Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
114


__ADS_3

114


Keysa sangat bahagia mendapatkan banyak tawaran pekerjaan dengan pendapatan yang sangat menggiurkan. Setelah itu, Keysa menye-croll kembali pesan yang masuk, hingga matanya terbelalak saat melihat Ezra mengirim puluhan pesan—dengan isi pesan yang masih membahas masalah yang sama. 


[Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah menyukai orang lain.] 


Keysa akhirnya memberitahu kalau   dirinya sudah memiliki kekasih. Ia tidak mau Ezra terus mengharapkan cinta yang tidak mungkin bisa diberikan oleh Keysa.


Tiba-tiba ponsel Keysa berdering, mengagetkan Keysa yang masih sibuk dengan akun media sosialnya. Ia melirik ponsel yang tergeletak di samping laptop, hingga kedua alis Keysa saling bertaut saat layar ponsel memperlihatkan nama Exel tertera di sana. Meskipun enggan, Keysa menerima panggilan tersebut. Namun, saat panggilan tersambung , bukan suara  Exel yang didengar Keysa dari seberang sana melainkan  Cheryl. 


"Halo!" ucap Keysa, malas. 


"Keysa, tolong!" ucap Cheryl dari seberang sana. 


"Kamu? Ada apa?" tandas Keysa, semakin malas begitu mendengar suara Cheryl yang ada di balik telepon itu.


"Key, tolong kakakku! Dia hampir mati oleh, Dev. Aku mohon tolong aku! Hanya kamu yang bisa menghentikan Dev," ucap Cheryl dengan suara yang sangat panik. 


"Apa kamu sedang mencoba menjebakku lagi? Maaf, aku tidak percaya." Keysa lantas mengakhiri panggilan dari Cheryl.


Ia yang sudah sering dikerjai Cheryl dan Liza memilih  tidak percaya begitu saja.  Keysa lantas menaruh ponselnya dan kembali berkutat pada laptop. Namun, baru saja memegang mouse, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke  ponsel Keysa. Sedikit penasaran, membuat Keysa langsung melihat pesan tersebut. 

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?" Mata Keysa terbelalak saat sebuah video masuk. Agar Keysa percaya, Cheryl mengirimkan sebuah video  ketika Devano menghajar Exel tanpa ampun. 


Keysa yang hanya memakai tanktop lantas mengambil jaket jeans dan memakainya. 


"Mau ke mana, Key?" tanya Disti, melihat Keysa yang terlihat buru-buru. 


"Kamu ikut, yuk!" ajak Keysa sambil menarik tangan Disti. 


Disti yang ditarik, mengikuti kemanapun kaki Keysa melangkah. "Kita mau ke mana?" tanya Disti saat Keysa menghentikan sebuah taksi dan menyebutkan sebuah alamat. Ia tampak sedikit ragu untuk ikut dengan Keysa. 


Keysa menunjukkan video yang dikirim Cheryl membuat Disti sangat terkejut. Ada rasa nyeri saat melihat Exel dipukuli dengan tanpa ampun dan membuat lelaki di gambar tersebut babak belur dan tidak berdaya. 


Setiba di tempat tujuan. Keysa dan Disti turun dari mobil di depan sebuah rumah megah. Ia lantas masuk setelah meminta izin kepada petugas yang jaga dengan mengatakan temannya Cheryl. 


Devano mendorong kepala lelaki yang beberapa waktu lalu habis berenang itu, lalu menarik keluar lagi. Devano melakukannya sampai beberapa kali hingga wajah Exel berubah ungu. 


Sementara itu, Exel tersenyum mengejek melihat amarah Devano yang semakin menggunung untuknya. "Aku tidak menyesal telah menjatuhkanmu ke jurang. Tapi, aku tidak menyangka kau masih bisa hidup. Padahal, aku sangat berharap kau mati dibawa arus sungai ke lautan dan dimakan hiu. Dan akhirnya, hanya aku yang bisa memiliki Keysa," ucap Exel saat kepalanya  ditarik keluar dari air. Ia sengaja membuat Devano semakin marah. 


"Kau benar-benar sudah bosan hidup," sarkas Devano kembali menenggelamkan kepala Exel. Bukannya minta maaf atas kesalahannya, Exel malah semakin membuat Devano murka. 


"Berikan pisau!" Sarkas Devano kepada pengawalnya—meminta pisau. 

__ADS_1


Keysa yang baru sampai di kolam renang kediaman Exel itu, melihat dengan jelas kemarahan Devano yang sangat menakutkan itu. Lelaki itu membabi buta, menghajar Exel tanpa ampun. 


 Dengan tubuh yang sudah dipenuhi oleh amarah, Devano lantas mengangkat pisau itu dan menghunuskan ke dada Exel. 


"Aaa ...." Suara pelan Disti  yang kesakitan saat benda tajam tertancap di perut gadis itu menyadarkan Devano. 


Melihat Devano yang hendak menusuk Exel, Disti langsung berlari ke arah keduanya dan menolong Exel dengan menjadi tameng tubuh lelaki itu. Disti pun tertusuk oleh pisau yang sengaja akan ditikamkan kepada Exel oleh Devano. 


"Disti!" teriak Keysa sambil berlari ke arah Disti saat melihat benda tajam itu melukai bagian perut Disti hingga noda merah keluar dari robekan benda tajam tersebut. 


Devano menoleh ke arah suara. Untuk sesaat ia dibuat mematung ketika Keysa berlari dan menolong Disti yang bersimbah darah. Devano sadar, Keysa sudah melihat kejadian yang telah terjadi baru saja, membuat Devano lantas meninggalkan tempat itu karena takut Keysa kecewa dan langsung memutuskannya. 


Disti dan Exel dibawa ke rumah sakit.  


Disti dengan wajah yang sangat pucat karena kehilangan banyak darah sedang berbaring di ranjang rumah sakit dan dirawat di ruang VIP. Exel sangat terharu dengan pertolongan yang diberikan Disti. Andai saja Disti tidak datang tepat waktu, pasti dirinya yang berbaring di ranjang pesakitan itu. Namun, tanpa sengaja Disti juga telah menghancurkan rencananya. 


Exel sengaja tidak melawan saat Devano memukulinya. Ia yang tahu Cheryl meminta bantuan Keysa untuk meredam amarah Devano, berharap Keysa akan mengobatinya setelah melihat ulah Devano yang menyiksanya. 


Keysa  masuk ke ruangan tempat Disti dan Exel dirawat. Ia membawa makan malam untuk Exel. 


"Terima kasih, Key, sudah menolongku," ucap Exel. 

__ADS_1


"Seharusnya kamu berterima kasih kepada Disti bukan kepadaku," tandas Keysa. Ia menatap Disti yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri, lalu menghampiri ranjang Disti. 


"Cepat sadar, Dis!" Keysa mengusap lembut kepala gadis itu, ia sangat mengkhawatirkan Disti.


__ADS_2