Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
50


__ADS_3

50


Langkah cepat Keysa membawanya ke ruangan nomor lima, tempat biasa Devano dan teman-temannya bersenang-senang di klub tersebut. Keysa pun langsung masuk ke ruangan yang dihiasi lampu putar beserta lampu kerlap-kerlip, ruangan yang juga dilengkapi bar mini dan tempat karaoke itu. 


Sebelum membuka pintu, Keysa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan terlebih dahulu sebagai ritual merelaksasi kepalanya yang hampir meledak. 


"Huh! Santai ... rileks ... tarik ujung bibir perlahan dan tersenyum." Keysa menarik kedua ujung bibirnya dengan jempol dan telunjuk sampai rentetan gigi putihnya tertampil.  "Keep smile!"


Setelah itu, dengan santai dan senyum yang tertampil, Keysa memasuki ruangan tersebut menghampiri Devano dan berterima kasih atas pertolongan lelaki itu. 


Melihat kedatangan Keysa, hati Devano langsung berbunga-bunga. Tidak dapat dipungkiri, ia sangat-sangat bahagia yang ditunggu-tunggunya sejak tadi, akhirnya datang juga. Namun, dengan cepat lelaki itu menyembunyikan perasaannya dan berpura-pura tenang. 


"Memangnya kamu ingin berterima kasih dengan cara seperti apa? Tidak mungkin 'kan kalau cuma mengucapkan kata terima kasih saja?" tanya Devano sembari memutar-mutar gelas yang sedang dipegangnya.. 


Keysa berpikir sejenak, lalu ia mengusulkan kalau dirinya akan bernyanyi untuk Devano. 


"Bernyanyilah!" tandas Devano lagi. 


"Ingin dinyanyikan lagu apa?" tanya Keysa.


"Terserah, asal jangan sampai gendang telingaku pecah." 


Keysa pun mengangguk, lalu meraih mikropon dan memilih sebuah lagu yang akan dinyanyikannya. Tidak disangka alunan lagu yang keluar dari mulut Keysa terdengar begitu merdu, bahkan orang-orang di sana juga begitu menikmati kelembutan suara Keysa. 


Setelah selesai menyanyikan satu lagu, Keysa berjalan ke arah Devano, lalu duduk di samping lelaki itu. "Bagaimana? Apa suaraku bagus?" tanya Keysa. 


"Suaramu bagus." Devano dengan terang-terangan memuji suara Keysa yang memang terdengar sangat merdu. 


"Terus sekarang, aku harus berterima kasih dengan cara seperti apa lagi?" 


"Terserah." 


"Terserah, ya?" Keysa tersenyum penuh arti saat mendengar kata 'terserah' keluar dari mulut Devano. Itu artinya dia sudah bisa beraksi. 

__ADS_1


"Waktu bersenang-senang dimulai," gumam Keysa dalam hati. 


Devano mengangguk. Ia sudah tidak sabar menunggu aksi yang akan diberikan Keysa berikutnya. 


"Aku mikir dulu," ucap Keysa sambil mengetuk-ngetuk dagunya sendiri, seakan-akan sedang berpikir.


Tiba-tiba Keysa tersenyum jahat saat melihat seorang pelayan yang sedang membawa alat-alat kebersihan lewat. Dengan senyum yang tersungging, Keysa lantas menghampiri pelayan tersebut dan mengambil seember air, lalu berjalan kembali ke arah Devano. Secepat kilat air di ember tersebut pun, Keysa tuangkan ke kepala Devano dan berhasil membuat semua orang kaget. 


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" tanya Devano dengan kesal. Air di ember sudah berpindah tempat, mengguyur tubuh Devano, membuat lelaki jangkung itu basah kuyup.


"Aku tidak gila. Maaf aku tidak sengaja, barusan kakiku tersandung," ujar Keysa dengan wajah yang merasa bersalah. "Kakiku yang salah, jalannya enggak liat-liat. Sekali lagi maaf! Tapi, tenang saja aku akan bertanggung jawab. Aku akan membantumu membersihkannya," lanjutnya. 


Keysa pun buru-buru kembali ke tempat si pelayan dan mengambil lap dari troli, lalu mengelap wajah Devano dengan lap itu. 


"Eh, itu lap untuk toilet!" Pelayan yang melihat Keysa mengusapkan lap itu ke wajah Devano, tanpa sadar berteriak. 


Ruangan itu pun seketika sangat tenang dengan wajah Devano yang sudah berubah angker. Tangannya mengepal sempurna dengan gigi yang saling beradu, menahan marah. 


"Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan Keysa Indira Fidelya?" Devano menatap Keysa dengan bola mata memerah yang hampir keluar. 


Devano yang hendak marah, apalagi Keysa dengan sengaja melemparkan lap ke mukanya langsung dibuat tertegun oleh ucapan gadis itu, hingga tanpa sadar ia berkata,  "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Devano. 


Keysa tersenyum dingin. "Jika takut ada yang tahu, maka jangan pernah melakukannya!" 


Devano yakin ada orang yang memberitahukan rencananya kepada Keysa. Ia pun memindai setiap orang yang ada di sana, hingga matanya tertuju kepada dua orang yang datang ke ruangan tersebut beberapa saat setelah Keysa masuk. Membuat kedua lelaki tersebut langsung kehilangan nyalinya.


"Siapa yang membocorkannya?" tanya Devano kepada dua lelaki tersebut. 


Kedua lelaki tersebut hanya diam dengan badan yang sudah bergetar dan wajah yang pias. 


"Jawab! Kalian punya mulut tidak?" hardik Devano. 


Belum sempat mereka menjawab, Keysa sudah mendahului mereka dan memarahi Devano. 

__ADS_1


"Jangan malah mencari kambing hitam atas kesalahan yang kau perbuat! Untuk apa memarahi mereka. Sudah jelas dalam hal ini kaulah yang bersalah," tandas Keysa. 


Ezra yang sedari tadi menjadi penonton setia drama pertengkaran mereka pun mencoba menengahi keduanya dan pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. 


"Sudah, sudah. Sebenarnya apa yang sedang kalian pertengkarkan, sih? Tidak baik bertengkar seperti ini. Malu jadi tontonan semua orang," ucap Ezra. "Sabar, Key, kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik," lanjut Ezra sambil menepuk bahu Keysa. 


Keysa tidak menjawab, tangannya langsung menyingkirkan tangan Ezra yang masih menyentuh bahunya.


Ezra membuang napas. Saat ini, Keysa tidak bisa diajak bersahabat. "Dev, sejak tadi daddy-mu menelpon," lanjutnya, mengalihkan pembicaraan kepada Devano. 


"Kenapa tidak mengangkatnya?" ucap Devano sambil meraih ponsel yang terus berbunyi dari tangan Ezra dan menerima panggilan tersebut. 


Dari seberang sana ayah Devano meminta lelaki itu untuk segera pulang. "Baik, aku akan segera pulang," jawab Devano, lalu mengakhiri panggilannya. 


"Kita pulang!" Devano menarik Ezra keluar klub dengan tenang, melupakan pertengkarannya yang belum selesai dengan Keysa. 


"Devano urusan kita belum selesai!" teriak Keysa saat melihat punggung lelaki itu menjauh. Namun, sejurus kemudian senyum tersungging di bibir tipisnya. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil memberi pelajaran kepada lelaki arogan itu. "Emang enak mandi sama air bekas ngepel!" 


Sementara itu di parkiran, Devano terus merutuki kelakuan Keysa. 


"G*la! Dasar gadis bar-bar karena dia tubuhku kotor dan bau aneh begini," rutuk Devano.


"Tenang, Dev, jangan terbawa emosi! Jangan gegabah! Keysa itu sedang sangat-sangat marah padamu. Jangan sampai ia mengejarmu dan usahaku membawamu keluar sia-sia." Ezra mencoba menenangkan Devano yang emosinya kembali meluap. 


Devano membenarkan ucapan Ezra. Ia sampai beberapa kali menoleh ke belakang, takut gadis itu masih mengejar merek. Akhirnya, mereka pun memilih kabur dari sana sebelum Keysa benar-benar mengejar mereka. 


***


Hari telah berganti. Semua mahasiswa kembali ke rutinitas mereka, yakni mencari ilmu di kampus yang mereka tempati sekarang. Pengumuman tentang pemilihan ketua senat pun telah keluar. 


Dosen pendamping pun masuk ke kelas dan mengumumkan bahwa Keysa dan Devano masuk sebagai kandidat ketua senat. Ezra dan mantan ketua kelas sebelumnya pun terpilih sebagai calon anggota senat. 


"Apa yang perlu kami persiapkan selanjutnya, Miss?" tanya Keysa.

__ADS_1


"Kalian harus mendapat nilai  bagus di ujian selanjutnya. Apalagi sebagai ketua senat, ia harus bisa memiliki nilai yang bagus baru bisa memimpin dan menjadi contoh bagi mahasiswa lain." 


Mendengar hal itu, Keysa yakin akan kemampuan akademiknya. Karena di kampus sebelumnya, Keysa terkenal sebagai mahasiswa jenius dan sudah terbiasa mendapatkan nilai sempurna. 


__ADS_2