Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
136


__ADS_3

Suara helikopter terdengar mengudara di sekitar rumah Keysa, hingga pesawat yang memiliki baling-baling itu mendarat di pekarangan rumah Keysa. 


Zian yang pergi belum jauh pun, lantas memutar balik kendaraannya dengan kecepatan tinggi ia kembali ke rumah Keysa.


Sementara itu, Kakek Surya sudah berada di pekarangan rumah untuk mengantarkan kepergian Keysa. 


"Apa kau benar-benar akan pergi lagi?" tanya Kakek, merasa tidak rela kembali berpisah dengan cucu kesayangannya. 


Keysa mengangguk. "Aku harus menyelesaikan studi-ku di sana, Kek," jawabnya. Melihat Kakek yang terlihat murung, Keysa lantas berhambur ke pelukan lelaki tua itu. "Kakek jangan sedih! Aku pergi tidak untuk selamanya, lagian Kakek juga bisa kapan saja menemuiku," ujar Keysa. 


"Berpisah dengan cucunya, wajar kalau sedih," tutur Kakek Surya, seraya mengusap pucuk kepala Keysa. 


Mendengar ucapan Kakek Surya, membuat Keysa spontan mendongak melihat wajah sang kakek saat sebuah pertanyaan menggelitik hatinya. "Apa waktu aku pergi kemarin, Kakek juga sedih?" tanya Keysa. 


Kakek Surya menunduk dan menatap Keysa dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Kau pikir bagaimana?" tanya Kakek Surya sambil menjentikkan jari di kening cucunya itu. 


"Mungkin sedih, tapi kayaknya lebih dominan ke marah," jawab Keysa dengan senyum yang merekah.


"Terbalik." Kakek Surya menjawab sambil membawa Keysa ke pelukannya lagi, dengan wajah yang lurus ke depan. "Hati-hati di sana. Jika ada apa-apa kabari Kakek segera!" lanjutnya, yang dijawab anggukan oleh Keysa. 


Zian sampai di pekarangan rumah Keysa. Ia menyaksikan Keysa dan Kakek Surya yang sedang berpelukan. Dengan wajah yang terlihat sangat kusut dan sendu, ingin sekali Zian mencegah kepergian Keysa. Namun, dia tidak berdaya untuk itu. Keysa selalu berkata tentang impiannya untuk kuliah di sana, membuat Zian mengurungkan niatnya. Ia yang sudah melangkah beberapa kaki, langsung terhenti dan berbalik. Ia tidak mampu melepas kepergian Keysa. Sampai Keysa naik dan mengudara, Zian tidak menemui Keysa lagi. Ia hanya menyaksikan kepergian gadis itu dari balik mobil dengan perasaan yang campur aduk.


**


Menjelang tengah malam, Keysa baru tiba di rumah Devano dengan menggunakan taksi online. Setelah sebelumnya ia turun dari helikopter di sebuah lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumah Devano. 


Setelah membayar taksi, Keysa langsung masuk ke rumah yang tidak dikunci oleh pemiliknya itu. Keysa memindai setiap tempat yang dilewatinya, mencari keberadaan Devano. 


"Dia ke mana? Bukannya menyambutku, dia malah main petak umpet." Keysa menggerutu saat tidak menemukan Devano, bahkan dipanggil pun tidak menyahut. "Mungkin di atas," gumamnya lagi. 

__ADS_1


Keysa yang tidak menemui Devano di lantai bawah, langsung menaiki tangga menuju kamar Devano. 


"Dev," panggil Keysa begitu sampai di depan pintu kamar, tetapi masih tidak ada jawaban. Ia pun memutar handle pintu yang ternyata tidak terkunci. "Aku masuk, ya!" ucap Keysa, meski tidak ada jawaban. 


Keysa mengedarkan pandangannya lagi mencari keberadaan Devano, hingga senyum Keysa terbit begitu melihat orang yang dicarinya ada di balkon. Keysa lantas menghampiri lelaki itu dan memeluknya dari belakang. 


"Aku mencarimu, ternyata ada di sini," gumam Keysa, seraya mengeratkan pelukannya. 


Devano bergeming. Ia masih menatap lurus ke pemandangan malam yang bisa dinikmati dari lantai dua rumahnya. 


"Aku merindukanmu," gumam Keysa lagi, tepat di  saat tidak mendapatkan respon dari Devano. 


"Benarkah?" ucap Devano, begitu datar. Ia masih kesal dengan berita yang didapatkannya dari pengantar mobil tadi siang. 


"Tentu saja. Apa kamu tidak merindukanku? Padahal aku bela-belain langsung pulang hari ini juga, tapi sepertinya kamu tidak merindukanku," ucap Keysa dengan nada sedikit merajuk. "Baiklah, aku pulang saja. Selamat malam." Keysa melepaskan pelukannya, lalu berbalik hendak pergi. 


Namun dengan cepat, langka Keysa dihentikan Devano. Ia menarik tangan Keysa untuk kembali berbalik ke arahnya yang sudah berbalik juga, lalu memeluk Keysa dengan sangat erat. 


Keysa membalas pelukan Devano dengan seutas senyum yang tertampil, caranya mujarab untuk membuat Devano tidak mengacuhkannya. Mereka berpelukan cukup lama, hingga sebuah suara mengagetkan Keysa dan membuatnya menahan tawa.


"Apa kamu belum makan?" tanya Keysa, mengurai pelukannya lalu menatap Devano. 


"Aku tidak lapar." 


"Apa setelah bertemu denganku masih tidak lapar?" Keysa menaik turunkan alisnya, menggoda Devano. 


"Cacing di perutku sudah cukup menjadi jawabannya," tandas Devano, lalu masuk ke kamar dengan hati yang terus mengomeli cacing yang tidak berakhlak.


Keysa tertawa begitu mendengar jawaban Devano, lantas mengikuti lelaki itu masuk. "Aku buatkan makanan, ya!" ucap Keysa, lalu berjalan mendahului Devano keluar kamar. 

__ADS_1


Keysa sudah berada di dapur. Ia membuka lemari pendingin mencari sesuatu yang bisa dimasak cepat, tetapi Keysa tidak menemukan apapun, kecuali mie rebus. Keysa pun mau tidak mau memasak makanan tersebut. Devano sendiri yang sebenarnya sangat merindukan Keysa, terus mengikuti Keysa ke mana pun. 


Dua mangkuk mie rebus sudah tersaji di meja makan. Devano dan Keysa menikmati makanan berkuah itu bersama. Keysa memerhatikan Devano yang sangat lahap menikmati mie buatannya, hingga tanpa sadar membandingkan Devano dan Zian. Kedua-duanya sangat tampan dalam takaran yang berbeda. Devano dengan kulit mulus dan putih bersih, sedangkan Zian terlihat lebih lelaki sekali dengan rambut halus di atas bibir serta dagu dan pipi bagian belakang. 


"Kenapa malah memerhatikanku?" tanya Devano, melihat Keysa yang malah memerhatikan dirinya daripada menghabiskan makanan. 


"Hanya ingin menikmati ciptaan Tuhan yang terlihat begitu sempurna," jawab Keysa dengan seulas senyum yang tertampil.


"Bisa ngegombal juga," ucap Devano, dan tawa dari keduanya pun menemani mereka makan malam, meskipun hanya mie. 


Setelah menghabiskan mie, keduanya pun tertidur dengan nyenyak. 


Keesokan harinya ....


Keysa dan Devano pergi ke kampus bersama. 


Melihat Keysa yang sudah kembali, Disti langsung menghampiri Keysa. Mereka saling cipika cipiki dan berpelukan, melepas rindu setelah beberapa hari tidak bertemu. 


"Akhirnya, kamu balik, Key! Kamu tahu ada seseorang yang hendak mengambil tempat dudukmu." Disti mengeluh tentang seorang mahasiswa pindahan dari ibu kota yang berlaku semena-mena. Orang itu bahkan tidak hanya merebut tempat duduk Keysa, tetapi juga berencana merebut tempat tidur Keysa di asrama. 


"Memangnya dia siapa?" tanya Keysa yang penasaran dengan gadis yang disebutkan oleh Keysa. 


"Entahlah! Tapi sepertinya ia mengincarmu," jelas Disti lagi. "Satu lagi, dia juga bukan orang sembarangan. Sepertinya dia juga sangat berpengaruh di sini, buktinya Devano pun tidak berani melarangnya. Padahal, dia merebut tempat duduk kekasihnya sendiri," rutuk Disti, terlihat sangat kesal dengan sikap lelaki yang terpisah dengan Keysa setelah Disti datang. 


"Ceritamu bikin aku penasaran saja," gumam Keysa, menanggapi cerita Disti dengan santai meskipun kepenasaranan juga meliputi benaknya. 


"Ayo kita lihat! Kamu bisa melihat betapa songongnya orang itu." Disti dibuat sangat gedeg oleh orang yang baru beberapa hari menempati kelas mereka. 


"Let's go!" 

__ADS_1


Keysa dan Disti pun berjalan menuju kelas. Namun, tiba-tiba langkah Keysa terhenti saat Cheryl menghadangnya. Gadis itu mencegat Keysa karena mengira Keysa mendekati Devano dan Ezra hanya untuk mendapatkan uang mereka. Keysa yang tidak ingin menghabiskan waktu dengan adu mulut dengan Cheryl pun langsung mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Cheryl tercengang. 


 


__ADS_2