
115
Disti menyukai Exel. Oleh karena itu, tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri gadis itu rela menolong Exel, hingga dirinya harus tergolek lemah di ranjang rumah sakit.
Keysa meletakkan makan malam di samping ranjang Exel, padahal lelaki dengan memakai baju pasien itu juga berharap kalau Keysa akan menyuapinya.
"Key, tanganku sakit. Boleh tidak kalau kau bantu aku makan," pinta Exel kepada Keysa.
"Adikmu masih ada di sini. Kenapa harus minta tolong pada orang lain. Dia itu biang masalah, seharusnya kau tidak berurusan dengannya." Cheryl langsung mengambil makanan yang tersimpan di samping ranjang, mencegah Keysa yang mungkin saja akan mengabulkan permintaan kakaknya.
Keysa yang malas meladeni Cheryl, tidak menjawab dan memilih duduk di samping ranjang Disti.
Cheryl menyuapi Exel sambil memperhatikan Disti, kemudian mencebik tidak suka. "Dasar orang miskin, kerjaannya hanya mengincar orang kaya. Memang sih, itu cara paling ampuh untuk mendapatkan uang secara cepat. Setelah Dev yang dimanfaatkan oleh gadis cupu itu, sekarang giliran temannya yang mengambil kesempatan untuk menjerat kakakku. Jangan mimpi! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Cheryl terus mendumel dengan nada pelan, tetapi cukup bisa didengar oleh Keysa.
"Kau bicara apa?" Keysa menatap tajam dengan api kemarahan yang berkobar ke arah Cheryl. Tidak terima dengan ucapan adik Exel itu.
"Gadis jelek, aku itu tidak bodoh! Seseorang tidak akan berani membahayakan nyawanya sendiri kalau tidak ada maksud terselubung. Disti menyelamatkan Kak Exel pasti karena dia menyukai kakakku." Cheryl yang melihat kejadian di tepi kolam itu menyimpulkan kalau Disti menyukai Exel. "Apa yang aku ucapkan salah?" lanjutnya dengan nada sinis.
"Kau terlalu banyak bicara!" sarkas Keysa, setelah mendengar semua kata yang keluar dari mulut Cheryl. "Keluar dari sini sebelum aku sumpal mulutmu dengan perban!" Keysa mengusir Cheryl sebelum gadis itu berbicara omong kosong lebih banyak lagi.
Sambil terus bersungut, Cheryl pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Apa kamu juga berpikir kalau Disti menyelamatkanmu karena dia menyukaimu?" tanya Keysa kepada Exel setelah kepergian Cheryl.
"Entahlah," jawab Exel seraya mengedikan bahu. Kemudian, ia berpikir untuk memanfaatkan kebersamaannya saat ini untuk menyatakan cinta kepada Keysa.
Namun, tiba-tiba suara dering ponsel Keysa menggagalkan rencananya.
"Key, bisa datang ke klub sekarang tidak?" ucap Ezra, setelah panggilan mereka tersambung.
"Memangnya ada apa?" tanya Keysa, saat mendengar nada panik dari suara Ezra.
"Dev mabuk dan membuat kekacauan di sini," tandas Ezra, memberitahukan Keysa tentang keadaan Devano yang sedang menggila di club tanpa ada orang yang bisa mencegahnya.
Ezra manggut-manggut saat mendengarkan penjelasan dari Keysa. Namun, ia masih berharap Keysa mau datang dan menemui Devano yang sedang terpuruk itu. Ezra juga menjelaskan bahwa Devano merupakan anak autis saat masih kecil, dan ayah Devano tidak akan melepaskan Keysa jika penyakit Devano sampai kambuh.
Mendengar cerita dari Ezra, membuat kemarahannya kepada Devano pun luruh. Ia segera bergegas menuju club, menyusul Devano.
Setiba di sana, Keysa menyaksikan Devano yang sedang minum bir. Sudah banyak botol kosong bertengger di depan Devano, bekas lelaki itu minum.
"Mana lagi! Ini sudah habis," racau Devano sambil menegak botol bir yang hanya tinggal setetes, lalu melemparkan botol itu sembarangan. "Mana lagi!" bentak Devano.
Mau tidak mau pekerja di sana memberikan lagi minuman memabukan itu. Devano merebut kasar botol berisi bir itu sambil mendepak semua botol kosong yang ada di hadapannya, hingga pecahan botolnya berserakan di lantai. Bahkan, Keysa yang baru saja datang itu hampir saja terkena pecahan botol tersebut.
__ADS_1
Keysa lantas melangkahi pecahan-pecahan botol tersebut, lalu merebut bir dari tangan Devano. "Dev, apa yang kau lakukan?" bentak Keysa.
"Berikan minu—" Devano yang tidak terima minumannya diambil langsung membentak balik Keysa. Namun, ucapannya tersekat saat menyadari yang melarangnya adalah Keysa.
Devano tidak melanjutkan ucapannya dan memilih pergi. Ia yang takut Keysa meminta putus langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Dev, tunggu! Mau ke mana?" Keysa mengejar Devano dan mencoba berbicara dengan lelaki itu. Namun, jangankan menjawab, lelaki itu malah semakin melebarkan langkahnya. "Dia kenapa?" Ada rasa ngilu yang bergelenyar di dada saat diabaikan— Devano tidak mau berbicara dengannya.
"Apa-apaan ini? Seharusnya aku yang marah karena dia sudah berbuat semaunya saja. Tapi, kenapa malah aku yang diabaikan?" rutuk Keysa, menyaksikan Devano yang masuk ke mobil dan meninggalkannya, tanpa bicara sepatah kata pun. Kemudian, gadis itu menghentikan taksi dan meminta si sopir untuk mengikuti mobil Devano.
Keysa yang khawatir dengan kondisi Devano yang menyetir sambil mabuk, memilih untuk mengikuti lelaki itu. Devano pergi ke rumah Ezra.
Setiba di rumah Ezra, Keysa masih khawatir meskipun lelaki itu sudah sampai dengan selamat di rumah Ezra. Ia pun mengikuti Devano sampai ke kamar.
Dari ambang pintu, Keysa melihat Devano yang sedang meringkuk di depan jendela dengan keadaan kamar yang samar-samar. Lelaki itu tidak menyalakan lampu kamarnya.
"Kenapa kau jadi seperti itu?" Melihat keadaan Devano, membuat hati Keysa semakin terasa ngilu. Keysa lantas menghampiri Devano dan memeluknya dari samping. Namun, tidak ada tanggapan dari Devano. Lelaki itu masih diam dengan memeluk lututnya sendiri.
Mendapati Devano yang tidak menanggapinya, Keysa lantas memeluk Devano dari depan.
__ADS_1