
112
"Apa kau sadar dengan yang kau ucapkan Liza? Apa kau tahu siapa keluarga Keysa itu? Mereka adalah orang paling berkuasa sama seperti keluarga Devano. Apa kau ingin cari mati dengan terus mencari masalah dengan gadis itu?" Ayah Liza membentak Liza yang terus bersikukuh akan membalas semua perbuatan Keysa.
"Aku tidak peduli," sarkas Liza, tidak memedulikan ucapan ayahnya, bahkan tamparan yang mendarat di pipi pun tidak dirasanya.
Ayah Liza sangat marah dan bercampur sedih melihat kekerasan hati Liza yang tidak mau mendengar ucapannya, hingga lelaki pemilik kumis tebal itu menampar Liza yang kedua kalinya sampai-sampai terhuyung jatuh ke lantai.
"Sadar, Liz! Sadar, Liz! Jangan membuat keluargamu semakin susah," bentak ayahnya lagi.
Namun, bukannya sadar dan mengakui kesalahannya, Liza malah tidak terima dengan perbuatan sang ayah dan berjanji dalam hati akan menghancurkan semua yang dimiliki Keysa. 'Aku pasti akan membalaskan semua ini, Key. Aku akan hancurkan semua yang kau miliki!'
***
Keysa berada di sebuah kamar bernuansa beige saat dirinya terbangun dari tidur, dengan Devano yang juga tidur di sampingnya. Setelah keluar dari rumah Liza, Keysa pulang ke rumah Devano yang dekat sekolah.
Keysa lantas mengubah posisi tidurnya. Sambil tidur menyamping, ia menyangga kepala dengan tangan kanan. Mata Keysa memerhatikan wajah Devano yang terlihat sangat damai saat tidur, tentunya juga sangat tampan. Membuat Keysa secara tidak sadar semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Devano dan sebuah kecupan pun mendarat di pipi Devano. Ketampanan lelaki itu membuat Keysa tidak tahan untuk menciumnya.
Devano sendiri yang sebenarnya sudah bangun sangat senang saat Keysa yang menciumnya.
"Mmmm ...." Devano menggeliat, seolah-olah belum bangun, kemudian miring ke kiri membuat wajah mereka saling berhadapan.
Dengan senyum yang mengembang, Keysa terus menatap wajah Devano. Hingga, awal pertemuan mereka berkelebatan di kepala Keysa membuat gadis itu tersenyum malu mengingat ciuman pertama mereka yang menjadi awal kebersamaan keduanya yang dipenuhi dengan segala percekcokan, tetapi saling melindungi.
"Apa aku sangat tampan dan sangat menggiurkan ? Sampai-sampai kau melihatku dengan mulut ngeces?" ucap Devano dengan mata yang masih terpejam, mengagetkan Keysa yang masih menikmati wajah Devano.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?" Keysa terkesiap, ketahuan memerhatikan Devano dan segera mengubah posisinya menghadap ke langit-langit.
Devano membuka mata, lantas menyangga kepalanya dengan tangan kiri, lalu menggoda Keysa. "Sudah. Tepatnya, saat seseorang diam-diam menciumku," goda Devano dengan senyum yang merekah serta alis yang naik turun, dan berhasil membuat wajah Keysa merona.
"Aku tidak menciummu," elak Keysa.
"Benarkah?" Devano semakin menggoda Keysa.
"Yupz. Mungkin itu hanya mimpi saja," ujar Keysa lagi, tanpa berani menoleh ke arah Devano.
"Iya, sepertinya hanya mimpi. Tapi, aku mau mimpiku jadi kenyataan." Devano menarik Keysa, hingga gadis itu berhadapan dengan Devano.
"Kamu mau ngapain?"
"Menciummu biar mimpinya jadi kenyataan," jawabnya dengan enteng.
"Enggak macam-macam, cuma satu macam," ujar Devano lagi, kemudian lelaki itu menatap Keysa dengan begitu intens. Perlahan, Devano mendekatkan wajahnya pada wajah Keysa.
Mata Keysa terpejam saat wajah Devano semakin mendekat dan hampir tak berjarak. Devano hampir saja menyentuh bibir Keysa, saat tiba-tiba si ular putih muncul dari belakang kepala Keysa dan mengagetkan Devano.
"Aaa ... ular sialan!" Devano sampai mundur begitu melihat ular di belakang Keysa.
Sementara itu, Keysa yang mendengar teriakan Devano langsung membuka mata, keheranan, sedangkan si ular sudah melingkar di leher Keysa.
"Dasar ular sialan, tidak bisakah kau muncul di saat yang tepat saja? Jangan ganggu aku dan kekasihku!" rutuk Devano. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah si ular, ia memarahi hewan melata itu.
__ADS_1
Sementara itu, si ular putih yang seakan-akan tidak terima dengan ucapan Devano lantas memainkan lidahnya. Mata ular itu, menatap Devano penuh kebencian. Mulutnya mulai terbuka sempurna, seperti hendak menggigit Devano.
Benar saja, ular itu pun hendak menyerang wajah Devano. Untung saja, Devano bisa menghindar dengan cepat. "Apa yang akan lakukan?" umpat Devano, melihat si ular berdesis dengan kepala masih terangkat setelah mencoba menyerangnya, tetapi gagal.
"Jangan seperti itu! Dia juga temanmu." Keysa menenangkan si ular lalu memilih pergi sambil membawa ularnya, meninggalkan Devano yang masih sok karena ulah peliharaan si gadis.
Saat membuka pintu, Keysa melihat Ezra yang sedang berdiri di ambang pintu hendak mengetuk pintu. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan aneh, membuat Keysa merasa malu dan langsung pergi.
Devano menyadari kepergian Keysa saat Ezra masuk ke kamar, dan itu berhasil membuat lelaki itu terus mengumpat pada ular peliharaan Keysa. "Awas saja kau ular! Kau menggagalkan semuanya. Aku pastikan akan membalasnya. Dijadikan sate baru tahu rasa," ucap Devano sambil marah-marah.
Di Ibu Kota ....
Kakek Surya menemui Liza beserta keluarga. Lelaki tua dengan segala kekuasaan yang masih dimilikinya memberi mereka pilihan 'masuk penjara atau mati'.
"Aku mohon maafkan keluarga kami. Aku mohon maaf atas kekhilafan cucuku! Jangan berikan kami pilihan yang tidak bisa kami pilih. Kami tidak mau di penjara, tapi kami juga belum siap mati. Beri saja kami hukuman yang lain!" Neneknya Liza memohon maaf dan meminta Kakek Surya untuk meringankan hukumannya.
Selain itu, wanita tua itu juga memberitahu kalau keturunan mereka juga sama seperti Keysa. Darah keluarga Keysa juga mengalir di keturunan nenek Liza karena wanita itu juga pernah tidur bersama ayah Kakek Surya.
Kakek Surya terdiam, mendengarkan setiap kata yang terucap dari nenek tua yang sudah berani menggoda ayahnya dulu. Entah membual atau memang benar ucapan wanita itu, tetapi demi ayahnya akhirnya Kakek Surya memutuskan untuk mengirim keluarga Liza ke luar negeri dan selamanya tidak akan pernah kembali.
Sebelum pergi, Liza mengirim pesan kepada Ezra dan meminta untuk hati-hati karena Keysa seorang pembohong.
"Sepertinya dia gadis yang sangat licik," gumam Kakek Surya saat mengetahui kelakuan Liza yang mengirim pesan kepada Ezra. Hingga, Kakek Surya memutuskan mengasingkan mereka ke daerah terpencil dan tidak ada sinyal.
'Ini adalah balasan karena telah mengganggu dan mencoba melenyapkan cucuku," gumam Kakek Surya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.
__ADS_1
Liza sendiri merasa kalau ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengembalikan keadaan.