
"Arrghhh!!!!"
Zian melempar ponselnya ke lantai dengan sekuat tenaga, setelah panggilan diakhiri sepihak oleh Keysa dengan kata-kata terakhir yang begitu menyakitkan. Kemudian menyapu semua barang yang ada di atas meja kerja hingga berserakan di lantai. Ruang kerja pun seketika seperti kapal pecah oleh ulah Zian yang mengamuk.
"Apa kurangku, Key? Sampai-sampai kau tidak mau melihatku bahkan sedikit saja. Apa bagusnya lelaki itu? Dia sama sekali tidak sebanding denganku," ucap Zian. Tubuhnya luruh ke lantai dengan lutut sebagai tumpuan, wajah lelaki itu sangat kacau dan frustrasi. Ia tidak terima dengan pilihan Keysa yang sangat melukai hatinya.
Sementara itu, di kediaman Devano yang keadaannya jauh lebih berantakan dari ruang kerja Zian, Keysa yang telah mengakhiri panggilannya dengan Zian, lantas menghubungi Kakek Surya untuk meminta bantuan lelaki tua itu untuk mengurus kekacauan yang dilakukan Zian.
Ditemani lagu kenangan dari ring back tone yang diperdengarkan saat panggilannya terhubung dengan nomor Kakek Surya, Keysa dengan tidak sabar menunggu sang kakek menerima panggilannya.
"Angkat, Kek!" gerutu Keysa, ketika lagu terus berputar-putar tetapi tak kunjung mendengar suara orang yang sangat dibutuhkannya dan malah berujung dengan nada tulalit.
Setelah melakukan percobaan hingga tiga kali, akhirnya panggilan Keysa tersambung. Terdengar suara sang kakek yang batuk-batuk begitu panggilan terhubung.
"Jika kamu menelpon untuk meminta bantuan Kakek karena Zian sudah merusak usaha Devano, kakek tidak mau ikut campur," ucap Kakek kemudian, membuat senyum yang sempat terbit langsung tenggelam lagi.
Kakek sudah tahu niatnya menghubungi, tanpa harus susah payah Keysa menjelaskan. "Jadi Kakek sudah tahu semuanya?"
"Menurutmu?" Kakek malah bertanya balik.
Tentu saja Kakek akan tahu semua yang terjadi di sekitar Keysa. Apalagi ini biang keroknya adalah orang yang dekat dengan mereka.
"Kalau Kakek sudah tahu, kenapa Kakek tidak mencegahnya?" Keysa sangat kecewa dengan tindakan Kakek yang membiarkan Zian berlaku sesukanya saja.
Keysa memaksa Kakek Surya untuk membantunya bicara dengan Zian, dan meminta Zian untuk mengembalikan milik Devano. Namun, lagi-lagi, Kakek Surya menolak masih dengan dalih tidak ingin ikut campur.
"Kakek menyebalkan!" sarkas Keysa, lalu mengakhiri panggilannya.
***
Devano pulang ke rumah saat gelap sudah akan pergi. Ia dibuat terkejut saat melihat rumah sudah sangat berantakan. Kedua tangannya mengepal sempurna dengan gigi yang saling beradu karena amarah.
"Keysa." Devano mengingat Keysa yang ditinggalkan sendirian di rumah. "Semoga dia baik-baik saja." Dengan cepat, lelaki itu menaiki tangga dan menuju kamar.
Devano bernapas lega saat melihat Keysa sedang tidur dengan sangat lelap. Tidak ingin mengganggu tidur sang kekasih, Devano keluar lagi dari kamar.
"Mereka sungguh keterlaluan." Devano menggerutu, lantas menghubungi anak buahnya untuk membereskan kekacauan yang ada.
"Bereskan rumahku sekarang juga! Saat aku kembali semua sudah harus beres dan bersih," ucap Devano saat beberapa anak buah dari kediaman utama sudah berada di rumahnya.
Anak buah keluarganya pun hanya mengangguk, siap sedia melakukan apapun yang diperintahkan oleh sang majikan. Setelah selesai memberikan instruksi, Devano menyusul kembali Keysa di kamar—meninggalkan mereka yang terpaksa harus bekerja sejak fajar menyingsing. Ia naik ke atas tempat dan ikut tidur dengan Keysa seraya memeluknya
__ADS_1
***
Mentari telah menyinari hari. Hari pun sudah siang saat Keysa membuka mata. Ia yang tidak bisa tidur karena kekacauan semalam terbangun saat merasakan ada sebuah tangan yang merangkul begitu erat di pinggang.
"Kamu sudah pulang?" gumam Keysa, saat mendapati Devano sudah berada di tempat tidur yang sama dengannya.
"Hmm ...." Devano menjawab tanpa membuka mata.
"Pulang jam berapa?"
"Entah, tidak lihat jam."
"Dev, rumahmu ...."
Belum sempat Keysa melanjutkan ucapannya, Devano sudah membuka mata dengan telunjuk yang menghalangi bibir Keysa untuk bicara. "Maaf, aku meninggalkanmu terlalu lama. Aku tidak menyangka mereka akan mengacaukan rumah," ungkap Devano penuh sesal.
"Seharusnya aku yang meminta maaf, aku tidak bisa menjaga rumahmu. Rumahmu hancur berantakan," ungkap Keysa, juga dengan penuh sesal.
"Bagiku kamu baik-baik saja, sudah cukup. Tidak perlu memikirkan yang lain." Devano mendaratkan sebuah kecupan di kening Keysa.
Keysa hanya mengangguk dengan hati yang menghangat. Tidak menyangka dirinya akan dicintai sebesar itu oleh lelaki yang sedang menatapnya saat ini. Devano sama sekali tidak mempermasalahkan kehancuran isi rumah dengan kerugian yang pasti tidak sedikit.
"Aku akan masak." Sambil memamerkan rentetan gigi putihnya, Keysa bangun hendak membuat sarapan untuk Devano. Lebih tepatnya makan siang karena hari sebentar lagi tengah hari.
"Tidak perlu, orang-orang dari rumah utama pasti sudah menyiapkannya."
"Maksudnya?" Kedua alis Keysa menyatu, tidak mengerti dengan yang diucapkan Devano.
"Lihat saja sendiri. Aku mo mandi dulu." Devano juga bangun, kemudian pergi ke kamar mandi.
Sementara itu, Keysa yang tidak mengerti sepenuhnya maksud perkataan Devano langsung keluar kamar untuk membuktikan ucapan kekasihnya itu.
"Eh, udah beres lagi." Keysa dibuat terpana saat melihat keadaan rumah sudah kembali sedia kala, bahkan barang-barang yang rusak sudah berganti dengan barang baru.
Keysa berjalan menyusuri semua tempat yang semalam sangat kacau balau. Namun, keadaan semalam sudah tidak terlihat lagi, seluruh tempat sudah bersih dan rapi. Bahkan, makanan sudah tersaji di meja makan. "Bener-bener udah beres," gumam Keysa, lantas memilih kembali ke kamar untuk bersih-bersih.
Setelah mandi, Keysa dan Devano makan bersama. Keduanya makan dengan begitu lahap setelah melewatkan sarapan karena tidur yang pulas.
"Key, jika aku nanti bangkrut apa kamu masih akan mencintaiku?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba lolos dari mulut Devano saat keduanya menyantap makanan sambil membahas masa depan hubungan mereka.
"Kenapa bertanya seperti itu? Apa aku terlihat sangat matre, ya?" Keysa menyipitkan sebelah matanya begitu mendengar pertanyaan Devano.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya takut jika nanti aku tak punya apa-apa kamu akan pergi."
"Jangan berbicara yang aneh-aneh, perusahaanmu akan baik-baik saja, begitu juga dengan hubungan kita. Aku akan selalu bersamamu." Keysa mengerti kekalutan Devano karena masalah yang sedang dihadapi.
"Bagaimana kalau kita menikah sekarang? Mumpung perusahaanmu masih sedikit lebih baik, agar kita bisa membuat pesta resepsi impianmu," lanjut Devano, yang membuat mulut Keysa menganga. "Bagaimana menurutmu?" tanya Devano lagi.
Belum sempat Keysa menjawab, tiba-tiba terdengar bunyi bel dari pintu depan. "Siapa yang bertamu?" tanya Keysa, yang dijawab kedikan bahu oleh Devano.
"Aku lihat dulu." Devano lantas beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke depan.
Keysa yang juga penasaran dengan siapa yang datang langsung mengikuti Devano, hingga keduanya dibuat terkejut ketika dua orang polisi berada di depan pintu dan langsung menyapa mereka begitu pintu dibuka.
"Dev, ada apa polisi datang ke sini?" bisik Keysa.
"Tidak tahu," jawab Devano sambil menggeleng.
Kedua polisi itu pun memberitahukan maksud dan tujuan mereka mendatangi rumah Devano.
"Itu tidak mungkin, Pak. Bagaimana mungkin keracunan? Sedangkan bahan-bahan yang kami gunakan alami dan tidak mengandung pestisida apalagi kimia." Devano mengelak tuduhan polisi yang datang untuk membawanya ke kantor polisi atas kasus yang menimpa salah satu usaha kulinernya.
Terjadi kasus keracunan pada restoran yang berada di bawah pengawasan Devano, menyebabkan lelaki itu harus bertanggung jawab dengan semua yang telah terjadi di restoran tersebut.
"Bapak bisa jelaskan nanti di kantor. Sekarang, silakan ikut kami!" ucap Salah satu dari polisi, kemudian menggelandang Devano ke kantor polisi.
"Pak, Dev tidak salah apa-apa. Lepaskan dia! Ini pasti salah paham." Keysa mencoba mencegah kedua polisi itu untuk membawa Devano.
Namun, dua polisi itu tetap membawa Devano dan membuat Keysa murka.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku tidak salah. Aku akan cepat pulang. Kamu tunggu di rumah saja," ucap Devano, sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan Keysa sendirian.
Keysa menatap kepergian Devano dengan dua tangannya yang mengepal sempurna. Ia yakin, semua ini masih dalam andil satu orang. Mengingat semua itu membuat Keysa naik darah.
"Ini tidak bisa didiamkan." Keysa masuk ke rumah, kemudian menghubungi Kakek dan meminta bantuan kepada lelaki tua itu.
"Kek, aku mohon lakukan sesuatu. Bebaskan Devano dari kantor polisi! Beri Zian pelajaran karena dia sudah sangat keterlaluan." Keysa memohon dengan sangat memelas saat berbicara dengan Kakek Surya di telepon.
"Tenanglah! Kamu harus lebih bijak dalam berucap agar tidak menimbulkan hal yang menjadi huru-hara." Bukannya mengiakan permintaan Keysa, Kakek Surya malah meminta Keysa untuk bersikap lebih bijak.
Tidak mendapatkan yang dimau dari sang kakek, Keysa memilih mengakhiri panggilan tersebut. Ia melempar asal ponsel di tangannya itu—frustrasi karena tidak ada yang bisa dimintai tolong.
Beberapa saat kemudian, ponsel Keysa kembali berdering. Dilihatnya nomor Devano tertera di layar. Dengan cepat, Keysa menerima panggilan tersebut dan menanyakan kabar lelaki itu. Hingga akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar Devano baik-baik saja.
__ADS_1