Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
77


__ADS_3

77


Keysa terjebak dengan para lelaki itu di lantai dansa. Bagaikan piala bergilir, ia harus menemani dua lelaki itu secara bergantian. Sementara itu, Devano sedang marah-marah tidak jelas melihat kebersamaan mereka. Ia cemburu karena Keysa mengabaikannya, bahkan gadis itu tampak sangat mesra saat berdansa dengan Ezra. 


Di sudut ruangan, tidak jauh dari lantai dansa, Liza juga sedang mengawasi setiap pergerakan Keysa. "Siapa gadis itu? Kenapa Devano, Ezra dan Exel mengejar dia semua? Apa istimewanya gadis itu?" Liza menatap heran ke arah Keysa yang terlihat biasa-biasa saja, bahkan dari segi penampilan ia ada di atas Keysa. Akan tetapi, tiga lelaki yang paling berpengaruh di kota semua mengejar Keysa, seakan-akan gadis itu seorang princess. Hal itu, membuat Liza merasa posisinya sebagai calon menantu para konglomerat di sana terancam. 


"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi," gumamnya sambil menatap sinis kepada gadis yang masih sibuk di lantai dansa dengan dua pria. 


Terkadung kesal kepada Keysa yang lebih memilih berdansa dengan Exel dan Ezra, Devano memilih turun dari lantai dansa dan duduk menyaksikan mereka yang masih asyik menari dengan alunan musik yang romantis. "Apa-apaan mereka itu? Hanya karena aku datang terakhir, aku disuruh nunggu giliran setengah jam lagi." Devano terus mengomel, mengingat dirinya ditolak mentah-mentah oleh Ezra saat ia meminta giliran untuk berdansa dengan Keysa. 


"Hai, Dev! Bagaimana kalau kita berdansa?" Di saat Devano sedang bersungut-sungut, Cheryl menghampiri dan mengajaknya berdansa. 


"Tidak. Aku tidak ingin berdansa." Namun, dengan cepat Devano langsung menolak ajakan Cheryl dengan tidak acuh, membuat Cheryl langsung berjalan mundur dengan keadaan sedih. 


Liza yang melihat Cheryl tampak sangat sedih dengan penolakan Devano langsung menghampiri gadis itu dan menghiburnya. 


"Dev berubah semenjak mengenal gadis itu," ucap Cheryl sambil menunjuk Keysa yang masih di lantai dansa. "Entah guna-guna apa yang telah diberikannya kepada Dev, sehingga Dev selalu saja menempel padanya bahkan membelanya mati-matian. Aku sangat membenci gadis jelek itu!" lanjut Cheryl. Ia sangat geram mengingat semua yang telah terjadi padanya karena Keysa. 


"Tenanglah! Aku akan membantumu menghadapi gadis itu. Aku pun tidak menyukainya." Liza menimpali ucapan Cheryl dengan sebuah rencana yang tiba-tiba terlintas di kepala, membuatnya berseringai tipis. 


Setelah menghibur Cheryl, Liza pun pergi menghampiri lelaki yang masih belum beranjak dari tempat duduknya dengan mata yang tidak pernah beralih dari satu titik. 


"Dev, kita dansa, yuk!" Liza mengajak Devano berdansa dengan seutas senyum yang tertampil. 


Devano menoleh sekilas ke arah Liza, kemudian menolak permintaan gadis itu dengan pandangan yang kembali ke arah lantai dansa, memerhatikan Keysa. 


"Ayolah, Dev! Kita sudah lama tidak pernah berdansa lagi," ujar Liza lagi, keukeuh. "Itung-itung ucapan selamat datang untukku yang baru pulang ini," lanjutnya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. 

__ADS_1


"Aku sedang tidak mood berdansa. Kamu cari pasangan lain saja. Ezra misalnya," tandas Devano. 


"Nanti aku juga akan minta berdansa dengannya, tapi sekarang dia kan sedang berdansa dengan gadis itu," jelas Liza sambil menunjuk Keysa yang masih berdansa dengan Ezra. 


Devano tidak merespon lagi. Niatnya menyarankan Liza untuk berdansa dengan Ezra hanya semata-mata agar Keysa bisa terlepas dari sahabatnya itu dan dirinya bisa berdansa dengan Keysa. 


"Ish ... setelah aku pindah ke luar negri kamu berubah ya, Dev!" Liza yang merasa diabaikan pun mulai merasa kesal. "Sekarang kamu itu sombong sekali. Bahkan, hanya sekedar berdansa saja kamu tidak mau," ucap Liza dengan wajah yang sudah berubah sendu. 


"Ok. Baiklah!" Melihat perubahan wajah Liza serta tidak mau dicap sombong, Devano pun akhirnya menyetujuinya. 


Seketika wajah yang terlihat menyedihkan itu kembali bersinar. Setelah mengucapkan terima kasih dan meralat ucapannya, Liza langsung menarik Devano ke lantai dansa. "Aku ralat ucapanku. Kamu tidak sombong, kamu sahabatku yang paling baik," ucapnya. 


Sementara itu, Devano mengikuti langkah dari orang yang menariknya tanpa menyahut. 


Lagu selanjutnya dimulai. Liza dan Devano pun berada di lantai dansa, tepatnya berdampingan dengan Keysa yang sudah berganti pasangan dengan Exel. Mereka berdansa bersama. Sesekali, Devano melirik Keysa dengan tatapan tidak suka melihat gadis itu menari bersama Exel. 


Perubahan wajah Keysa tidak luput dari perhatian Devano. Ujung bibirnya langsung tertarik ke atas begitu melihat bibir Keysa yang mengerucut setelah melihat ke arahnya. 


'Mari kita lihat, Nona, sampai mana kau bisa bertahan!' Devano bergumam dalam hati dengan seringai tipis yang menghiasi wajahnya. Ia lantas, menarik tubuh Liza semakin mendekat ke arahnya. 


Devano memegang pinggang ramping Liza dan Liza melingkarkan tangannya di bahu Devano. Sementara itu, tangan mereka satu lagi merentang dengan jemari yang saling berpaut. Tubuh  mereka pun bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai irama lagu. Mereka tampak sangat serasi, bahkan keduanya menjadi pusat perhatian di lantai dansa tersebut. Semua orang memuji penampilan mereka. 


Senyum Liza terus mengembang saat samar-samar terdengar orang-orang memujinya dan Devano, sedangkan Devano sendiri tidak peduli dengan kalimat pujian itu. Lelaki yang memakai  jas brown itu, hanya memedulikan satu hal yakni perubahan raut wajah Keysa. Semakin terlihat masam, semakin mesra pula Devano memperlakukan Liza. 


"Sudah, ya! Aku haus." Keysa langsung meninggalkan lantai dansa begitu musik selesai dengan alasan haus. 


Keysa lantas pergi ke tempat minuman dan mengambil segelas jus untuk menyiram dadanya yang terasa panas dan bergemuruh. "Perasaan macam apa ini?" Keysa merutuki perasaannya sendiri. Entah mengapa melihat, Devano berdansa dengan begitu mesra dengan Liza membuatnya merasa tidak nyaman, bahkan terasa ada yang terbakar di dalam dirinya. 

__ADS_1


"Mungkin karena aku sedang PMS, jadi sedikit sensian gak jelas." Keysa pun mencoba menetralkan kembali perasaannya dan mensugesti dirinya sendiri kalau itu hanya karena pengaruh naik turunnya  hormon estrogen pada tubuhnya. Ia juga menarik napas dari hidung dan mengeluarkan secara perlahan dari mulut. 


Setelah dirasa tenang, Keysa mengambil dua gelas jus, lalu berbalik hendak memberikan jus itu kepada Exel dan Ezra. Di waktu bersamaan, Liza dengan sengaja menabrakkan dirinya kepada Keysa, sehingga membuat jus yang dibawa Keysa tumpah ke gaun Liza. 


Semua orang yang melihatnya terkejut dan para pendukung Liza malah menyalahkan Keysa atas kejadian itu. 


"Gadis itu benar-benar tidak tahu malu. Berani sekali dia menyiramkan jus ke gaun Liza!" 


"Sepertinya dia masih dendam dengan yang terjadi tadi sampai-sampai tega sekali mempermalukan Liza seperti itu." 


Masih banyak lagi kata-kata pedas yang terlontar untuk Keysa, padahal gadis itu tidak tahu menahu kalau di belakangnya ada Liza. Akan tetapi dengan teganya, orang-orang malah menyalahkannya. Sementara itu, Liza hanya memasang muka memelas seolah-olah dirinya memang ditindas oleh Keysa. 


Ezra berdiri tidak jauh dari sana, melihat ada kegaduhan ia pun langsung menghampiri mereka. Ia yang tidak tahu duduk permasalahan sebenarnya, melihat gaun Liza yang kotor dengan dua gelas jus di tangan Keysa yang sudah kosong serta orang-orang yang menyalahkan Keysa, membuatnya berpikir kalau Keysa lagi-lagi berbuat ulah. 


"Key, apa yang kau lakukan?" tanya Ezra dengan sorot mata tajam tertuju kepada Keysa dengan wajah yang sudah memerah. 


"Aku tidak melakukan apa-apa." 


Mendengar jawaban Keysa yang begitu entengnya, membuat Ezra semakin marah, jelas-jelas gadis itu telah menumpahkan  jus ke baju Liza. 


"Semua orang tidak buta. Mereka melihat apa yang kamu lakukan," ujar Ezra. "Minta maaf kepadanya!" bentak Ezra kemudian. 


Ucapan Ezra berhasil membuat Keysa tersentak. Ia tidak menyangka lelaki yang selalu membantunya bahkan sebelum Devano peduli padanya, sekarang membentak Keysa di depan umum.


"Tidak aku tidak mau. Aku tidak salah untuk apa aku meminta maaf," tandas Keysa yang juga terkadung kesal kepada Ezra, tanpa tahu permasalahannya  langsung menghakimi Keysa begitu saja.


Hingga akhirnya, Devano juga menghampiri mereka.  Dengan cepat, Devano mendekati Keysa dan meminta gadis itu tenang. 

__ADS_1


"Tenanglah Key, jaga emosimu! Aku tahu kamu tidak salah!" bisik Devano, mendukung Keysa.


__ADS_2