
57
"Apa kamu akhir-akhir ini sedang dekat dengan seorang pria?" Tiba-tiba di sela-sela pembahasan mereka tentang keluarga Arsen, Kakek Surya sempat-sempatnya bertanya tentang hal itu.
"Tidak ada hal yang seperti itu, Kek. Mana ada orang yang menyukaiku," tandas Keysa dengan cepat.
"Ingat, jangan pernah membongkar identitas dan penampilanmu yang sebenarnya kepada siapapun! Karena tidak akan ada yang tulus memperlakukanmu, mereka hanya akan melihatmu dari ada apanya dirimu, bukan apa adanya dirimu." Kakek di seberang sana memperingati Keysa karena ia yakin, jika orang-orang mengetahui kebenaran tentang cucunya, mereka hanya akan melihat Keysa dari segi harta dan penampilan saja.
"Aku tahu batasannya, Kek. Kakek tenang saja."
Setelah mendengar jawaban itu, Kakek Surya tidak lagi membahas tentang identitas Keysa. Ia lantas menanyakan perihal pemilihan ketua senat dan Keysa pun mengatakan kalau dirinya akan memberitahu sang kakek kalau jika dirinya menang.
Selesai menelpon dengan Kakek Surya, Keysa membuka sebentar akun media sosialnya. Dilihat, ada beberapa pesan masuk; diantaranya dari Ezra, Devano, dan sebuah perusahaan yang mengajaknya kerja sama. Keysa membalas satu persatu pesan masuk, kecuali pesan dari Devano. Mengingat yang baru saja mereka alami, Keysa memilih mengabaikan pesan dari lelaki arogan itu.
Keysa yang sudah berganti pakaian pun kembali ke kampus. Saat di kelas, semenjak Keysa datang sampai mata kuliah dimulai dan selesai, Devano terus menatap Keysa—memperhatikan gadis itu secara terang-terangan. Bahkan, para mahasiswa lain yang menyadari tingkah Devano dibuat saling senggol dengan mata mereka yang saling memberi kode, tidak sedikit juga dari mereka yang saling berbisik mempertanyakan kelakuan lelaki itu.
"Mereka kenapa?" gumam Keysa, saat melihat orang-orang juga melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Ia lantas melemparkan bolpoin ke arah Disti dan gadis itu pun langsung menoleh. "Orang-orang kenapa?" tanya Keysa seraya berbisik kepada si teman yang berada di bangku sebelah kiri.
Disti yang baru saja menoleh dan mendapati Devano sedang memperhatikan Keysa tanpa berkedip pun langsung membungkam mulutnya sendiri dengan tangan. Sambil mengulum senyum Disti berbisik, "Mungkin karena itu!" ucapnya, seraya menunjuk ke arah bangku sebelah kanan Keysa.
Spontan, Keysa pun lantas menoleh ke arah yang ditunjuk Disti dan dilihatnya Devano sedang menyangga dagu sambil menatap dirinya. "Ish … yang benar saja." Keysa mencebik, lalu menghampiri bangku Devano dan menggebrak meja lelaki itu. Meskipun Keysa memukulnya dengan pelan, tetapi berhasil membuat Devano terkesiap. "Ngapain liat-liat?" tandas Keysa dengan nada marah. Ia malu karena teman-teman mereka saling berbisik membicarakannya dan Devano.
"Kau ini apa-apaan membuatku kaget saja," ucap Devano gelagapan.
"Kau yang sedang apa? Ngapain liatin aku terus, hah? Apa kamu tidak sadar semua orang memperhatikanmu?" tanya Keysa dengan mata yang sudah melotot sempurna.
__ADS_1
"Siapa yang sedang liatin kamu? Aku itu sedang memperhatikan pelajaran." elak Devano, mencoba mencari alasan. "Awas! Kau tidak takut dihajar dosen saat mata kuliah belum selesai malah maen ke bangku orang," lanjutnya mengusir Keysa.
"Mata kuliahnya sudah selesai, Ferguso. Dosennya udah keluar," tandas Keysa sambil berlalu.
Devano menatap sekitar. Benar, dosen sudah tidak ada di sana yang tertinggal hanya para mahasiswa yang memberikan tatapan aneh kepadanya. 'Apa yang telah kau lakukan Devano?' Ia merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
***
"Huaamm ...." Keysa baru saja bangun sambil menguap setelah semalaman tidurnya sangat nyenyak.
Gadis itu terbangun oleh suara dering ponsel yang menandakan ada sebuah pesan pada benda pipih miliknya. Dengan segera, ia membaca pesan masuk itu yang ternyata dari sang kakek.
[Temui kakek di cafe X sepulang kuliah.] Kakek Surya meminta Keysa menemui dirinya di cafe saat pulang kuliah.
Setelah selesai kuliah, Keysa bergegas menuju cafe yang sudah dijanjikan bersama sang kakek. Sementara itu, Devano yang melihat kepergian Keysa dan mengira kalau gadis berkacamata itu akan menemui Arsen, langsung berdiri hendak mengikutinya.
"Gak usah banyak nanya kalau mo ikut, ya, ikut saja," tandas Devano, lalu pergi.
Sesampai di cafe, mata Keysa langsung menangkap lelaki yang duduk di sudut cafe sedang menunggunya. Ia pun langsung menghampiri lelaki itu dan berhambur ke pelukannya. Keysa tidak menyangka kakek yang sangat dirindukannya setelah satu bulan tidak bertemu itu sampai datang ke kota B untuk menemuinya.
Saat keduanya sedang melepas rindu yang membuncah antara cucu dan kakek, tiba-tiba Devano datang dan mendapati mereka yang masih berpelukan.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" hardik Devano dengan sangat keras.
Keysa yang terkejut pun, spontan melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah suara yang ia tahu betul siapa pemiliknya. Begitu juga dengan Kakek Surya, ia menoleh ke arah lelaki yang dengan berani berbicara lantang kepadanya dan Keysa.
__ADS_1
"Dia ini kakekku. Aku sedang memeluknya, apa ada yang salah?" ucap Keysa dengan marah. Ia tidak suka dengan sikap Devano yang main menghardiknya, di tempat umum pula.
Sementara itu, Devano dan Ezra yang mendengar penuturan Keysa langsung dibuat tercengang saat melihat lelaki yang disebut kakek oleh Keysa itu, karena lelaki itu masih terlihat sangat muda.
"Mereka siapa, Key?" Kakek Surya memperhatikan dua lelaki yang sedang berada di hadapannya itu dan tampak sangat posesif kepada sang cucu.
"Mereka teman sekelasku, Kek," jawab Keysa dan Kakek Surya pun hanya manggut-manggut. Kemudian, Keysa memperkenalkan kedua lelaki itu kepada sang kakek dan begitu juga sebaliknya.
Devano memperhatikan lelaki yang sedang bersama Keysa itu. Di dalam hatinya ia masih tidak percaya kalau lelaki itu adalah kakek Keysa. Dari segi penampilan orang di hadapannya terlihat masih muda dan modis.
Sadar diperhatikan oleh Devano, Kakek Surya langsung angkat bicara dan mencari alasan bahwa dirinya datang untuk menjenguk Keysa setelah menghasilkan uang dari hasil menjual buah. "Kakek ke sini untuk menjenguk Keysa. Maklumlah kami hanya seorang petani, orang tidak berada, jadi kakek baru bisa menjenguknya setelah hasil panen buah di kampung terjual habis," ujar Kakek Surya, dengan seutas senyum ramah yang ditampilkan.
Keysa tahu, Kakek Surya takut identitasnya terbuka, sehingga lelaki itu mengatakan kalau dirinya seorang petani. "Kami hendak makan di sini. Apa kalian mau ikut gabung bersama kami?" tawar Keysa, kemudian.
"Dengan senang hati. Aku juga lapar." Devano yang masih curiga dan tidak percaya kalau orang itu adalah kakek Keysa langsung menyetujui ajakan Keysa.
Mereka duduk bersama di tempat yang sudah ditempati Kakek Surya sebelumnya. Devano pun lantas memesan banyak hidangan yang mudah dicerna.
Semenjak Devano datang dan sekarang duduk bersama mengitari sebuah meja, Kakek Surya tidak berhenti memperhatikan Devano. Hingga ia menyimpulkan sebuah pendapat tentang anak muda yang satu itu.
"Apa kamu sangat dekat dengan lelaki yang bernama Devano itu?" tanya Kakek Surya, seraya berbisik.
"Hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi, anehnya dia sangat posesif sekali sama Keysa."
"Apa mungkin dia menyukaimu?" tanya kakek lagi yang curiga kalau Devano menyukai cucunya.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin."