
13
Setelah kesepekatan yang memakan waktu alot karena tawar menawar yang panjang, dengan Devano sebagai pemenang. Akhirnya, Keysa menerima tawaran Devano meskipun hanya setengah harga. Bisnis Keysa juga kembali berjalan lancar, bahkan lebih berkembang dari sebelumnya. Gadis itu dan Disti kembali disibukkan oleh pesanan yang melimpah. Hari-hari di kampus, mereka habiskan untuk belajar dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang terus mengalir.
Devano yang ke depannya akan terikat kerja sama panjang dengan Keysa pun tidak lagi membuat masalah. Bahkan, lelaki itu dengan suka rela membantu bisnis Keysa dengan menerima semua surat dari para mahasiswa yang dikirim untuknya. Hubungan Keysa dan Devano juga membaik. Keduanya tidak lagi terlibat peperangan urat saraf, meskipun sesekali saling ejek. Karena mengejek satu sama lain sudah seperti sarapan sehari-hari bagi mereka, jika tidak melakukannya terasa belum mendapatkan suntikan amunisi yang memadai.
"Ingat, besok pernikahan Daddy," ujar Devano saat menerima surat dari tangan Keysa yang diberikan oleh pemuja setia lelaki terpopuler itu.
Keysa menatap jengah Devano. Ia yang baru saja masuk kelas sudah ditodong tentang kesepakatan mereka. "Iya, aku tahu. Mau berapa ratus kali lagi kamu mengingatkanku?" tanyanya. Keysa sudah mendengar ucapan yang sama lebih dari sepuluh kali dari mulut yang sama dalam rentan waktu tiga jam. Sungguh membuat gadis itu bosan.
"Apa tidak ada kata-kata lain yang terucap dari mulutmu selain itu?" tanya Keysa sembari duduk di bangku miliknya.
"Siapa tahu saja kamu lupa," jawab Devano sambil mendelik. "Satu lagi—"
"Aku harus berdandan yang baik serta cantik rupawan seperti putri raja." Keysa yang sudah tahu kelanjutan ucapan Devano, langsung memotong.
"Good girl!" Devano mengacungkan jempol, lalu mengacak-acak rambut Keysa.
"Ish, apa sih?" Keysa mencebik, sembari menyingkirkan tangan yang mengacak-acak tatanan rambut dan poninya. "Berantakkan tahu," protes Keysa dengan bibir yang mengerucut.
"Dari tadi juga udah berantakan, jelek pula. Aku yakin, kutu pasti betah bersarang di sana," jawab Devano dengan enteng sembari meniup telapak tangannyan dan bertepuk membersihkan tangan yang digunakan memegang rambut Keysa, seolah-olah ada kotoran yang menempel di tangan. Ujung-ujungnya, lelaki itu pasti mengejek rambut yang beberapa hari selalu dibuat lebih berantakan olehnya. Entah gemas atau bagaimana, tetapi ada kepuasaan tersendiri saat Devano berhasil mengacak-acak rambut keriting gadis berkaca mata tebal itu hingga membuat si gadis mencebik kesal. "Ingat dandan yang baik. Jangan malu-maluin!" tegas Devano sekali lagi.
"Tapi parasku sudah seperti ini. Wajahku sudah pas-pasan sejaka lahir. Mau diapa-apain juga, ya, pasti tidak jauh dari seperti ini. Tidak akan bisa menjadi cantik, apalagi harus cantik bak putri raja ataupun boneka berbie," papar Keysa panjang lebar. "Kecuali ...." lanjutnya, tetapi sejurus kemudian ia menjeda ucapannya dan melirik sekilas ke arah Devano.
"Kecuali apa?" Devano juga menatap Keysa, penasaran.
"Kecuali kau lihat aku dari ujung menara eifell. Di jamin cantik kan yang kelihatannya cuma baju mahalnya. Itu pun kalau matanya lagi siwer," ujar Keysa dengan tawa yang mengiringi ucapannya.
"Pokoknya jangan sampai kamu buat aku malu," keukeuh Devano. "Awas saja kalau malu-maluin!" Ia menunjuk mata Keysa, mengancam.
__ADS_1
"Lalu aku harus apa? Operasi plastik? Uang darimu tidak cukup untuk melakukan itu."
"Terserah. Pikirkan saja caranya," ucap Devano, acuh.
Seperti biasa kembali, lagi-lagi mereka terlibat adu mulut. Dari masalah kecil bisa merembet menjadi masalah besar, dan sekarang mereka sedang memperdebatkan tentang Keysa yang harus tampil cantik di acara pernikahan ayah Devano. Sementara itu, Keysa terus menjawab kalau ia tidak bisa berubah cantik. Pada akhirnya, ulah mereka kembali menjadi tontonan gratis mahasiswa yang ada di kelas.
Ezra dan Disti yang tiba bersamaan pun, hanya bisa menggeleng mendapati kelakuan teman mereka yang setiap hari seperti kucing dan tikus.
"Apa mereka tidak bosan adu mulut mulu? Aku saja yang melihatnya bosan minta ampun. Sebentar akur, sebentar lagi cekcok," gumam Ezra.
"Tapi menurutku itu sangat-sangat romantis." Disti yang berjalan di samping Ezra ikut menimpali.
"Romantis? Apa kau salah minum obat? Orang bertengkar dibilang romantis?"
Disti hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahu, lalu meninggalkan Ezra dan duduk di bangkunya.
"Key!" teriak Devano, memanggil nama Keysa dengan penuh penekanan sambil meraih tangan Keysa. "Please, de—"
Devano yang hendak meminta Keysa mendengarkan ucapannya terpotong, saat kedua matanya menangkap seseorang yang tiba-tiba masuk ke kelas.
"Hai, Dev!" sapa gadis yang menghampiri Devano dengan genit. Ia adalah Cheryl, wanita yang menghamburkan setumpuk untuk menyewa kursi Keysa.
"Hai," jawab Devano, dingin. "Ada apa kemari?" tanyanya kepada Cheryl.
"Apa kamu akan membawa gadis ini ke pernikahan ayahmu?" tanya Cheryl, sambil menelisik Keysa yang tangannya masih digenggam Devano.
Sadar dengan perbuatannya, Devano pun lantas melepaskan tangan Keysa dengan kasar. "Dari mana kamu tahu?" tanya Devano lagi kepada Cheryl.
"Dari kakak."
__ADS_1
Lelaki itu mengernyitkan dahi, seingatnya ia tidak membicarakan hal itu kepada kakak Cheryl, hingga Devano menyadari sesuatu, pasti orang itu mendengarkan pembicaraannya dengan Ezra beberapa waktu lalu.
"Kembalilah ke kelasmu! Nanti akan aku jelaskan," perintah Devano kemudian.
"Tapi, Dev—"
"Aku bilang kembalilah!" ulang Devano dengan nada tinggi. Matanya menatap tajam Cheryl. Ia tidak mau dibantah.
Cheryl dengan sedih melirik Devano, lantas menatap Keysa dengan kesal sembari mengancam.
"Awas saja jika kau berani pergi ke acara pernikahan ayah Dev. Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup," ancam Cheryl, lalu lari meninggalkan Keysa dan Devano.
"Emmm ... kau tak perlu menganggap ucapan Cheryl. Anggap saja angin lewat." Selepas Cheryl pergi, Devano dengan canggung meminta Keysa untuk tidak mengambil hati kata-kata Cheryl.
"Apa kamu berpikir kalau aku takut padanya? Dan aku bukan lawan untuk gadis itu?" Keysa melirik Devano dengan sebelah mata yang menyipit.
"Malah aku berpikir sebaliknya, makanya aku mengingatkanmu. Sama aku saja kau berani, apalagi dengan gadis seperti dia."
"Jadi maksudnya, kamu takut aku menyakiti gadis itu?" tanya Keysa lagi.
Dalam hati Keysa berpikir bahwa lelaki aneh dan arogan itu yang menurutnya hanya biang onar, tanpa disangka memiliki kepedulian juga terhadap seseorang.
"Jangan terlalu banyak berpikir! Pokoknya jangan buat konflik secara langsung dengan dia!" Devano mengingatkan Keysa yang masih menatapnya.
'Dia benar-benar sangat memedulikan gadis itu. Bahkan, sepertinya dia takut sekali kalau aku berbuat masalah dengannya,' gumam Keysa dalam hati.
"Tenang saja, aku tidak akan berbuat aneh-aneh kalau bukan dia yang memulai duluan. Tapi, jangan salahkan aku kalau ternyata gadismu itu yang memulai duluan."
Devano terdiam begitu mendengar penuturan Keysa
__ADS_1