Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
153


__ADS_3

"Maaf, Tuan, dari info yang saya dapat ada salah satu dari mereka ada yang memberikan obat kuat pada salah satu jus untuk tamu di sana." Pelayan itu memberikan penjelasan sesuai dengan info yang didapatnya. 


"Obat kuat?" ujar Damar sambil melempar kertas ke atas meja, tersentak mendengar kabar dari  si pelayan.


Pelayan itu mengangguk pasti. 


Di ruang karaoke, Keysa dan teman-temannya sedang menikmati nyanyian mereka yang seirama dengan musik. Disti memberikan jus yang dibawanya kepada Keysa sesuai permintaan Exel, tanpa tahu bahwa di dalam gelas itu sudah diberi obat perangsang. 


"Makasih, Dis," ucap Keysa begitu mendapatkan jus mangga dari Disti. 


Ia pun meminumnya. Namun, baru saja menyeruput sedikit, Devano yang sedang memamerkan suara emasnya kepada sang kekasih langsung merebut minuman di tangan Keysa. 


"Dev, itu minumanku," protes Keysa, saat melihat Devano meminum jus itu sampai kandas. 


"Haus, Key." Devano berucap seraya mengusap bibirnya yang basah menggunak punggung tangan lantas memberikan gelas kosong kepada Keysa. 


Keysa hanya mencebik, tetapi tidak mengomel lagi. Ia menyimpan gelas kosongnya ke meja. 


"Nyanyi  duet, ya!" Devano memberikan satu mikrofon kepada Keysa, mengajak gadis di sampingnya untuk menyanyi bersama. 


Keysa tersenyum sambil mengangguk. Namun, di saat Keysa akan mengambil mikrofon, tiba-tiba seseorang masuk  menerobos ke ruangan itu dan menarik Devano keluar. 


"Dad, apa-apaan ini!" protes Devano begitu dirinya ditarik paksa oleh Damar. 


"Kau harus pergi dari tempat ini," tandas Damar dengan tangan terus menyeret Devano. 

__ADS_1


Sementara itu, Keysa hanya termangu dengan tangan yang terulur hendak meraih mikrofon yang terbawa oleh Devano. "Ayahnya Devano terlihat panik sekali, apa ada masalah dengan pencarian istrinya?" gumam Keysa, menatap kepergian ayah dan anak itu. 


Ingin menyusul keduanya, tetapi dengan cepat dihadang Exel yang mengajaknya bernyanyi bersama dengan Disti juga. Keysa pun terpaksa mengiakan. Menyusul Devano juga tidak tahu  mereka pergi ke mana. 


Damar membawa Devano ke dalam mobil meskipun Devano terus mendumel karena tidak terima ditarik paksa seperti anak kecil. Sepanjang perjalanan Devano terus menyalahkan sang ayah yang telah mengganggu waktunya bersama Keysa, belum lagi penyeretannya pasti dijadikan bahan gosip orang-orang. 


Devano yang masih bicara panjang lebar, tiba-tiba terdiam. Ia merasa seluruh tubuhnya memanas tidak karuan, bahkan AC di mobil pun tidak bisa mengobati tubuhnya yang kegerahan. Devano juga merasa gelisah tidak jelas.


Damar melirik ke arah lelaki yang duduk di sampingnya dengan tatapan curiga. "Kamu kenapa, Dev?" 


"Hawa mobilnya panas sekali," ucap Devano dengan keringat yang mulai bercucuran. Ia pun langsung membuka kancing baju yang dikenakan. 


"Apa kau meminum obat perangsang?" Kepala Damar langsung tertuju kepada berita yang dibawa si pelayan. 


"Buat apa aku minum obat perangsang. Mau nyiksa diri sendiri kalau  pemuasnya saja tidak ada," sarkas Devano, merasa tuduhan Damar tidak masuk akal. 


"Jadi jus yang aku minum ada obat kuatnya?" Devano menoleh ke arah lelaki di balik kemudi dan dijawab anggukkan Damar. "Oh, My God, ini tidak benar. Berarti ada seseorang yang hendak memberikan jus itu kepada Keysa." Devano mengguyar rambutnya dengan kasar, bahkan obat itu semakin memperlihatkan efeknya. 


"Putar balik, Dad! Aku harus menyelamatkan Keysa. Dia juga meminumnya meskipun tidak sebanyak yang aku minum." Devano meminta Damar untuk kembali ke hotel, tetapi ditolak Damar. "Kalau begitu hentikan mobilnya, biar aku pergi ke sana sendiri," sarkas Devano. Ia tidak mau terjadi sesuatu kepada Keysa. 


"Jangan gila Dev! Yang ada kau malah membuat kekacauan dengan pergi ke sana." Damar melarang dan tidak mau menghentikan mobilnya, hingga Dev pun berebut kemudi untuk menghentikan mobil. 


Di ruangan karaoke, kesadaran Keysa mulai menurun. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing, bahkan untuk sekedar melihat saja ia harus menyipit untuk memokuskan penglihatannya. Orang-orang di sana terlihat seperti ada dua. 


"Dis kita pulang, yuk! Kepalaku pusing sekali," ajak Keysa kepada Disti yang sudah terlihat samar-samar. 

__ADS_1


Disti langsung mengiakan. Ia lantas pamitan dengan alasan Keysa tidak enak badan kepada Exel. Akan tetapi, lelaki itu malah menyuruh  Keysa untuk bermalam di sana dan beralasan demi keselamatan dan keamanan Keysa yang terlihat sudah tidak baik-baik saja. 


Dalam kesadaran yang mulai menurun, Keysa mulai mengerti satu hal, ada seseorang yang meracuninya. Jika memaksa pulang, bisa saja Keysa membuat kekacauan sepanjang jalan. Akan tetapi, jika tinggal di sini  bisa saja orang itu juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertindak lebih jauh. 


'Ya, Tuhan, apa yang harus kulakukan?' Di tengah kesadaran yang dipaksakan untuk tetap waras Keysa mencoba untuk berpikir, hingga akhirnya Keysa menyetujui ajakan Exel. 


Keysa dan Disti masuk ke kamar yang sudah disediakan oleh Exel. Keysa lantas mengunci pintu, kemudian mengatakan apa saja yang sedang dirasakannya. 


"Dis, sepertinya aku sudah diracuni seseorang oleh obat perangsang. Apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak bisa berpikir lagi," gumam Keysa, panik. Keringat juga sudah membasahi tubuh. 


Disti terperangah dengan penuturan Keysa. "Pasti Exel yang telah melakukan ini," gumam Disti dalam hati. Ia baru sadar kalau Exel yang sudah memasukkan obat itu ke minuman yang tadi dibawanya. Namun, Disti juga tidak bisa memberitahu kebenarannya kepada Keysa. 


"Tenanglah jangan panik! Kita cari cara untuk menghilangkan efek obat itu."


 Disti mencoba menenangkan dan berpikir untuk mencari solusi, tetap berada di kamar ini sama saja memberikan domba kepada serigala. Kemudian, sebuah panggilan masuk pada ponsel Disti yang ternyata Exel sebagai penelepon. Dari percakapan Exel, gadis itu semakin paham apa yang sedang direncanakan Exel. Disti pun hanya bisa mengatakan 'ya' atas permintaan Exel yang menurutnya sudah sangat gila. 


Setelah panggilan berakhir, Disti memutuskan untuk membawa Keysa  ke kamar lain.


"Tunggu di sini jangan ke mana-mana. Aku pastikan kamu aman di sini," ucap Disti kepada Keysa. Ia mendudukkan Keysa di tepi ranjang. 


Tubuh Keysa bergetar hebat, ucapan Disti pun terdengar samar-samar tidak jelas. "Kamu bicara apa, Dis?" tanya Keysa, sambil mencubit kakinya untuk mempertahankan kesadarannya dengan mata yang menatap sang sahabat dengan tatapan sayu. 


Disti mengulangi ucapannya dan dijawab anggukan Keysa setelah bisa mendengar lebih jelas. "Baiklah, aku pergi dulu sebentar cari bantuan." Disti tersenyum, kemudian keluar dari kamar tersebut.


Gadis itu memindahkan Keysa ke kamar lain dan menguncinya dari luar. Setelah memastikan Keysa aman, Disti lantas kembali ke kamar pilihan Exel. 

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan ini benar?" gumamnya lagi, menatap pintu kamar yang akan dimasukinya. Disti menggigit ujung kuku telunjuk merasa ragu dengan apa yang akan dilakukannya. 


__ADS_2