Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
158


__ADS_3

"Sebenarnya aku juga meminum jus yang kamu berikan untuk Keysa," tandas Devano sambil berseringai. "Dan, semalaman kami bersama menghabiskan malam dengan saling memuaskan satu sama lain.  Aku sangat berterima kasih karena berkat dirimu kami semakin dekat dan sangat dekat," lanjutnya dengan wajah berseri, memanas-manasi lelaki yang sedang kepanasan oleh ulah sendiri. 


Awan hitam memenuhi perasaan Exel begitu mendengar ucapan Devano. Itu artinya tanpa sengaja Exel telah membantu Devano memiliki Keysa seutuhnya. Ia tidak terima dengan semua yang terjadi, hingga sebuah bogem mentah melayang ke wajah Devano. Meluapkan kemarahan yang tertuju kepada Devano juga dirinya sendiri yang begitu ceroboh. 


Devano pun dengan cepat menangkis tangan yang hampir melukai wajah mulusnya, hingga perkelahian tidak lagi dihindarkan. Devano dan Exel berkelahi di parkiran. 


"Otakmu benar-benar sudah geser, Xel! Bisa-bisanya kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan," tandas Devano. 


"Banyak bicara kau! Bedebah!" Exel semakin membabi buta menyerang Devano. 


Ezra yang juga ada di sana, menyaksikan perkelahian keduanya. Awalnya, ia berniat untuk melerai mereka, tetapi tidak jadi mengingat siapa yang sedang mereka perebutkan. "Biarkan saja mereka seperti itu," gumamnya, yang malah menjadi penonton. Jujur, hatinya belum bisa menerima kalau Keysa adalah Faya. Ia masih berharap kalau dirinya bisa mendapatkan hati wanita itu juga. 


Devano dan Exel terus berkelahi, hingga akhirnya Keysa kembali ke parkiran dan menghentikan perbuatan mereka. 


"Hentikan!!!" teriak Keysa begitu nyaring. "Berhenti, kalian seperti anak kecil saja setiap bertemu terus berkelahi. Tidak malu dengan tubuh dan usia," sarkas Keysa, menarik  Devano, menjauhkan keduanya. 


"Xel, sekali lagi kutegaskan, Keysa itu milikku. Sampai kapanpun dia adalah milikku, bahkan semesta saja mendukung kami. Jadi jangan pernah berharap lebih," tandas Devano. 


Exel yang berharap masih bisa menang dari Devano dengan melakukan cinta satu malam dengan Keysa, hanya bisa mendengkus kesal. Ia marah, lagi-lagi harus kalah dari Devano. Exel pun lantas pergi tanpa berkata apa-apa, ia langsung masuk ke mobil. 


"Kau? Kau sedang apa di sini?" Exel terkejut saat masuk ke mobil dan mendapati Alea sudah duduk manis di bangku penumpang. 


Alea hanya menampilkan senyum liciknya. "Aku tahu kau mendekati Keysa bukan karena kau benar-benar menyukainya, tapi karena kau tahu latar belakang Keysa yang sesungguhnya. Kau mendekati Keysa demi harta yang dimiliki Keysa. Iya, kan?" ucap Alea, sambil membersihkan kukunya yang cantik dan panjang, tanpa menoleh ke arah Exel. 

__ADS_1


"Jangan asal bicara! Tahu apa kau tentang diriku?" sarkas Exel. Ia terkejut bercampur marah saat Alea mengetahui pikirannya. 


"Tahu banyak," ucap Alea dengan santai, bahkan sempat-sempatnya meniupi kukunya yang sudah bersih. 


"Keluar!" teriak Exel. Tidak ingin debat berkelanjutan dengan Alea, Exel langsung mengusir gadis itu keluar dari mobil.


Alea mencebik saat mendapat pengusiran dari lelaki di sampingnya, tetapi tak ayal menurut juga ketika melihat tatapan tajam Exel yang siap memakannya hidup-hidup. 


"Kasian sekali kena tolak. Makanya kalau jadi orang itu harus mencintai dengan tulus," tandas Alea sebelum pergi, tanpa sadar pada dirinya sendiri yang juga mengincar harta dan rupa. 


Exel dibuat semakin meradang. "Pergi sebelum aku menendangmu langsung dari sini," sarkasnya lagi. 


"Iya. Aku keluar." Alea pun akhirnya membuka pintu dan keluar dari mobil, lantas menutup pintu mobil dengan kasar. "Dasar lelaki sombong," sarkasnya. 


Exel tidak peduli dengan ucapan Alea, ia langsung membawa mobilnya melesat meninggalkan kampus dengan kecepatan tinggi.


Setiba di asrama, Alea yang sekamar dengan Disti dan Keysa, pengganti Gabby, langsung berbuat semena-mena kepada Disti. Ia meminta Disti untuk mengerjakan ini dan itu, membersihkan kamar, menyiapkan makanan untuknya, tanpa peduli Disti yang terlihat tidak baik-baik saja. 


"Eh, cepetan dong, masak mie instannya! Aku lapar nih," tandas Alea penuh kuasa. 


"Iya, bentar." Disti berujar tanpa bisa membantah. 


Setelah memasak mi instan, Disti disuruh untuk membereskan semua yang ada di kamar, padahal Alea sendiri yang memberantakkannya. Setiba ke kamar tadi, Alea yang kesal dengan Exel dan dua lelaki yang selalu saja memperebutkan Keysa langsung mengacak-acak kamar, setelah berantakan Alea malah berpangku tangan dan menyuruh Disti untuk membereskannya. Sementara itu, Disti yang sedang lelah lahir dan batin hanya bisa mengiakan tanpa bisa membantah.

__ADS_1


Di saat itu, Keysa yang masih merasa khawatir dengan Disti, pulang cepat untuk melihat keadaan Disti setelah berbicara sebentar dengan Devano. 


"Dis, kamu sedang apa?" Keysa dibuat terkejut saat melihat Disti sedang membereskan kamar yang berantakan sambil menangis. Sementara itu, di sisi lain ada Alea yang sedang anteng memainkan laptopnya dengan mi instan yang masih mengepul di samping laptop. Keysa menggeleng, tahu siapa pembuat ulahnya. 


"Kamu sedang sakit. Sudah biarkan saja itu nanti aku yang bereskan. Istirahat saja, ayo!" Tanpa menunggu jawaban Disti, Keysa langsung memapah Disti untuk kembali ke tempat tidur. Kemudian tanpa banyak bicara, Keysa segera membereskan kamar. 


Sementara itu, si pembuat ulah masih anteng dengan wajah polos tak berdosanya. 


Malam harinya, Disti dan Keysa sedang duduk bersama di ranjang Disti, mengobrol santai meskipun Disti lebih banyak diam dan terlihat melamun. 


"Dis, kamu mau makan apa? Aku mo keluar cari makanan," ucap Keysa, kemudian. 


"Terserah kamu saja," tandas Disti. Apapun yang masuk ke mulutnya hari ini hanya terasa hambar. Ia sama sekali tidak memiliki selera untuk makan. 


"Ok. Aku cari makanan dulu, ya!" 


Keysa lantas mengambil jaketnya dan bersiap keluar untuk mencari makanan untuknya dan Disti. Namun, di saat membuka pintu, Keysa dikejutkan oleh Felix yang sudah ada di depan pintu. 


"Ya Tuhan, sudah kayak penampakan saja." Keysa dibuat terkejut Felix yang ada di depan pintu dan bersiap mengetuk pintu. "Kamu sedang apa, di sini? Mengagetkan saja," protes Keysa sambil memukul bahu Felix. 


Alea yang berada di asrama pun melihat kedatangan Felix dan tidak menyangka lelaki itu sedang mencari Keysa. 


"Lagi-lagi Keysa. Apa sih, yang ada di diri Keysa sampai-sampai semua lelaki mengerumuninya. Sungguh menyebalkan," rutuk Alea yang mengintip pembicaraan mereka dari dalam.

__ADS_1


Di depan pintu, Keysa menanyakan maksud kedatangan  lelaki yang sudah berada di hadapannya. 


"Ada masalah yang perlu kita bicarakan, Key," tandas Felix dengan wajah yang terlihat khawatir.


__ADS_2