Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
23


__ADS_3

Ezra pergi ke samping danau tempat Keysa semalam mengambil foto. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap gadis yang dicarinya berada di sana. Namun, Ezra hanya bisa membuang napas kasar saat mendapati kenyataan tidak ada siapa-siapa di sana. 


'Faya, mungkinkah aku bisa bertemu denganmu lagi?' 


Ezra duduk di kursi panjang di bawah pohon rindang dengan mata yang tertuju pada birunya air danau yang tampak bergerak-gerak tertimpa angin, sedangkan pikirannya menerawang jauh pada pertemuan pertamanya dengan Keysa di klub. Semenjak pertemuan di klub itu, Keysa selalu hadir di dalam mimpinya membuat Ezra tidak bisa melupakan dan semakin merindukan gadis yang sudah membuat hatinya bergetar dalam pandangan pertama. 


Sementara itu di dalam kelas, Devano sedang mengejar Keysa. Keduanya tidak ada yang mau berhenti. Devano  terus berlari ke mana pun Keysa pergi seperti kucing yang sedang mengejar tikus.  


"Keysa berhenti!" teriak Devano, tetapi gadis yang dipanggilnya hanya menoleh sekilas sambil menjulurkan lidah tanpa berhenti.


Aksi kejar-kejaran itu berawal saat keduanya bertengkar dan saling mengejek. Keysa yang kesal karena Devano terus menghinanya gadis jelek yang tidak laku, tanpa sengaja mengetahui kelemahan Devano. 


"Kalau udah jelek sadar diri aja. Jangan mimpi ketinggian! Atau kamu perlu kaca untuk melihat kenyataan seberapa jeleknya dirimu?"  ucapan Devano kala itu sembari mengambil cermin dari salah satu mahasiswi dan memampangnya di depan wajah Keysa. "Jelek 'kan? 'Kan? Dilihat dari segi mana pun pasti jelek ... lek ... lek." Devano terus mengejek Keysa. 


Ucapan Devano memang tidak ada salahnya. Wajah Keysa memang jelek,  Keysa pun menyadarinya. Akan tetapi, gadis itu tidak terima kalau Devano terus mengatainya. 


"Devano kau cari ribut, ya!" Keysa berkacak pinggang dengan mata yang sudah membulat sempurna dan hidung yang sudang kembang kempis karena marah. 


"Apa? Berani kau menantangku?" Devano balik menatap Keysa dengan tangan yang juga berkacak pinggang.


"Berani. Siapa takut," jawab Keysa, lantas mendekati Devano sembari menggulung kemeja lengan panjang yang dipakai sampai ke siku, seakan-akan sedang mengumpul tenaga untuk menghajar Devano. 


Seketika Devano teringat saat Keysa menghajar Cheryl, membuat lelaki itu dengan susah menelan salivanya. Keysa semakin mendekat dengan tangan yang sudah siap memberi pelajaran kepada lelaki yang selalu mengusik ketenangannya. Dan, kedua tangan Keysa pun mendarat sempurna di pinggang Devano. Ia menggelitik Devano tanpa ampun. 


"Key, hentikan! Ampun!" pekik Devano yang tidak tahan digelitik, hingga membuat semua orang tahu kelemahannya. Ia sangat anti digelitik, sedangkan Keysa tertawa puas melihat kegeliannya.


Oleh karena itu, Devano yang merasa malu, tidak terima dengan kelakuan Keysa dan berambisi untuk membalas semua perbuatan gadis berkacamata itu dan keduanya pun terlibat saling kejar-kejaran.

__ADS_1


"Keysa, berhenti!" teriak Devano lagi. Ia sudah sangat lelah mengejar gadis itu, tetapi tak kunjung dapat. Hingga ia pun mengeluarkan jurus terakhir yang pasti ampuh membuat Keysa berhenti. "Atau aku akan hancurkan bisnismu lagi seperti yang sudah-sudah," lanjutnya, sambil duduk kembali di bangku. Aura dingin tiba-tiba menghiasi wajah Devano. 


Spontan Keysa langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar ancaman dari Devano. Ia yang takut bisnisnya diapa-apakan dengan enggan menghampiri lelaki itu. "Ancamanmu tidak asyik," ujar Keysa. 


"Dapat kau!" Devano menarik tangan Keysa dan mendudukkan gadis itu di samping bangkunya. "Kau telah menggelitikku, jadi kau harus dihukum!" 


"Eh, tapi—" 


"Ya sudah, siap-siap bisnismu bangkrut lagi." Devano langsung memotong ucapan Keysa yang hendak memrotes ucapannya. 


Ancaman yang sangat ampuh, langsung membungkam Keysa sekaligus. Keysa yang tak mau bisnisnya terancam terpaksa menerima hukuman dari Devano. 


"Good girl!" ucap Devano dengan seringai lebar menghiasi wajah begitu melihat Keysa pasrah dengan apa yang akan dilakukannya. 


Devano lantas mengambil cat warna yang ada di meja, lalu menggambar di wajah Keysa. Muka Keysa yang sudah jelek pun semakin jelek dibuatnya. Gambar alis tebal yang menyatu, kumis tebal di atas bibir dan jakun yang menggunakan pewarna hitam, serta bibir dan wajah yang berwarna merah tak beraturan layaknya badut. Tidak lupa Devano juga menggambar bulatan hitam di atas hidung Keysa. 


"Terus saja ketawa sampai puas, ampe ngompol sekalian!" sarkas Keysa. 


Bukannya merasa bersalah dan berhenti, tawa Devano malah semakin lepas, bahkan ia  sampai sakit perut karena terus tertawa. 


Tiba-tiba Cheryl masuk ke kelas Devano. Gadis itu dikejutkan oleh Devano yang sedang tertawa begitu lepas. Seingatnya, lelaki itu jarang sekali tersenyum apalagi tertawa lepas.


"Dev!" panggil Cheryl dari ambang pintu yang membuat suasana di kelas menjadi hening. 


Lelaki yang dipanggil menoleh ke arah suara dan tawanya pun seketika menghilang. 


"Bagaimana lukamu semalam?" tanya Devano saat Cheryl sudah berada di hadapannya. 

__ADS_1


"I'm fine," jawab Cheryl dengan seutas senyum yang tertampil. Ia bahagia, Devano mengkhawatirkannya. "Aku ke sini juga ingin meminta maaf pada dia," lanjutnya, sambil menunjuk Keysa yang wajahnya terlihat berantakan, membuat Cheryl menahan tawa. 


Cheryl mendekati Keysa yang sedang menghapus cat warna di wajah dengan tisu basah. Ia mengulurkan tangan ke arah Keysa seraya meminta maaf. "Aku minta maaf atas kejadian semalam," ucapnya.


Keysa melirik sekilas tangan yang terulur ke arahnya, tetapi alih-alih menjabat tangan itu, Keysa malah kembali fokus membersihkan wajah. "Mudah sekali kau meminta maaf setelah mempermalukanku dengan sangat luar biasa di hadapan semua orang," jawab Keysa dengan sinis. Mengingat kejadian itu membuat Keysa geram. "Tidak! Aku tidak mau memaafkanmu." Ia menolak dengan tegas. 


"What?" 


Cheryl tidak percaya dengan yang diucapkan Keysa. Ia yang dengan baik-baik meminta maaf, ditolak mentah-mentah oleh Keysa. Ia pun lantas menghampiri Devano dan mengalungkan tangannya di lengan Devano dengan manja. 


"Dev, lihatlah gadis itu tidak mau memaafkanku! Padahal aku sudah berusaha meminta maaf dengan tulus," rengek Cheryl. 


Devano menatap sekilas gadis yang sedang bergelayut manja di lengannya, lalu beralih menatap Keysa yang seolah-olah tidak peduli. 


"Aku sudah meminta maaf, jadi bukan salahku lagi kalau dia tidak mau memaafkanku," lanjut Cheryl lagi. 


"Mungkin kau kurang ikhlas meminta maafnya," ujar Devano sembari melepaskan tangan yang melingkar di lengannya.


"Kurang ikhlas gimana? Aku sampai merendahkan harga diriku untuk meminta maaf pada gadis jelek itu," jawab Cheryl, "kalau gitu kamu bujuk dia saja untuk memaafkanku," lanjutnya sembari melingkarkan kembali tangannya di lengan Devano. 


Devano tidak menjawab, tetapi langsung mendekati Keysa. 


"Apa?" Keysa yang mendengar pembicaraan mereka, bertanya dengan nada yang sinis kepada Devano. 


Devano pun meminta Keysa memaafkan Cheryl karena gadis di sampingnya itu sudah meminta maaf. 


Keysa yang masih sibuk membersihkan wajah, langsung meletakkan tisu yang dipakainya lalu menatap tak suka kepada Devano dna Cheryl. "Ini urusanku dengan gadis itu!" Keysa menunjuk Cheryl. "Jadi sebaiknya kamu tidak usah ikut campur!" sarkas Keysa kepada Devano.

__ADS_1


__ADS_2