperti yang ayah pikirkan." Ibu Zian langsung menghampiri Kakek Anderson, begitu pula dengan suaminya.
Kakek Anderson kembali bergeming, terpaku dan dibuat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hingga sebuah tamparan mendarat di pipi kedua orang tua Zian. Makian demi makian dilontarkan lelaki tua itu.
"Aku tidak memiliki anak dan cucu berhati iblis seperti kalian," sarkas Kakek Anderson.
Devano yang melihat kemarahan Kakek Anderson tersenyum penuh kemenangan. Di waktu bersamaan lelaki berseragam datang ke sana untuk menggelandang tiga orang yang sudah membuat hidup Devano susah.
"Tidak. Aku tidak mau dipenjara. Aku akan bertunangan dengan Keysa." Zian menolak untuk dibawa oleh orang-orang berseragam. Bukan hanya Zian, kedua orangtuanya pun memberontak, tetapi tenaga mereka tidak cukup kuat untuk melawan. Belum lagi anak buah mereka sudah dilumpuhkan terlebih dulu oleh anak buah Devano dan Kakek Surya, membuat mereka tidak bisa berkutik.
Devano kembali memamerkan senyum, dan menghampiri Zian. "Tenang aku tidak akan membawamu ke penjara. Penjara terlalu enak bagi kalian. Aku memiliki tempat yang jauh lebih menyeramkan dari penjara bagi kalian hingga kalian akan memohon untuk mati daripada berada di tempat itu," ucap Devano, setengah berbisik. Membuat Zian langsung terperangah dan melihat orang-orang yang sedang berusaha menyeretnya.
Mereka berseragam kepolisian, tetapi mereka berada di dalam kendali keluarga Devano. Sudah pasti, Zian dan keluarganya akan jauh lebih menderita daripada mendekam di penjara biasa.
Pesta pertunangan yang diidam-idamkan oleh keluarga Zian dengan ekspektasi kedepannya yang begitu tinggi pun harus berakhir dengan penyeretan mereka oleh anak buah Devano, dengan neraka dari Damar yang sudah menanti mereka.
"DEVANO!!!" Hingga suara Keysa menggelegar dengan dua tangan yang sudah berkacak di pinggang. Matanya menatap tajam ke arah Devano. Marah, kesal, bahagia campur jadi satu.
Mendengar suara menggelegar memanggil namanya, Devano langsung menoleh ke sumber suara dengan senyum yang mengembang. Setelah sekian lama akhirnya dirinya bisa melihat sang kekasih. Terpesona itulah yang sedang dirasakan Devano saat ini, apalagi Keysa saat ini berpenampilan sangat cantik dengan gaun yang dikenakan.
Bugh!!! Hingga tiba-tiba sebuah pukulan keras di perut membuat Devano terasa mual dan meringis kesakitan. Tak terima dengan apa yang diterimanya, Devano langsung menatap ke arah orang yang memukul perutnya dengan sangat keras.
"Key ...." Hingga sikap tak terimanya luruh seketika begitu melihat Keysa sudah berada di hadapannya.
"Sakit?" sarkas Keysa, dengan tangan yang sudah mengambil ancang-ancang hendak memukul Devano lagi.
Namun, dengan secepat kilat Devano menghalau tangan tersebut, kemudian memeluk Keysa dengan sangat erat. "Aku merindukanmu," ucap Devano, begitu lembut.
Bukannya terbuai, Keysa malah berontak dan terus mencoba memukul Devano untuk meluapkan kekesalan dan kemarahan kepada lelaki tersebut. Devano sendiri, tetap memeluk Keysa erat sambil mendaratkan kecupan di pucuk kepala Keysa.
Perlahan Keysa tak lagi berontak. Selain marah, ia juga sangat merindukan Devano. Pelukan hangat sang kekasih dengan aroma parfum Devano yang sangat khas selalu menjadi candu. "Kamu jahat ...." ucap Keysa dengan sangat lirih dengan suara yang bergetar.
"Maaf." Devano tidak menyangkal ucapan Keysa dan malah meminta maaf.
__ADS_1
"Kamu brengs*k," ucap Keysa lagi, yang lagi-lagi hanya dijawab dengan kata maaf.
Dengan tubuh yang masih dalam pelukan Devano, Keysa terus mengatai Devano dengan kata-kata makian, meluapkan kekesalannya. Devano sendiri kembali mengulang kata yang sama, karena ia tahu kalau perbuatannya sudah pasti membuat sang kekasih terluka.
"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku lagi." Keysa mengeratkan pelukannya.
Devano mengurai pelukan keduanya, kemudian memegang kedua bahu Keysa dengan mata yang tidak teralihkan dari wajah yang sudah berlinang air mata—air mata bahagia. "Sekarang aku sudah kembali dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Devano, penuh keyakinan. Setelah itu, merogoh saku celana dan mengeluarkan benda yang sudah disiapkannya sejak keluar dari rumah sakit.
"Will you marry me?" Devano bersimpuh seraya mengangkat sebuah kotak berisi cincin berlian. Ia melamar Devano dengan disaksikan orang-orang secara online dan offline.
Jangan tanya perasaan Keysa. Jika tadi ia mati-matian ingin menolak lamaran dari Zian, tetapi untuk yang sekarang, tanpa menjawab pun ekspresi wajah yang berbinar sudah menjawab semuanya.
"Jangan menikah dulu. Selesaikan dulu kuliah baru bisa menikah."
Belum sempat Keysa mengiakan ajakan Devano, Kakek Surya sudah menyela dan menghampiri keduanya membuat Devano dan Keysa langsung menoleh ke arah suara dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Aku juga setuju dengan ucapanmu Sur." Wajah Devano dan Keysa pun semakin jelek ketika mendengar Kakek Anderson menyetujui ucapan Kakek Surya.
***
Pada akhirnya, hubungan bisnis antara keluarga Kakek Anderson dan Kakek Surya tetap terjalin. Bedanya, kali ini orang yang dijodohkan adalah dua insan yang saling mencintai. Sementara itu, Zian dan keluarganya harus menyiapkan mental untuk mendapatkan setiap ganjaran dari semua yang telah dilakukannya kepada Helen.
Pertunangan pun tetap berlangsung yang juga disaksikan keluarga Devano dari pihak ayah, meskipun hanya secara virtual.
"Terima kasih telah kembali," ucap Keysa.
"Terima kasih juga sudah menungguku," balas Devano.
Kemudian keduanya saling diam dengan tangan Devano yang merangkul tubuh Keysa.
Setelah acara pertunangan selesai, keduanya pergi ke atap hotel dan menikmati malam kebersamaan mereka di sana. Keysa menyandarkan kepala di dada bidang lelaki yang sedang merangkulnya dengan penuh posesif. Ditemani angin sepoi-sepoi serta taburan bintang di langit keduanya pun melepas rindu yang sudah sangat membuncah dengan banyak bercerita tentang kehidupan satu sama lain ketika terpisah.
"Aku mencintaimu," ucap Keysa. Tidak ada lagi rasa malu karena sudah menyatakan cinta terlebih dahulu.
"Aku lebih lebih lebih mencintaimu," timpal Devano.
Keysa mendongak hingga pandangannya bertemu dengan mata Devano yang juga sedang menatapnya. Perlahan Devano mendekatkan wajahnya sampai keduanya benar-benar tidak berjarak, kemudian menempelkan bibirnya di bibir yang sudah menjadi candu.
Setelah banyaknya luka-liku, hambatan dan banyak perjuangan untuk mempertahankan hubungan yang sejak awal terasa rumit, akhirnya kekuatan cinta menyatukan cinta mereka kembali. Karena cinta akan selalu membawa cintanya pada orang yang tepat.
__ADS_1
*Tamat*