
Keysa membuka game yang baru saja didownload, kemudian melihat sekilas ke arah Devano yang masih asyik dengan game-nya. Saat melihat username suaminya di game, Keysa mendadak curiga kalau orang yang menjadi suami game-nya itu adalah Devano karena username game dan username akun sosial media Devano sama persis.
Namun, dalam hal ini, Keysa lebih dulu mengenal suami yang ada di dalam game-nya. Ia sudah sering bermain dengan orang itu sejak Keysa masih tinggal bersama kakek. Saat pertama menginjakkan kaki di Kota B, Keysa mengatakan pada patner game-nya itu bahwa dirinya sedang berada di luar negri.
Devano melirik Keysa yang juga sedang asyik bermain ponsel. Ia menegakkan sedikit tubuhnya dengan mata yang melengo ke arah ponsel, melihat apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu. Begitu tahu Keysa sedang memainkan game yang sama, Devano langsung menutup game-nya takut Keysa tahu kalau dirinya memiliki istri yang maha sempurna di game yang sedang dimainkannya.
"Kamu sedang bermain apa?" Devano mendekati Keysa dengan panggilan yang sudah berubah menjadi aku-kamu.
"Seperti yang kamu mainkan," jawab Keysa, sambil menoleh ke arah Devano dengan seutas senyum yang tertampil.
Tangan kiri Devano lantas merangkul bahu Keysa yang masih asyik dengan permainannya."Kamu tahu, peralatan game istriku sangat buruk." Devano mengeluh tentang peralatan istrinya di dalam game sangatlah buruk.
"Buruk gimana?" tanya Keysa, tanpa menoleh ke arah suara.
Devano masuk ke akun rahasia-nya, kemudian menunjukkannya kepada Keysa. "Coba lihat, deh!" ujarnya.
Keysa meletakkan ponsel dirinya, kemudian melihat game milik Devano. Ia meraih ponsel Devano, lalu melihat username game Devano yang berbeda dengan username si suami, membuat Keysa tidak lagi curiga.
"Mungkin memang style-nya memang kayak gitu," ucap Keysa, sambil mengembalikan ponsel itu kepada si pemilik.
"Kalau aku akhiri hubunganku dengannya, bagaimana?" tanya Devano lagi.
"Terserah kamu saja." Keysa menjawab dengan mata yang kembali fokus pada ponsel miliknya.
"Tapi—"
"Ssttt ... diamlah, aku juga sedang main!" Keysa memotong ucapan Devano.
Permintaan suami game untuk bercerai sedikit berpengaruh pada mood Keysa, sehingga gadis itu mengabaikan Devano.
__ADS_1
Devano sendiri langsung melepaskan rangkulannya dengan bibir yang mengerucut begitu mendengar ucapan sang kekasih. "Main saja. Aku juga mau main," tandasnya, dan kembali membuka game dengan username pertama.
Keysa melirik sekilas, tanpa meladeni rajukan Devano. Lalu, kembali fokus pada ponsel. Keysa bersikeras tidak akan bercerai dengan suami di game. Bahkan si suami siap memberikan kompensasi yang besar asal Keysa mau bercerai, tetapi ia tetap tidak setuju.
Tidak bisa membujuk dengan rayuan kompensasi, akhirnya suami Keysa memberitahu kalau dirinya sudah memiliki kekasih di dunia nyata dan saat ini kekasihnya itu sedang cemburu. Orang itu mengatakan, ia tidak mau hubungan di dunia nyatanya berakhir hanya karena sebuah game. Namun, segala alasan tidak terima oleh Keysa, ia masih tidak setuju.
Sementara itu, di ponsel Devano. Devano tampak sedang mengejar istrinya di dalam game. Lelaki itu berniat untuk membunuh si istri.
Keysa yang tidak mau bercerai dengan si suami pun lebih memilih keluar dan menutup game. Sejurus kemudian, Devano juga mengakhiri permainannya karena si istri tiba-tiba tidak aktif.
Keysa dan Devano menoleh secara bersamaan, membuat keduanya saling pandang.
"Udah maen game-nya?" tanya keduanya bersamaan. Mereka pun mengangguk secara bersamaan.
Devani dan Keysa sama-sama merahasiakan sesuatu. Keduanya tidak mau menceritakan jati diri mereka masing-masing di dalam game itu.
Keysa mengangguk dengan senyum tipis yang tertampil.
Kedekatan Devano dan Keysa membuat Exel merasakan hawa panas yang luar biasa, padahal AC di ruangan tersebut menyala. Exel yang jengah dengan pemandangan di depan matanya, langsung mengganggu kebersamaan Devano dan Keysa.
Dengan susah payah, Exel berusaha bangun. Kekerasan yang dilakukan Devano benar-benar membuat tubuh lelaki itu remuk redam. Bahkan untuk sekedar bangun saja, Exel harus mengerahkan tenaganya untuk menahan rasa sakit.
"Kamu mau apa, Xel?" tanya Keysa, saat melihat Exel bangun dan perlahan menurunkan kaki ke lantai.
"Aku ingin mengambil air minum," jawab Exel dengan mata yang tertuju pada segelas air putih di nakas.
"Diamlah! Biar aku ambilkan," ucap Keysa. "Tunggu sebentar," ucapnya juga kepada Devano sambil mengangkat sedikit kepala yang masih di pangkuannya dan meletakkan di sofa tanpa bantalan.
Keysa lantas berdiri dan mengambil segelas air untuk Exel. Sementara itu, Exel yang melihat Keysa meninggalkan Devano dan membawa air minum untuknya menyunggingkan senyum. Ia berhasil mengganggu kebersamaan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
'Aku tidak akan membiarkan kalian bermesraan di ruangan ini,' tekadnya dalam hati dengan ujung bibir yang terangkat.
"Ini, minumnya!" Keysa memberikan segelas air dan langsung diminum Exel.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Setelah memberi minum, Keysa kembali ke sofa dan Exel pun berbaring lagi.
Melihat Keysa sudah kembali, Devano langsung menyimpan kepalanya di pangkuan gadis itu lagi. Namun, tidak selang berapa lama, Exel bangun lagi.
"Ada apa lagi, Xel?" tanya Keysa.
"Aku tiba-tiba ingin ke kamar mandi."
Keysa hendak kembali bangun dan membantu lelaki itu, tetapi langsung dicegah oleh Devano. Ia tidak tahan melihat Exel yang mencari-cari kesempatan.
"Biarkan aku saja!" Devano bangun dan memutuskan menggantikan Keysa untuk memapah Exel.
Devano beranjak menghampiri Exel. "Sini, biar aku antar. Keysa sudah kelelahan biarkan dia istirahat," tandas Devano sambil meraih tangan Exel dan merangkulkan pada bahunya.
Devano memapah Exel sampai ke dalam toilet, sedangkan Exel hanya bisa nurut tanpa bisa protes meskipun dalam hati terus memaki Devano.
"Jangan pernah berpikir untuk mengambil simpati dari Keysa," ancam Devano saat di dalam toilet.
Devano kembali ke sofa setelah mengantar Exel ke ranjang dan mendapati Keysa sudah tidur. Devano lantas duduk di ujung sofa, lalu mengangkat kepala Keysa dan meletakan di pangkuannya.
__ADS_1