Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
85


__ADS_3

85


Keysa menoleh sekilas ke arah Devano yang baru saja mengatakan kalau lelaki itu menyukai dirinya dalam versi jelek. Senyum tipis pun tertampil di wajah Keysa. Ia merasa Devano itu terlihat sangat lucu dan polos saat terang-terangan mengungkapkan perasaannya terhadap dirinya yang versi jelek. 


Sementara itu, Devano yang melihat Keysa sedang melamun malah mengira Keysa tidak enak badan. "Apa kau sakit?" tanya Devano. 


Keysa menggeleng sembari memeluk lututnya sendiri dengan dagu yang dibiarkan menempel seperti yang dilakukan Devano. "Mengapa kamu bisa menyukai gadis itu?" tanya Keysa.


"Dia itu gadis yang istimewa. Dia setia kawan, suka menolong dan dia tidak suka jika ada temannya yang tindas. Dia gadis pemberani yang  kuat dan juga pekerja keras. Dia juga sangat pintar." 


Devano menceritakan semua kelebihan Keysa. Keberanian Keysa meskipun terus-terusan direndahkan karena penampilan dan status sosial, serta kebaikan Keysa yang rela menjadi tameng sahabat-sahabatnya dalam menyelesaikan setiap masalah. 


"Sepertinya kamu sangat mengenal Keysa itu, ya?" tanya Keysa, setelah mendengar penuturan Devano yang terlihat sangat mengerti dirinya. 


"Tentu saja," jawab Devano dengan seringai lebar menghiasi wajah. 


"Aku ingin mendengar lebih banyak tentang gadis yang kamu sukai. Sepertinya dia gadis yang unik, siapa tahu suatu hari nanti kamu mau mengenalkannya padaku," tandas Keysa, kemudian. 


Mendengar permintaan Keysa, Devano pun dengan antusias menceritakan tentang Keysa. Senyum terus terpatri di wajah Devano saat menceritakan sang pujaan hati. Bagaimana pertama kali mereka bertemu, serta pertengkaran-pertengkaran yang akhirnya menumbuhkan rasa cinta, bahkan saat ia rela menunggu Keysa sampai hujan-hujanan pun tak luput diceritakannya. 


 


Hingga, akhirnya Devano keceplosan dan membocorkan tentang dirinya yang pura-pura tidur saat Keysa menciumnya  ketika sakit. 


'Oh, My God jadi dia hanya pura-pura? Dan ciuman itu ....' Keysa menjadi kesal dan malu jika harus mengingat kejadian waktu itu. 


"Wah, jangan-jangan sakitnya juga pura-pura, ya?" selidik Keysa, bercanda, tetapi penuh selidik. 

__ADS_1


"Tadinya iya, mau pura-pura tapi malah sakit beneran. Meskipun lebih banyak di dramatisasi-nya," ujar Devano dengan seringai lebar, saat menceritakan dalam beberapa kasus ada sengaja dilebih-lebihkan. 


Mendengar hal itu, Keysa hanya bisa mengepal. Ingin rasanya ia menimpuk kepala lelaki yang sudah mengerjainya dan memaki juga, tetapi saat ini ia sedang menjadi Faya bukan Keysa. 


"Itu namanya kualat," sarkas Keysa tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Akan tetapi, sejurus kemudian ia mencoba mengontrol emosinya lagi. "Kenapa kamu melakukan hal itu? Bukankah jika Keysa tahu kebenarannya bisa jadi ia akan marah padamu?" tanya Keysa lagi, menyelidiki lebih jauh. 


Keysa sengaja menjebak Devano dengan pertanyaan-pertanyaan untuk tahu sejauh mana perasaan lelaki itu terhadapnya. Sehingga, Keysa juga mengetahui kalau  Ezra membantu Devano untuk mendapatkan Keysa, bahkan Ezra sampai mengundang Keysa ke acara ulang tahun Selena itupun untuk mendekatkan Keysa dan Devano. 


"Oh, ya, aku mo sekalian minta maaf," ucap Devano setelah bercerita panjang lebar yang berhasil membuat Keysa sedikit shock mendengarnya. 


"Minta maaf untuk apa?" Keysa menyipitkan mata. 


"Aku mengklaim hadiah pilihanmu sebagai hadiah pilihan Keysa karena aku tidak mau Keysa dipermalukan di acara Tante Selena," ujar Devano. Ia merasa tidak enak hati telah melakukan itu. 


"Itu tidak masalah santai saja," ucap dengan seutas senyum. 


Keysa menggeleng, membuat Devano bernapas lega. "Lalu bagaimana dengan hubungan kamu dan Ezra?" tanya Devano, kemudian. 


"Maksudnya?" 


Devano tahu bahwa Keysa versi Faya memiliki latar belakang yang kuat, tetapi tetap saja ia meminta Keysa untuk menerima Ezra. 


"Ezra, lelaki yang baik. Ia tidak pernah bermain perempuan. Cobalah untuk menerima cintanya! Dia sangat tulus padamu," tutur Devano, berharap gadis di sampingnya itu mau membuka hati sang sahabat. 


"Tapi aku tidak memiliki perasaan untuknya. Akan sangat jahat kalau aku menerimanya tanpa ada perasaan apapun dan ujung-ujungnya Ezra juga yang terluka." Keysa mencoba menjelaskan perasaan yang dimilikinya untuk Ezra. "Kenapa tidak bersama Liza saja? sepertinya mereka cocok. Liza juga sepertinya menyukai Ezra," lanjutnya. 


"Aku, Ezra dan Liza adalah teman sejak kecil, tidak mungkin ada perasaan semacam itu diantara kami," tandas Devano, sambil melirik Keysa. "Apa kau kedinginan?" lanjut Devano.

__ADS_1


Dilihatnya, Keysa yang tampak mulai kedinginan sampai menggulung diri dengan tubuh yang menggigil. Devano pun lantas membuka jaketnya dan memakaikannya kepada Keysa. 


"Terima kasih," jawab Keysa dengan suara bergetar karena menggigil. 


"Apa masih dingin?" tanya Devano lagi, melihat tubuh Keysa yang tetap menggigil dengan wajah yang memucat. 


Keysa hanya mengangguk, pelan. Devano pun mendekati Keysa dan memeluk gadis itu memberikan sedikit kehangatan pada tubuh yang sudah sedingin es itu. "Tenanglah aku tidak akan berbuat macam-macam padamu!" ucap Devano, sebelum Keysa mengatakan apapun. 


Ya, Devano hanya memeluk Keysa tanpa  berbuat macam-macam. Niatnya hanya melindungi gadis itu untuk tetap hangat jangan sampai terserang hipotermia. Di dalam dekapan Devano, diam-diam Keysa menampilkan seutas senyum. Ia tidak menyangka ternyata Devano orang baik. 


Dua jam kemudian, Ezra menemukan menemukan  mereka. Keysa dan Devano pun diselamatkan tim penyelamat untuk keluar dari tempat itu. Namun, tiba-tiba sekelompok orang misterius berpakaian tentara membawa paksa Keysa. Tim penyelamat, Ezra dan Devano berusaha menolong Keysa, tetapi sekelompok orang itu sangat kuat dan bukan tandingan mereka. 


"Kalian siapa? Kenapa membawa paksa aku seperti ini?" tanya Keysa kepada orang-orang berpakaian tentara itu saat mereka sampai di sebuah bangunan. 


Tidak ada satupun dari mereka yang bicara, tetapi terdengar seseorang yang sedang berbicara kepadanya tanpa memperlihatkan muka. "Bagaimana jalan-jalanmu apa menyenangkan?" Suara berat yang sangat Keysa kenal terdengar, tetapi entah dari mana. 


"Kakek? Kau kah itu? Kakek di mana? Jangan maen petak umpet begini," tandas Keysa, sembari mengedarkan pandangan mencari keberadaan pemilik suara itu. 


Namun, nihil. Kakek Surya tidak ada di sana. Hanya seorang anak buah kepercayaannya yang menampakkan diri dengan ponsel di tangannya, tempat berasal suara itu. Ia pun memberikan ponselnya kepada Keysa. 


"Sudah cukup bersenang-senangnya. Jadi, sekarang waktunya kau pulang!" tandas Kakek Surya begitu ponsel itu berada di dekat telinga Keysa. 


Orang-orang itu ternyata bertugas untuk menjemput Keysa pulang. Kakek Surya berjanji tidak akan memaksa Keysa untuk menikah, tetapi Keysa harus ikut pulang bersama anak buahnya. 


"Tapi, Kek. Aku tidak bisa pulang sekarang," ucap Keysa, memelas. Keysa juga menjelaskan dirinya yang ingin mengikuti kontes putri kampus. 


"Tidak perlu ikut yang seperti itu. Kau sudah pasti menang," sarkas Kakek Surya. Karena siapa yang akan menyangka kalau Keysa itu adalah mahasiswi tercantik di ibu kota, tempatnya tinggal. 

__ADS_1


"Setidaknya izinkan aku di sini sampai aku memenangkan kontes itu," ucap Keysa lagi. 


__ADS_2