
Felix meninggalkan Zack ketika Keysa memanggil. Ia mendekat dan duduk di dekat gadis itu serta menemaninya minum. Banyak minuman yang sudah masuk ke perut mereka, hingga tidak memerlukan waktu lama untuk membuat keduanya mabuk. Keysa yang sedang kesal dan marah kepada Devano pun mulai meracau tidak jelas, mengeluarkan unek-unek yang seminggu ini ditahan dan meledak saat melihat kebersamaan lelaki itu dengan Cheryl. Keysa mabuk berat.
Hanya tinggal Zack yang masih sadar karena tidak banyak minum. Akan sulit baginya membawa dua orang mabuk parah sekaligus, hingga ia memutuskan menghubungi Devano untuk membawa Keysa pulang dari klub.
"Aku akan segera ke sana." Terdengar suara dari benda pipih yang dipegang Zack.
"Aku tunggu. Kekasihmu terus meracau. Aku juga tidak mungkin membawa mereka sendirian," tandas Zack.
"Tolong pastikan kalian jauh dari laki-laki. Jangan biarkan ia bertemu dengan laki-laki. Kalau bisa kalian pun jaga jarak dengannya," pinta Devano, yang berhasil membuat Zack mengernyit. Namun, sebelum mengakhiri panggilan Zack pun tetap mengiakan.
Di kediaman utama Mahardika, Devano langsung mengambil jaket dan kunci mobil setelah mendengar Keysa sedang di klub dan mabuk berat.
"Ya, Tuhan, jangan sampai dia berbuat aneh-aneh!" Mengingat Keysa yang suka genit dan main cium sana sini saat mabuk membuat Devano sangat khawatir. "Kamu pasti sangat marah kepadaku sampai-sampai lari ke minuman. Maafkan aku, Key! Aku tidak punya pilihan lain."
Devano masuk ke mobil dan membawa mobil tersebut melesat secepat kilat menuju klub malam yang disebutkan oleh Zack.
Setiba di sana, Devano langsung masuk ke ruang karaoke sesuai dengan yang diberitahukan Zack.
"Untung kau sudah datang. Kekasihmu mabuknya sangat ekstrim," tandas Zack, ketika melihat Devano masuk. Ia sangat lega melihat kedatangan Devano, setelah sebelumnya dibuat kalang kabut oleh tingkah absurd dan agresif kekasih temannya itu yang seakan hendak merudapaksa dirinya dan Felix.
"Karena itulah aku melarangmu untuk mempertemukannya dengan laki-laki," ucap Devano lagi.
Zack bergidik ngeri saat mengingat kelakuan Keysa sebelum tertidur sambil memeluk botol wine. Gadis itu dengan genit main sosor kepada Felix yang kesadarannya juga menghilang. Zack yang seratus persen sadar pun tidak rela sang kekasih disosor Keysa. Felix adalah miliknya, membuat Zack menjauhkan Felix dan Keysa, dan ujung-ujungnya dirinya yang menjadi sasaran Keysa.
"Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, Key, nanti aku bisa digantung oleh Dev." Berkali-kali Zack merutuki Keysa yang hendak menciumnya. Namun, Keysa yang tidak sadarkan diri malah terus mendekat membuat Zack ketakutan karena keagresifan Keysa, hingga akhirnya pasrah. Untung saja, di detik terakhir saat bibir Keysa hampir menempel dengan bibirnya, tiba-tiba Keysa tertidur. Zack terselamatkan dari amukan Devano dan perbuatan yang bisa melukai perasaan Felix.
"Bawa pulang, gih! Aku juga akan pulang dengan Felix." Tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, Zack langsung menyuruh Devano untuk membawa Keysa pergi dari hadapannya.
"Aku akan membawanya pulang." Devano menggendong Keysa ala bridal style, kemudian meninggalkan tempat karaoke. Tidak lupa ia juga berterima kasih kepada Zack.
Devano membawa gadisnya itu pulang ke rumah yang ditempati Keysa seminggu ini. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah Keysa terus mengigau, membuat Devano semakin merasa bersalah.
"Tidur yang nyenyak. Aku ada di sini bersamamu," gumam Devano, setelah menidurkan Keysa di ranjang. "Maaf, telah membuatmu seperti ini." Devano mengecup kening Keysa.
__ADS_1
Keysa yang terpejam, hanya menggeliat seperti bayi, kemudian meringkuk dengan tangan yang diselipkan di antara dua kakinya. Gadis itu sudah pergi ke alam mimpi setelah puas mengeluarkan unek-uneknya tanpa sadar. Devano pun naik ke atas ranjang. Tidur di samping Keysa yang membelakanginya, kemudian memeluk tubuh gadis itu hingga akhirnya ikut terlelap setelah mengucapkan kata cinta.
***
Cheryl mendengar kabar bahwa Devano tidak ada di rumah utama sejak semalam. Gadis yang seperti benalu itu lantas pergi ke rumah Devano satu lagi. Ia tidak akan membiarkan Devano kembali bersama Keysa mengingat Keysa sudah seminggu tinggal di rumah Devano.
Setiba di rumah Devano, ia langsung mengetuk pintu dengan kasar sambil meneriaki nama pemilik rumah.
Di dalam rumah, Devano masih tidur dengan tangan yang masih memeluk Keysa saat teriakan di luar mengganggu dunia mimpinya. Devano perlahan membuka mata, mengingat suara siapa yang terdengar dari depan pintu. Masih enggan untuk bangun, tetapi gadis itu pun tidak akan diam sebelum pintu dibuka.
"Selamat pagi." Devano memberikan kecupan selamat pagi kepada Keysa sebelum beranjak dari tempat tidur.
Setelah itu, keluar kamar dan menuju pintu depan untuk mengusir Cheryl.
"Ada apa, Cher?" tanya Devano dengan mata lelahnya, begitu pintu terbuka.
"Kamu sedang apa di sini? Kenapa tidak tidur di rumah utama?"
Devano menatap malas ke arah gadis yang mengomelinya. "Ini rumahku. Biasanya juga aku tidur di sini. Memang ada yang salah?"
"Sudahlah! Aku masih ngantuk, jangan mengajakku ribut pagi-pagi. Aku ingin tidur, sebaiknya kamu pulang saja," titah Devano lagi. Ia tidak menyanggah atau mengiakan pernyataan Cheryl karena memang ada Keysa di rumahnya.
Bukannya pergi, Cheryl malah mendorong Devano, menerobos masuk. Devano yang tidak menyanggah dan malah mengusirnya, membuat Cheryl yakin bahwa Keysa ada di rumah.
"Kamu mau ke mana, Cher?"
"Aku akan mengusir gadis kegatelan itu," tandas Cheryl, sambil berjalan menuju tangga–hendak ke kamar atas.
"Mengusir siapa? Tidak ada siapa-siapa di sini, sebaiknya kamu pulang saja. Aku masih mengantuk." Devano mencoba mencegah gadis itu untuk naik ke kamar atas.
"Semakin kamu memaksa untuk pulang, semakin ku yakin kalau gadis itu ada di sini." Cheryl mempercepat langkahnya dengan sedikit berlari menuju kamar Devano.
Cheryl membuka pintu kamar dengan kasar. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Senyum tersungging di bibir Cheryl mendapati Devano tidak berbohong.
__ADS_1
Akan tetapi lain halnya dengan Devano, melihat Keysa sudah tidak ada di kamar pun langsung berubah cemas.
'Dia ke mana? Kenapa tidak ada di kamar?' gumam Devano di dalam hati.
Devano melewati Cheryl yang masih berdiri di dekat pintu. Devano memindai ruangan kamarnya, tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Keysa, hingga ia melihat jendela yang terbuka padahal Devano tidak membukanya. Devano berjalan ke arah jendela dan dilihat Keysa sedang berjalan pincang meninggalkan rumah.
"Dia kenapa?" Melihat Keysa yang tidak baik-baik saja, spontan Devano langsung menyusul Keysa penuh kekhawatiran. . Meninggalkan Cheryl yang masih berada di kamar.
Secepat kilat Devano sudah berada di luar rumah. Ia langsung membawa Keysa ke mobil dan membawanya ke rumah sakit.
"Aku sudah sangat bahagia saat tidak melihat gadis itu di kamar ini. Tapi, nyatanya aku salah. Mereka masih bersama, bahkan Dev sangat tampak khawatir saat melihat gadis itu terpincang-pincang," ucapnya sambil meremmas gorden dengan gigi bergemeletuk, menahan. Amarah. Dari balik jendela kamar, Cheryl menyaksikan Devano yang begitu mengkhawatirkan Keysa.
***
Setelah membawa Keysa ke rumah sakit, Devano kembali ke rumah karena mendapat telepon dari Cheryl yang terdengar tidak baik-baik saja. Devano terpaksa meninggalkan Keysa sendirian di rumah sakit.
"Astaga Cher, apa yang kamu lakukan?"
Setiba di rumah, Devano dibuat terkejut saat melihat Cheryl sudah tergeletak tidak berdaya di kamar. Gadis itu kembali mencoba bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur setelah melihat Devano yang memilih pergi dengan Keysa. Devano kembali ke rumah sakit dengan membawa Cheryl yang sudah tidak sadarkan diri.
"Cheryl mencoba bunuh diri lagi," gumam Devano dengan kepala yang menunduk.
Orang yang diajak bicara mengembuskan napas kasar. "Apa karena aku?" tanya Keysa, yang baru saja selesai diperiksa. "Jika dia memang penting bagimu, kenapa kamu harus mengejarku. Aku sengaja pergi karena tidak ingin membuat suasana semakin kacau. Sekarang, kamu sendiri yang membuat semua kacau," timpal Keysa. "Aku mengerti kamu memiliki banyak hutang budi kepada keluarga Cheryl. Aku memahami itu dan aku akan mencoba untuk memakluminya."
Ya, Keysa sengaja pergi dari rumah itu dengan kabur melalui jendela, agar tidak ketahuan oleh Cheryl. Namun, sayang, Keysa menginjak batu yang tajam hingga kakinya terluka dan harus dijahit.
Devano menatap gadis yang kakinya sudah diperban itu. Gadis itu terlihat kecewa, meskipun berusaha ditutupi. "Key, aku mencintaimu," ucap Devano, sambil memegang tangan Keysa.
"Aku tahu. "
"Apa kamu marah karena aku harus terus bersama Cheryl?"
Marah? Siapa yang tidak akan marah saat kekasih dipaksa untuk menjauh. Siapa yang tidak akan marah saat melihat kekasihnya sendiri bermesraan dengan orang lain.
__ADS_1
Keysa menggeleng. "Aku tahu itu bukan keinginanmu. Aku tahu kamu juga pasti tersiksa dengan semua ini. Aku tidak marah," ucap Keysa. Ia tidak mau membebani Devano dengan kecemburuannya. "Maaf telah membuatmu khawatir karena telah mabuk-mabukan. Aku hanya sedikit kesal dengan nasibku sendiri. Maaf, aku tidak memposisikan diri sebagai kamu. Aku tahu kamu adalah orang yang paling tersiksa dari semua ini."
Keysa menatap lembut lelaki yang terlihat bingung dalam mengambil keputusan–kasihan. Semua yang dipilih mendapat resiko masing-masing, membuat wajah tampan itu terlihat kusut.