Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
209


__ADS_3

Keysa sudah berada di Bandara dan bersiap meninggalkan Kota B. Sekuat tenaga Keysa mencoba untuk tidak menangis. Ia mensugesti dirinya sendiri bahwa dirinya adalah orang yang kuat dan tidak cengeng. Ia terus berbicara seperti itu supaya air mata tidak tumpah di tempat umum. Memalukan dan terlihat sangat menyedihkan jika dirinya harus menangis histeris di area umum dan disaksikan banyak orang.


Keysa yang sedang berada di area pemberangkatan pun memilih untuk duduk dengan earphone yang menempel di satu telinga–mendengarkan lagu mellow yang mewakili perasaannya saat ini.


"Kamu jahat, Dev!" gumam Keysa, lirih.


Di saat Keysa sudah sampai di Bandara dan menunggu jam keberangkatan dari pesawat yang dipesan, Devano masih berada di jalanan. Melajukan kendaraan roda empatnya secepat mungkin untuk menyusul Keysa.


"Please jangan tinggalkan aku, Key! Aku tidak ingin hidup tanpa dirimu. Maafkan, aku." Devano bergumam dengan tangan yang menekan keras klakson karena sebuah motor hampir saja terserempet.


Beberapa kali, Devano hampir terlibat kecelakaan. Sumpah serapah dari pengendara lain yang terganggu dan hampir celaka karena ulahnya pun, tidak Devano hiraukan. Saat ini yang ada di kepala Devano hanya bertemu dengan Keysa secepatnya dan meminta maaf. Devano mengendarai mobil menuju bandara.


Setiba di bandara, Devano langsung masuk ke terminal pemberangkatan. Dengan ketakutan akan ditinggalkan, Devano berteriak memanggil Keysa. Ia berlari dengan mata yang terus beredar mencari keberadaan gadis itu.


"Key, Keysa! Keysa! Kamu di mana? Key, maafkan aku."


Tidak peduli disangka seperti orang gila yang berteriak tidak jelas, Devano terus memanggil nama Keysa.


"Keysa!" panggil Devano.


Keysa yang masih berada di ruang tunggu mendengar samar-samar suara orang yang memanggil namanya. Keysa melepaskan earphone, lalu menoleh mencari arah suara. Hingga, ia bisa melihat seorang lelaki sedang memanggil-manggil nama Keysa dengan mata dan tubuh beredar ke sana kemari mencari keberadaan Keysa. Devano tidak melihat keberadaan Keysa.


Melihat Devano yang sedang mencarinya, Keysa langsung beranjak dari tempat tunggu. "Untuk apa dia kemari?" Keysa menatap ke arah lelaki yang belum menyadari keberadaannya.


Keysa hendak melambai saat Devano kembali memanggil-manggil namanya. Namun, mengingat kejadian di pesta membuat Keysa mengurungkan niat. "Apa dia ke sini untuk mengatakan selamat tinggal dan jaga diri baik-baik lagi?" Keysa bergumam dengan bibir digoyang-goyangkan. "Atau dia ke sini untuk memperlihatkan cincin tunangan mereka, dan memaksaku untuk melupakannya." Keysa berspekulasi sendiri.


Gadis bergaun merah tersebut mengira lelaki itu sudah resmi bertunangan dan sengaja datang untuk memamerkan cincin dan memintanya untuk melupakan hubungan mereka. Keysa membuang napas kasar, kemudian berdiri dan memilih untuk meninggalkan ruang tunggu lantas berjalan ke arah pesawat.


"Keysa!" Bertepatan dengan itu, Devano bisa melihat Keysa. Ia memanggil Keysa lagi, berharap gadis itu akan berhenti dan menghampirinya. Namun, yang dilakukan Keysa di luar dugaan Devano. Keysa terus melangkah tanpa memedulikan panggilannya.

__ADS_1


Shitt! Devano mengumpat saat melihat Keysa yang terus berjalan menuju pesawat. Sementara dirinya dilarang masuk karena tidak memiliki tiket.


"Tidak. Aku tidak mau kehilangannya." Devano menggeleng, setelah diusir oleh petugas.


Karena tidak bisa menemui Keysa tanpa memiliki tiket, Devano langsung membeli tiket detik itu juga dan berhasil masuk ke pesawat sebelum kendaraan tersebut lepas landas.


"Akhirnya ...." Devano bernapas lega saat dirinya berhasil berada di dalam pesawat.


Lelaki itu kemudian berjalan mencari tempat duduk yang kosong sesuai nomor tiket, sekaligus mencari keberadaan Keysa. Jika sang kekasih sudah duduk bersama orang lain, ia akan meminta orang itu untuk barter tempat duduk.


Keysa yang tidak tahu ada Devano di dalam pesawat, tampak sedang mendengarkan musik dengan earphone yang melekat di kedua telinganya sambil terpejam. Berharap dengan mendengarkan lagu, ia akan tertidur dan saat bangun dirinya telah melupakan semua yang terjadi hari ini, kemudian melanjutkan hidup.


Entah permainan takdir atau kebetulan, Devano berhenti saat menemukan bangkunya. Ia dibuat terkejut bercampur bahagia ketika melihat teman di samping bangkunya adalah orang yang menjadi alasan dirinya naik ke pesawat tersebut. Spontan, Devano langsung memeluk Keysa.


"Keysa!" panggilnya.


"Eh, apa-apaan ini?" Keysa yang kaget dengan orang yang tiba-tiba memeluk langsung bangun dan dibuat terkejut saat menyadari siapa yang sedang memeluknya. "Lepaskan!" Keysa mencoba untuk melepas pelukan Devano, tetapi tidak berhasil. Devano malah memeluknya semakin erat.


"Lepaskan! Aku tidak Sudi dipeluk oleh tunangan orang lain. Aku tidak sedang berniat menjadi pelakor. Lepaskan! Silakan kembali kepada tunangan anda!" tandas Keysa, begitu dingin.


"Aku bukan tunangan orang lain, berarti masih memiliki hak untuk memeluk kekasihku sendiri," timpal Devano.


Keysa terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan terakhir Devano. "Apa kamu membatalkan pertunanganmu dengan Cheryl?" tanya Keysa, memastikan dan dijawab anggukkan Devano.


Mendapat anggukan dari Devano membuat Keysa bernapas lega. Ia sangat bahagia saat mendapati bahwa Devano lebih memilih dirinya di detik-detik terakhir. Namun, mengingat kesedihan yang sudah ditorehkan lelaki itu seharian ini, hingga membuat Keysa hampir putus asa, Keysa langsung menggigit pundak Devano dengan sangat kuat.


"Awww ...." Devano melepaskan pelukannya saat gigi Keysa menancap di bahunya. "Key, apa yang kamu lakukan?"


Keysa baru melepaskan gigitannya saat Devano juga melepaskan pelukan. "Itu hadiah untukmu karena sudah membuatku sedih," sarkas Keysa, sambil melirik ke arah lelaki yang sudah duduk di sampingnya sambil memegang bahu yang digigit.

__ADS_1


"Maafkan aku!" Devano kembali meminta maaf.


Keysa yang masih kesal mengabaikan permintaan maaf dari Devano dan memilih melihat ke arah jendela pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


Devano masih mencoba menjelaskan alasan sesungguhnya yang membuat ia terpaksa menerima pertunangan itu. Namun, ucapannya terjeda saat pramugari memberikan pengumuman bahwa pesawat akan segera lepas landas. Mereka memberi pengarahan kepada setiap penumpang agar menegakkan sandaran kursi, melipat meja, membuka tirai jendela, mematikan perangkat elektronik dan memakai sabuk pengaman.


Sebagai penumpang, Devano pun langsung melakukan yang diperintahkan pramugari dan menunda perbincangannya dengan Keysa hingga pesawat berhasil mengudara.


"Key." Devano kembali memulai percakapan.


"Hmmm."


Devano lantas menceritakan tentang keluarga Cheryl yang memaksanya untuk bertunangan dengan Cheryl dengan berbagai ancaman yang tidak main-main termasuk keselamatan Keysa juga. Ia juga menceritakan tentang kakek dan ayahnya yang tidak menyetujui hubungan mereka karena hubungan keluarga di antara keluarga Devano dan Keysa yang sejak dulu tidak akur.


Setelah Devano selesai bicara, Keysa langsung meraih tangan Devano dan menggigitnya lagi. "Aww ... kenapa digigit lagi?" protes Devano, saat tangannya digigit Keysa tanpa ampun.


"Itu balasan karena telah membuatku patah hati."


"Tapi ...."


" Aku memaafkanmu, tapi jangan pernah kamu ulangi hal seperti ini lagi. Masalah sebesar apapun pasti akan bisa kita hadapi jika kita bersama," lanjut Keysa, memotong ucapan Devano yang hendak protes lagi.


Mendengar Keysa menerima permintaan maaf darinya membuat Devano menampilkan senyum. Ia merangkul Keysa dan menghujani pucuk kepala Keysa dengan ciuman. "Terima kasih."


***


Pesawat tiba di tempat tujuan. Keysa masih tertidur dengan pulas, bahkan saat landing pun gadis itu tidak terbangun. Penumpang pun mulai meninggalkan pesawat, menyisakan Devano dan Keysa yang masih tertidur.


Pramugari hendak membangunkan Keysa, tetapi dilarang oleh Devano. Lelaki itu, malah membooking seisi pesawat dan meminta mereka untuk terbang kembali.

__ADS_1


Para petugas pesawat sempat menolak, tetapi dengan berbagai alasan akhirnya Devano bisa membujuk mereka. Pesawat pun mengudara lagi dengan hanya Keysa dan Devano penumpangnya.


Setelah perjalanan dua kali lipat, pesawat berhasil landing dengan selamat di ibu kota. Devano berjanji akan membuat kakek dan keluarganya merestui hubungan mereka.


__ADS_2