Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
202


__ADS_3

Keysa dan Devano makan malam bersama di sebuah hotel bintang lima. Keduanya menikmati kebersamaan mereka tanpa ada Cheryl dan pengganggu lainnya. Keduanya saling jujur dan menceritakan apa saja yang telah dilakukan masing-masing seharian.


"Tadi aku hampir dicium paksa oleh Zian," tutur Keysa, di akhir ceritanya yang berhasil membuat Devano tersentak. Bahkan, makanan yang sudah ada di dalam mulut lelaki itu pun seketika berhambur ke piring lagi.


"Apa? Kamu hampir dicium Zian?" tanya Devano dengan mata yang melotot. "Kamu dicium di mana?"


"Baru hampir, berarti enggak, Dev. Aku berhasil menghindar jadi tidak ada bagian manapun yang dicium," timpal Keysa dengan santai sambil memasukkan makanan ke mulut.


'Seandainya Keysa tidak menghindar berarti bisa jadi dia sudah mencium Keysa.' Membayangkan Zian mencium Keysa saja sudah membuat Devano kepanasan. Tangan Devano tiba-tiba mengepal sempurna, tidak rela tubuh Keysa disentuh oleh orang lain.


"Dev, kenapa malah bengong? Ayo, makan lagi," ucap Keysa, melihat kekasihnya yang tiba-tiba diam dan tidak menyentuh lagi makanan. "Kamu suruh aku jujur, aku jujur. Aku sudah jujur, kamu malah marah. Pada intinya kan ciuman itu terjadi karena aku sudah menghindarinya, lalu apalagi yang dipermasalahkan?" Keysa menatap Devano, tahu alasan diamnya lelaki itu.


"Aku percaya padamu tapi tidak dengan lelaki itu. Bagaimana jika saat tidak bersamaku dia mencoba menciummu lagi, bahkan bisa jadi dia memaksamu lebih." Devano menatap Keysa dengan wajah yang muram. "Key, aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain. Aku benar-benar mencintaimu." Devano meraih tangan yang berada di atas meja, menggenggamnya erat dan mengecupnya. Gurat ketakutan akan kehilangan terlihat jelas dari ekspresi wajah lelaki itu.


"Aku hanya milikmu. Tidak akan ada orang lain yang akan merebutku darimu," gumam Keysa, meyakinkan.


Devano mengangguk, mencoba percaya dengan kata-kata Keysa meskipun hatinya masih tidak yakin. Saingannya bukanlah orang biasa, ia sudah mencari tahu tentang Zian. Persaingan di antara mereka sangat kuat dari segi apapun. Sedikit saja Keysa memberi harapan kepada Zian maka semuanya akan berbanding terbalik.


"Kamu harus menjadi milikku seutuhnya," gumam Devano dalam hati, tetapi ia bingung harus mengatakan kepada Keysa dengan cara seperti apa. Ia sudah berjanji tidak akan melampaui batas.


"Key ...." Devano tidak melanjutkan ucapannya.


"Ada apa?"


"Tidak jadi," gumamnya lagi.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Jika itu bisa membuatmu yakin kalau aku hanya milikmu," gumam Keysa, seakan-akan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Devano.


"Tapi ...." Banyak pertimbangan yang dipikirkan Devano, tetapi ia juga tidak ingin kehilangan Keysa jika suatu saat Zian juga berbuat nekad.


"Aku juga takut kehilanganmu. Mungkin dengan itu, kita bisa saling mengikat satu sama lain dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi," ucap Keysa, yang sejujurnya juga takut jika Cheryl benar-benar akan melakukan hal nekad lain, dan membuat Devano menjauh darinya. Setidaknya jika ada sesuatu milik Devano, Keysa bisa membuat lelaki itu tetap di sisinya.


Setelah banyak pertimbangan demi kelangsungan hubungan mereka yang terlalu rumit dan banyak cobaan sana-sini, Keysa dan Devano meninggalkan restoran hotel. Keduanya masuk ke kamar yang sudah dipesan. Dengan penuh cinta akhirnya mereka menyatukan hubungan mereka dengan penyatuan di kamar hotel.


Setelah mencoba bersabar dan tidak melewati batas terakhir, akhirnya demi kelangsungan hubungan mereka, Keysa dan Devano nekad melakukan hubungan intiim.


***


Keesokan paginya, Devano bangun lebih awal dengan Keysa yang masih berada dalam dekapannya. Kejadian semalam terlintas kembali di kepala Devano. Wajah menggemaskan Kesya dengan suara-suara aneh yang membuat Devano semakin mabuk kepayang berhasil membuat wajah Devano bersemu merah.


"Aku mencintaimu. Terima kasih untuk semalam." Devano mengecup kening Keysa, kemudian perlahan memindahkan kepala Keysa yang berbantal lengannya ke bantal.

__ADS_1


Tidak ingin membangunkan Keysa yang tidur sangat pulas setelah semalam berpetualangan di lautan cinta, Devano perlahan turun dari tempat tidur kemudian bergegas ke kamar mandi membersihkan badan.


Waktu sudah menunjukkan jam 07.00 pagi saat Devano keluar dari kamar mandi, sedangkan Keysa masih asyik bergelut dengan dunia mimpi. Devano harus segera pulang ke Kota B, tetapi tidak tega untuk membangunkan Keysa yang tidur seperti bayi itu. Ia pun memutuskan untuk pergi tanpa membangunkan Keysa, hanya menyimpan sepucuk surat cinta untuk gadis yang telah merasakan keperjakaannya itu.


Ada sebuah waktu dimana aku berharap dunia berhenti berputar, yakni saat kita lewati hari berdua dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hanya ada kita, tanpa ada orang lain di dalamnya. Hari ini aku dan kamu benar-benar telah menyatu dalam ikatan yang tidak akan ada siapapun yang bisa memisahkan. Yakinlah, meskipun raga berjauhan, tetapi hati ini akan selalu menjadi milikmu selamanya.


Aku mencintaimu hari ini, esok dan selamanya.


Dari kekasihmu


***


Keysa bangun dan menemukan Devano sudah tidak ada. Ia hanya menemukan secarik kertas berisi surat cinta dari Devano, sedangkan orangnya sudah tidak sejak Keysa masih bermimpi indah.


Keysa membaca surat dari Devano hingga senyumnya terbit ketika mengingat kejadian semalam. Mereka telah bersatu tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan cinta sama cinta.


"Aku juga mencintaimu," gumam Keysa, kemudian meletakkan kembali surat tersebut


Keysa pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Setelah membersihkan badan, Keysa juga memutuskan untuk check-out dari hotel. Ia yang memiliki janji dengan Zian pun keluar dari kamar hotel. Tidak lupa ia membawa secarik kertas yang berisi tulisan tangan Devano tadi dan menyimpannya di tas.


***


Setiba di rumah, Keysa disuguhkan oleh Zian yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang. Keysa yang pulang dengan menggunakan taksi langsung keluar dari mobil dan menghampiri lelaki yang sudah seperti penjaga pintu itu.


"Dia sedang apa berdiri di sana?" gumamnya pelan, seraya menghampiri Zian.


Zian memerhatikan Keysa dengan wajah datar serta tangan yang terlipat di depan mata. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan bagi Keysa. Seharusnya mereka sudah bertemu sejak 30 menit yang lalu.


"Kenapa malah berdiri di sini? Kenapa tidak menunggu di rumah saja?" ujar Keysa.


"Aku menunggu kamu pulang. Kata pelayan kami tidak pulang sejak semalam. Kamu habis dari mana?" tanya Zian penuh selidik.


Zian sengaja menunggu Keysa di depan gerbang karena memiliki feeling Keysa habis bertemu dengan seorang lelaki. Ia ingin membuktikan bahwa Perasaannya itu benar dan ingin memergoki dengan kepala sendiri ketika Keysa diantar pulang. Namun, yang dilihatnya Keysa hanya pulang bersama taksi.


"Itu aku habis menginap di rumah Gabby. Aku kangen dengan dia." Keysa mengkambinghitamkan Gabby, setelah sebelumnya menghubungi gadis itu untuk jaga-jaga jika lelaki di hadapannya mencari tahu. Zian yang mendengar penuturan Keysa hanya mengangguk mencoba percaya. "Kita bicara di dalam saja," ajak Keysa, kemudian.


Keysa berjalan memasuki gerbang rumah. Namun, karena tidak hati-hati tiba-tiba kakinya kesandung dan jatuh.


"Kalau jalan hati-hati, Key!" Zian dibuat terkejut saat melihat Keysa hampir mencium aspa. Ia langsung menghampiri dan menolong Keysa yang menjerit karena kaget.

__ADS_1


Zian membantu Keysa berdiri. "Apa ada yang sakit?"


"Makasih, Ian," ucap Keysa, yang diakhiri gelengan.


Zian mengangguk, hingga matanya melihat kertas yang dilipat tergeletak di tempat bekas Keysa jatuh. Ia lantas berjongkok dan mengambil kertas tersebut. "Kertas apa ini?" gumam Zian, lalu membuka lipatan kertas itu dan membacanya.


Sementara itu, Keysa yang tidak menyadari kertasnya terjatuh langsung masuk ke rumah dengan kaki yang sedikit tertatih-tatih. Baru saja sembuh, kakinya sudah berbuat ulah lagi.


Zian membaca surat sampai akhir, hingga wajahnya seketika berubah merah padam setelah mengetahui isi surat tersebut. Dengan dada yang dipenuhi gemuruh, Zian marah besar. Ia mereemas surat itu hingga kusut dan tidak berbentuk. Ia telah dibohongi Keysa. Dari surat itu sudah jelas bahwa gadis itu semalam bersama seorang lelaki.


Keysa tiba di ruang tengah saat menyadari Zian tidak mengikutinya. "Dia ke mana?" Keysa melengo ke belakang, tetapi tidak melihat keberadaan lelaki itu. "Aku panggil saja, deh!" Ia yang malas kembali keluar, langsung mengambil ponsel dari tas untuk menanyakan keberadaan Zian. Namun, Keysa dibuat terkejut ketika mendapati resleting tasnya terbuka dan semakin dibuat terkejut saat melihat surat dari Devano tidak ada di sana.


"Kertasnya mana?" Keysa tidak menemukan tulisan Devano di dalam tas. Ia yang hendak mengambil ponsel malas mengobrak-abrik isi tas mencari kertas dari Devano. "Apa mungkin terjatuh di depan? Oh, My God, jangan sampai Zian yang menemukanya." Keysa dibuat kalang kabut sendirian. Secepat kilat, Keysa langsung berlari keluar untuk memastikan prasangkanya salah.


Zian masih berdiri di tempat Keysa terjatuh dengan wajah merah padam ketika Keysa sampai di halaman rumah. Keysa menggigit bibir bawahnya, menebak kalau Zian telah menemukan kertas itu. Meskipun takut, perlahan Keysa mendekati Zian dan bertanya tentang surat yang dicarinya.


"Kenapa balik lagi?" tanya Zian dengan mata yang tidak teralihkan dari Keysa.


"Itu ...."


"Apa kamu mencari ini?" Zian mengangkat kertas yang sudah kusut.


Keysa melongo menatap surat cinta dari Devano yang dibuat menjadi tidak berbentuk oleh Zian. "Kamu menemukan kertasnya?" tanya Keysa dengan suara pelan.


"Ya. Dan apakah kamu bisa menjelaskan semuanya?" Zian menatap tajam Keysa.


Sudah terlanjur ketahuan. Keysa pun memilih untuk jujur dengan perasaannya sendiri. "Maaf. Aku memang mencintai lelaki lain dan memiliki hubungannya. Tapi sejak awal aku juga sudah mengatakan kalau aku hanya menganggapmu sebagai kakak. Tidak lebih. Sebagaimanapun kita berjuang untuk mencoba menjalin hubungan sampai kapanpun hubungan kita akan tetap seperti kakak dan adik. Hatiku sudah dimiliki orang lain dan tidak ada kemungkinan bagi kita. Aku harap kamu bisa memahamiku."


Keysa berbicara panjang lebar, yang membuat awan mendung berarak di diri Zian. Emosinya membuncah ketika mendengar pengakuan langsung dari Keysa. Ia pun melampiaskan kemarahannya kepada kertas yang dipegangnya. Kertas yang sudah direemasnya itu bersiap untuk disobek dan dijadikan berkeping-keping.


"Jangan disobek. Aku mohon!" Melihat kedua tangan Zian yang memegang kertas dan bersiap membelahnya, Keysa langsung memohon kepada Zian untuk tidak menyobeknya. "Zian, berikan kertas itu! Jangan menyobeknya atau kau akan menyesal karena aku akan benar-benar pergi meninggalkanmu dan kalian semua." Tidak ada yang bisa dilakukan Keysa ketika mendapati Zian marah besar, selain mengancam dengan kepergiannya.


"Ini! Makan surat jelek itu." Benar saja, Zian langsung memberikan surat yang sudah tidak bagus rupa itu, meskipun dengan cara kasar karena marah. Ia kemudian pergi begitu saja.


"Kamu mau kemana? Urusan kita belum selesai, Ian." Keysa mengingatkan Zian akan janji yang telah dibuat lelaki itu, yang membuat Zian harus datang ke rumah Keysa.


Zian tidak peduli dengan janji sebelumnya. Ia langsung mobil, tidak jadi masuk ke rumah Keysa. Dengan kemarahan yang masih mendominasi, Zian memilih pergi dari kediaman Keysa. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, Keysa hanya menatap kepergian Zian dengan rasa bersalah.


"Maaf."

__ADS_1


__ADS_2