
"Seperti yang aku ucapkan aku akan membantumu!" Keysa turun dari ranjan. Ia menempelkan lutut di lantai, menghadap Devano yang duduk di bed yang hanya memakai underware saja. Ia meletakkan tangannya di pahha Devano seraya mendongak ke arah lelaki yang sudah begitu tersiksa oleh reaksi obat yang terminum.
Devano memicingkan kedua matanya begitu mendengar ucapan Keysa. "Caranya?"
"Kita bisa melakukannya tanpa harus melakukan hubungan tahap terakhir," tandas Keysa.
"Ok." Devano mengerti.
Akhirnya, Keysa membantu dan memuaskan hasraat gila Devano dengan tangan hingga lelaki itu mengalami orgasme. Begitu pun dengan Devano. Keduanya saling membantu hingga mereka mencapai puncak tanpa harus melakukan tahap terakhir dalam berhubungan badan.
Sementara itu, di kamar hotel lain, Exel mengerjap. Tangannya memegang sambil memijat pelan pelipis saat merasakan kepalanya masih terasa sangat pusing. Sejurus kemudian, senyum terbit dari bibir Exel begitu ia mengingat telah menggagahi Keysa semalam. Ia berhasil membuat Keysa menjadi miliknya seutuhnya.
"Akhirnya aku bisa memilikimu secara utuh," gumam Exel. Lantas menoleh ke arah gadis yang tidur di sampingnya. "Eh! Apa-apaan ini?" Sejurus kemudian senyum lelaki itu sirna, bahkan saking kagetnya ia sampai terjengkang begitu mendapati kenyataan bahwa yang ditidurinya bukanlah Keysa. "Apa yang dia lakukan di sini? Kenapa jadi dia? Mana Keysa?"
Exel dibuat syok saat melihat Disti sedang tidur di sampingnya. Ia pun lantas menyibakkan selimut dan semakin syok ketika menyaksikan Disti tidur dengan telanjang. Namun, sontak kedua tangan Exel mengepal sempurna menerima kenyataan tersebut. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, hah?" teriak Exel, sambil mendorong tubuh Disti dari dekatnya.
Disti yang masih terlelap langsung membeliak begitu mendapat guncangan dan teriakan dari Exel.
"Kenapa kau ada di sini, hah? Kau menipuku?" cecar Exel.
Disti tidak menjawab. Ia masih mengumpulkan kesadaran yang belum seratus persen kembali, hingga kejadian semalam berkelebatan di kepalanya.
'Harusnya aku bangun sebelum Exel bangun.' Dalam hati Disti merutuki dirinya sendiri, mengabaikan Exel yang sedang mencecar dengan sumpah serapahnya.
"Heh, penipu bicara! Aku itu bicara denganmu bukan dengan tembok," sarkas Exel.
Disti tidak terima disebut penipu. Ia menoleh ke arah lelaki yang sudah merah padam karena amarah untuknya itu. "Penipu? Siapa yang kau bilang penipu? Aku? Apa kau tidak salah ucap? Yang penipu itu kamu. Kamu memanfaatkanku untuk mendapatkan Keysa. Kamu menipuku demi mencapai tujuanmu. Kamu itu gila, Xel! Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Keysa. Sadarlah dia tidak mencintaimu!"
__ADS_1
Mereka bertengkar hebat. Exel terus menyalahkan Disti. Sementara itu, Disti yang tidak terima pun mencoba melawan.
"Diam kau!" Exel memotong ucapan Disti dengan tangan yang sudah melayang di udara. Ia tidak terima dengan ucapan Disti.
Disti pun langsung memejam saat melihat tangan yang bersiap mendarat di wajah. Satu detik, dua detik ... lima detik tidak ada apa-apa yang menempel keras di wajahnya. Perlahan, Disti membuka mata kembali. Tangan itu masih melayang di udara terhenti tepat beberapa centi di hadapannya. Lelaki itu terus memaki, tetapi setidaknya tidak sampai berbuat kekerasan kepadanya.
"Kaulah yang memanfaatkan keadaan ini untuk mendapatkanku. Memangnya tahu apa gadis desa sepertimu tentang cinta, hah? Gara-gara kau semua rencanaku gagal total." Exel menurunkan tangannya dengan kasar.
"Terserah kamu mau berbicara apa. Aku hanya ingin melindungi sahabatku dari lelaki yang suka main kotor sepertimu. Aku juga melindungi persahabat kami karena jika Keysa tahu aku bersekongkol denganmu maka persahabatan kami pasti hancur. Persahabatan jauh lebih penting daripada rencanamu. Jika kamu cinta dengan Keysa, kamu tidak akan pernah melukai Keysa dengan rencana kotormu itu."
Disti yang masih polos dan hanya ditutupi selimut langsung beranjak sambil mengambil pakaian yang tergeletak tidak jauh dari tempat tidurnya. Meninggalkan Exel yang terus melakukan pembelaan atas semua yang telah dilakukan.
"Mau ke mana kau? Aku belum selesai bicara." Exel mencekal lengan Disti saat Disti akan turun dari ranjang.
"Pergi. Bicara denganmu tidak akan ada akhirnya." Disti menepis tangan Exel, lalu berdiri dengan membalut tubuh menggunakan selimut.
Tidak peduli dengan selimut yang sudah luruh, Disti memilih melangkah dengan tubuh tanpa sehelai benang pun menuju kamar mandi. Namun, langkah Disti kembali terhenti saat Exel menarik tubuhnya kembali ke atas ranjang.
"Xel, apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" teriak Disti, saat lelaki itu mengukung dan mengunci pergerakannya.
Exel tidak menjawab. Ia membungkam mulut Disti dengan ciuman kasar. "Ini yang kamu mau, 'kan?" Exel kembali mencium kasar Disti tanpa memberi kesempatan bagi Disti untuk bicara. Ciuman dan sentuhan-sentuhan paksa dan kasar diterima Disti dari Exel yang hanya mengandalkan naffsu tanpa cinta.
Disti mencoba memberontak, tetapi tenaga Exel jauh lebih kuat. Ia tidak bisa berkutik saat lelaki itu kembali memaksanya berhubungan inttim.
Setelah melakukan penyatuan yang begitu menyakitkan bagi Disti, Exel pergi mandi kemudian meninggalkan Disti sendiri.
Disti yang masih terbaring di tempat tidur hanya menatap kepergian Exel dengan linangan air mata yang sejak tadi ditahannya. Hatinya terasa dicabik-cabik oleh keadaan. Ia sakit hati.
__ADS_1
"Jangan menangis Dis! Ini konsekuensi yang harus kamu dapat atas pilihan yang kamu ambil. Ini lebih baik daripada terjadi sesuatu kepada Keysa." Disti bermonolog sendiri. "Bukankah kamu sudah menyiapkan dirimu untuk mendapatkan perlakuan seperti itu?" Disti mengusap air mata yang terus mengalir semakin deras.
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia berharap jika Exel mau menerimanya karena Disti sudah memberikan kegadisannya kepada lelaki itu. Namun, sepertinya semua itu hanya ada dalam angan-angan Disti saja. Nyatanya, lelaki itu pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Di ruangan lain, Keysa terbangun dan menyadari dirinya yang sedang tidur sambil berpelukan dengan Devano tanpa memakai baju. Kejadian semalam pun berkelebatan di kepalanya, membuat wajah gadis yang masih memeluk Devano itu langsung bersemu merah karena malu.
Bertepatan dengan itu, Devano juga bangun dan menyaksikan Keysa yang sedang senyum-senyum sendiri sambil menatap wajahnya.
"Apa senyum-senyum? Puas kamu membuatku hampir seperti orang gila!" tandas Devano.
Keysa yang tidak menyadari Devano sudah bangun dibuat tersentak dan langsung menjauh dari tubuh Devano sambil menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya yang sepolos bayi.
"Puas apanya? Aku juga korban. Lagian aku sudah membantumu menyelesaikannya," sanggah Keysa.
"Lalu, bagaimana jika kamu tidak menemukanku. Apa yang akan kamu perbuat? Mau melakukannya dengan siapa?" cecar Devano. Membayangkan Keysa disentuh oleh orang lain membuat kepala yang masih setengah sadar itu ingin meledak.
"Seharusnya aku yang nanya itu sama kamu. Kamu yang minum sangat banyak. Pengaruhnya pun sangat kuat padamu. Jika aku tidak ada apa kamu akan menyewa wanita malam? Dan memberikanku barang sisa?" Keysa malah mencecar balik Devano.
"Hei, kenapa malah bertanya balik?" Devano memicingkan sebelah matanya.
"Ya, karena itu kenyataannya. Aku masih bisa tahan meskipun semalaman harus berendam dengan air dingin. Tapi kamu? Aku yakin tidak akan mempan," tandas Keysa.
Mereka saling adu mulut dengan kejadian samalam. Devano juga menyalahkan Keysa yang ceroboh karena asal ambil minum.
"Aku ceroboh kamu juga lebih ceroboh! Mana aku tahu itu ada obatnya. Lagian, ngapain juga kamu ikutan minum," tandas Keysa, lalu beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
"Hei, main lari saja!" Devano yang belum puas berdebat dengan Keysa menyusul ke kamar mandi. "Key, buka!" sarkasnya sambil menendang pintu saat mendapati pintu kamar mandi terkunci.
__ADS_1