Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
6


__ADS_3

6


Keysa berdiri di depan cermin dan memperhatikan dirinya yang terlihat sangat berbeda dari penampilan dari sebelumnya. Cantik dan modis. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh pintu toilet yang dipaksa dibuka oleh seseorang, hingga menampilkan seseorang yang benar-benar membuatnya jantungan.


'Dia,' gumam Keysa dalam hati saat dari balik cermin ia melihat Devano masuk ke toilet bersama beberapa orang. Spontan, Keysa memegang erat tasnya. 'Tenang, Key, mereka tidak akan mengenalimu.' Keysa menenangkan dirinya sendiri yang sudah sangat gugup, takut ketahuan. 'Jangan takut!Mari, kita bermain drama lagi,' gumamnya lagi masih dalam hati.


Ia pun menoleh ke arah pintu. "Kalian sedang apa di sini? Kenapa masuk toilet wanita?" tanya Keysa dengan suara bergetar, pura-pura ketakutan dengan kehadiran orang tidak kenal. Meskipun tak sepenuhnya pura-pura, ia memang takut ketahuan oleh Devano dan pasti berakhir fatal.


Devano dan semua orang yang masuk ke toilet tampak tercengang saat melihat gadis cantik di hadapan mereka, sedangkan gadis yang mereka cari tidak ada di tempat itu.


"Apa saya melakukan kesalahan? Sampai kalian menerobos masuk ke sini?" tanya Keysa lagi dengan air mata yang sudah bersiap tumpah karena takut. "Kalau iya, aku minta maaf," lanjutnya.


Menyadari gadis tak berdosa di hadapannya ketakutan, Devano pun menghampiri Keysa. "Hei, tenanglah! Jangan takut. Kami tidak akan melakukan apa pun padamu," tandasnya, menenangkan Keysa.


'Dia tidak mengenaliku. Aman ....' Keysa bergumam dalam hati dan bernapas lega.


"Tapi, kalian tiba-tiba masuk ke sini. Itu membuatku sangat takut," ujar Keysa lagi sembari mengelap cairan bening yang sengaja dipaksa keluar dari matanya.


"Maaf, jika membuatmu takut. Jangan menangis! Kami tidak akan ngapa-ngapain kamu." Devano merasa sangat bersalah telah membuat gadis cantik itu ketakutan, bahkan sampai menangis. "Sebenarnya kami ke sini sedang mencari seorang wanita jelak."


'What, wanita jelek? Dia mengataiku jelek. Apa kamu tak lihat aku secantik apa?' Keysa mendumel di dalam hati, tidak terima dikatai jelek oleh Devano.


"Menurut orang-orang yang melihat, dia masuk ke toilet. Apa kamu melihatnya?" lanjut Devano sambil mengedarkan matanya ke sekeliling toilet. Mungkin saja Keysa bersembunyi.


Keysa menggeleng lemah. "Dari tadi saya sendiri di sini. Tidak ada yang masuk atau pun keluar dari toilet."


"Dia itu pake kacamata, kulitnya coklat sawo busuk, rambutnya di kepang dua. Apa kamu benar-benar tidak melihatnya?"


Kegedegan Keysa sudah di atas ubun-ubun. Ia dikatai sawo busuk. Akan tetapi, ia tak bisa berbuat apa-apa selain menggeleng sambil memasang wajah yang ketakutan.

__ADS_1


"Saya benar-benar tidak melihatnya."


"Mungkin orang itu salah memberikan info." Devano membuang napas kasar. Pencariannya masih tidak mendapatkan hasil. "Maaf telah mengganggumu! Tapi, jika melihat gadis jelek itu tolong beritahuku, ya! Dia gadis berbahaya," tandas Devano yang dijawab anggukkan Keysa. Tidak menemukan orang yang dicarinya. ia pun memilih untuk keluar. "Cari di tempat lain!" perintah Devano kepada para anak buahnya.


Bawahan Devano pun mengangguk dan mengikuti lelaki itu pergi.


"Sialan, dia menyebutku gadis berbahaya," umpat Keysa sangat pelan.


Namun, Keysa juga bernapas lega melihat orang-orang itu benar-benar keluar dari toilet, hingga menyisakan satu orang yang masih berdiri menatap Keysa tanpa berkedip.


"Mas, tidak ikut dengan teman-temannya?" tanya Keysa. "Mas! Halo!" panggil Keysa lagi seraya menggerak-gerakkan tangan di depan muka Ezra, membuyarkan lamunan Ezra yang masih tertegun dengan kecantikan Keysa.


Saat melihat Keysa lari dari ruang karoke, Ezra juga ikut mengejar Keysa saat Devano dan anak buahnya mengejar Keysa. Alhasil, sekarang ia termangu di toilet, menatap gadis cantik dengan kecantikan hakiki bak bidadari baru turun dari kayangan.


"Eh, iya," jawab Ezra, terkesiap. "Maaf, tadi saya melamun," lanjut Ezra dengan senyum malu-malu ketahuan memperhatikan Keysa.


"Owh, itu. Dia bukan teman saya."


"Lalu kenapa ikutan ngejar ke sini?"


"Itu ... aku kasihan sama orang yang dikejar mereka. Takutnya mereka ngapa-ngapain gadis itu. Padahal dia ke sini atas perintahku," jelas Ezra yang membuat Keysa angguk-angguk. "Kamu sendiri sedang apa di sini?" Ezra bertanya balik, karena baru kali ini ia melihat Keysa ada di klub.


"Aku ada janji dengan teman," jawab Keysa.


"Owh." Ezra pun hanya ber-oh ria. "Owh, iya, kalau boleh tahu namanya siapa?" lanjut Ezra sambil mengulurkan tangan. Ia tidak mau membuang kesempatan langka itu.


Keysa menatap Ezra. Lelaki di hadapannya sekarang tidak seperti Devano, bahkan Ezra rela mencarinya karena khawatir Devano berbuat aneh-aneh. Keysa pun menyambut uluran tangan Ezra dengan senyum yang mengembang, membuat kecantikan seorang Keysa semakin sempurna saja. "Faya," jawab Keysa, menyebutkan nama samaran. Bukan nama samaran juga, tetapi lebih tepatnya nama kecil yang diambil dari nama belakang Keysa.


"Ezra." Ezra juga menyebutkan namanya. "Senang berkenalan denganmu," lanjutnya dengan seutas senyum yang membuat Keysa tahu kalau lelaki itu memiliki lesung pipi ketika tersenyum.

__ADS_1


Keysa hanya mengangguk dengan senyum yang juga tertampil dari bibirnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, ya!" ucapnya, pamit.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ezra.


"Aku mau pulang saja. Sepertinya temanku juga tidak jadi ke sini," jelas Keysa.


"Klub ini sudah di segel oleh Devano demi mencari gadis yang dicarinya. Pintu keluar pasti diblokir. Tidak akan mudah keluar dari sini." Ezra menjelaskan situasi yang sedang terjadi di klub. "Tapi, kalau mau aku bisa membantumu keluar dari sini," lanjut Ezra, menawarkan bantuan.


Semua yang dikatakan Ezra benar adanya. Keysa tidak akan mudah keluar dari tempat itu. Bisa jadi yang ada ia malah ketahuan oleh Devano dan anak buahnya. Keysa memperhatikan Ezra, berpikir kalau lelaki itu sepertinya bisa membantu.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Keysa.


"Tentu saja tidak. Aku juga mau pulang, jadi kita bisa keluar bersama," jawab Ezra.


Keysa, akhirnya mengangguk, menerima tawaran Ezra. Ezra? Jangan ditanya. Ia senang bukan kepalang, senyum terus mengembang sejak Keysa menerima tawarannya.


Keysa dan Ezra pun keluar dari klub tersebut tanpa pencekalan dari orang-orang yang berjaga di pintu. Mereka yang mengenal Ezra, membuat Keysa lolos begitu saja.


"Terima kasih sudah membantuku keluar." Keysa membungkuk, berterima kasih kepada Ezra.


"Sama-sama!" Ezra membalas ucapan Keysa sambil membungkuk juga.


Kemudian, Keysa pamit saat sebuah mobil berhenti di depannya. Namun, tidak ada jawaban dari Ezra, hanya senyuman yang terus melengkung di bibir lelaki itu dengan mata yang tak berkedip memandanginya yang Keysa dapatkan. Ia pun memilih meninggalkan Ezra yang masih mematung.


'Dia juga aneh,' pikir Keysa.


Ezra masih terdiam di pinggir jalan dalam waktu yang lama, tanpa menyadari gadis yang bersamanya sudah melesat jauh dengan mobil. Kecantikan Keysa benar-benar menghipnotis Ezra.


"Dia ke mana?" gumam Ezra saat menyadari kalau Keysa sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2