Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
195


__ADS_3

"Apa kau tidak punya mata? Sampai aku yang segede gini kau main tabrak saja!" Exel mengambil kasar ponsel di tangan Disti sambil memakinya.


"Maaf, aku tidak sengaja. Aku buru-buru karena Keysa mencariku." Disti berucap apa adanya. Sebelum keluar kamar mandi, ia mendapatkan panggilan dari Keysa yang mencari keberadaannya. Membuat Disti buru-buru pergi dan akhirnya menabrak lelaki yang juga hendak pergi ke toilet itu.


"Kau yang punya salah malah menyalahkan orang lain, dasar Wanita tidak tahu malu! sarkas Exel, kembali memaki Disti. Entah ada apa dengan Exel, setiap bertemu Disti selalu saja berubah menjadi si pahit lidah. Kata makian meluncur dengan sangat mudah bagi Disti, tanpa peduli orang itu sakit hati atau tidak. "Oh, aku tahu. Kau sengaja melakukan ini untuk menarik perhatianku. Iya, 'kan? Jangan harap aku akan terjerumus dengan rayuan dari sampah sepertimu," lanjutnya, dengan ucapan yang semakin pedas dan menyakitkan.


Kata-kata Exel begitu menusuk relung hati Disti. Perasaannya terasa dicabik-cabik oleh setiap kata yang terucap dari lelaki yang mencoba dibencinya, tetapi tidak pernah bisa. Disti menunduk sambil memegang erat tali tas selempang, menguatkan diri sendiri agar tidak menangis dan terlihat lemah di hadapan lelaki itu. Disti mencoba menarik napas pelan untuk menetralkan perasaan, lantas mendongak ke arah lelaki yang masih mengeluarkan kata cacian untuknya.


"Jangankan salah. Aku benar saja, di matamu akan tetap salah. Terserah kamu percaya atau tidak, aku sungguh-sungguh tidak sengaja. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menggoda, apalagi mencuri kesempatan untuk mendekatimu. Aku tahu diri. Aku bukan orang yang pantas untukmu. Karena ketahuan diri itu, aku tidak pernah mengharapkan perasaan apapun.


"Kesalahanku adalah bisa-bisanya mencintai lelaki berdarah dingin seperti dirimu yang lebih mementingkan ego dan hawa naffsu. Tapi, kamu tenang saja, aku akan membuang jauh-jauh perasaan itu. Mungkin dengan seperti itu kamu akan bisa hidup tenang karena tidak ada lagi sampah yang menyukaimu," lanjut Disti, lalu berjalan melewati Exel.


Disti akan membuang jauh perasaannya. Mendengar kata itu, dada Exel terasa akan meledak dan semakin tidak bisa mengontrol emosi. Tangan Exel mengepal sempurna dengan hati yang tidak bisa menerima perkataan Disti. Hati dan kepala Exel memang tidak pernah sinkron jika menyangkut gadis yang disebut sampah olehnya itu. Ia berbalik, kemudian menarik Disti dan mendorongnya ke dinding. Exel mengunci Disti dalam kungkungan.


"Exel kamu ini apa-apaan? Lepaskan aku!" Disti mencoba memberontak, tetapi tenaga lelaki itu sangatlah kuat.


Lelaki itu tidak menjawab ataupun melepaskan Disti. Bibirnya bekerja lebih cepat, menghukum bibir yang bicara akan membuang jauh perasaan terhadapnya. Seharusnya ia bahagia saat orang yang dibencinya itu mengatakan hal tersebut, tapi entah mengapa saat ini hatinya tidak terima. Exel mencium kasar bibir Disti, berharap gadis itu menarik ucapannya.


"Awww ...." Sejurus kemudian, Exel melepaskan pagutannya saat Disti menginjak kaki dan menggigit bibir Exel. "Apa yang kau lakukan?"


"Harusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan?" Disti mendorong tubuh yang masih berada di hadapannya hingga terhuyung ke belakang, lalu meninggalkan Exel begitu saja.


"Berani sekali kau melakukan ini padaku. Aku akan membalasnya." Exel berteriak, tidak terima dengan perlakuan Disti yang menolak ciumannya.


Sementara itu, Disti terus berjalan tanpa menoleh seakan tidak mendengar ucapan Exel, hingga tanpa terasa bulir bening menetes begitu saja. 'Kenapa hatiku bisa jatuh cinta kepada orang sepertimu? Si pahit lidah dan arogan.'


***


Disti kembali ke acara pesta, menemui Keysa yang masih berbincang dengan Zack dan Felix.

__ADS_1


"Habis dari mana?" tanya Keysa, merasa khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Disti seperti di acara pesta sebelumnya.


"Habis dari toilet." Disti menjawab dengan seulas senyum.


"Aman, kan?" Entah kenapa Keysa merasa sangat khawatir saat Disti tidak ada di dekatnya.


Disti mengangguk. Disti tidak ingin Keysa tahu apa yang telah dilakukan Exel sebelum dirinya sampai di tempat Keysa. Keysa pun mengangguk setelah mendapat jawaban dari Disti.


Namun, kelegaan Disti tidak berlangsung lama. Jantungnya langsung berdegup sangat kencang saat melihat lelaki yang tadi ditabraknya menghampiri mereka. 'Apa dia belum puas mencari masalah denganku?' gumamnya dalam hati, dengan tangan yang refleks memainkan tali tas.


"Hai, Key!" Exel ternyata datang bukan untuk Disti.


Lelaki itu menyapa Keysa dengan begitu ramah dan tatapan yang lembut. Berbanding terbalik dengan setiap kali berhadapan dengan Disti. Membuat hati Disti lagi-lagi terasa dicabik-cabik. Sakit.


"Hai." Keysa hanya menjawab seperlunya.


"Aku tidak menyangka Devano berani mengundangmu di hari pertunangannya sendiri. Dia sama sekali tidak menghargai perasaanmu, ya. Dia terlalu rakus, sudah memiliki calon tunangan masih saja ingin menjadikanmu kekasihnya. Apa dia tidak tahu kalau kamu akan terluka melihat semua ini," ucap Exel.


"Apa Devano tidak memberitahumu? Tega sekali dia."


"Memberitahu apa?" Keysa semakin dibuat tidak sabaran oleh ucapan Exel yang sengaja mempermainkan perasaannya.


"Sebenarnya ini bukan hanya sekadar pesta perusahaan, tetapi juga pesta pertunangan Devano dan Cheryl," ucap Exel, yang berhasil membuat Keysa dan tiga temannya terperangah. "Devano tidak sebaik dan sesetia yang kamu bayangkan, Key. Dia masih sama seperti dulu 'playboy'." Exel mencoba menghasut Keysa.


"Kalau dia tidak baik, kenapa kamu mau adikmu tunangan dengannya?" Keysa masih mencoba tidak percaya dengan ucapan Exel.


"Itu karena ...."


Belum sempat Exel melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba dari panggung terdengar Damar yang sedang memberikan pengumuman. Ia yang berdiri di atas panggung, memanggil Cheryl untuk bergabung dengannya dan Devano yang sudah ada di panggung, lantas mengumumkan pertunangan Devano dan Cheryl. Semua orang pun dibuat terkejut oleh berita itu, termasuk Devano sendiri.

__ADS_1


Di bawah panggung, Keysa masih menatap tidak percaya. Ada rasa kecewa kepada lelaki yang sedang berdiri dengan Damar itu. Setelah seminggu berlibur di desa dan menghabiskan hari bersama, sekarang Keysa mendapat kabar yang sangat mengejutkan, bahkan dunianya terasa runtuh seketika.


Exel yang melihat wajah terkejut sekaligus kecewa setelah mendengar pengumuman langsung dari Damar, tampak berseringai. "Kamu dengar sendiri, kan, Key? Devano akan bertunangan dengan Cheryl. Adikku sangat mencintai Devano, jadi aku tidak bisa mencegah pertunangan ini. Lagipula, mereka sudah dijodohkan sejak lama. Jadi, meskipun Devano suka bermain-main dengan banyak wanita, tetapi dia tahu tempatnya untuk pulang. Itu adalah Cheryl bukan kamu. Bukalah hatimu, jangan mau dipermainkan oleh Dev." Exel mengompori hati Keysa yang sudah seperti gas 12 kg yang siap meledak.


Sementara itu, di atas panggung, Devano langsung memprotes tindakan Damar. "Daddy ini apa-apaan? Siapa yang akan bertunangan dengan Cheryl?" Devano yang tidak tahu tentang acara pertunangan meminta penjelasan.


"Kamu. Kita akan bertunangan malam ini. Bukankah semua ini sudah direncanakan sejak setahun lalu. Apa kamu sudah lupa, Dev?" Cheryl ikut angkat bicara.


"Aku tidak pernah ingin bertunangan denganmu. Kenapa kalian memutuskan sepihak seperti ini?"


"Ini bukan keputusan sepihak, kedua keluarga sudah setuju," ungkap Damar.


Devano membuang napas kasar. Ia tidak senang dengan keputusan sepihak tanpa mempertanyakannya dulu kepadanya. Berdebat di depan umum pun tidak akan ada gunanya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Devano yang sebelumnya akan menyambut para tamu dengan pencapaiannya yang telah berhasil meluncurkan produk ponsel terbaru langsung turun dari panggung. Ia meninggalkan Damar yang masih memanggilnya untuk kembali ke podium.


Sementara itu, Keysa yang memerhatikan dari jarak tidak jauh, sedikit mulai paham bahwa pertunangan itu tanpa sepengetahuan Devano. Ia yang hampir termakan ucapan Exel pun, merasa lega setidaknya Devano tidak sejahat yang Exel katakan.


"Kita pergi dari sini!" Devano menarik tangan Keysa dan meninggalkan pesta begitu saja.


"Dev, kau mau ke mana? Kembali ke panggung!" perintah Damar, saat melihat Devano menarik Keysa meninggalkan acara pesta.


Namun, Devano tidak mengindahkan ucapan Damar. Ia terus menarik Keysa tanpa menoleh ke arah suara yang memintanya kembali. Bahkan, tatapan serta kasak-kusuk para tamu undangan tidak dipedulikannya.


"Dev, kembali! Jangan meninggalkan pesta begitu saja. Ini adalah hari pertunanganmu," tandas Damar lagi. Namun, tetap tidak didengar.


Devano membawa Keysa meninggalkan Pesta. Tanpa bisa dicegah, ia mengendarai mobil sportnya, membawa Keysa ke puncak. Tidak ada pembicaraan antara keduanya sejak keluar dari pesta. Keysa yang ditarik begitu saja oleh Devano, masih mencoba mencerna semua yang terjadi. Sementara itu, Devano yang dipenuhi kemarahan mencoba fokus pada jalanan.


"Daddy telah merusak recanaku." Setelah mobil berhenti di puncak, Devano angkat bicara.

__ADS_1


"Rencana?" Keysa menoleh ke arah lelaki yang baru mengeluarkan suara setelah dua puluh menit membisu.


Devano mengangguk pelan, lantas menoleh ke arah gadis yang juga sedang melihat ke arahnya. "Sebenarnya di acara pesta tadi aku ingin melamarmu, bukan melamar Cheryl. Daddy membuat semuanya menjadi kacau," tandas Devano, kemudian mengeluarkan cincin dari saku jas yang dipakainya dan melamar Keysa. "Keysa, will you marry me?"


__ADS_2