
Acara lamaran yang sudah direncanakan oleh Devano sebagai surprise untuk Keysa di acara lounching ponsel perdana buatan perusahaan yang dirintisnya dengan bantuan sang kakek, lenyaplah sudah. Acara berubah kacau saat Damar tiba-tiba mengumumkan pertunangannya dengan Cheryl. Namun, niat Devano untuk melamar Keysa sudah bulat. Ia tidak inging menjadi milik orang lain, ia juga tidak mau Keysa jatuh ke tangan orang lain.
Setiba di Puncak, Devano langsung menepikan mobilnya. Dalam keadaan masih berada di mobil, Devano melamar Keysa dengan berlian yang sudah dipersiapkannya sejak di desa.
"Keysa, will you marry me?" ucap Devano to the point, sambil menyodorkan cincin yang ada di dalam kotak berbentuk hati. Kata-kata puitis dan romantis yang sudah dipersiapkan Devano hilang begitu saja karena kekacauan yang dilakukan Damar. Yang ada di kepala saat ini hanya melamar dan menjadikan Keysa sebagai miliknya.
Keysa sendiri tampak terkejut saat mendengar Devano melamarnya secara langsung. Meski tidak ada alunan musik romantis, bunga mawar dan lilin-lilin indah seperti layaknya orang melamar penuh kesyahduan, tetapi ucapan Devano yang dengan lantang mengajaknya menikah membuat hati Keysa seketika dipenuhi berjuta kupu-kupu. Meskipun lamaran Devano terkesan grasak-grusuk, tetapi mampu menggetarkan hati dan membuatnya meleleh. Lelaki di hadapannya benar-benar serius dengan hubungan mereka.
"Keysa, will you marry me?" Devano mengulangi ucapannya, saat melihat Keysa malah sibuk dengan dunianya sendiri.
Keysa yang masih terkejut dengan lamaran dadakan Devano pun spontan menjawab, "Yes, I do."
"What?" Devano yang mendengar jawaban Keysa langsung mengernyitkan dahi.
"Eh, kenapa? Apa aku salah? Atau kamu mau aku tolak, biar bisa tunangan dengan Cheryl, ya?" Keysa yang belum menyadari kesalahannya malah menuduh Devano ingin dirinya menolak lamaran tersebut. Bibir yang beberapa saat lalu merekah langsung mengerucut.
"Keysa, Sayang, aku kan nanyanya 'will you marry me?' harusnya kamu jawab 'yes, I will' bukan 'yes, I do'. Jawabanmu tidak sesuai dengan pertanyaanku," jelas Devano.
"Eh!" Keysa yang menyadari kesalahannya langsung melengos. "Ah, sama saja. Intinya sama-sama kesitu juga," kilah Keysa, kemudian membenarkan posisi duduknya lagi. Tidak berani melihat ke arah Devano karena malu.
Hingga kemudian tawanya dan Devano pecah begitu saja di mobil saat mengingat jawaban Keysa serta lamaran dadakan yang tidak ada kesan-kesan indahnya. Suasana romantis sudah lenyap sejak awal, lalu ditambah dengan jawaban Keysa yang salah membuat tawa mereka memenuhi mobil.
"Jadi kamu terima lamaranku?" tanya Devano lagi, setelah keduanya berhenti tertawa.
"Menurutmu?" Keysa menyipitkan mata melihat Devano yang malah mempertanyakann ulang lamaran yang jelas-jelas sudah dijawab meskipun konteks-nya salah.
"Ya, tidak tahu. Kamu kan belum menjawab dengan benar," tandas Devano, membuat Keysa salah tingkah karena malu. "Keysa Indira Fidelya, will you marry me?"
"Tau ah! Sini cincinnya." Bukannya menjawab ulang dengan mengatakan 'Yes, I will', Keysa malah mengambil cincin yang dipegang Devano dan memakaikan sendiri ke jarinya, kemudian keluar dari mobil.
__ADS_1
Devano langsung tergelak melihat tingkah absurd Keysa yang disebabkan oleh malu itu. "Kita resmi tunangan, ya!" teriak Devano.
Keysa tidak menjawab, hanya mengangkat tangan di mana cincin yang digunakan Devano untuk melamar sudah melingkar di jarinya.
Devano tersenyum lebar. Meskipun jauh dari kesan romantis, lamaran ini merupakan momen paling indah bagi Devano. Momen yang berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadikan Keysa miliknya secara utuh. Devano pun keluar dari mobil, menyusul Keysa yang sedang menikmati indahnya gemerlap malam dari atas puncak.
Keduanya menghabiskan malam mereka berdua di atas bukit sambil menikmati hamparan cahaya dari lampu-lampu kota yang mirip bintang daratan dari tempat mereka. Dengan tangan yang terus merangkul sang kekasih, Devano membahas banyak hal untuk masa depan mereka.
Keysa mendongak, menatap lelaki yang mendekapnya. Devano pun menghadiahi Keysa sebuah kecupan di bibir. Terpikir oleh Keysa untuk menghadiahkan dirinya sendiri kepada Devano sebagai bukti cinta mereka. Namun, saat berbincang-bincang, keduanya membahas tentang Kakek Surya, membuat Keysa teringat akan pesan sang kakek dan memutuskan untuk menunggu hubungan mereka resmi terlebih dahulu.
Sementara itu ... di tempat lain, Cheryl sudah seperti orang gila. Semenjak kepergian Devano dan Keysa, ia berteriak-teriak memanggil Devano, meminta lelaki itu kembali.
"Dev! Kau di mana? Aku mohon balik! Kita harus bertunangan." Cheryl berteriak keras di luar tempat pesta, saat melihat mobil Devano melesat jauh meninggalkan pesta.
Pesta pun bubar begitu saja karena si tokoh utama pesta telah pergi. Sangat lama, Cheryl duduk frustrasi di halaman gedung. Ia tidak memedulikan orang-orang yang meninggalkan acara pesta sambil membicarakan dirinya yang ditinggal pergi di hari pertunangan.
"Dev, kembalilah! Jangan membuatku malu seperti ini," gumamnya lagi dengan air mata yang mengalir deras membanjiri kedua pipinya.
Setiba di tempat itu, Cheryl langsung memarkirkan mobilnya asal, lalu keluar dari mobil sambil berteriak memanggil-manggil nama Devano dengan suaranya yang serak karena sudah lebih dari satu jam menangis.
"Dev! Devano aku tahu kau ada di dalam! Kau tidak boleh melakukan ini padaku. Dev, keluar! Kita harus bertunangan," teriak Cheryl, sambil memukul-mukul pintu.
Devano yang baru sampai di rumah selang berapa menit sebelum kedatangan Cheryl ke rumahnya pun, langsung membuka pintu. Di lihatnya, Cheryl dengan penampilan sudah acak-acakan ada di depan pintu. Bahkan, mata gadis itu tampak sembab pertanda habis menangis dengan durasi yang sangat lama.
"Dev, kenapa kamu meninggalkan pesta?" Cheryl langsung berhambur ke pelukan Devano, begitu melihat Devano ada di depan mata.
"Jangan seperti ini, Cher!" Devano dengan cepat melepas pelukan Cheryl.
"Kenapa? Kita itu pasangan yang sudah dijodohkan. Kenapa aku tidak boleh memelukmu? Aku selalu memaklumi tindakanmu yang selalu mencari perhatian wanita lain. Tapi, sekarang sudah selesai, Dev. Aku berhak memilikimu karena pertunangan kita sudah ditentukan," ucap Cheryl panjang lebar.
__ADS_1
"Cher, sampai kapan kamu akan menutup mata? Aku selalu dengan wanita lain karena aku tidak menyukaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Jadi, kumohon buanglah perasaanmu itu. Aku yakin akan ada lelaki yang baik yang mencintaimu apa adanya."
"Apa semua ini karena Keysa?"
Devano menatap gadis yang tampak menyedihkan itu, lantas memegang kedua bahunya. "Bukan. Ini bukan karena Keysa. Ini karena aku tidak memiliki perasaan lain kepadamu selain rasa sayang seorang kakak kepada adiknya. Jika pun tidak ada Keysa di kehidupanku, aku tetap tidak bisa mencintaimu. Cher, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Maaf, kita tidak mungkin bersama," ucap Devano lagi, lalu kembali masuk ke rumah, meninggalkan Cheryl yang masih ada di depan pintu dengan segala kehancurannya karena ditolak oleh Devano untuk kesekian kalinya.
***
Devano melepas lelahnya dengan masuk ke dunia mimpi. Di kamar rumah pribadinya, Devano tertidur pulas setelah melewati hari yang panjang. Namun, tiba-tiba Devano bermimpi bertemu kakak Cheryl yang telah meninggal dan menyalahkannya.
"Dev, kau pembohong! Kau sudah berjanji akan menjaga adikku, tapi apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya dengan begitu kejam.
"Kau jahat, Dev!
"Jahat!
"Jahat!
"Jahat!"
Kakak Cheryl terus menyalahkan Devano dan mengatakan bahwa Devano 'jahat', membuat tubuh Devano yang masih terpejam dipenuhi keringat dingin.
"Aku tidak jahat!" teriak Devano, sambil membuka mata. Ia terbangun dari mimpi yang sangat mengerikan. Kakak Cheryl tidak terima karena dirinya telah menolak Cheryl dan berniat menghabisi Devano.
"Hanya mimpi," gumam Devano, seraya mengatur napas sambil memindai seluruh ruangan. Ia masih berada di kamar, bukan di tempat menyeramkan seperti di dalam mimpi.
Bertepatan dengan itu, Devano dibuat terkejut saat ponselnya tiba-tiba berdering. "Siapa yang menelponku tengah malam begini?" rutuknya, tetapi tak ayal menerima panggilan tersebut.
"Cheryl bunuh diri. Ia mengiris pergelangan tangannya. Itu semua karena perbuatanmu. Kau harus bertanggung jawab, Devano." Belum selesai keterkejutan Devano oleh mimpi buruk yang dialaminya, Devano dibuat tambah syok saat mendengar kabar dari Exel kalau Cheryl mencoba bunuh diri.
__ADS_1
"Apa? Bunuh diri?" tanya Devano, tidak percaya dengan kabar yang baru saja diterimanya.
"Iya. Saat ini dia sedang diberi pertolongan oleh dokter. Datang kemari saat ini juga atau kau tahu akibatnya!" ancam Exel.