
54
"Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Kenapa setiap bertemu denganku bawaannya ngajak ribut mulu? Masalah yang satu belum selesai udah nambahin sama masalah lain. Memang siapa dia yang larang-larang aku bertemu dengan Arsen?" Keysa terus menggerutu sendiri begitu mengingat perdebatannya dengan Devano.
Ia masih tidak habis pikir dengan kelakuan lelaki itu yang selalu saja mengajaknya ribut, bahkan hanya oleh masalah-masalah kecil. Lelaki itu yang kemarin merasa dipermainkan dan ditinggal begitu saja oleh Keysa, langsung mengajak ribut saat mereka bertemu kembali. Ditambah lagi, Keysa yang ketahuan sedang mencari Arsen, pun menjadi bahan keributan yang semakin memperpanjang perdebatan mereka. Bahkan dengan percaya dirinya, Devano menyimpulkan kalau Keysa mencari Arsen untuk mencari dukungan orang dalam untuk memenangkan pemilihan ketua senat.
"Kalau kau benar-benar tidak terjaring nepotisme, berarti kau tidak perlu menemui lelaki itu. Dengan kau menemuinya, berarti kau telah membenarkan persepsiku," tandas Devano saat itu, yang malah membuat Keysa semakin jengkel dan memilih meninggalkannya.
Sepertinya hidup Devano akan terasa kurang sempurna jika sehari saja tidak berdebat dengan Keysa. Seperti sayur tanpa garam yang akan terasa hambar, mungkin itu juga yang terjadi dalam diri Devano jika tidak mengajak Keysa ribut.
Dengan membawa kekesalan untuk Devano, Keysa kembali mencari Arsen tanpa memedulikan ucapan lelaki yang mengajaknya berdebat itu. Tempat yang belum ia datangi adalah kelasnya Arsen, Keysa pun langsung pergi ke sana, tetapi lelaki itu juga tidak ada di kelas.
"Sebenarnya dia pergi ke mana, sih?" rutuk Keysa.
"Coba pergi ke lantas atas! Tadi aku melihat Arsen pergi ke arah sana," ucap salahsatu mahasiswa yang ada di kelas Arsen.
Setelah mendengar itu, Keysa langsung pergi ke lantai atas gedung. Sesampai di sana, Keysa yang berdiri di ambang pintu melihat Arsen dan Gabby sedang bermesraan. Keduanya tampak saling berpelukan ditemani dengan embusan angin yang berhembus cukup kencang.
Gabby memeluk Arsen dengan sangat erat, begitu juga dengan sebaliknya. Mereka saling mentransfer perasaan mereka masing-masing, meski hanya lewat sebuah pelukan. Terlihat jelas keduanya sangat saling mencintai dan ingin memiliki satu sama lain. Namun, takdir telah menyiksa keduanya. Terlebih bagi Gabby, gadis itu sangat tersiksa dengan perasaan dan hubungan sedarah itu. Ia tidak ingin berpisah, tetapi bersatu pun jauh lebih tidak mungkin.
"Gabby, aku sangat mencintaimu! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku!" Terdengar kata cinta keluar dari mulut lelaki yang sedang memeluk Gabby dengan begitu posesif.
Gabby tidak menjawab. Ia semakin mengeratkan pelukannya dengan air mata yang mulai membasahi pipi dan baju Arsen, karena hanya air mata dan isak tangis yang mampu menjawab perasaan gadis itu saat ini.
Arsen yang merasakan tubuh Gabby bergetar karena tangis, lantas melonggarkan pelukannya. "Jangan menangis! Semuanya akan baik-baik saja," ujar Arsen seraya mengusap air mata yang membasahi pipi sang kekasih, kemudian mencium kening dan kedua mata yang terus berair itu.
__ADS_1
Mendapat perlakuan seperti itu dari lelaki yang sangat dicintainya, malah membuat tangis Gabby semakin tidak terbendung. Ia kembali memeluk Arsen. Hatinya semakin terasa sakit dan air mata pun semakin mengalir deras.
Pemandangan drama cinta kakak-adik itu pun tidak luput dari pandangan Keysa. Bahkan, saat Gabby menangis tanpa terasa air mata juga menetes di pipi Keysa. Ia bisa merasakan kesakitan yang dialami Gabby dan pasti sangat tersiksa jika harus terus menjalin hubungan seperti itu.
"Aku harus membantu mereka. Ya, aku wajib membantu mereka. Mereka pantas untuk bahagia." Keysa semakin yakin untuk membantu dua sejoli itu.
Di saat Keysa masih dengan dunianya sendiri karena melihat drama melankolis Gabby dan Arsen, tanpa ia sadari kedua sejoli itu sudah berada di hadapannya.
"Key, sedang apa di sini?" sapa Gabby dengan mata yang tampak memerah, meskipun sudah tidak berair lagi.
Keysa yang terkesiap dengan kehadiran Arsen dan Gabby yang tiba-tiba muncul di hadapannya hanya bisa tersenyum kikuk. "Em ... sebenarnya aku mencari Kak Arsen. Kata teman sekelasnya dia berada di sini, jadi aku susul ke sini," jawab Keysa. "Apa aku ganggu, ya?" lanjutnya.
"Tidak, kok," jawab Gabby sembari menggeleng.
"Tapi, aku ingin bicara berdua saja dengan Kak Arsen. Apa boleh?" lanjut Keysa, yang membuat sepasang kekasih itu menyipitkan mata.
Keysa dan Arsen pun duduk di sebuah bangku panjang yang ada atap gedung.
"Ada apa?" tanya Arsen yang berpikir pasti bukan hal kecil yang akan dibicarakan teman sekamar pacarnya itu
"Aku mau minta rambut ayahmu," ucap Keysa to the point.
"Untuk?" Arsen melirik Keysa dengan sejuta tanda tanya. Ia tidak mengerti maksud dari lawan bicaranya.
Keysa pun memberitahukan Arsen tentang dirinya yang simpati pada hubungan Arsen dan Gabby, hingga ia ingin membantu keduanya untuk mendapatkan keadilan bagi cinta mereka. "Kamu tenang saja yang akan aku lakukan tidak akan membahayakanmu," ucap Keysa meyakinkan Arsen.
__ADS_1
"Apa kamu mau melakukan tes DNA?" tanya Arsen.
Keysa menjawab dengan anggukan pasti.
Arsen membuang napasnya kasar, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang bangku. "Percuma. Aku sudah melakukannya. Dan hasilnya aku dan Gabby memang sedarah," ucapnya sambil terpejam. Sauranya begitu berat saat harus mengatakan kebenarannya, bahwa mereka saudara sedarah.
"Aku yakin tes-mu kemarin ada kekeliruan. Aku akan melakukan tes lagi dengan jalur khusus." lanjut Keysa.
Arsen menoleh pada gadis di sampingnya. "Jalur khusus?" Matanya menyipit begitu mendengar ucapan Keysa.
Kepala Keysa mengangguk. "Jadi, aku boleh minta rambut ayahmu, kan?"
Tawa Arsen pun meledak saat melihat Keysa mengangguk dengan pasti. Ia sama sekali tidak percaya kalau Keysa bisa membantunya apalagi dengan jalan khusus yang disebut Keysa.
"Aku sangat berterimakasih karena kamu mau membantu hubunganku dan Gabby. Tapi sepertinya usahamu hanya akan sia-sia, jadi sebelum kamu melangkah lebih jauh dan akhirnya kecewa sama sepertiku sebaiknya tidak usah, ya!"
"Kenapa kamu pesimis seperti itu? Percayalah semuanya pasti akan berhasil," ucap Keysa meyakinkan. Bahkan, agar Arsen mempercayainya Keysa juga mengatakan kalau dirinya adalah anak ketua senat angkatan 58.
Alih-alih mempercayai ucapan Keysa, tawa Arsen malah semakin meledak. Lelaki itu sama sekali tidak memercayai ucapan Keysa. "Apa aku percaya dengan ucapanmu?" tanya Arsen di sela-sela tawanya.
"Aku bicara kebenarannya."
"Tapi, aku sama sekali tidak percaya," jawab Arsen.
"Ayahku orang hebat. Aku bisa buktikan kalau aku benar-benar anaknya dan aku juga tidak akan kalah hebat darinya. Aku akan buktikan kalau aku bisa menyelesaikan teka-teki hubungan rumit kalian." Keysa masih berusaha meyakinkan Arsen.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak merasakan itu," tandas Arsen.