
19
Sejak Devano mengumumkan acara pertunangannya, Keysa hanya diam. Ia hanya mendengarkan setiap kata yang terucap dari orang-orang sekitarnya, tanpa berani menyanggah. Dengan diam, ia menerima semua ancaman-ancaman dari Damar juga Devano. Namun, kali ini diam saja tidaklah cukup. Cheryl yang entah muncul dari mana, tiba-tiba saja datang menghampirinya ke panggung dan langsung mencaci maki serta menghinanya di depan umum. Membuat Keysa menjadi tontonan orang banyak dan perguncingan sana-sini. Keysa tidak terima harga dirinya diinjak-injak sebegitu rendahnya oleh wanita seumurannya yang begitu membanggakan uang yang dimiliki.
"Diam, kau!" hardik Keysa, membuat semua orang terdiam.
Keadaan di Aula menjadi sangat hening seperti tak berpenghuni. Bahkan suara jarum yang jatuh pun bisa terdengar jelas. Andaikan ada semut yang berjalan, derap kakinya juga pasti terdengar. Setelah menyuruh Cheryl diam, Keysa lantas berjongkok mengambil beberapa uang kertas yang dilempar Cheryl.
"Dasar mata duitan," gumam Cheryl dengan senyum licik, menatap Keysa yang masih sibuk memunguti uang. Keysa akan selalu mudah diselesaikan, jika disandingkan dengan uang banyak, begitulah pemikiran Cheryl.
Tangan Keysa sudah dipenuhi dengan lembaran uang, kemudian ia berjalan mendekati Cheryl. Namun, langkahnya langsung dihentikan Devano. Lelaki itu menarik dan menggenggam tangan Keysa.
"Bersabarlah! Aku janji akan memberikan kompensasi yang besar atas kejadian ini. Kamu sudah berjanji tidak akan membuat masalah dengan Cheryl," ucap Devano, menatap gadis itu dengan penuh kelembutan, mencoba menenangkan singa betina di dalam tubuh Keysa yang sudah bangun.
Keysa bisa saja mengubah penampilan seculun mungkin, tetapi ia tak bisa mengubah sifatnya. Benar kata Devano, ia memang tidak takut mati, apalagi bila diperlakukan semena-mena. Ia bukan orang yang lemah seperti orang culun kebanyakan, yang bisa menerima perlakuan orang-orang yang telah menindasnya.
Keysa pun menatap lelaki yang mencoba merayunya dengan kompensasi besar, tanpa menjawab ucapan Devano. Ia hanya menampilkan senyum manis yang muncul dari sudut bibirnya. Senyum yang sulit diartikan. Seyum yang membuat semua orang yang melihatnya merasa aneh, hingga tanpa sadar Devano melepaskan pergelangan tangan Keysa.
"Shitt! Kenapa aku malah terhipnotis oleh senyumnya?" gumam Devano yang baru menyadari Keysa sudah tidak ada di dekatnya.
Keysa pun berjalan mendekat dan dengan tenang menanyakan nama Cheryl. Meskipun sudah beberapa kali bertemu, mereka belum berkenalan secara resmi. Keysa hanya tahu nama gadis di hadapannya dari Devano.
"Kita sudah sering bertemu, tapi belum sempat berkenalan. Kalau boleh tahu namamu siapa?"
__ADS_1
"Kau berasal dari alam antah berantah mana sampai tidak tahu namaku? Semua orang di kota ini mengenalku dengan baik," ujar Cheryl dengan sombongnya. "Namaku, Cheryl Atmawijaya." Pada akhirnya, ia menyebutkan namanya.
"Nama yang bagus. Aku akan selalu mengingat nama itu," ucap Keysa dengan senyum yang masih menghiasi wajah.
Namun, dalam sekejap senyum itu menghilang. Setelah itu, Keysa mengangkat tangannya dan seketika uang kertas yang digenggamnya berterbangan di mana-mana memenuhi Aula. Membuat tempat itu di hujani setumpuk uang kertas yang tadi Cheryl lemparkan.
Cheryl membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata yang membulat sempurna. Ia dibuat tercengang oleh perbuatan Keysa. Dan, ia semakin kaget saat merasakan sakit di kulit kepala dan tubuhnya yang terasa ditarik oleh sesuatu.
Keysa yang sudah tidak bisa menahan amarah oleh penindasa dan penghinaan Cheryl langsung menghadiahi gadis itu dengan tamparan berkali-kali, lalu menendangnya. Bahkan Cheryl yang ditendang jauh olehnya sampai terjungkir dari atas panggung pelaminan dan hampir pingsan.
Semua orang yang ada di sana semakin dibuat terkejut. Mereka menatap tidak percaya dengan yang telah dilakukan Keysa, Membuat mereka bertanya-tanya asal-usul wanita jelek yang dibawa Devano itu, sampai berani memukul putri bungsu dari salah satu keluarga besar di kota.
Sementara itu, Keysa yang baru saja selesai memukul Cheryl dengan membabi buta. Ia tersenyum puas setelah memberikan pelajaran pada wanita sombong yang sudah tidak berdaya itu. Kemudian, berbalik dan berjalan ke arah Devan tanpa rasa bersalah.
Devano menatap. Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa. Ia terlanjur kaget dengan semua yang dilakukan Keysa. Devano tahu kalau wanita di hadapannya tidak takut mati, tetapi ia tak menyangka akan sejauh dan seberani itu. Ia menelan salivanya mengingat keluarga Cheryl bisa dengan mudah mematikan Keysa yang bukan siapa-siapa seperti mereka mematikan semut di kota.
'Aku sedang memikirkan apa?' Devano geleng-geleng, membayangkan Keysa yang dipites oleh keluarga Cheryl karena sudah membuat putri bungsu mereka sekarat.
Tidak ada gunanya memikirkan hal seperti itu. Devano yang telah membawa Keysa ke acaranya, maka ia berjanji dalam hati tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Keysa. Ditambah lagi, ia masih membutuhkan Keysa karena masalahnya belum selesai.
Devano pun lantas meraih tangan Keysa. "Tentu saja akan dilanjutkan," ucapnya dengan senyum yang setengah dipaksakan. "Segera bawa wanita itu ke rumahsakit," lanjut Devano kepada para pelayan.
Para pelayan pun segera membawa Cheryl sesuai dengan perintah tuan muda mereka.
__ADS_1
"Keren! Ternyata kau itu sangat-sangat berani," Tiba-tiba dari arah belakang Keysa terdengar suara tepukan tiga kali dibarengi suara dingin dari Damar yang memuji sinis Keysa.
Keysa perlahan berbalik, dilihatnya Damar sedang menatap Keysa dengan aura yang sangat menakutkan.
"Apa kalian akan tetap melanjutkan pertunangan ini?" tanya Damar lagi, suaranya penuh tekanan dengan raut wajah yang sangat mengerikan. Dingin dan beringas.
"Iya." Keysa menjawabnya lemah, membuat rahang Damar semakin mengeras dan urat-uratnya semakin menegang.
Sementara itu, Devano tidak menjawab. Ia malah menggenggam tangan Keysa dan bersiap pergi untuk melanjutkan acara pertunangan mereka.
"Ayo, kita selesaikan acara kita," ucap Devano. Ia mengajak Keysa untuk kembali ke tengah-tengah panggung pelaminan.
Keysa mengangguk, lalu mengikuti langkah lelaki yang menggandeng tangannya, mesra.
"Berhenti!" Tetiba suara bariton Damar kembali menggema. "Bagaimana jika aku dan kau mundur selangkah?" lanjutnya.
Devano pun menghentikan langkahnya, lantas berbalik menatap sang ayah. "Bagaimana kalau Daddy membatalkan pernikahamu dan aku akan membatalkan Pertunanganku," tawar Devano.
"Jangan mencoba bermain trik denganku, Dev!" ucap Damar dengan kemarahan yang semakin menggebu. Ia tidak terima dengan ucapan Devano yang malah membuat tawar menawar yang tidak masuk akal.
"Aku belajar trik ini dari dirimu sendiri, Dad! Sekaligus dari kakek juga," ucap Devano. "Bukankah sebagai keluarga Abraham, aku ini sangat pintar?" lanjut Devano dengan sudut bibir yang terangkat.
"Kau ini!" Damar mengeratkan gigi-giginya dengan tangan yang sudah mengepal sempurna. "Apa kakek yang menyuruhmu merusakan acara pernikahanku?" selidik Damar.
__ADS_1
"Tidak. Tapi, kakek mendukung semua yang aku lakukan," jawab Devano yang berhasil membuat Damar terdiam.