
92
Ezra teringat saat kecil ia pernah melihat Devano menari, tetapi setelah itu Ezra tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat lagi. Namun, tidak disangka demi Keysa, Devano rela tampil menari di depan umum.
"Ternyata dia benar-benar serius dengan perasaannya," gumam Ezra dengan senyum yang menghiasi wajah.
Kolaborasi Devano dan Keysa berlangsung selama sepuluh menit. Suara tepuk tangan pun terdengar lebih keras daripada saat penampilan Liza tadi. Semua orang memuji penampilan dan Keysa.
"Keren! Penampilan mereka sangat keren. "
"Duet yang sangat apik."
"Ini penampilan terkeren yang pernah aku lihat." Masih banyak lagi pujian dari penonton yang terlontar untuk Keysa dan Devano.
Keysa dan Devano saling berpegangan tangan, kemudian membungkuk secara bersamaan dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, keduanya pun turun dan kembali ke belakang panggung.
Keysa menatap lelaki yang baru saja mempersembahkan tarian yang begitu indah hingga membuat semua penonton mengagung-agungkan nama mereka. Wajah tampan itu tampak dipenuhi keringat. Keysa pun lantas mengambil tisu dari tas-nya yang tergeletak di meja, kemudian mengelap keringat Devano. Membuat lelaki itu mematung oleh perhatian Keysa.
"Terima kasih," ucap Keysa, kemudian mencium bibir Devano dari balik masker. Dan, berhasil membuat Devano yang sudah mematung semakin mematung lagi, bahkan jantungnya terasa berhenti berdetak sejenak oleh perbuatan Keysa yang tiba-tiba mencium bibirnya.
Dengan tubuh yang masih mematung, Devano memegang bibirnya sendiri. "Dia menciumku lagi? Apa ini bukan mimpi?" gumamnya dengan senyum yang mengembang. "Ya, dia menciumku. Tapi dia kemana?" gumamnya lagi. Saat Devano tersadar dari ciuman sekilas yang diberikan Keysa, ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana. Keysa sudah kembali ke panggung.
__ADS_1
Di meja juri, para juri tampak sedang berdiskusi hasil lomba. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka pun mengumumkan hasil lomba babak pertama. Liza diumumkan sebagai juara kedua, sedangkan juara pertama dimenangkan oleh Keysa.
Liza sangat marah dengan hasil pengumuman juri. Ia yang dipanggil untuk maju ke tengah panggung bersama Keysa pun, sengaja menabrakkan tubuhnya pada Keysa yang juga sedang berjalan menuju tengah panggung. Untung saja, Arsen berdiri di dekat Keysa. Lelaki itu langsung menahan tubuh Keysa yang hampir saja tersungkur.
"Are you ok?" gumam Arsen dengan tangan memegang bahu Keysa dan membantu Keysa berdiri tegak kembali.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Kak," ucap Keysa dengan seutas senyum yang tertampil.
"Kau curang! Dari semua peserta hanya kau yang memakai masker. Seharusnya kau membuka maskermu. Ini curang namanya," sarkas Liza dengan tangan yang hendak membuka paksa masker Keysa.
Namun, dengan cepat Keysa menghindar. "Kenapa aku harus membuka maskerku? Kalau masker ini salahsatu properti yang aku gunakan dalam kontes malam ini," ucap Keysa dengan begitu tenang. Bertahan untuk tidak tersulut emosi.
Sementara itu, Devano masih berdiri di belakang panggung menunggu Keysa kembali. Lelaki itu tampak sedang bersandar pada salahsatu tiang dengan diam seribu bahasa.
Pikiran Devano masih berkelana pada adegan Keysa saat tiba-tiba menciumnya. "Apa dia menyukaiku?" Devano merasa kalau Keysa menciumnya karena rasa suka gadis itu terhadapnya.
Keysa baru saja turun dari panggung dan mendapati Devano masih berdiri di tempat tadi saat Keysa meninggalkan lelaki itu. Devano hanya berdiam diri, tetapi entah mengapa melihat pemandangan itu, Keysa merasa lelaki sangat tampan dan cool.
"Kau masih di sini?" tanya Keysa, menghampiri Devano.
Devano menoleh ke arah suara, lalu mengangguk pasti. "Kenapa tadi kamu menciumku?" tanya Devano to the point. Ia sudah gatal untuk menanyakan hal itu.
__ADS_1
"Karena aku terpesona oleh tarianmu dan sebagai ucapan terima kasih," jawab Keysa dengan seutas senyum yang tertampil.
"Benarkah?" Devano menarik tubuh Keysa untuk menghadap ke arahnya. Ia tidak yakin dengan jawaban Keysa, atau lebih tepatnya tidak puas dengan jawaban gadis itu.
Devano menatap intens Keysa dengan jarak yang sangat dekat membuat Keysa menelan ludahnya sendiri yang tiba-tiba terasa kering. Kemudian lelaki itu melepaskan masker Keysa secara perlahan. "Key—"
"Aku kebelet pipis. Aku duluan, ya!" Keysa langsung memotong ucapan Devano. Ia yang menyangka Devano ingin menciumnya langsung melarikan diri.
"Hei, aku belum selesai bicara," rutuk Devano yang ditinggalkan begitu saja. Padahal, dia hampir saja menyatakan perasaannya kepada Keysa. "Arrgh ...." Devano meremas udara dengan gemas.
Keysa pun memilih kembali ke asrama. Sepanjang perjalanan, perlakuan Devano terus terlintas di pikirannya bergantian dengan ucapan Devano saat di goa yang menyebutkan kalau lelaki itu menyukainya. Bahkan, Devano rela menari hanya untuknya. "Baiklah, mari kita lihat sejauh mana kamu menyukaiku?" gumam Keysa, memutuskan untuk melihat seberapa besar lelaki itu menyukainya.
Saat sampai di kamar, tampak Disti sudah ada di kamar dengan senyum yang mengembang. Kemudian, ia mengucapkan selamat atas keberhasilan Keysa. "Selamat, ya, Key. Kau memang the best!" Disti memeluk sahabatnya itu. Ia sangat kagum kepada Keysa yang bisa mengalahkan para finalis di ronde pertama tadi.
"Terima kasih," jawab Keysa dengan senyum yang juga tertampil di wajahnya.
"Kamu tahu tidak? Semua orang tadi pada bergosip kalau kalian itu sudah pacaran, sampai-sampai Devano bela-belain menari. Sesuatu yang tidak pernah Devano tunjukkan sampai detik tadi di panggung. Key, kau luar biasa! Bisa membuat seorang Devano bertekuk lutut demi mendapatkan cintamu," ucap Disti panjang lebar, mengingat semua gosip yang didengarnya saat berada di bangku penonton.
'Apa dia benar-benar menyukaiku?' tanya Keysa dalam hati. Meskipun hati kecilnya sudah menyadari kalau Devano benar-benar menyukainya.
Tidak ingin terus larut dalam perasaan dirinya dan Devano, Keysa lebih memilih menyiapkan barang untuk keperluan babak selanjutnya yang akan dilaksanakan besok. Karena kontes besok berkaitan dengan kolam renang, Keysa pun menyiapkan barang-barang make up anti air dan masker.
__ADS_1