Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
179


__ADS_3

Kata maaf sudah terucap. Keysa juga sudah mengakui alasan kedatangannya ke kediaman Devano, tetapi tatapan lelaki itu masih sama, menakutkan. Devano berjalan semakin dekat, kemudian duduk di samping tubuh Keysa dengan tatapan yang tidak teralihkan dari Keysa.


'Mikir Key! Jangan sampai Devano berbuat aneh-aneh.' Dengan isi kepala yang tidak bisa tenang, Keysa mencoba berpikir.


Sementara itu, Devano memerhatikan baju Keysa, memilih bagian mana yang akan digunting, kemudian tangan Devano meraih ujung baju yang dipakai Keysa serta gunting yang sudah siap untuk mengeksekusi.


"Dev, aku punya kabar gembira untukmu?" ucap Keysa, mencoba tenang.


"Hmm ...." Devano mendekatkan gunting pada kain yang ditarik.


"Kakek sudah merestui hubungan kita," tandas Keysa lagi, dan berhasil membuat Devano menghentikan aksinya.


Lelaki yang sudah menempelkan gunting pada baju Keysa itu lantas mendongak menatap Keysa lagi. "Apa kamu sedang mengelabuiku?" tanyanya, masih memegang gunting.


Keysa menggeleng sambil mengatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh, lantas menceritakan saat dirinya menelpon Kakek Surya, tentunya tanpa menceritakan bagian akhir yang diucapkan Keysa kepada Kakek Surya.


Mengingat ucapan Kakek Surya yang menyetujui hubungan mereka, terbersit di kepala Devano untuk pulang dan menemui Kakek Surya. Namun, mengingat Keysa yang tidak mau menikah dengannya, membuat Devano ingin membuat pelajaran bagi kekasihnya itu.


"Dev, Kakek sudah merestui hubungan kita. Aku mohon kamu jangan aneh-aneh, atau nanti dia akan mengubah keputusannya," lanjut Keysa.


Devano menatap Keysa. Ucapan Keysa ada benarnya, jika sampai anak buah Keysa melaporkannya kepada Kakek Surya bisa tamat hubungan mereka. Devano membuang asal gunting yang dipegangnya. "Aku tidak akan berbuat aneh-aneh," ucapnya dengan seutas senyum yang begitu manis.


Senyum kekasihnya sudah kembali normal. Keysa bernafas lega. Ia pun menampilkan seulas senyum, lalu meminta lelaki itu untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya masih dengan ancaman yang sama. Devano yang sedang mengejar restu Kakek Surya pun langsung mengangguk dan menurut begitu saja.


'Seharusnya dari tadi aku pakai Kakek jadi senjata.' Keysa terkekeh dalam hati. Kelemahan Devano adalah restu sang kakek.


"Makasih," ucap Keysa dengan seulas senyum, sambil bangun dan duduk.


Devano mengangguk, lalu menoleh pada gadis di sampingnya. "Lalu kapan kita akan meresmikan hubungan kita di depan keluarga besar?"


Baru saja merasa lega, Keysa sudah ditodong oleh pertanyaan yang tidak tahu harus dijawab apa. Keysa menatap lelaki yang juga sedang menatapnya, kemudian beralih menatap dinding. "Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu," ucap Keysa.


Mata Devano masih tidak teralihkan dari Keysa. Keysa yang berucap tanpa berani menatapnya, membuat Devano berpikir yang akan diucapkan Keysa bukanlah hal yang menyenangkan. Dadanya mulai bergemuruh kembali dengan pikiran yang mulai teringat pada ucapan Keysa malam itu. 'Aku harap kamu tidak mengatakan kata penolakan. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan hari ini, jika kamu mengatakan hal itu langsung di depanku.' Sebuah ketakutan yang sebenarnya ditutupi Devano dengan menakut-nakuti Keysa agar kekasihnya itu tetap di sisinya.

__ADS_1


"Kakek memang sudah merestui hubungan kita, tetapi Kakek dan keluarga besar sudah sepakat untuk menjodohkanku. Aku memiliki calon tunangan di sana," lanjut Keysa, berhasil membuat Devano tersentak.


Bagaikan mendengar petir di cuaca terang benderang itulah perasaan Devano saat ini. Kemarahan yang awalnya hanya untuk mengerjai Keysa karena menyusup ke rumahnya untuk menculik Alea berubah menjadi amarah sungguhan yang siap meletus. Devano yang awalnya sangat kecewa karena Keysa tidak mau menikah cepat, mencoba mengerti saat mendengar alasan Keysa yang ingin menyelesaikan kuliah dulu. Mereka pun pernah berjanji untuk menikah setelah kuliah selesai. Namun, mendengar ucapan yang baru keluar dari mulut Keysa berhasil membuat Devano meradang.


"Jadi selama ini kamu berbohong padaku, hah?" Devano menatap tajam Keysa, kabut hitam kembali menghiasi wajahnya.


'Ya Tuhan, apa yang sudah aku katakan? Kenapa malah menceritakan tentang Zian?' Keysa memukul mulutnya sendiri. Ia telah menggali kuburannya sendiri. Akan tetapi, mau sampai kapan juga Keysa menutupi tentang perjodohannya dengan Zian.


"Jadi ini alasannya kamu tidak ingin melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih serius? Kamu memiliki lelaki lain di sana? Dan, hanya menganggapku sebagai pelarian, begitu? Kamu tidak berniat serius begitu?" ucap Devano dengan nada tinggi, bahkan karena emosi lelaki itu sampai berdiri sambil menunjuk-nunjuk Keysa. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau ada lelaki lain di hati Keysa.


Mungkin ini waktu yang tepat untuk Keysa mengatakan tentang Zian kepada Devano. Sudah terlanjur basah, kenapa tidak menyelam sekalian. Mau tidak mau, Keysa harus menceritakan semuanya secara mendetail atau hidup dan hubungannya berakhir di bangunan kecil itu.


"Aku akan menjelaskan. Tapi tenang dulu! Jangan marah dulu!" Keysa menarik tangan lelaki yang hidungnya sudah kembang kempis karena marah, lantas menarik Devano lagi untuk duduk di sisi Keysa. "Aku ingin menceritakan semuanya, supaya tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Tapi janji tidak marah dulu!" ucap Keysa tanpa melepaskan genggaman tangannya. Mata Keysa menatap Devano, meminta persetujuan atas permintaannya.


"Aku mendengarkan," tandas Devano, tanpa mengatakan 'janji'.


Dengan tangan yang masih tidak terlepaskan, Keysa menceritakan tentang Zian. Lelaki yang pernah ikut mengambil mobil pemberian Devano itu bukanlah saudara Keysa, melainkan lelaki yang menjadi alasan Keysa berada di kota Devano. Lari dari perjodohan.


"Aku pikir dia akan berhenti mengejar ku setelah aku dengan terang-terangan menolak dan mengatakan kalau aku sudah punya kekasih."


"Memangnya siapa kekasihmu?"


Mendengar pertanyaan tidak berbobot dari Devano membuat Keysa ingin menggigit tangan Devano, tetapi sekuat tenaga ditahan untuk tidak berbuat ulah. "Aku hanya punya satu kekasih, itu pun jika dia menganggapku. Namanya Devano Gavin Mahardika."


Jawaban Keysa, membuat Devano sedikit tersenyum. Bahagia karena Keysa secara tidak langsung telah memilihnya.


"Tapi, kemarin dia sempat menghubungi dan berkata akan mencariku sampai ke lubang semut. Dev, aku mencintaimu, tapi apa kamu rela kalau aku diambil sama Zian. Sikap kamu yang pemarah seperti itu akan mempermudahkan Zian untuk memprovokasimu," lanjut Keysa.


Sejak pertama Keysa menjelaskan, mata Devano tidak teralihkan dari mata Keysa. Ia bisa melihat keseriusan dari kata yang diucapkan Keysa. Keysa tidak berbohong. "Jadi hanya ada aku 'kan di hatimu?" tanya Devano, penuh selidik.


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku ingin mendengar pernyataan cinta langsung darimu," tandas Devano lagi, membuat Keysa terperangah.

__ADS_1


"Apa kurang cukup dari tadi, kemarin bahkan sebelum-sebelumnya aku selalu mengatakan hal yang sama?"


Devano menggeleng. Ia terus memaksa Keysa agar mengatakan cinta kepadanya sebagai bukti bahwa gadis itu hanya mencintainya dari dulu sekarang dan sampai nanti, serta berjanji akan tetap bersama.


Keysa mengembuskan napas kasar, kemudian mengubah posisi duduknya dan menangkup wajah yang sejak tadi menatapnya dari samping. "Devano Mahardika aku mencintaimu setulus hati. Hanya kamu yang selalu ada di hatiku. Devano Mahardika, aku Keysa Indera Fidelya berjanji akan selalu mencintaimu sampai kapan pun. Kita akan tetap bersama dan tidak akan terpisahkan kecuali oleh maut," tutur Keysa.


"Aku juga mencintaimu. Dan seiring waktu cintaku padamu akan selalu tumbuh lebih besar dan lebih besar lagi." Devano membalas ucapan cinta Keysa, lantas mendaratkan sebuah kecupan. "Sudah. Aku punya bukti jika kau hanya milikku. Mulai saat ini siapapun yang mendekatimu akan berurusan denganku," tandas Devano sambil menunjukkan suara yang baru saja direkam.


"Kamu merekamnya?"


"Sebagai bukti nyata," tandas Devano lagi.


"Aku ada di sisimu, apa belum cukup untuk membuktikan kalau aku hanya mencintaimu?"


"Kata cinta ini sebagai penyemangat dan pengingat jika suatu saat ada yang mendekatimu, mereka harus menghadapiku dulu," ucap Devano sambil merangkul Keysa.


Namun, belum sempat Devano. merangkul, Keysa sudah berdiri. "Ya terserah kamu saja," ucap Keysa, dengan tangan yang jahil terhadap Devano. Ia membalas Devano dengan mengikat tangan lelaki itu, membuat Devano protes dan hanya dijawab senyum jahil Keysa. "Itu balasan karena kamu sudah mengikatku," ucap Keysa kemudian.


Keluar dan melarikan diri sudah tidak mungkin. Keysa lantas beranjak ke tempat tidur yang ada di ruangan itu. Biarpun masih dikurung, setidaknya ia bisa balik mengerjai Devano dengan mengikatnya di bangku.


Akan tetapi, bukan hal sulit bagi Devano melepas ikatannya. Tidak perlu menunggu lama, tali yang mengikat tangan Devano sudah terlepas. Setelah ikatannya terlepas, Devano pun beranjak dan menyusul Keysa ke tempat tidur memeluk gadis itu dari belakang.


"Eh, kenapa bisa lepas?" Keysa memutar tubuhnya, menghadap Devano.


"Bukan hal yang sulit," jawab Devano, tanpa melepas pelukannya. "Sudah malam aku ngantuk. Jangan banyak tanya! Aku mau tidur sambil meluk kamu," tandas Devano, kemudian menutup mata.


Keysa yang melihat Devano terpejam pun tidak ingin memperpanjang hal tersebut. Keysa juga sudah cukup lelah dengan semua yang telah terjadi. Penyusupan yang tidak berhasil dan berujung dirinya dibuat sport jantung oleh perilaku Devano membuat tubuh dan pikirannya terasa dikuras. Keysa pun memilih mengikuti jejak lelaki yang sedang memeluknya. Keysa dan Devano akhirnya tertidur sambil berpelukan.


***


Keesokan harinya Keysa dan Devano sarapan di kediaman Devano bersama Kakek Abraham.


Kakek Abraham memerhatikan Keysa dan Devano yang terlihat sangat akrab. Kakek Abraham yang belum mengetahui gadis cantik di hadapannya adalah Keysa merasa perbuatan Devano itu tidak adil bagi Keysa. Devano sudah memiliki kekasih, tetapi masih saja bermain api di belakang Keysa.

__ADS_1


__ADS_2