
108
Penculik memberitahu kepada Liza kalau mereka sudah berhasil menghabisi Keysa dan gadis itu sudah meninggal. Namun, si penculik juga memberitahu kabar buruk bahwa mereka sudah ditangkap oleh Devano dan anak buahnya. Itulah yang membuat hidup Liza tidak tenang. Ia takut si penculik melibatkan dirinya saat mereka di introgasi oleh Devano, meskipun orang-orang itu sudah berjanji tidak akan membawa-bawa nama Liza.
Liza mulai paranoid, bahkan gadis itu sering bermimpi kalau Keysa yang sudah meninggal itu menemui dirinya dan menerornya di setiap waktu. Di saat seperti itulah, Liza sangat membutuhkan Ezra dan Devano untuk menghibur. Namun, kedua lelaki itu pun menghilang tanpa kabar bagai ditelan bumi.
Setelah seminggu tidak masuk kuliah, Devano dan Ezra akhirnya kembali ke kampus. Masih seperti biasa dua lelaki itu selalu menjadi primadona kampus, bahkan Devano sampai mendapatkan banyak bingkisan dan ucapan selamat atas kesembuhan dirinya.
Senyum Liza pun langsung tertampil saat melihat Devano dan Ezra memasuki kelas. Ia sangat senang bisa melihat dua sahabat kecilnya itu kembali ke kampus. Dengan senyum yang terus mengembang, gadis itu menghampiri Devano dan Ezra, lalu menyapa mereka.
"Dev, bagaimana keadaanmu?" tanya Liza sambil cipika cipiki.
"Kabar baik," jawab Devano. Ia terasa mau muntah saat harus berpura-pura baik kepada Liza, padahal di dalam hatinya ia ingin membombardir gadis itu dengan seribu pertanyaan. Kemudian memberikan gadis itu pelajaran yang setimpal karena telah membuat kekasihnya hampir kehilangan nyawa. Meskipun prasangkanya belum terbukti, tetapi ia yakin kalau gadis di hadapannyalah pelakunya.
Namun, Devano juga mengingat ucapan Keysa dan semua harus sesuai dengan yang direncanakan gadis itu, membuatnya terpaksa menahan diri.
Liza juga menanyakan kabar Ezra dan dijawab 'baik' oleh lelaki itu. Selain itu, Liza juga meminta maaf karena belum sempat menjenguk Devano.
'Aku lebih senang kau tidak menjengukku,' tandas Devano dalam hati. Lelaki itu memang tidak mengizinkan orang lain datang ke rumahnya untuk menjenguk, selain Keysa dan Ezra tentunya.
"Itu bukan masalah," jawab Devano, datar.
"Lalu bagaimana dengan Keysa?" Meskipun sudah tahu kalau Keysa sudah meninggal dan Devano beserta Ezra tidak menemukan keberadaannya, Liza tetap bersandiwara menanyakan kabar Keysa.
__ADS_1
"Keysa tidak ditemukan, tetapi menurut para penculiknya Keysa sudah meninggal," jawab Ezra.
"Aku turut berduka. Kalian yang sabar, ya!" ucap Liza, bersimpati. Dan, malah membuat Devano ingin muntah.
"Terima kasih," ucap Ezra, mewakili Devano.
Sementara itu, orang yang diajak bicara malah sibuk menatap ponsel. Devano sedang memandangi foto dirinya dan Keysa yang sedang bersama dengan senyum yang tertampil tanpa menghiraukan siapapun. Hal itu yang membuat Liza semakin membenci Keysa dan marah. Karena Menurut Liza, Keysa sudah merebut perhatian Devano untuk dirinya.
Sepulang kuliah, Liza meminta Devano untuk mengantarkannya pulang. Mau tidak mau Devano pun mengiakan permintaan gadis itu.
"Dev, masih adakah kesempatan—"
"Hatiku hanya untuk Keysa."
'Sudah mati pun, masih saja menjadi penghalang,' rutuk Liza dalam hati.
Setelah mengantarkan Liza pulang, DEvano langsung pergi ke rumah Ezra untuk menemui Keysa karena beberapa hari ini gadis itu tinggal di rumah sahabatnya.
Beberapa hari tinggal di rumah Ezra, membuat Keysa bisa mengetahui hubungan Ezra dan Devano yang seperti amplop dan perangko. Bahkan, Keysa yang mendengar kedekatan mereka dari para pelayan di rumah Ezra membuatnya salah paham dan mengira dua lelaki itu memiliki hubungan khusus.
"Jangan bilang mereka berdua itu ...." Keysa bergidik ngeri, tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Oh, ya ampun! Apa mungkin mereka berdua seperti Felix?" Tiba-tiba kepala Keysa terasa sangat pusing dan mual, mengingat kemungkinan yang terjadi setelah mendengar ucapan para pelayan yang mengatakan kalau mereka berdua sangat dekat. "Oh, tidak! Aku tidak mau berpacaran dengan lelaki yang mencintai sesama jenis. Aku harus minta putus sama dia," tandas Keysa, kemudian.
Sejurus kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Ezra. Devano yang sudah memberitahu sebelumnya tentang kedatangannya kepada Keysa, membuat gadis itu langsung berlari ke depan rumah saat mendengar suara mobil.
__ADS_1
"Itu pasti mobil Devano. Aku harus menyelesaikannya sekarang juga," gumam Keysa, dengan kaki yang terus berlari menemui lelaki itu.
Sementara itu, Devano yang baru sampai langsung menyunggingkan senyum saat melihat Keysa berlari ke arahnya.
"Apakah aku sebegitu mengangenkannya hingga kau sampai lari-lari untuk menemuiku, padahal tadi pagi juga kita bertemu," gumam Devano sambil menyandarkan tubuh di bagian depan mobil dengan tangan yang bersedekap.
"Aku mau kita putus," ucap Keysa dengan napas tersenggal-senggal begitu sampai di hadapan Devano.
Mendengar ucapan Keysa, seketika senyum Devano menghilang dan berganti awan hitam yang berarak di wajah Devano. Lelaki itu sangat marah, tidak ada angin dan hujan tiba-tiba Keysa meminta putus.
Devano menatap tajam Keysa, tanpa bicara sepatah kata pun. Kakinya membawa Devano semakin mendekati Keysa, hingga tubuhnya tak berjarak dengan tubuh Keysa. Sejurus kemudian, Keysa merasa tubuhnya melayang.
"Dev, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" protes Keysa, sambil mencoba turun dari bahu Devano.
Devano yang marah mengangkat tubuh Keysa seperti karung beras dan membawanya ke kamar Devano yang berada di rumah Ezra. "Diamlah! Atau aku lemparkan kau dari atas tangga," tandas Devano yang sedang menaiki tangga, membuat Keysa terdiam di pangkuan Devano.
Setiba di kamar, Devano lantas melempar tubuh Keysa ke atas tempat tidur, kemudian mengungkung tubuh Keysa yang sedang telentang dan menatap tajam wajah Keysa tanpa berkedip. Membuat wajah gadis itu langsung bersemu merah.
"Mulutmu harus dihukum karena asal bicara," ucap Devano. Ia yang melihat wajah Keysa memerah, tidak tahan untuk tidak menjelajahi salahsatu bagian wajah gadis itu.
Devano semakin mendekat, kemudian merasakan kembali benda kenyal berwarna merah chery itu. Dan, lagi-lagi Keysa merasakan jantungnya berdetak sangat kencang.
Devano melanjutkan ciumannya dengan mengabsen setiap inci bibir Keysa. Kali ini, Keysa pun membalas ciuman Devano yang membuat lelaki itu semakin memperdalam ciumannya.
__ADS_1
Mereka sangat menikmati saling pertukaran saliva dari keduanya. Devano dan Keysa berciuman sangat lama, bahkan Keysa pun sudah berpindah posisi. Keysa duduk di pangkuan Devano dengan tangan yang melingkar di leher Devano dan membalas ciuman lelaki itu dengan sangat agresif dengan gerakan menggoda Devano.